DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 14


__ADS_3

Dua ratus lima puluh tahun lalu. Dunia Atas, Kerajaan Occelum Selatan.


“Tuan, saya mohon selamatkan istri saya,” ucap seorang pria dengan pakaian lusuh dan rambut peraknya menatap penuh harap pada seorang pria dengan pakaian bangsawannya.


“Dia sudah hampir tidak bisa diselamatkan,” lirih pria bangsawan itu. Ia ikut bersedih.


“Tidak, Tuan. Dia harus hidup. Saya tidak bisa hidup tanpa dirinya.” Laki-laki itu sudah menangis memohon.


“Baiklah, akan saya coba.” Pria bangsawan itu meletakkan tangan kanannya menutup wajah wanita yang terbaring tidak bergerak di atas dipannya.


Pria dengan pakaian lusuh itu, berharap cemas. Pandangannya tidak lepas dari wajah sang wanita yang masih kaku. Ia berdoa dalam hati akan memberikan apa pun yang ia punya kepada sang penyelamat.


Setelah beberapa saat, tiba-tiba sang istri menarik napasnya dalam, menghirup udara sebanyak mungkin untuk mengisi rongga dadanya lalu terbatuk hebat. Sang Pria dengan pakaian lusuh tertawa senang lalu memeluk sang wanita, tetapi matanya mengalirkan air mata. Air Mata yang menunjukkan kebahagiaan dan kelegaan.


“Terima kasih, Tuan.” Pria itu menyalimi sang pria bangsawan.


Sang Pria bangsawan pun tersenyum ikut merasakan kebahagian itu. Saat merasa ia sudah selesai, ia beranjak berdiri.


“Tuan, bolehkah saya tau nama tuan?” tanya pria lusuh itu menghentikan pergerakan pria bangsawan yang akan berjalan pergi.


Pria bangsawan itu berbalik sambil tersenyum hangat, lalu berkata “Lexander Kyrillos.”


“Tuan Lexander, saya tidak punya apapun untuk menebus kebaikan tuan. Karena itu…” pria lusuh itu tiba-tiba menggores telapak tangan kanannya menggunakan kukunya yang tajam hingga mengalirkan darah. “Dengan ini, saya Agnor mengikat perjanjian darah dengan Tuan Lexander Kyrillos. Tuan bisa menggunakan nyawa saya untuk mengganti nyawa Tuan atau semua keturunan Tuan.” Setelah kata itu terucap, darah merah yang mengalir itu tiba-tiba berubah warna menjadi biru mengikuti warna mata Lexander. Kemudian terhisap masuk kembali ke luka goresan itu, sampai luka itu menutup kembali.


“Apa yang kau lakukan?” Lexander terkejut dengan janji abadi yang dibuat pria lusuh itu.


“Tidak apa-apa Tuan, hal yang saya punya sekarang hanyalah nyawa saya, karena itu, saya ingin memberikannya kepada tuan.”


Lexander terdiam, lalu berkata, “namamu Agnor?”


“Benar, Tuan.”


“Maukah kau menemaniku ke kerajaan Vasileion?”


Agnor terperanjat mendengar nama kerajaan yang disebut Lexander, ia mencermati jubah, lambang, dan permata yang dipakai oleh Lexander. Kenapa ia baru menyadari kalau dihadapannya bukanlah seorang bangsawan biasa.


“Apakah anda adalah pangeran Lexander, pewaris tahta Kerajaan Utama Vasileion?”


Lexander tidak menjawab, ia hanya tersenyum mendengar jawaban Agnor.


Agnor segera berlutut untuk memberi hormat, lalu ia berkata, “Baik, Tuan. Saya dan istri saya akan ikut dengan tuan.”


......................


Sejak perjanjian itu, Agnor tidak hanya menjadi ‘jimat’ untuk Lexander, tapi juga menjadi temannya. Beratus-ratus tahun ia mengenal Lexander yang tidak hanya bijaksana tapi juga membuatnya melupakan perjanjian itu. Seakan-akan mereka tidak pernah terlibat perjanjian apa pun.


Agnor yang menjadi semakin nyaman dengan keadaanya waktu itu, membuatnya sering berbuat seenaknya, bahkan kadang tidak mematuhi perintah Lexander. Ia mengira, karena itu Lexander menghukumnya.


Agnor mengusap wajahnya dengan kasar. Padahal Lexander bisa saja menggunakan perjanjian itu itu menyelamatkan hidupnya.


“Sekarang, apa yang kau inginkan?” Agnor bertanya pada Arro.


“Aku ingin kau menggunakan hak istimewamu sebagai pemimpin Dunia Bawah.”


“Maksudmu? …” Agnor berpikir sejenak. “memanggil ruh dari Dunia Kematian?”


Arro mengangguk, “Ya. Aku membutuhkannya.”


“Yang Mulia, anda ingin memanggil siapa?” tanya Damian cemas.


“Seorang wanita dari Bangsa Manusia,” jawab Arro yang juga didengar oleh Agnor.

