
" Elno! Aku sangat merindukan mu..." bisiknya dalam hati. sambil menjulurkan tangan satunya kearah Elno. Sedangkan tangan satunya lagi ditarik oleh ibu murni.
Elno yang melihat bergidik ngeri, dia melihat kekocakan sepupunya itu yang menjulurkan tangan ke arahnya seperti seorang kekasih yang dipaksa pergi dari kekasihnya.
......................
Sedangkan dirumah tuan Subroto juga sedang ada kesibukan. Banyak keluarga-keluarga Tuan Subroto yang datang kerumah ada yang hanya sekedar berkunjung. Ada juga yang sampai menginap untuk melihat anak-anak Sabrina yang cantik-cantik.
Mereka semua duduk beralaskan karpet permadani dengan bulu-bulu halus di ruang keluarga yang dibuat sangat luas. Canda tawa mewarnai ruangan itu.
Seketika canda tawa mereka terhenti karena kedatangan satu orang laki-laki dan perempuan yang tidak pernah mereka sangka-sangka. Ruangan menjadi sunyi dan mata mereka menatap tajam kepada kedua orang itu.
Mereka adalah Pak Danu dan Meri, mereka melangkah dengan penuh kekhawatiran mendekati keramaian di ruang keluarga itu. Pak Danu melihat celingukan kekanan dan kekiri seperti ketakutan. Sementara Meri, melihat ayahnya ketakutan langsung memegang erat tangan Pak Danu. Langkahnya terhenti saat penjaga menghadang dengan tangannya, yang artinya cukup sampai disini saja langkah mereka.
Safiyah yang melihatnya melambaikan tangan kepada penjaga itu. Kemudian penjaga itu menunduk hormat dan mundur kebelakang.
Kemudian Meri duduk bersimpuh yang diikuti oleh Pak Danu. Dia menghadap kearah Tuan Subroto.
" Tuan, kedatangan Meri dan papa saya kesini bukan untuk membuat keributan. Meri mewakili papa tulus ingin meminta maaf kepada Tuan. Dengan disaksikan seluruh keluarga Tuan. Meri meminta maaf Atas segala kelakuan dan perbuatan papa kepada Tuan."
Tuan Subroto menatap dingin kepada Meri. Dia melihat sorot mata Meri, tidak ada kebohongan yang terlihat disana. Tanpa komentar Dia hanya mengangguk saja.
" Meri juga mengucapkan banyak terimakasih kepada Tuan, yang pernah memberikan tempat kepada kami untuk tinggal disini. Meri dan papa akan kembali ke kampung, dan akan merawat papa disana."
Kemudian Meri menghadap kearah Safiyah.
" Safiyah, aku juga minta maaf kepadamu, karena sudah berulangkali mencoba untuk mencelakai mu." kata Meri dengan suaranya yang gemetaran.
Semua yang hadir disana terkejut dengan pengakuan Meri. " Setelah semua yang kau lakukan kepada Tuan Subroto dan cucunya, kau masih berani menginjakkan kaki mu disini, ha?!" bentak salah satu keluarga Tuan Subroto.
Mendengar perkataan-perkataan dan sumpah serapah dari para keluarga, Meri hanya bisa menundukkan kepalanya dengan berurai air mata.
Safiyah bangkit dari duduknya menghampiri Meri dan memeluknya. Dielusnya punggung Meri memberikan ketenangan dan sedikit kekuatan kepada Meri.
"Maafkan aku, Safiyah. hiks hiks "
" Aku sudah lama memaafkan mu, Meri. Aku berharap setelah ini, kau menjadi orang yang lebih baik lagi. Dan bisa memperoleh kebahagiaanmu." Safiyah sambil menepuk-nepuk punggungnya.
" Terimakasih. Safiyah, boleh aku minta tolong padamu?" Tanya Meri yang di anggukkan oleh Safiyah.
__ADS_1
" Tolong sampaikan maaf ku kepada Elno. A-aku, aku tidak ada muka lagi untuk menemuinya." kata Meri sedikit senyum.
" Iya, akan aku sampaikan maaf darimu." Safiyah tersenyum kecil.
Kemudian asisten Tuan Subroto memberikan amplop coklat kepadanya yang berisikan uang. Meri terkejut melihatnya.
" Tuan, Meri tidak pantas menerima ini." Meri memberikan amplop itu kepada Safiyah yang kebetulan didepannya masih ada Safiyah.
" Terimalah, itu untuk biaya pengobatan Danu dan untukmu membuka usaha sendiri disana." kata Tuan Subroto dengan suara khasnya.
" Tapi, Tu..." ucapannya terhenti ketika Safiyah menarik tangannya dan memberikan kembali amplop coklat itu kepada Meri.
" Terimalah Meri." kata Safiyah dengan wajah yang yang penuh harap kepada Meri.
