Desain Cinta Safiyah

Desain Cinta Safiyah
Paket komplit


__ADS_3

Leo beberapa kali membesarkan matanya melihat gadis yang lewat bersama seorang pria.


"SAFIYAH " Gumamnya.


Dia berlari kearah Safiyah, ingin mengejarnya. Pandangan matanya yang tidak ingin lepas dari sosok yang dia kenal, kemudian dia menabrak troli yang dibawa oleh seorang perawat.


" Maaf Nona. Maaf saya terburu-buru." pandangan nya teralihkan kearah perawat itu. Persekian detik sosok Safiyah hilang didepan mata.


Leo masih tetap berusaha mencari melihat ke kanan-kiri, tapi tetap tidak menemukan jejaknya.


" Aku yakin, dia Safiyah. Tapi, kenapa dia tidak pulang kerumah? Apa mungkin aku yang berhalusinasi? Akh, sepertinya aku kurang tidur. tidak, tidak, aku yakin itu Safiyah." Gumamnya dalam hati dan mengepalkan tangannya.


Sementara Safiyah dan Noah masuk kedalam ruang kerja Noah terlebih dahulu. Karena ada berkas yang harus dia pelajari saat dirumah.


" Ressa, kamu tunggu sebentar disini. Saya mau mengambil berkas yang ada pada rekan kerja saya."


Ressa tersenyum kemudian duduk dikursi yang di siapkan untuk pasien.


......................


" Elno." Panggil ibu Endang


" Ya , ma. Ada apa?" tanya Elno sambil menyerahkan dokumen pada ibu Endang.


" Apa kamu sudah bisa menerima kepergian Safiyah?" tanya ibu Endang hati-hati.


" Mama, sudah berapa kali Elno katakan. Kalau Safiyah masih hidup." tegas Elno


" El. ini sudah hampir tiga bulan. Kalau dia masih hidup, kenapa dia tidak kembali, ha? yang logis la, El!"


" Ma, percaya sama Elno! Elno pasti menemukan nya..."


Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Kemudian ibu Endang mendekati Elno yang duduk di kursi sofa.


" Mama sudah tua, El. Mama ingin menyerahkan perusahaan ini kepada kamu, jika kamu sudah menikah." ibu Endang mengelus-ngelus kepala Elno,


Elno masih sibuk dengan ponselnya, berbalas pesan sama Romi asistennya.


"Di hari tua mama, mama ingin sekali main bersama cucu mama. Tapi, sepertinya itu hanya mimpi." ibu Endang menghapus air matanya.


" Ma." Elno memeluk ibunya. " Elno hanya ingin Safiyah yang jadi istri El, mama." Bisik Elno.


" El, dirumah kita ada Ratih, cobalah untuk melihatnya sedikit!" ibu Endang nyengir kuda.


" OOO itu tujuan mama menahannya? Tidak!" Kemudian Elno beranjak pergi dari ruangan ibu Endang.


......................


Di rumah Sakit Tuan Subroto masih menjalani operasi. Butuh waktu paling tidak empat jam sampai operasi selesai.


Sonia masih menunggu didepan pintu ruang operasi. sedangkan Leo sangat sibuk berbicara dengan seseorang di ponselnya. mukanya terlihat gusar.

__ADS_1


" Sonia, Abang tinggal sebentar tidak apa-apa?" tanya Leo.


" Ada apa, bang? kok mukanya gitu? Abang banyak kerjaan ya di kantor?" Sonia malah balik bertanya karena melihat muka Leo yang kusut.


" Iya, ada investor yang ingin menarik investasinya, asisten Abang tidak bisa menanganinya." jawabnya pelan


" Iya, Abang pergilah. Ada kak yang menemani Sonia." kata-kata Sonia yang di anggukkan oleh Neni yang ada disampingnya.


" Abang pergi dulu. Neni, aku titip Sonia sama kakek."


" Iya, Leo. tenang saja, aku akan menemani Sonia disini." kata Neni yang mengacungkan jempolnya.


Leo segera pergi meninggalkan mereka menunggu operasi tuan Subroto selesai.


......................


Di kantor, Leo sedang mengadakan rapat darurat dengan beberapa investor perusahaan Subroto Grup.


" Tuan Leo! Kami hanya ingin meminta kepastian dari anda!" kata salah satu investor yang bicara dengan nada Agak keras.


" Kapan anda akan membawa Nona Safiyah kesini?" tanyanya lagi.


"Kami ingin kejelasan! Kami tidak ingin dana yang kami investasikan disini diselewengkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab! itu saja! "


" Kalian tenang saja. Tidak usah takut akan hal itu terulang kembali." Kata salah satu investor yang baru masuk kedalam ruang rapat.


