
Disebuah restoran mewah, Safiyah sedang melakukan presentasi kepada seorang pria berkepala plontos dan berbadan tinggi besar. Biasanya Safiyah pergi ditemani oleh Leo atau Elno.
Laki-laki itu sangat memperhatikan Safiyah. Tapi, bukan presentasinya yang diperhatikannya, melainkan wajah dan tubuh Safiyah yang diperhatikan. Dia melihat tubuh Safiyah dari atas sampai bawah. Membuat nya berulangkali menelan salavinanya.
Safiyah menyadari kelakuan laki-laki yang ada didepannya. Dia berusaha untuk tenang.
“ Bagaimana Tuan? Apakah setuju dengan konsep yang saya tawarkan?” tanya Safiyah dengan senyuman.
Melihat Safiyah yang tersenyum, membuat laki-laki itu merasa kalau Safiyah memberikan respon terhadap tatapan mesumnya.
“ Tuan! Maaf Tuan! Bagaimana menurut anda?” Safiyah mengulang kembali pertanyaan.
“ Ya, Nona Safiyah. Menurut ku, konsep mu menarik. Tapi ...” laki-laki pelontos itu tiba-tiba memegang tangan Safiyah.
Safiyah yang terkejut langsung menarik tangannya. Dia mengerti kalau laki-laki kepala pelontos ini punya maksud lain.
“Brengsek laki-laki ini! Dia pikir aku wanita murahan!”gumamnya dalam hati.
Leo yang memperhatikan dari jauh, geram melihat laki-laki pelontos itu.
“ Maaf Tuan! Jika Anda bermaksud lain, lebih baik hentikan. Dan saya permisi!” Safiyah menyusun kembali berkas-berkas yang ada di meja, dan segera bangkit dari duduknya.
“ Tunggu dulu Nona! Maafkan saya. Saya hanya sangat mengagumi anda.” Jawabnya sumringah.
Tetapi Safiyah tidak menghiraukannya lagi. Dia segera berbalik dan melangkah pergi.
Tiba-tiba laki-laki kepala pelontos itu memegang bahu Safiyah dari belakang. Reflek tangan Safiyah menarik tangannya dan langsung memelintir tangan laki-laki itu.
“ aauuw! Sakit! maafkan aku Nona!” laki-laki itu merintih kesakitan.
Semua mata pengunjung restoran tertuju pada mereka. Begitu pula Leo yang duduk tidak jauh dari mereka. Dia tersenyum kecil melihat Safiyah melintir tangan pria hidung belang itu.
Kemudian Safiyah melepaskan tangannya, dan Laki-laki kepala pelontos itu berlari terbirit-birit.
“ Hah! Mau main-main denganku?” Gumamnya pelan sambil menyunggingkan senyum sinisnya.
Disaat Safiyah bersiap pergi, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Secepatnya kilat dia menarik tangan itu dan hendak memelintirnya. Tapi bisa ditahan oleh orang itu. Kemudian Safiyah menoleh.
“ ha? Abang Leo!?”
Leo tersenyum kepadanya kemudian melambaikan tangannya.
“ untung saja belum Safiyah banting dirimu tadi, bang.., bang.” Kata Safiyah yang menyesali perbuatannya.
“ Abang mengikutiku?” tanyanya.
“ hmm.. iya. Hanya ingin memastikan kamu aman.” Jawabnya sumringah.
Mereka kemudian pergi dari restoran itu dan pergi menuju kantor menggunakan kendaraan masing-masing.
......................
“ ti-tidak sayang! Jangan! Jangan lepaskan Safiyah! Tidak! Tidak-tidak!” Elno menangis tersedu-sedu memohon agar Safiyah tidak melepaskan pegangannya.
“Safiyaaaaah!!”
__ADS_1
Elno terbangun dari tidurnya. Dengan nafas yang ngos-ngosan seperti selesai berlari pagi. Begitu banyak keringat ditubuhnya. Dia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Dan dadanya yang terasa begitu sesak. Dia bermimpi tapi seperti nyata.
“ Elno! Ada apa? Kenapa kamu teriak?” kata ibu Endang yang Tiba-tiba masuk ke kamarnya karena mendengar teriakkannya.
Elno memeluk erat tubuh mamanya. Dan menangis dipundak ibu Endang. Tidak ada rasa malunya lagi saat ini menangis didepan mamanya.
“ mama.., Elno bermimpi Safiyah jatuh ke jurang, ma....” Elno menitikkan air mata. “ Elno takut sekali ma..”
“ Itu hanya mimpi, El. Jangan dipikirkan. Beberapa hari lagi kalian akan menikah. Jangan pikirkan yang buruk-buruk, pikirkan yang baik-baik saja, ya...,” ibu Endang mengelus-elus pundak Elno.
“ Tapi, ma. Ini seperti nyata ma.” Elno melepaskan pelukannya.
“Sudah, sudah.” Ibu Endang mengusap kepala anaknya.
“Mimpi itu bunga tidur, El. Kamu mimpi mungkin karena kamu kepikiran akan segera menikah dengan Safiyah jadi terbawa-bawa saat tidur. Makanya kalau tidur itu berdoa dulu jangan asal tidur!” kata ibu Endang sambil berlalu pergi dari kamar anaknya.
