Desain Cinta Safiyah

Desain Cinta Safiyah
terobsesi


__ADS_3

Dia?!”


“ Rendi? Tidak mungkin! Apakah dia sudah bebas dari penjara? Tapi, kenapa dia ingin mencelakaiku?” Gumam Safiyah dalam hati.


Rendi merupakan tetangga dan teman Safiyah dari sekolah dasar. Lelaki ini sudah menyukai Safiyah dari mereka masih anak-anak.


Karena perceraian orang tua nya, Rendi menjadi anak yang penyendiri. Tidak mau bermain bersama dengan teman -temannya. Jadi, dia tidak mempunyai seorang pun teman.


Sedangkan orang tua nya hanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Saat Safiyah baru pindah dari sekolah nya yang lama ke sekolah tempat Rendi belajar, Safiyah tidak mempunyai teman. Dia melihat Rendi bermain sendiri lalu mendekatinya dan mengajak nya bermain bersama. Akhirnya setiap hari Rendi hanya mau bermain bersama Safiyah saja.


Beranjak remaja, Rendi selalu mengekori Safiyah. Dimana Safiyah bersekolah, Rendi juga akan bersekolah disana. Saat Rendi dibuli oleh teman-temannya, Safiyah yang selalu pasang badan membela. Karena itu Rendi menjadi terobsesi kepada Safiyah hingga dia dewasa.


Rendi anak orang berada, berbadan tinggi, dan berkulit putih bersih. Dia termasuk anak yang pintar kalau disekolah.


Rendi berkali-kali mengungkapkan perasaannya kepada Safiyah. Tetapi Safiyah selalu menolaknya. Bagi Safiyah, Rendi selalu menjadi teman semasa kecilnya.


Terakhir yang Safiyah tahu Rendi dipenjara karena dituntut oleh tetangga Safiyah yang mengira Rendi selalu menguntit putri mereka.


......................


“ Kakak, dari mana saja? Kakek selalu menanyakan kakak. Belum lagi handphone kakak yang selalu berdering! Memekakkan telinga!” Sonia memberikan handphone Safiyah padanya.


Safiyah mengambil handphonenya, dilihatnya ada panggilan tidak terjawab dari Elno. Karena pikirannya masih kalut, dia mengabaikan panggilan itu. Lalu menghampiri ranjang kakeknya.


“ Kakek sudah makan?” tanya Safiyah sambil mengelus kening kakeknya.


“ Sudah. Kamu dari mana saja? Pasti belum makan. Cepatlah makan, nanti keburu dingin.” Ucap Tuan Subroto menyuruh cucunya makan.


“ Safiyah habis mencari udara segar saja kek.” Kata Safiyah yang mulai membuka wadah ayam geprek yang dipesan online oleh Neni.


Safiyah melirik kearah Neni.


“ Hei, Neni! Kenapa kau masih disini? Pulang sana! Nanti orang tuamu marah padamu kalau tidak pulang-pulang!”


“ Tenang saja Safiyah. Orang tuaku tidak akan marah jika aku bersama kalian disini.” Jawabnya dengan bangganya.


“ Oya? Kenapa begitu?” tanya Safiyah penasaran.


“ Ya ...., Begitu saja...”  jawab Neni dengan cengengesan.


" Safiyah, aku boleh bertanya?" tanya Neni ragu.


" Tanya saja. Sejak kapan kau mulai minta izin jika ingin bertanya? biasanya kaulah yang paling bawel bertanya!" ketus Safiyah.


" Aku mau tanya soal Mas Andi." ucapnya malu-malu.


" Soal apa? kenapa dengan Mas Andi?"


" Apakah kau mengenal baik Mas Andi, fiyah? kulihat kau begitu akrab dengannya."


" Ya..., aku sudah lama mengenalnya. Dia baik. sering menolong ku." kata Safiyah sambil memakan makanannya.

__ADS_1


" Apakah kau menyukainya?"


" Akh, tidak! Aku hanya asal bertanya saja. hehehe."


" Kalau kau suka, juga tidak apa-apa. Tapi apa kau tahu dia seorang kepala mafia?" tanya Safiyah kepada Neni.


" ha? kepala mafia? maksudmu penjahat begitu?"


" ya... mungkin bisa begitu, mungkin juga tidak.


" Safiyah! yang benar dong jawabnya!" Neni mengerucutkan bibirnya.


" Lebih baik kau kenali dulu dia. Baru kau tau, dia baik atau tidak, penjahat atau bukan. Bukankah ada pepatah bilang 'tak kenal maka tak sayang '?"


" Iya, fiyah. aku akan pengenalan dulu padanya."


" nah itu baru benar.!


