
19 Tahun lalu, Dunia Atas, Kerajaan Aelios.
"Yang Mulia, Pasukan dari Kerajaan Doria telah sampai di Gerbang Utama. Apa yang harus kami lakukan?" tanya pengawal pribadi Raja itu.
Sang Raja tidak menjawab, ia hanya menatap sayu istrinya yang masih terbaring lemah pasca melahirkan. Istri sang Raja pun tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggenggam erat tangan suaminya sambil meneteskan air mata.
“Yang Mulia Ratu, tuan Putri sudah kami mandikan," ucap seorang abdi istana yang datang sambil menggendong sang Putri.
Sang Raja melihat sang Putri yang sudah tertidur pulas itu. Dengan hati yang pilu, sang Raja mengambil alih sang Putri lalu menciumnya dalam, lalu menyerahkan ke sang Ratu.
"Ratuku yang tercinta, Camelia, ini adalah saat dimana kau dan aku harus berpisah. Ingatlah, bahwa aku sangat mencintaimu dan putri kita. Aku tidak menyesali apa pun yang telah terjadi. Kau harus tahu bahwa engkau adalah kebahagianku di dunia ini." Sang Raja sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.
Sang Pengawal dan sang Abdi Kerajaan ikut meneteskan air mata mendengar perkataan sang Raja. Mereka tahu apa yang telah sang Raja dan Ratu hadapi untuk bisa bersama.
Ratu Camelia menyambut sang Putri dengan tangisan. Ia mengerti apa yang harus dilakukannya. Tapi, meninggalkan sang Raja untuk menghadapi kematiannya tentu saja sangat menyayat hatinya.
"Rajaku, Ouranos. Pilihanku untuk hidup bersamamu adalah pilihan yang tidak akan pernah ku sesali. Aku sangat mencintaimu … dan maafkan aku, karena memisahkanmu dari duniamu.” Sang Ratu mengusap air matanya yang mengalir deras lalu tersenyum indah. “Terima kasih sudah mau menjadi pendampingku dan memimpin negeri ini. Aku akan menunggumu di kehidupan selanjutnya."
Raja Ouranos mendekat dan mencium Ratu Camelia sangat dalam. Itu adalah ciuman terakhir mereka. Sebelum sang Ratu mengeluarkan sayap dari punggungnya. Sayap yang sudah tidak sekokoh dan seindah dulu. Sang Raja iba melihat sayap itu. Ia tahu bagaimana indahnya sayap itu dulu.
__ADS_1
Sang Ratu pun turun dari ranjangnya. Menggendong sang Putri dalam dekapannya, lalu berjalan menuju jendela yang terbuka lebar. Sang Ratu berbalik untuk melihat Sang Raja kembali. Sang Raja pun tersenyum dan mengangguk, mengartikan bahwa ini adalah jalan yang terbaik untuk melindungi Kerajaan Langit.
Sang Ratu menutup matanya, ia menarik napasnya dalam dan membiarkan air mata terakhirnya menetes. Lalu ia melompat dari jendela itu dan terbang menembus gelapnya malam menuju Daratan Manusia.
Setelah sampai di tempat yang telah ia rencanakan, ia menurunkan dengan pelan sang Putri di bawah pintu sebuah panti asuhan di tengah kota. Sang Ratu melihat sekeliling, ia merasa lega tidak ada manusia yang beraktivitas di tengah malam. Sang Ratu kembali melihat sang Putri yang masih tertidur pulas. Ia mencium dan memeluk sang Putri untuk terakhir kali. Setelah itu, sang Ratu mengusap lembut dada sang Putri, ia tahu tanda itu berada di sana sejak sang Putri lahir. Tanda yang sama dengan yang dimiliki Sang Putra Mahkota Kerajaan Vasileion. Calon Raja seluruh Kerajaan Dunia Atas.
Tanda sang Pangeran sudah menjadi informasi yang wajib diketahui seluruh bangsa Dunia Atas. Sebagai informasi kepada siapa pun yang kelak melahirkan pragma sang Pangeran untuk segera melaporkannya ke Kerajaan Vasileion.
Ratu Camelia adalah seorang malaikat yang dianggap aib bagi kerajaannya, karena memilih untuk menikahi laki-laki dari bangsa manusia. Ini adalah sebuah penghinaan besar untuk pragma sang Ratu. Karena itulah, kerajaannya diserang dan putrinya dalam bahaya.
