Desain Cinta Safiyah

Desain Cinta Safiyah
menikah 1


__ADS_3

"Elno, kau bawalah mama mu kesini hari ini juga. Kakek akan menikahkan kalian berdua hari ini juga." jelas tuan Subroto.


" ha? Menikah?" Tanya mereka berdua bersamaan.


" Iya, menikah. Apa kalian tidak mau menikah?" Tuan Subroto berbalik bertanya kepada Safiyah dan Elno.


" Mau, Kek! sekarang juga Elno akan bawa mama kesini! Elno pamit dulu, Kek!" Jawab Elno tanpa ba-bi-bu lagi, dia menjawab dengan penuh semangat dan bergegas pergi menjemput ibu Endang.


" hmm." Tuan Subroto menjawab dengan deheman.


Safiyah mematung ditempatnya. Tidak percaya dengan apa yang akan dilakukan oleh kakeknya.


" Neni, persiapkan pengantin wanitanya. Itu tugasmu." perintah Tuan Subroto.


" Baik, Kek." Neni menjawab dengan senyum lebar. Lalu bangkit dan menggiring Safiyah yang mematung ke luar untuk mempersiapkan diri.


......................


Elno memasuki ruang kerja ibu Endang dengan menggebrak pintu membuat ibu Endang emosi.


Gubrak!


" Mama...!! teriak Elno yang tiba-tiba.


" Elno!! Anak yang tahu sopan dan santun! Pintar dan juga baik hati!! Masuk tanpa permisi!" teriak ibu Endang. " Sini kamu!" ibu Endang menjewer telinga Elno dan menarik nya sehingga dia terduduk di sofa.


" auww sakit, Ma!" teriak Elno.


" Kamu mau mama cepat mati ya! ha?! Kamu mau bikin jantung mama copot! gitu?!" marah ibu Endang dengan mata yang melototi Elno seperti mau copot.


" ya enggak mama. Elno tadi hanya sangat senang ma. hehehe" kata Elno sambil cengengesan.


Ibu Endang duduk sambil mengatur nafasnya perlahan dan mengelus ngelus dadanya yang sedikit sesak.


" Ini, mama minum dulu. Maaf ya ma " kata Elno sambil menyerahkan segelas air putih kepada ibu Endang.


Suasana hening sejenak. Elno memperhatikan kondisi ibu Endang yang mulai merasa tenang.


" Ma, semua seserahan untuk Safiyah masih ada kan ma?" tanyanya pada ibu Endang.


" hmm. Masih ada." jawab ibu Endang sambil memejamkan matanya.


" Bawa semuanya kerumah sakit tempat Tuan Subroto dirawat, Ma." Pinta Elno


" Untuk apa dibawa kesana? Kamu mau nikah?" tanya ibu Endang becanda.


" iya ma. Elno mau menikah hari ini juga sama Safiyah." Kata Elno membuat ibu Endang terkejut.


" ha? Apa? menikah?" Tanya ibu Endang sambil melotot.

__ADS_1


" iya, mama. Kakek meminta Elno untuk menikahi Safiyah hari ini juga. Cepatlah mama pulang dan siap-siap!" Kata Elno sambil bangkit dari tempat duduknya.


" Tapi El. Siang ini mama ada rapat pada klien! tunda sampai besok saja kamu nikahnya!" kata ibu Endang sambil tersenyum kecil menggoda Elno.


" Rapat mama yang harus ditunda! Mama lebih memilih klien daripada anaknya!" jawabnya kesal dan kembali duduk di sofa.


Ibu Endang hanya tersenyum kecil sambil memainkan ponselnya mencari nomor telepon asisten pribadinya.


Elno agak kecewa dengan sikap ibu Endang yang menurutnya tidak peduli. Kemudian dia berdiri dan melangkahkan kakinya.


" Kamu mau kemana?" tanya ibu Endang.


" Mau pergi nikah sendiri!" jawabnya cetus.


" Lho? kok mama tidak diajak?"


" Mama sepertinya tidak peduli. untuk apa!"


" Ah kamu El! Dicandai sedikit sudah mewek!"


tuuut tuuut ibu Endang menghubungi asistennya.


" Halo, Teri. Kamu siapkan kembali seserahan untuk Safiyah."


"..."


Elno senyum-senyum sendiri melihat mamanya.


" Ayo kita pulang untuk siap-siap, sayang." kata ibu Endang sambil menggandeng tangan Elno.


" Ayo, ma."


Mereka berjalan bergandengan tangan keluar dari gedung kantor. Dengan wajah yang berseri-seri.