Melihat kedatangan nya seluruh yang ada di dalam ruangan itu berdiri dan menunduk hormat. termasuk Leo.


Tuan Matteo tersenyum melihat Leo. Tuan Matteo memiliki saham terbanyak kedua setelah Tuan Subroto.


Selain memiliki perusahaannya sendiri, Tuan Matteo juga menanamkan modalnya untuk perusahaan lain.


" Sebelum kesehatan Tuan Subroto dan Nona Safiyah pulih. Untuk sementara, saya yang akan bertanggungjawab di sini. Bagaimana?"


Para pemegang saham telah menemukan kesepakatan seperti yang Tuan Matteo katakan. Mereka menerimanya. Dengan syarat dalam pertemuan bulan depan Nona Safiyah dapat menghadirinya.


" Tuan Matteo, saya ucapkan banyak terima kasih atas bantuan Tuan." Leo menunduk hormat padanya.


Tuan Matteo tersenyum kemudian berbalik menghadap Leo.


" Kau anak muda yang hebat." tuan Matteo mengacungkan jempol tangannya.


" Bagaimana kesehatan Tuan Subroto?" tanya nya sambil menepuk pundak Leo.


" Tuan Subroto masih dirumah sakit, tuan. sedang menjalankan operasi pada jantungnya." jawabnya lirih.


Tuan Subroto orang yang kuat, dan berhati lapang. Dia pasti sehat kembali." Kata tuan Matteo kembali tersenyum kepada Leo. Lalu pergi meninggalkannya.


drttrttt drttrttt


" Ya Sonia"

__ADS_1


" Abang, Kakek sudah selesai operasi, dan sekarang sudah di ruang rawat." kata Sonia yang memberikan laporan kepada Leo


" iya Sonia, sebentar lagi kakak kesana, ya." Leo memutuskan sambungan ponselnya dan pergi keruang kerja nya.


Kemudian leo menghubungi Elno.


tuuut tuuut


" Halo, Elno. kita bisa bertemu? Ajak Tuan Andi juga. Di kafe biasa." Ajak leo


......................


Dikediaman Tuan Matteo, Safiyah sibuk membantu pelayan memasak makan siang. Sesekali mereka terdengar bercanda.


" Nona Ressa. Nona menikah saja dengan tuan muda Noah." kata bik Sumi yang merupakan pelayan dapur disana.


" Tuan muda Noah itu tampan, gagah, baik hati dan tidak sombong, sudah mapan lagi. pokoknya Tuan muda Noah itu paket komplit Non." sambung bik Sumi lagi.


" Tuan muda sangat perhatian sama Non. Sepertinya dia suka sama Non Ressa."


Tapi Safiyah hanya tersenyum mendengar perkataan bik Sumi. Dia sedang memotong-motong sayuran. Dan melihat cincin bermata merah di jarinya.


Dia menatap cincin yang ada dijari manisnya. Kemudian dia seperti melihat tangan seseorang yang sedang memasangkan cincin itu di jari manisnya.


Seketika pisau yang ada ditangannya terjatuh dilantai. Dia memegangi kepalanya yang terasa pusing. Bik Sumi menoleh padanya.


" Nona Ressa! Ada apa Non?" Bik Sumi mengantarkan Safiyah ke kamarnya untuk beristirahat.


" Terima kasih, bik." ucap Safiyah.


" Iya, Non. Nona Ressa istirahat saja, biar bik Sumi sama Ijah yang masak." bik Sumi membantu Safiyah berbaring ditempat tidur.


Safiyah menganggukkan kepalanya yang masih terasa pusing. Kemudian bik Sumi keluar dan menutup pintu pelan.


Noah yang baru masuk kerumah menuju dapur ingin mengambil air minum. Bingung mendapati Safiyah yang sudah tidak berada di dapur.


Karena, sebelum Noah pergi keluar rumah untuk mengambil sesuatu di mobilnya , dia sempat mendengarkan percakapan bik Sumi dengan Safiyah.


" Dimana Ressa, bik? Tadi saya melihatnya di sini?" Noah menghampiri bik Sumi.


" Itu tuan, tiba-tiba kepala non Ressa pusing. Sekarang sudah di kamarnya, Tuan muda!" jelas bik Sumi.


" Pusing? Kenapa tiba-tiba ya bik?" tanyanya bingung.


" Tidak tahu, Tuan muda." Kata bik Sumi sambil menunduk pada Noah


" Kenapa Ressa pusing? Apa dia mulai mengingat masa lalu nya?" gumamnya dalam hati.


***bersambung....


jangan lupa like like like ya***... terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2