Ratu Camelia sangat menyesal harus memisahkan sang Pangeran dan puterinya. Tapi, ini untuk menyelamatkan Dunia Atas. Pilihannya adalah, memisahkan mereka sekarang atau mereka tidak akan pernah bertemu selamanya. Ia menyerahkan semuanya pada takdir sang Putri. Ia tahu sang Pangeran pasti akan mencari sang Putri.
"Maafkan Ibunda, anakku sayang," ucap sang Ratu sambil menutup wajah sang putri dengan telapak tangannya. Ia mengucapkan beberapa kata yang asing. Sebuah mantra untuk membuat sang putri tidak pernah mengingat apa pun, menghilangkan kekuatan malaikat sang Putri dan membuat tanda sang putri menghilang.
Diambang pintu itu menampilkan seorang wanita paruh baya yang sama terkejutnya melihat seorang wanita cantik dengan gaun putihnya yang mewah sedang terduduk sambil menggendong seorang bayi kecil. Mata wanita cantik itu sangat sembab dan sayu pertanda ia telah banyak mengeluarkan air mata.
"Hai ... apa ada yang ku bantu?" tanya wanita itu mencoba tenang, ia merasa ada sesuatu tidak beres.
Sang Ratu berdiri sambil kembali menggendong sang Putri. "Perkenalkan, Saya Ratu Camelia dari Kerajaan Aelios."
__ADS_1
"Kerajaan?" Wanita itu bingung dengan ucapan Ratu Camelia.
"Saya bukan bangsa dari dari dunia ini. Tapi ... putri ini, ia berasal dari dunia ini, seperti ayahnya. Maukah kau menjaganya?" tanya sang Ratu sambil hati-hati menyerahkan Sang Putri.
Wanita itu menerima sang Putri. Ia menggendongnya dengan hati-hati dan melihat parasnya. Sangat cantik, batin wanita baya itu.
“Siapa namanya?"
"Bella Camelia Ouranos.” Sang Ratu tersenyum lemah mengucap nama putrinya. Nama yang sengaja ia dan suaminya pilih sebagai lambang hubungan malaikat dan manusia yang mengalir dalam darah putrinya.
Wanita baya itu melihat raut wajah sang Ratu yang kesakitan, “Apa kau tidak apa-apa?" tanya wanita itu cemas.
Sang Ratu memegang dadanya yang seperti terbakar. Ia tahu waktunya sudah hampir habis. "Waktuku sudah hampir tiba, aku mohon padamu, jangan biarkan Bella mati. Ia harus terus hidup. Dia adalah harapan untuk bangsaku. Bangsa Dunia Atas." Sang Ratu terus mencengkram dadanya. Ia melihat sang Putri untuk terakhir kali. Lalu, mengeluarkan sayap nya yang sudah hampir habis.
Wanita baya itu pun terkejut melihat sayap itu. Tapi, ia memberanikan diri untuk mengucapkan janjinya. “Aku berjanji akan merawatnya dan menjaganya.”
"Terima kasih. Aku sangat berterima kasih." Sang Ratu pun perlahan mundur lalu melihat ke langit gelap diatasnya, tatapannya sangat sedih. Ia tau ia tidak akan pernah sampai ke atas lagi. Tubuhnya akan terbakar habis setelah kekuatannya lenyap.
Seperti merasakan sebuah perpisahan, Bella kembali menangis dalam pelukan wanita baya itu. Ratu Camelia ingin berlari dan mengambil kembali putrinya tapi ia menahan hasyatnya. Ia tersenyum sedih ke wanita baya itu, lalu ia berucap, “Aku mengunci memori dan kekuatannya. Hanya satu syarat semuanya bisa kembali. Ia harus menginjakkan kakinya di Tanah Abadi.”
__ADS_1
Wanita baya itu tidak mengerti dengan ucapan sang Ratu. Sang Ratu seperti tidak berbicara kepadanya. Tapi seperti berbicara ke siapa pun yang bisa mendengar suaranya. Sang Ratu seperti tau ada seseorang di antara mereka. Seseorang yang sudah menangis dan berteriak tanpa suara. Seseorang yang merupakan wujud dewasa putrinya. Bella.
...****************...