__ADS_1


“Seorang manusia? Arro kau tau, itu sangat sulit. Bahkan dengan hak istimewaku-”


“Aku tau, kau bisa mengatasinya. Ini adalah kesempatanku untuk menyelamatkan kerajaan. Dan … menyelamatkan pragma-ku,” sanggah Arro.


Agnor tidak menjawab lagi. Ia mengetuk-ngetukkan kuku-kuku panjangnya pada tulang yang menjadi sandaran lengannya. Ia sedang menimang pilihan dalam pikirannya.


“Baiklah, siapa orang yang ingin kau panggil?”


Arro mengingat-ingat info dari Levi. “Namanya Rina Cathleen meninggal 9 tahun lalu. Jasadnya dikuburkan di pemakaman Kota Damaris, Daratan Manusia.”


Agnor mendengarnya tanpa menyahuti. Setelah merasa info dari Arro cukup, ia berdiri dari duduknya. Mengambil tongkatnya, lalu memukul-mukulkan ke tanah sebanyak tiga kali, sementara mulut Agnor tidak berhenti menggumamkan sesuatu. Lalu sebuah gelombang api muncul mengelilingi Agnor.


Arro dan Damian hanya diam melihat proses pemanggilan yang dilakukan Agnor. Arro menatap dengan penuh harap ini akan berhasil.


Setelah beberapa menit berlalu, Agnor masih belum selesai dengan ritualnya. Ia berulang kali mengetuk-ngetukkan tongkatnya. Sesekali ia mengambil napas dalam, sesekali juga ia mengernyitkan keningnya sambil berkonsentrasi penuh. Hingga api yang mengelilinginya perlahan mengecil dan padam.


Setelah ritual itu selesai, agnor jatuh terduduk dan terbatuk-batuk, lalu ia memuntahkan darah dari mulutnya.


Arro dan Damian tentu saja terkejut. Damian segera berlari menaiki singgasana Agnor dan menahan bahu Agnor agar ia tidak terjatuh dari duduknya.


“Tuan, anda tidak apa-apa?” tanya Damian khawatir.


Agnor mengangguk dan menarik napasnya dalam sambil mencoba menyandarkan punggungnya.


“Apa yang terjadi?” tanya Arro dari tempatnya.


Belum Agnor menjawab tiba-tiba sebuah kilatan putih bercahaya terang memenuhi ruangan itu. Cahayanya sangat terang hingga memaksa mereka menutup mata dan mengintip dari balik tangan.


“Aku, Rina Cathleen.” Sebuah suara lembut tanpa wujud itu terdengar menggema.


Arro berusaha menyipitkan matanya mencari sosok dari cahaya itu. Tapi nihil, ia tidak bisa melihat siapapun.


“Arro, waktumu hanya semenit. Cepatlah bertanya!” desak Agnor setengah berteriak.


“Oh ya, Bella. Tentu saja saya mengingat gadis cantik itu.”


“Apa yang kau tau tentang dia? Tentang orang tua aslinya?”


“Saya menemukannya sedang di gendong oleh ibunya di depan pintu panti asuhan. Ibunya sama seperti Bella, cantik dan anggun. Tapi … ibunya bukanlah seorang manusia.”


Arro tersenyum mendengar jawaban itu. Sedikit lagi, ia menemukan jawaban yang ia inginkan, “Apa maksudmu ibunya bukan manusia?”


“Ibunya, menyerahkan Bella kepadaku untuk merawatnya. Ia sangat gelisah waktu itu, seperti sesuatu terjadi dengannya. Saat menerima Bella, ibunya berpesan kepadaku untuk tidak membiarkan Bella mati, katanya, ia adalah harapan untuk Bangsa Langit.”


Tepat. Jawaban itu yang ingin Arro dengar. Dengan informasi itu, maka seharusnya Bella benar adalah pragma-nya.


“Lalu, apa yang terjadi dengan ibu Bella?”


“Saya tidak tau, saya hanya melihatnya terbang dengan sayapnya yang rusak. Ia sudah tidak mempunyai banyak helaian pada sayapnya … oh tunggu, saya mengingat sesuatu,” kalimatnya terjeda, “sebelum saya membuka pintu, saya melihat dari balik jendela, ibu Bella sedang merapalkan sesuatu untuk Bella.”


“Apa kau mendengar apa yang isi rapalan itu?”


“Tidak, suaranya sangat kecil dan dalam bahasa yang aneh-“ suara itu mulai terdengar melemah dan perlahan menjauh. Cahaya yang tadi menusuk mulai memadam. Waktunya sudah hampir habis.


“Siapa nama ibunya?!” pekik Arro sebelum cahaya itu benar-benar hilang.


“Camelia. Namanya Ratu Camelia dari kerajaan …” jawab suara itu terpotong sebelum benar-benar menghilang.


Suasana di sana kembali temaram. Setelah kepergian cahaya itu, tidak ada yang mengeluarkan suara.


“Arro, aku akan membantumu, tapi dengan satu syarat,” ucap Agnor mengalihkan perhatian Arro dari pikirannya sendiri.

__ADS_1


“Apa?”


“Izinkan aku kembali menginjak Dunia Atas untuk bertemu istriku, hukuman yang aku terima hanya bisa dibatalkan oleh Sang Raja atau keturunannya.”


