DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 11


__ADS_3

Matahari pagi yang sudah sedikit meninggi terbias masuk melalui jendela kamar dan mengusik Bella yang masih tertidur nyenyak di tempat tidurnya. Bella yang terganggu mengusap matanya dan melirik jam yang tergantung di dinding. Oh tidak… batin Bella. Ia sepertinya harus berlari ke sekolah dan menerima hukuman dari guru piket hari ini.


Bella beranjak ke kamar mandi dengan tergesa-gesa. Ia hanya membutuhkan lima menit untuk mandi dan lima menit untuk bersiap-siap lalu keluar menuju dapur untuk setidaknya minum air putih sebagai sarapannya.


Bella melirik seseorang yang sedang santai duduk di ruang tengahnya sambil menonton siaran aneh di TV. Itu Levi. Dia sedang menonton pertunjukan hewan liar yang sedang memperebutkan wilayah kekuasaan. Tapi, bukan itu yang membuat Bella sampai menyemprotkan air dari mulutnya karena terkejut.


“Kenapa kau memakai pakaian seragam dari sekolahku?” Bella sudah bergerak mendekati Levi. Meyakinkan matanya tidak salah menilai baju seragam sekolahnya.


“Arro menyuruhku menjagamu. Jadi aku bersiap kalau hari ini kau akan ke sekolah.” Levi menjawabnya dengan santai, tanpa melepas pandangannya dari TV itu.


“Apa kau gila? … satu sekolah akan heboh hanya dengan melihatmu berjalan.” Bella tidak bohong. Paras dan tubuh Levi diatas rata-rata manusia biasa. Siapa yang bisa mengalihkan pandangan dari wujudnya.


“Bella, aku tidak akan mengambil resiko dicabit-cabik oleh Arro hanya karena tidak menjagamu.”


“Kau bisa menjagaku dari atas sana, kan?”


“Yang berjaga di atas sudah ada. Atau kau mau aku bertukar dengan mereka? Mereka turun dan aku hanya melihatmu dari atas?” Levi kini berdiri, mematikan TV itu dan melihat Bella yang diam, Bella tau itu bukan pilihan yang tepat. “Sekarang, kau masih ingin berdebat atau berangkat ke sekolah?” Levi mengisyaratkan Bella untuk melihat ke arah jam. Mereka sudah telat 30 menit. Bella menarik napasnya dan pasrah dengan apa pun yang akan Levi lakukan.


Saat mereka keluar rumah, sebuah mobil mewah sudah terparkir di halaman rumah itu. Sebuah mobil dengan desain unik dengan logo R yang tumpang tindih. Bella tau merek mobil itu. Salah satu merek mobil mahal yang pernah dilihatnya di majalah sport koleksi Robert, ayahnya dulu menyukai semua hal berbau otomotif.


Bella mendengus kesal, lagi-lagi ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Levi.


“Ini mobil siapa lagi?” tanya Bella dengan tidak bersemangat. Bella sudah tidak bertenaga berdebat dengan Levi.


“Kepunyaan Arro. Dia kalau bosan di sana, sering melarikan diri ke duniamu.” Levi sudah berjalan memasuki mobil mewah itu. Bella yang masih tidak percaya, mengusap kasar wajahnya. Hari ini akan menjadi sangat panjang.


“Jadi kalian semacam kaya raya?” tanya Bella setelah menutup pintu mobil mewah itu.


“Bukan seperti itu. Di dunia kami, emas dan permata yang kalian sebut diamond adalah hal biasa. Tapi, di dunia ini nilainya sangat berharga. Bahkan seorang rakyat biasa dari atas mampu membeli rumah mewah di bawah sini. Apalagi seorang anggota keraja…” Levi membungkam mulutnya. Ia hampir kecoplosan. Ia melirik Bella yang sedang mengagumi interior mobil itu. Sepertinya Bella tidak menyadari kalimatnya.

__ADS_1


“Lalu, kau punya hubungan apa dengan Arro? Kau selalu mengatakan kalau kau melakukan perintahnya.” Bella kini menolehkan wajahnya ke Levi, menunggu jawaban.


“Aku hanya teman kecilnya. Aku lebih tua dari Arro. Tapi, kedudukan kami berdua sangat berbeda,” jelas Levi tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan yang cukup ramai.


Setelah berkendara kurang dari … 5 menit mereka sampai di depan gerbang sekolah. Setelah Levi memakirkan kendaraannya, ia melihat Bella disampingnya yang mendngus kesal. Levi tau sudah berbuat kesalahan.


“Jadi … apa manfaat dari berkendara menggunakan mobil mewah ini kalau jaraknya bahkan sangat dekat?” Bella sudah hampir memaki Levi.


“Bella, aku belum pernah ke sekolah. Jadi aku tidak tau jaraknya sedekat ini.” Levi mencoba mencari alasan.


“Kau sudah pernah menungguku di depan gerbang. Kau ingat, kan?” Bella menghadap Levi dengan jengkel.


