Desain Cinta Safiyah

Desain Cinta Safiyah
rencana melamar


__ADS_3

"Kakek!” Safiyah berteriak dan secepat mungkin berlari untuk menyelamatkan kakeknya.


Tuan Subroto yang melihat tangan Elno menahan pisau, secepatnya masuk kedalam mobil. Begitu juga dengan tuan Alek dengan cepat memasuki mobil dan bergegas memerintahkan sopirnya untuk pergi dari sana.


Elno yang berhasil menahan pisau yang akan diarahkan kepada Tuan Subroto, dengan cepat menutup pintu mobil.


Buk


Bak


Buk


Safiyah dengan lincah menendang dan meninju para preman. Begitu pula dengan Sonia. Tidak perlu waktu lama bagi mereka bertiga untuk mengalahkan preman-preman itu.


Kemudian mereka menyerahkan para preman itu kepada scurity rumah sakit untuk dibawa ke kantor polisi.


tuuut ponsel Safiyah berdering. dia segera menekan tombol hijau ponsel.


“ Halo kek,” Safiyah menerima telepon dari kakeknya.


“ Bagaimana keadaan kalian, Safiyah? Cemas tuan Subroto takut cucunya terluka.


“ Kami baik-baik saja kek. Hanya tangan mas Elno yang terluka. Setelah mengobati tangannya kami akan menyusul. Kakek kirim kan saja alamatnya ya.”


“ ya, hati-hati Safiyah.”


“ Iya, kek.”


Klik. Telpon diakhiri.


“ Mas ayo kita obati dulu tangan mu.” Ajak Safiyah sambil memegangi tangan Elno.


“ Ayo Sonia!”


Sonia berlari mengikuti kakaknya.


......................


“ Cepat singkirkan Danu, Alek! Aku yakin ini ulahnya.” Tuan Subroto mengepalkan tangannya. Dia begitu marah pada Danu. Tidak ada kata ampun lagi untuknya.


“ Baik Tuan.”


“ Bagaimana dengan Leo? Apa kau sudah menemukannya?”


“ Sudah tuan. Sekarang dia sedang memulihkan tenaganya.” Jawabnya Alek.


“ Baguslah. Aku sangat kasihan padanya. Dia selalu melindungi ku” jawab Tuan Subroto sambil memejamkan mata.


Taun Alek tahu kalau Tuan Subroto sangat menyayangi Leo. Dia sudah seperti cucu bagi Tuan Subroto.


......................


Di IGD Rumah sakit dokter sedang membersihkan dan mengobati luka tangan Elno. Safiyah dan Sonia mendampinginya.


“ Perban lukanya harus sering diganti ya, tuan. Agar tidak infeksi. Dan ini resep obatnya, silahkan ditebus di depan ya.” Dokter jaga itu memberikan resep obat kepada Safiyah.


“ Sini resep obatnya, kak. Sonia saja yang kesana.” Safiyah memberikan resep itu kepada Sonia.


“ Kakak tunggulah disini.”


Safiyah kemudian duduk kursi tunggu Rumah Sakit.


Tuuut... Suara getaran handphone Elno yang ada di saku celananya yang disebelah kanan tepat ditangan yang diperban. Elno kesulitan mengambilnya. Safiyah memperhatikannya segera memasuki tangannya kesaku Elno untuk mengambil handphone Elno.


Seketika bergetar dada Elno merasakan tangan Safiyah masuk kedalam saku celananya. Dia tatap wajah Safiyah yang terlihat biasa saja.


" Sayang."

__ADS_1


“ Ini Mas, handphonenya.” Safiyah menoleh dan memberikan handphone kepada Elno.


“ Kenapa, Mas? Kok melihat Safiyah begitu?”


Elno mengarahkan pandangannya ke arah saku celananya kemudian menatap kembali ke wajah Safiyah.


Safiyah mengerti maksudnya lalu tersenyum malu.


“ Maaf Mas, aku reflek aja ingin membantumu. Tidak ada maksud lain kok, hehehehe.”


“ cepat jawab telponnya, Mas!” Safiyah mengalihkan pembicaraannya.


" Awas saja kau kalau sudah menjadi istriku. Akan aku buat kau tidak berdaya." Elno bergumam dengan senyum nakalnya.


" Halo, Rom? ada apa?" ketus Elno kepada Romi yang selalu saja menelponnya.


" ini mama!?" bentak ibu Endang


" Ng?? kenapa mama menggunakan handphone Romi?"


" Handphone mama kehabisan daya! Kamu dimana sekarang? kenapa tidak ke kantor?" tanya ibu Endang dengan suara kerasnya.


" Setelah makan siang Elno kekantor, ma."


" Ya sudah, mama hanya mau tanya itu saja. Benar ya, ke kantor habis makan siang!"


" iya, ma."


" Mama tunggu."


klik panggilan ponselnya dimatikan.


" Mas hanya mengantar kalian saja ya kerumah kakek. Setelah itu mas ditunggu mama di kantor."


" iya, mas."


" Kakak Ipar. ini obatmu. semua keterangan ada disana. dibaca dulu ya sebelum digunakan."