Tuan Subroto hanya bisa tersenyum kecil mendengar mereka bercerita dan bercanda. Di dalam hati kecilnya, Dia ingin sekali matanya cepat pulih dan dapat melihat cucu-cucunya. Dia ingin diberikan kesempatan untuk hidup kembali dan memberikan semua kasih sayang yang belum pernah dia berikan kepada mereka.


Tidak terasa Tuan Subroto meneteskan air matanya. Dia mengingat kembali kejadian waktu dia mengusir Sabrina saat itu.


Sonia melihat kakeknya menangis langsung mendekatinya.


" kakek kenapa menangis?"


" Kakek..., kakek bahagia sayang.."


" Kakek jangan menangis lagi, ya. Kakek sudah tidak sendiri lagi. Sudah ada Sonia dan kak Safiyah. Kami berdua menyayangi kakek. walaupun dahulu kakek tidak menerima kami, kami akan tetap menyayangi kakek."


Sonia memeluk kakeknya, kemudian di ikuti oleh Safiyah juga memeluk mereka.


" huuu uuu, huhuuuu" Neni menangis tersedu-sedu melihat adegan mereka yang berpelukan bersama. Membuat Sonia dan Safiyah terkejut dan menoleh kearahnya.


" Kau kenapa, Neni?" tanya Safiyah heran.


" Aku terharu. Aku juga ingin dipeluk.. huuuu"


" sini!" ajak Safiyah.


Neni mendekati mereka dan saling berpelukan berempat.


**


“ Elno. Ayo kerumah sakit! Mama mau menjenguk tuan Subroto.” Ajak ibu Endang.


“ Sebentar, ma. Elno mau menghubungi Safiyah, tetapi tidak diangkat dari tadi.”


“ Kesana saja langsung, nanti juga ketemu!”


“ El mau nanya, apa mereka disana sudah makan apa belum? Supaya kita belikan, gitu mama.....”


“ ayolah, nanti saja kamu nanyanya!”

__ADS_1


Ibu Endang menarik tangan Elno agar cepat pergi ke Rumah Sakit. Elno hanya pasrah mengikuti mamanya.


**


Di perusahaan Tuan Subroto, Pak Danu mulai kebingungan mencari tuan Subroto. Dia mondar-mandir diruang kerjanya, karena dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan orang suruhannya untuk mencari keberadaan Tuan Subroto.


“ Tok tok, permisi tuan. Ada yang ingin bertemu dengan tuan.” Kata sekertarisnya.


“ Persilahkan masuk!”


“ Baik, Tuan.


Pak Danu melihat dua orang berpakaian preman memasuki ruang kerjanya. Mereka dipersilahkan untuk duduk.


“ Apa sudah ada kabar tentang keberadaan tuan Subroto?”tanya pak Danu yang tidak mau basa basi.


“ Kami sudah menemukannya, Tuan.” Kata salah seorang preman.


“ Kerja kalian bagus! Dimana dia sekarang?”


“ Dia ada di Rumah Sakit XX, tuan. Kami tidak bisa mendekatinya karena dijaga ketat oleh penjaga, tuan.”


“ Kalian tahu, dia dibawa oleh siapa kesana?”


“ Dia dibawa oleh Tuan Andi, Tuan. Ketua geng mafia.”


“ Apa? Sial! Kenapa dia harus terlibat!”


“ Aaaakkhhh! Kalian harus mencari cara untuk mendapatkan Tuan Subroto! Bila perlu langsung kalian habisi tua Bangka itu!!”


“ Pergilah kerjakan tugas kalian!”


" Baik, Tuan!"


Kedua orang itu bergegas pergi meninggalkan pak Danu yang semakin emosi.


Pak Danu begitu marah karena Andi sudah ikut terlibat. Yang pak Danu tau, jika Andi sudah terlibat tipis harapannya untuk dapat menguasai harta tuan Subroto.


Pak Danu mengacak-acak meja kerjanya. berantakan dimana-mana. sekretaris nya masuk karena mendengar suara keras dari dalam ruang kerja bosnya.


Sekretarisnya sudah hafal jika pak Danu marah-marah seperti itu, hanya perlu ditenangkan saja.


Dia mulai meraba dada dan punggung pak Danu. lalu membelai-belai wajahnya. menggeliat dan merayu" boosss... " bisiknya di telinga kemudian dia menggigit manja telinga pak Danu. Membuat pak Danu bereaksi menatapnya.


" Sayang jika tenaga tuan hanya untuk menghancurkan barang-barang itu. lebih baik digunakan ke yang lain, aakh... yang lebih bermanfaat Tuan...aaahhhh! Dengan suara manja dan desahannya membuat pak Danu tidak tahan untuk memulai kegiatan olahraga nya bersama sekretarisnya.


Lima menit kemudian.


" Ceklek" suara pintu dibuka


" gubrak!"


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2