Desain Cinta Safiyah

Desain Cinta Safiyah
SOP ayam sayur


__ADS_3

Gubrak!”


Mery memergoki pak Danu dan sekretarisnya sedang bercumbu mesra di ruang kerjanya. Dia tidak menyangka akan kelakuan papanya di kantor yang suka bergonta-ganti pasangan itu benar adanya.


“ Pantas saja wanita itu selalu berpakaian seksi. Begini kelakuan papa!” gumamnya dalam hati


“ Menjijikkan!! “ teriak Meri kepada mereka.


Pak Danu dan sekretarisnya yang terkejut dan menghentikan kegiatan mereka setelah mendengar ada yang mendobrak pintu. Kemudian dilihatnya ternyata anaknya Meri yang masuk tanpa permisi.


“ ehkem. Ehkem.” Pak Danu berulangkali berdehem sambil dengan cepat merapikan pakaiannya.


Begitu juga dengan sekretarisnya, cepat-cepat dia memasang kembali ********** bagian atas, karena kegiatan mereka belum sampai ke bawah. Lalu merapikan blazer nya dan langsung pergi meninggalkan ruangan atasannya itu.


Meri melirik wanita itu dengan tatapan sinisnya.


**


Dipagi hari, Safiyah melakukan sedikit peregangan otot sebelum melakukan aktivitas nya. Itu merupakan ritual rutinnya setiap hari.


Selesai melakukan peregangan, Dia memandangi langit yang berwarna biru muda dan terlihat ada sedikit awan disana. Dia tersenyum kecil.


Kemudian Dia kembali ke dalam rumah, dan mempersiapkan sayuran untuk memasak SOP ayam sayur untuk dibawa ke rumah sakit.


Sedang asik memotong sayuran, ponselnya berdering. Ternyata panggilan dari Elno.


“ Halo, Mas.


Aku masih dirumah. Hmm..


Iya, hati-hati ya, Mas.”


Setelah mengakhiri panggilan ponselnya, Safiyah melanjutkan kegiatan memasaknya.


Hari ini sudah hari ke empat tuan Subroto dirawat dirumah sakit. Penglihatan matanya sudah kembali lagi, walaupun masih sedikit kabur.


“Tok tok tok “


Mendengar ada yang mengetok pintu Safiyah yang sudah tahu siapa yang datang langsung membuka pintu tanpa mengintip terlebih dahulu.


“ Cepat sekali sampainya mas? Ngebut ya?!”


“ iya, kebelet merindukanmu, sayang.” Elno mencubit gemas dagu runcing Safiyah.


“ Hissh! Sakit, mas.” Safiyah menutup pintu rumah nya dan berjalan kembali ke dapur untuk melanjutkan masaknya.

__ADS_1


“ Mmmm..., Harum sekali. Masak apa sayang?” Elno mendekati Safiyah dan melihat masakannya.


“ Wah, SOP ayam dan sayur. Sepertinya enak. Boleh Mas coba?


“ Boleh, Mas.”


“Mas lapar setelah mencium wanginya.” Elno mengelus-elus perutnya yang lapar.


“ Bilang aja memang Masnya yang mau numpang sarapan kan..?” ledek Safiyah.


“ He-he-he, kamu tahu aja.”


“ Mas duduk, biar Safiyah siapkan dulu.”


Elno memperhatikan Safiyah yang melayaninya di meja makan. Terlihat begitu cantik dimatanya. Dia tersenyum-senyum sendiri dengan mata hanya tertuju padanya.


Safiyah yang tersadar sedang diperhatikan, menghentikan kegiatannya dan melototi Elno. Seketika Elno langsung memalingkan wajahnya kearah lain.


“ Mas tidak kekantor hari ini?”


“ Tidak, sayang. Hari ini Mas ingin menemanimu. Hari ini Tuan Subroto keluar dari rumah sakit kan?”


“ Iya. Tapi nunggu dokter Irwan dulu.”


“ Ada apa dengan dokter Irwan?”


“ MMM..”


Safiyah selesai menyiapkan hidangannya dan duduk di depan Elno.


“ Ayo Mas, kita makan.”


Elno mulai menyantap sajian yang ada didepan matanya. Walaupun hanya SOP ayam sayur dan telur dadar, makan dilayani dan ditemani oleh orang yang terkasih rasanya Elno sudah tidak tahan lagi ingin cepat-cepat menikahi gadis yang ada didepannya.


“ Sayang.., kapan kita menikah?” tanya Elno sambil memakan makanannya.


“ Besok!!” jawabnya ketus.


“ lah kok Jawabnya gitu?”


Safiyah menyudahi makannya dan bangkit dari duduknya.


“ Safiyah. Mau kemana?”