“Baiklah, tapi kau tetap memimpin Dunia Bawah.”


Agnor mengangguk setuju.


Arro kembali dengan pikirannya. Ia harus tau apa yang dirapalkan oleh Ibu Bella. Mungkin … sekarang adalah saatnya, “Damian,” panggil Arro,


“Ya, Yang Mulia.” Damian yang masih berdiri di samping Agnor menjawab.


“Bersiaplah, aku akan membawa pragma-ku ke Kerajaan Vasileion,” perintah Arro.


“Baik, Yang Mulia.”


“Dan kau Agnor, aku mempunyai permintaan lain.”


Arro menatap Agnor di atas sana, tapi Agnor tidak menjawabnya, ia mencoba berdiri dari duduknya dibantu oleh Damian. Tapi Agnor melepaskan pegangan Damian, ia merapikan jubahnya lalu berdiri dengan tegap.


Agnor berjalan menuruni anak tangga singgasananya, lalu berjalan lurus ke arah Arro. Tubuh Arro menegang, ia mempersiapkan tubuhnya jika Agnor ingin bertarung dengannya.


Saat Agnor sudah berhenti tepat di hadapannya, tatapan Agnor berubah, tiba-tiba ia menunduk memposisikan dirinya berlutut dengan satu kaki dan satu lengannya ia letakkan di atas lututnya yang sedang memopang tubuhnya. Lalu ia berkata, “Baik, Yang Mulia, Arro,” jawab Agnor patuh, karena yang berdiri di hadapannya sekarang bukanlah lagi seorang putera mahkota yang ia kenal, tapi seorang Raja Kerajaan Vasileion.


Arro tersenyum senang, ini artinya rencana yang ia susun bersama Levi berhasil, bukan hanya mendapatkan informasi yang ia butuhkan tentang Bella, tapi ia juga berhasil meyakinkan Agnor untuk menjadi sekutunya.


...****************...


Dua jam yang lalu…


"Bagaimana dengan panti asuhan itu? Kau sudah punya informasi?" tanya Arro memecah keheningan.


"Tidak ada yang tau bagaimana Bella bisa sampai di panti asuhan itu. Yang mereka tau, Bella ditemukan di depan pintu oleh salah satu pengurus panti."


"Siapa nama pengurus panti itu? Cari dia sampai ketemu!" perintah Arro.


"Namanya Rina Cathleen, dan dia sudah meninggal sebelum Bella diadopsi, 9 tahun lalu, ia dikubur di kota ini.”


Arro terdiam mendengar jawaban Levi. Ia berteriak marah, "Argh … kenapa harus jalan buntu lagi?!" Arro semakin frustasi. Dia mengusap kasar wajahnya.


"Tenanglah…!" Levi mencoba menenangkan Arro.


"Bagaimana aku bisa tenang? Mereka sudah berani menyentuh Bella. Kali ini aku beruntung bisa menyelamatkannya, tapi bagaimana jika Argus yang turun tangan langsung dan kekuatanku masih seperti ini?" Arro sudah hampir kehilangan kendali. Amarahnya kembali meledak.


Levi juga bingung harus bagaimana. Dia hanya terdiam hingga Arro kembali bersuara, "Jagalah Bella disini, aku akan mencari informasi tentang Bella. Sekalipun melintasi dunia bawah."


"Apa?" Levi tersentak, "Arro kau harusnya tau apa yang akan terjadi kalau seorang malaikat ke Dunia Bawah." Kali ini suara Levi yang terdengar frustasi.


"Agnor akan menjawabku, aku hanya perlu menjanjikannya posisi di Kerajaan Vasíleion." Arro tidak memperdulikan apa akibatnya. Ia hanya sedang mencari jalan keluar.


"Ya. Itu sebelum dia lebih dulu membunuhmu. Ingat, ayahmu lah yang menaruh Agnor di bawah sana," sindir Levi.


Arro tidak menjawab lagi. Levi tau, Arro diam bukan sedang mempertimbangkan kata-katanya, tapi sedang mencari cara ke Dunia Bawah.


“Aku harus menggunakan pragma-nya. Ayahku memberitahuku itu adalah satu-satunya kelemahan Agnor.” Arro kini menatap Levi. Lalu, ia melanjutkan perkataannya, “Dan Agnor tidak akan pernah bisa menyentuhku. Dia terlibat sebuah perjanjian abadi dengan Sang Raja dan keturunannya.”


Levi membalas tatapan Arro, mereka seperti mengerti isi pikiran masing-masing. “Kalau kau bisa meyakinkan Agnor, bukan hanya informasi tentang Bella, tapi juga menjadikan Agnor sekutu kita.”


“Kau benar. Abercio hanya akan bisa dikalahkan oleh Agnor.” Arro tersenyum menang.


"Baiklah … pergilah bersama Damian. Dia bisa menunjukkan jalan dibawah sana" Kata Levi mengalah, dan Arro mengangguk setuju.

__ADS_1


"Damian, Turunlah!" Kata Levi tanpa mengucap.


...****************...


__ADS_2