" iya adik ipar." kata Elno sambil mengacak-acak rambut Sonia.


"Ayo kita pergi!"


mereka bertiga berjalan menuju parkiran tempat mobil Elno diparkir.


Setelah lima belas menit diperjalanan akhirnya mobil Elno telah sampai diparkir rumah mewah nan megah. Memang tidak semegah rumah tuan Subroto yang ditinggalinya sebelum ini.


Sonia keluar dari mobil dan berjalan sambil melihat ke sekeliling rumah. Sonia begitu terkagum-kagum melihat kemegahan rumah kakeknya ini. Besar mewah dan megah.


Safiyah dan Elno turun dari mobil dan berjalan masuk secara bersamaan. Safiyah melihat adiknya yang masih terpesona akan kemegahan rumah kakeknya.


" Kakek.. Kakek..," panggil Safiyah yang mencari keberadaan kakeknya.


Tuan Subroto keluar dari ruang kerjanya bersama tuan Alek.


"Safiyah, Sonia.. kalian sudah sampai?" mereka mencium tangan Tuan Subroto berganti. Begitu pula dengan Elno.


" Nak Elno, bagaimana dengan tanganmu?" tanya Tuan Subroto yang melihat tangan Elno yang diperban.


" Tangan ku hanya luka kecil, kek. Tidak apa-apa." jawabnya tersenyum.


" Terima kasih kau sudah melindungi kakek, El." Tuan Subroto menepuk pundak Elno.


" Sudah tugas Elno melindungi kakek."


" Tuan, saya permisi dulu." kata tuan Alek kepada tuan Subroto.


" Cepat kerjakan tugasmu!" perintah tuan Subroto.

__ADS_1


" Baik Tuan."


Tuan Alek pergi meninggalkan mereka.


" Ayo sayang kita makan siang dulu" kata tuan Subroto kepada cucu-cucunya.


" Kakek, Elno tidak ikut makan ya. Elno mau pergi kekantor karena sudah ditunggu oleh mama."


" Baiklah. Safiyah, antar Nak Elno kedepan ya. Ayo sayang." Tuan Subroto mengajak Sonia dan menggandeng tangan kakeknya.


Safiyah dan Elno berjalan menuju mobilnya dihalaman rumah.


" Makan dulu, mas." ajak Safiyah.


" Tidak usah sayang, Mas makan di kantor saja sama mama." Elno memasuki mobilnya.


" Hati-hati ya Mas," Safiyah melambaikan tangannya. Dan dibalas oleh Elno.


Safiyah memperhatikan mobil Elno yang mulai menjauh dari penglihatannya, barulah dia masuk kedalam rumah.


Sonia melihat kakaknya berjalan mendekati mereka dengan langkah yang tidak bersemangat.


" Kakak kenapa? Apa karena kakak ipar yang pergi?" goda Sonia pada kakaknya.


" hush! Anak kecil tau apa?"


" Hei, kalian! dengarkan kakek." Tuan Subroto dengan wajah seriusnya membuat dua beradik itu diam.


" Cepat habiskan makan siang kalian. Setelah ini banyak yang ingin kakek sampaikan pada kalian."


" Baiklah, kek. jawab Safiyah.


" Kakek..., boleh tidak Sonia keliling rumah ini dulu?" tanyanya pelan.


" Boleh. Oh ya, Kalian silahkan pilih kamar kalian sendiri, ya."


" Terima kasih, kakek...?" Kata Sonia dengan senyum jenaka didepan tuan Subroto.


......................


Elno sampai di kantor, semua karyawan yang melihatnya berjalan masuk, menundukkan kepala tanda menghormatinya. Elno terus saja berjalan, tapi tidak langsung menuju ruang kerjanya, melainkan menuju ruang kerja ibu Endang, mamanya.


" Ma." Elno langsung membuka pintu dan masuk begitu saja membuat ibu Endang terkejut.


" Elno! kalau mau masuk ketuk dulu pintunya!" marah ibu Endang sambil melotot kepada Elno. Lalu dia melihat tangan anaknya yang diperban.


"Tanganmu kenapa?" tanyanya dan mendekati Elno.


" Tidak apa-apa, ma. Hanya luka kecil. Mama, sudah makan?" tanyanya yang mengalihkan perhatian mamanya.


" Belum."


" Elno pesankan makanan ya, El juga belum makan soalnya."


" iya, pesanlah." Kata ibu Endang yang melihat Elno memainkan ponselnya.


" El, kapan kamu akan melamar Safiyah?" tanya ibu Endang kepada Elno.


" Maunya Elno secepatnya, ma. Kalau bisa langsung menikah saja, ma." kata Elno dengan wajah seriusnya.


" akh kamu ini! apa-apa mau main cepat aja.


Malam besok kita pergi melamarnya Safiyah."


" Benarkah mama? mmmuuaach... Elno sayang mama." Elno memeluk dan mencium pipi mamanya. wajahnya yang tadi serius menjadi jenaka.


bersambung...

__ADS_1


terima kasih sudah membaca karya author dukung terus author ya jangan lupa like dan komen.


__ADS_2