“Oke, baiklah. Aku minta maaf.”


Bagi Bella, ini seperti pamer. Ia datang ke sekolah dengan jarak sedekat ini, menggunakan mobil mewah bersama pria semenarik Levi.


Setelah berdoa dalam hati, Bella membuka pintu mobil dan memasuki sekolahnya. Semuanya berjalan sesuai ekspektasinya. Bahkan saat Levi keluar dari mobil itu, suara kekaguman terdengar jelas di telinga mereka berdua. Bukan hanya dari gadis-gadis di sekolahnya bahkan para guru dan siswa laki-laki ikut mengagumi kehadiran Levi.


“Tenanglah, kau tidak akan dihukum.” Levi dengan rasa percaya dirinya berjalan mendahului Bella. Menghampiri guru yang terkenal galak itu.


“Selamat pagi pak.” Levi mengucapkan salam dengan santai.


“Kau siapa? Saya tidak pernah melihatmu,” balas guru itu.


“Saya murid pindahan dari sebulan lalu, Pak.” Levi mengucapkannya tanpa melepas pandangan matanya dari pak Harry. Ia mengunci gerak mata guru itu. Seperti memerintahkan untuk membenarkan ucapannya.


“Oh iya… saya lupa.” Pak Harry hanya mengangguk dengan ekspresi datar.


Levi kemudian berbalik, memanggil Bella untuk mendekat. Bella pun melangkah dengan cemas.

__ADS_1


“Kami masuk dulu ya, Pak.” Levi berucap lagi. Tentu saja menatap intens ke manik mata guru itu. Pak Harry hanya mengangguk setuju lagi.


“Kau sudah benar-benar keterlaluan,” bisik Bella.


“Bukankah harusnya kau berterima kasih?”


Jauh didalam lubuk Bella sebenarnya ia bersyukur. Ia tidak jadi dihukum, artinya poin kehadirannya tidak berkurang. Hanya saja ia merasa bersalah. Ia belum pernah berbuat curang seperti ini.


“hmm, terima kasih,” gumam Bella, suaranya sangat kecil. Tapi Levi bisa mendengarnya.


“Sama-sama Bella,” balas Levi sambil tersenyum.


Mereka pun berjalan bersama menuju kelas diiringi suara iri dari para siswi untuk Bella.


Saat di kelas, Levi menempatkan dirinya duduk tepat dibangku belakang Bella. Tempat itu harusnya di tempati oleh Andrea. Seorang cowok usil yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Bella. Tapi dia bukanlah seorang tetangga dan teman yang baik. Ia kadang menarik rambut Bella atau melempar kertas kosong ke arahnya. Pernah juga Andrea menempelkan kertas dengan tulisan ‘Bella pecundang’ dipunggungnya. Bella menyadarinya ketika ia melepas seragamnya di rumah. Ya, teman-temannya tidak ada yang mau repot melepaskan tulisan itu atau sekedar memberitahu Bella.


Seperti biasa, kelas itu akan ramai sebelum mata pelajaran di mulai. Hanya saja, hal yang tidak biasa terjadi. Beberapa teman Bella bergantian menghampirinya dan menanyakan kabarnya. Bella tersenyum getir, itu hanya taktik mereka untuk bisa melihat Levi dengan dekat. Bella mengabaikan pertanyaan-pertanyaan itu. Toh, saat mereka bertanya wajah mereka tidak menatap Bella hanya melihat Levi yang sibuk membaca di belakangnya. Bella yang meminjami buku itu. Novel romansa yang ia dapat murah dari toko buku yang sudah hampir bangkrut.


Saat pelajaran akan di mulai. Bella berbalik ke arah Levi. Ia mengamati levi lalu menatapnya dengan wajah bertanya-tanya. Sejak tadi, ia memang merasa seragam Levi sedikit kekecilan. Celana itu tergantung, tidak benar-benar menutup mata kakinya. Sedangkan baju yang dipakainya sedikit membentuk tubuhnya. Jika diperhatikan sekilas, baju itu terlihat sempurna untuknya karena memamerkan bentuk tubuh Levi yang bugar, hanya saja seragam sekolah tidak seharusnya seketat itu.


“hmm…Lev, darimana kau mendapatkan seragam itu?” Bella akhirnya bertanya.


“Kau tidak harus tau.” Levi menjawabnya asal sambil terus membaca.


“Kau tidak mencurinya, kan?”


Levi menjauhkan bukunya. Ia membalas melihat Bella dan memajukan tubuhnya, lalu ia berbisik, “Tentu saja aku mencurinya, aku tidak mungkin menjahit sendiri baju ini,” balas Levi tanpa rasa bersalah.


Bella menggeleng lemas. Ya, dia tau itu baju milik siapa. Milik orang yang bangkunya diduduki Levi sekarang.

__ADS_1


... ...


...*******...


__ADS_2