" Baiklah. Aku sangat berterima kasih Tuan. Terimakasih sekali lagi Meri ucapkan." Dengan mata yang berkaca-kaca Meri tidak mengira akan mendapatkan perlakuan hangat dari Tuan Subroto dan Safiyah. Awalnya dia mengira akan diperlakukan hina dan diusir. tapi kenyataannya sebaliknya.
Kemudian Meri mengajak Pak Danu pergi meninggalkan rumah itu dengan perasaan lega dan lapang.
......................
Pagi hari menjelang, Safiyah duduk di balkon kamarnya menghirup udara pagi yang segar. Hari ini hari terakhir status lajangnya. Karena besok sudah berubah status menjadi istri dari Elno Sanjaya.
Safiyah duduk sendiri, biasanya ditemani Sonia. Tapi sekarang Sonia menjadi sangat sibuk mempersiapkan pernikahannya.
ponselnya berdering.
" Halo Mas?"
" Pagi sayang...? bagaimana perasaanmu hari ini? Apakah gelisah?" Tanya Elno kepada Safiyah yang sebenarnya perasaannya lah yang gelisah tak menentu.
" Aku baik-baik saja, Mas." kata Safiyah yang senyum-senyum sendiri sambil melihat-lihat jari-jarinya. Tiba-tiba Safiyah teriak dan mengejutkan Elno. " Aaaaaa!"
" Ada apa sayang? ada apa? kenapa teriak begitu?" tanya Elno cemas.
" i-ini Mas. Cincin yang mas berikan waktu itu sepertinya ketinggalan di laci kantor." katanya sedikit murung.
" ooo mas kira apaan. Biarkan saja, besok Mas berikan cincin yang lebih bagus lagi.. sayang."
" Tapi, Mas. Aku suka cincin itu." kata Safiyah yang merengek.
__ADS_1
" Kau perintahkan saja asisten mu yang mengambilnya. Kau jangan kemana-mana, pamali kata orang calon pengantin keluyuran!"
" Iya mas.. fiyah tutup dulu telponnya, ya?
" iya." jawab Elno.
klik sambungan ponselnya terputus. Safiyah mencoba menghubungi asistennya tapi tidak diangkat. berkali-kali dia coba tetap sama. Kemudian dia mencoba menelpon Leo juga sama.
" Sepertinya semua orang sibuk semua" Safiyah membatin sendiri.
Kemudian Safiyah keluar dari dalam kamarnya. Dia melihat Sonia sangat sibuk mengatur dan mengarahkan pelayan rumah.
" Semuanya benar-benar sibuk. Lebih baik ke kantor sendiri. Kan ada pak sopir yang menemani. Aku rasa tidak apa-apa."
Safiyah kembali lagi ke kamar untuk mengganti pakaian rumahan dengan celana panjang hitam dan baju kaos oblong putih. kemudian dia menuju mobil yang ada didepan rumah.
" Pak Jono, tolong antar saya ke kantor sebentar." pinta Safiyah.
" Tapi, Nona. Anda tidak diperbolehkan keluar kemana-mana hari ini, non." tolak Pak Jono yang merupakan sopir pribadinya.
" Sebentar saja, Pak. Apa Pak Jono mau saya membawa mobil sendiri?" kata Safiyah yang sudah duduk di kursi belakang mobil.
Pak Jono terlihat sangat ragu. Dia pikir lagi, daripada nona pergi sendiri lebih baik dia temani.
Akhirnya mobil pun meninggalkan kediaman tuan Subroto. Kepergian Safiyah tidak ada yang mengetahui nya. karena memang dia tidak memberi tahu siapapun.
Mobil sudah memasuki area parkir kantor Subroto Grup. Setelah mobil berhenti Safiyah keluar dari mobil.
" Jangan lama-lama, Nona!" teriak Pak Jono.
Safiyah tidak menjawab sedikitpun. dia terus saja berjalan menuju lift yang terbuka dan menuju ke ruang kantor nya.
Tak berapa lama Safiyah pun sudah kembali lagi memasuki mobil. Tanpa aba-aba mobil langsung saja berjalan menjauhi gedung kantor.
Kemudian Pak Jono yang kembali dari toilet mendapatkan mobilnya sudah tidak ada ditempatnya. Dia merasa bingung kemana mobilnya tadi. Lalu bertanya kepada scurity yang berdiri didepan pintu
" Saya melihat Nona Safiyah sudah keluar dari lift, Pak. Saat saya sedang menolong anak kecil yang terjatuh tadi. Kemudian saat saya menuju keluar, saya melihat mobilnya sudah jalan." jawab pak scurity yang berbadan besar.
" Apakah Nona Safiyah yang mengendarainya sendiri?" gumam Pak Jono
__ADS_1
bersambung...
jangan like like ya... terima kasih