Sedangkan Elno masih memikirkan mimpinya tadi. Dia mencari-cari keberadaan ponselnya. Ternyata ada di bawah tempat tidurnya. Dia mengambilnya dan langsung menghubungi Safiyah.
Tuuut tuuut tuuut klik
“ halo mas.”
“ Kamu dimana, sayang?
“ Dikantor, mas. Ada apa? Mas mau kesini?” tanyanya
“ Kamu tidak sibukkan, sayang?”
“ Tidak, mas.”
“ Ok, Mas sekarang kesana.”
Elno memutuskan sambungan ponselnya dan bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandinya.
......................
" Sayang, Mama mau mengajak kamu ke butik langganan mama." ucap Elno.
" Ngapain mas?"
" Katanya untuk mencari barang-barang seserahan. Kata mama lebih baik Safiyah sendiri yang memilih, supaya Safiyah bisa menggunakannya. Kalau mama yang pilihkan, takutnya tidak sesuai dengan kamu dan nantinya hanya jadi pajangan saja." jelas Elno.
" Baiklah, Kapan mas?" tanya pada elno
Elno dan Safiyah berada di dalam mobil yang sedang menunggu lampu hijau menyala.
" Bagaimana kalau hari ini saja?"
" Baiklah, Mas."
" Mas hubungi mama dulu."
tuuut tuuut tuuut
" Halo ma, Mama bisa sekarang kita pergi mencari barang-barang seserahan?"
" iya ma. Kita ketemu disana saja, ma."
__ADS_1
Baiklah ma.
klik.
" Mama sedang menuju ke butik langganannya, sayang. Kita langsung kesana saja, ya."
" iya, Mas." Safiyah tersenyum dan menggenggam tangan kiri Elno. Elno pun membalas menggenggam erat tangan Safiyah.
Mobil mereka berhenti di persimpangan jalan sedang menunggu lampu hijau menyala. mereka tidak memperhatikan orang yang menyeberang didepan mereka karena asik mengobrol.
" Papa..., Papa.... tunggu Meri!" Meri berlari mengejar pak Danu yang berlari tak karuan. Setelah kecelakaan itu, pak Danu mengalami gegar otak parah. sehingga dia kembali seperti anak kecil berusia lima tahun.
" ye ye.. aku bebas! aku bebas!" kata pak Danu sambil melompat seperti tingkah anak-anak lima tahun.
Meri berlarian mengejar pak Danu takut dia ketabrak kendaraan lagi. Saat dia menyeberang, dia menoleh kearah mobil yang ada didekatnya. Dia melihat Elno yang sedang bercanda dengan Safiyah di dalam mobil. Meri menatap mereka dengan tatapan sendu.
" Semoga kalian berbahagia selalu, dan maafkan aku atas segala kesalahanku. Aku berharap suatu saat aku bisa menebus kesalahanku kepada kalian. Maafkan aku, el." Gumamnya dalam hati.
lampu hijau sudah menyala. Elno sudah melajukan mobilnya. Sedangkan Meri, menatap mobil itu sampai hilang dari pandangannya. Barulah dia teringat kembali untuk mengejar papanya.
......................
Mobil Elno sudah memasuki halaman parkir butik langganan ibu Endang. Sudah terlihat kalau ibu Endang sudah berada di dalam butik, karena keberadaan mobilnya diparkiran.
" Ayo sayang. Sepertinya mama sudah menunggu kita."
Mereka keluar dari mobil bersamaan dan melangkah masuk ke butik dengan tangan saling menggenggam. Ibu Endang yang melihat mereka dari jauh merasa sangat bahagia.
" Itu mereka, Jeng?" tanya pemilik butik yang tak lain adalah teman ibu Endang.
" iya." jawab ibu Endang sambil tersenyum.
" Mereka serasi sekali, jeng.? Aku iri melihatnya..."
" Benar, Jeng Della. Mereka memang serasi." jawab ibu Endang dengan mata yang berbinar.
Elno dan Safiyah mendekati mereka.
" Mama." Elno memeluk ibunya.
" Tante" Safiyah mencium punggung tangan ibu Endang.
"Kenalkan ini pemilik butik. Tante Della, teman Tante Fiyah."
" Safiyah, Tante Della." Safiyah mengulurkan tangannya dan disambut oleh jeng Della.
" Dan ini, kamu sudah tentu tahukan, Jeng?" tanya ibu Endang.
" Ya sudah tentu, laki-laki tampan ini tentunya Elno..." mereka kemudian tertawa kecil.
" Oya, kapan acara nikahannya?" tanya jeng Della.
" Hari Sabtu ini Tante, datang ya.." Safiyah mengajak Jeng Della.
" Tentu, Tante datang sayang." jawab Jeng Della tersenyum lebar.
Mereka mengobrol tertawa-tawa kecil tanpa sadar ada yang mengawasi dan menguping pembicaraan mereka.
__ADS_1
" Apa?! Sabtu ini mereka menikah!! Akh!!"