“ Mandi!” jawabnya sambil berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


“ Kamu belum jawab pertanyaanku, sayang?!” teriak Elno. Tapi tidak dijawab oleh Safiyah


Elno menyudahi makannya dan membereskan meja makan. Sambil mencuci piring pikiran Elno melayang kemana-mana. Memikirkan sikap Safiyah tadi.


“ Ada apa dengannya? Kenapa dia menjawab pertanyaanku kasar seperti itu? Atau jangan-jangan Safiyah sudah mulai menyukai pria lain? Akh! Awas saja kalau iya. Akan aku bikin babak belur itu orang! Tapi, jika orang itu Andi, aku yang akan babak belur dong! Dia jago sekali beladirinya. Aaaakkhhh! Pokoknya akan aku tanyakan!! Gumamnya dalam hati.


......................


Disebuah rumah mewah Neni sedang sarapan bersama papanya, Tuan Hasan Basri. Dirumah itu Neni tinggal bersama papanya dan beberapa orang pembantu. Ibu Neni sudah lama meninggal dunia, sejak Neni berusia lima belas tahun.


Tuan Hasan Basri bukanlah ayah kandung dari Neni. Dia hanya ayah sambung saat Neni masih berusia empat tahun. sedangkan perusahaan yang dikelola oleh tuan Hasan adalah perusahaan keluarga ibu Neni. Makanya setelah ibunya Neni meninggal dunia, dia tidak pernah menikah lagi, ataupun punya wanita simpanan. Dikalangan pebisnis dia dikenal setia pada pasangannya.


" Papa, hari ini kabarnya kakeknya Safiyah akan keluar dari rumah sakit." kata Neni memulai percakapan dengan papanya.


" Benarkah?"


" Apa papa tidak ingin melihat nya?"


" tidak sayang. belum sekarang." ucap papanya.


" Neni harap, papa dapat segera menemui mereka, pa. Neni takut jika Safiyah tau dari orang lain, itu akan menyakiti nya lebih dalam lagi, pa."


" iya, sayang. Papa akan cepat menemui mereka. terimakasih ya, sayang." tuan Hasan tersenyum dan bersyukur mempunyai putri sambung seperti Neni, yang dapat mengerti papanya.


......................


Elno diam-diam memasuki kamar tidur Safiyah, saat dia sedang mandi. Ini kali pertama Elno memasuki kamar Safiyah.


Dia melihat sekeliling kamar Safiyah, ada banyak medali terletak di dalam lemari. Dan memperhatikan foto-foto yang terpajang di dinding kamar.


Lama memperhatikan kamar, kemudian Elno berbaring ditempat tidur Safiyah yang kecil itu. Dia mencium aroma kamar Safiyah yang khas aroma wangi wanita yang lembut. membuatnya terlelap.


Safiyah keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat ada Elno yang terbaring di atas tempat tidurnya. Hanya dengan handuk yang melilit di tubuhnya, dia berjalan pelan-pelan mendekati Elno untuk memastikan kalau dia sedang tertidur.


Safiyah menunduk dan memperhatikan wajah Elno begitu dekat. " Sepertinya Mas Elno benar tidur". gumamnya pelan.


Kemudian dia bangkit dan ingin melangkahkan kakinya tiba-tiba tangan Safiyah ditarik oleh Elno. Seketika saja tubuh Safiyah berada diatas tubuh Elno.


Mata mereka saling menatap tanpa berkedip. lidah Safiyah terasa kaku tidak bisa berucap. debaran jantung didada begitu cepat. wajahnya begitu dekat dengan wajah Elno hingga nafasnya terasa hangat. Dia melihat bibir Elno begitu seksi dimatanya.


begitu pula dengan Elno, wangi aroma tubuh Safiyah yang selesai mandi sangat menggodanya. Ditambah lagi penampilan Safiyah yang hanya menggunakan handuk ditubuhnya membuat jiwa lelaki Elno meronta.


Kemudian Elno memutar tubuhnya sehingga kini tubuhnya berada diatas tubuh Safiyah. Dia membelai wajah cantik Safiyah. Dipandanginya bibir mungil Safiyah, dan langsung dia mencium nya. pelan-pelan dan menuntut. Safiyah pun membalas ciuman Elno. mereka terbuai hingga nafas mereka terasa tersengal-sengal barulah melepaskan ciuman mereka.


Elno menatap mata Safiyah dan mengulangi lagi ciumannya. Kali ini Elno melakukannya lebih, dia menciumi leher Safiyah dan terus kebawah hendak ke bagian dada.

__ADS_1


Safiyah yang terbuai dengan kenikmatan ciuman yang dilakukan Elno padanya. tiba-tiba dia menahan tangan Elno dan mendorongnya.


bersambung...


__ADS_2