Semua karyawan yang melihatnya sedikit aneh. Karena sangat jarang melihat pasangan ibu dan anak ini terlihat romantis seperti ini.


Walaupun aneh tapi para karyawan senang melihatnya.


" Ada apa ya dengan nyonya bos dan anak bos? mereka romantis sekali..." Kata salah seorang karyawan kepada yang lain.


" Iya, mereka berdua sepertinya sedang bahagia. Aku jadi senang melihatnya romantis begitu. Pasti tuan Elno juga romantis pada istrinya nanti." kata salah seorang karyawan sambil tersenyum.


......................


" Maaf Kakek. Mereka akan menikah dimana Bukannya kakek masih sakit?" tanya Sonia yang juga terkejut dengan perkataan Tuan Subroto.


" Di sini, sayang." Tuan Subroto menarik tangan Sonia agar duduk di sebelah nya. " Bagaimana menurutmu?" tanya Tuan Subroto pada Sonia.


" Kakak Safiyah kan baru pulang, Kek? Apakah tidak terburu-buru menikahkan mereka?" Ucap Sonia yang memberikan pendapatnya.

__ADS_1


" Leo, apa pendapatmu juga sama dengan Sonia?" tanya tuan Subroto pada Leo yang sedang duduk diujung sofa.


Leo mendekati ranjang Tuan Subroto lalu duduk disebelah ranjang Tuan Subroto.


" Kakek, kalau Leo ikut kata kakek saja. Karena Leo yakin kakek punya alasan untuk ini." Kata Leo sambil mengusap kepala Sonia.


" Benar kata Leo, sayang. Kakek ada alasan untuk ini."


" Sonia, kakek sudah tua. Kakek ingin melihat salah satu dari kalian menikah. Kalau masih diberikan kesempatan lagi kakek mau melihat cicit kakek. Kakek ingin diakhir hidup, kakek dikelilingi oleh orang-orang yang kakek sayangi dan menyayangi kakek." Kata Tuan Subroto sambil mengusap kepala Sonia.


" Kakek akan kembali sehat, kek. Sonia yakin kakek akan kembali sehat, kita bisa bersama sama terus, kek. hiks hiks. Kakek jangan tinggalkan kami lagi..." tangis Sonia pecah diruang Tuan Subroto. Dia memeluk kakeknya dengan erat.


Sore harinya, semua orang yang akan terlibat dalam proses pernikahan sudah tiba semua. Ibu Endang sudah datang dengan ditemani beberapa orang keluarganya. Penghulu juga sudah tiba dengan seorang alim ulama.


Beberapa orang perawat juga terlihat hadir di ruang rawat tuan Subroto. Begitu juga dengan Dokter Noah. Dia juga terlihat hadir.


Kedua pengantin juga sudah tiba. Elno terlihat gagah dan memancarkan kewibawaannya dengan memakai stelan jas pengantin yang sudah disiapkan sebelum peristiwa kecelakaan Safiyah. Dia begitu tampan dan berkharisma.


Begitu pula dengan Safiyah pengantin wanitanya. Menggunakan kebaya pengantin yang didesain oleh Safiyah sendiri. Begitu cantik dan anggun.


Terpancar kebahagiaan Dimata kedua pengantin. Momen pernikahan yang telah tertunda kini bisa terlaksana, sangat sederhana dan dirumah sakit pula. Walau demikian tidak mengurangi rasa kebahagiaan mereka berdua.


" Maaf Tuan, siapa yang akan menjadi wali nikah dari pengantin wanitanya?" tanya penghulu kepada tuan Subroto.


" Saya Kakek dari ibunya ingin meminta Pak ustadz untuk menjadi wali nikah cucu saya. Apakah bisa?" Tanya Tuan Subroto.


" Maaf Tuan, apakah Ayah dari pengantin wanita sudah tidak ada?" Tanya si ustadz.


" Kami tidak tahu dimana keberadaan dari ayahnya, pak ustadz." jawab tuan Subroto.


" Apakah keluarga nya yang lain juga?" tanya pak ustadz kembali.


" Iya, Pak ustadz. Kami juga tidak mengetahuinya." jawab Safiyah sambil menggelengkan kepalanya.


" Kalau memang seperti itu saya akan menerima.." Perkataan pak ustadz terhenti setelah mendengar seseorang yang baru tiba datang.


Tap


Tap


Tap


" Saya yang akan menjadi wali nikah pengantin wanitanya."


"??"


" Siapa kamu?


bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2