DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 20 (Bag. 1)


__ADS_3

Setelah tiga hari berturut-turut Bella fokus menghadapi ujian akhirnya, kini ia bisa menarik napasnya lega. Ia tinggal menunggu hasil ujiannya nanti. Bella segera berlari menuju gerbang untuk menghampiri Arro yang setia mengantar dan menjemputnya selama ia ujian. Arro juga selalu menyiapkan sarapan untuknya. Bella sangat bahagia, bisa kembali merasakan mempunyai rumah untuknya pulang.


Bella memasuki mobil dengan wajah ceria. Mata Bella semakin berbinar-binar saat melihat Arro menyodorkan ice cream untuknya. “Ini untuk apa?” tanya Bella sambil menerima ice cream itu.


“Kado karena telah menyelesaikan ujianmu,” balas Arro dengan tersenyum manis. “Masih belum terlalu sore, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Apa kau mau?”


“Terima kasih, Arro,” ungkap Bella dengan sungguh-sungguh. “Tapi, apa boleh aku mengganti seragamku dulu?”


Arro mengangguk sambil tersenyum lalu menjalankan mobil itu.


Setelah hampir sejam Bella berganti pakaian, ia akhirnya keluar dan menyusul Arro yang masih menunggunya dalam mobil.


“Maaf aku terlalu lama,” ujar Bella setelah duduk dan menutup pintu mobil.


Arro tidak menjawab, membuat Bella memalingkan wajahnya untuk melihat Arro yang sedang terdiam karena meniliknya. Bella segera memeriksa pakaiannya kembali untuk mengecek apakah ada yang salah. Tapi tidak ada, ia hanya mengenakan dress polos berlengan panjang dengan warna hitam yang menutupi hingga lututnya. Dress ini adalah pemberian Robert saat ulang tahunnya yang kelima belas. Memang sedikit mengecil, tapi masih nyaman untuk Bella pakai.


“Arro?” panggil Bella setelah memastikan tidak ada yang salah dengan bajunya.


Arro tetap tidak menjawab, ia hanya mendekati Bella seperti mencoba memeluknya, Bella yang terkejut sedikit menghindar. Tapi Arro ternyata hanya mengambil sabuk pengaman dari bahu kiri Bella. Bella yang tadi sempat menahan napasnya segera mengembuskannya, tapi itu malah terdengar seperti hembusan kekecewaan.


“Jangan pernah keluar dengan pakaian seperti ini lagi … kalau tidak bersamaku.” Ucapan Arro sukses membuat pipi Bella bersemu merah.


Bella mengangguk sambil berusaha menyembunyikan senyumannya.

__ADS_1


Netra Bella membesar, ia sedang menahan luapan kegembiraannya saat Arro menghentikan mobilnya di depan pintu masuk sebuah taman hiburan. “Apa hari ini kita akan bermain?” tanya Bella dengan senyuman dan mata yang berbinar.


Arro terkekeh melihat betapa senangnya Bella, “tentu saja. Aku ingin bermain denganmu di sini.”


Tunggu, apakah ini semacam … kencan? Bella memegang kedua pipinya sendiri, menghentikan pipinya yang mulai bersemu merah.


“Bell, kau sakit?” Arro bertanya dengan khawatir melihat perubahan ekspresi Bella yang tiba-tiba terdiam sambil menangkup pipinya.


“ah? Tidak… aku hanya terlalu senang.” Bella mencoba menghindari tatapan mata Arro. Ia harus menetralkan wajah dan perasaannya, sebelum jantungnya meledak karena pikirannya sendiri.


Arro tergelak melihat Bella yang menjadi sangat imut. Ia ingin tertawa tapi ia tahan untuk tidak menambah perasaan Bella yang sedang sangat tersipu.


Arro keluar lebih dulu, lalu berjalan memutari mobil dan membuka pintu tempat Bella duduk. Bella lagi-lagi tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Diperlakukan sangat baik oleh seseorang adalah sebuah kemewahan yang tidak pernah ia mimpikan.


Bella mengangguk dan segera berjalan ke tempat itu. Sementara Arro berjalan menuju penjualan tiket.


Bella yang sedang duduk dan menikmati angin yang berhembus sangat lembut. Suara dari ranting pohon yang saling beradu saat diterpa angin menambah suasana damai yang Bella rasakan. Tiba-tiba perasaan itu terganggu saat beberapa pemuda berjalan mendekatinya.


“Halo, Nona,” sapa salah satu pemuda yang memakai kalung perak dan sebuah anting di salah satu telinganya.


“Iya?” jawab Bella yang sedikit waspada masih berusaha sopan.


“Apa kau sendirian? Mau kami temani?” tanya pemuda kedua, dengan baju bergaris-garis berwarna biru dan putih.

__ADS_1


“Tidak, terima kasih. Aku bersama temanku.” Bella masih berusaha tersenyum dan berharap mereka segera pergi.


“Hei, ayolah … kami tidak melihat siapa pun di sini.” Pemuda pertama tadi sekarang mencoba duduk di sebelah Bella.


Bella segera berdiri, jika mereka tidak pergi, Bella yang akan pergi. Tapi belum Bella melangkah, pemuda ketiga yang sedari tadi tidak mengatakan apa pun menahan tangan Bella dengan cengiran di wajahnya. Bella sudah akan menghempas tangan pemuda itu, tapi tiba-tiba pemuda ketiga itu terlempar jauh ke belakang dengan sangat keras.


Pemuda itu memegang perutnya dengan sangat kesakitan lalu memuntahkan darah dari mulutnya. Bella segera memalingkan wajahnya melihat ke arah seseorang yang sedang berjalan ke arahnya dengan tatapan yang sangat marah. Netranya sudah berubah warna, manik biru laut itu menjadi merah sepekat darah. Tidak … Arro tidak boleh melukai manusia.


“ARRO! Jangan! Aku tidak apa-apa!” seru Bella mencoba menenangkan Arro.


Arro tidak mendengar apa pun, ia sedang dikuasai oleh amarahnya. Ia tetap menatap tajam ke arah pemuda pertama yang masih tercengang karena melihat temannya sudah tidak sadarkan diri. Tiba-tiba, suara napas yang tercekat menghentikan pemuda itu dari bernapas.


Pemuda itu menggaruk-garuk lehernya yang tidak bisa menarik oksigen, sesuatu memotong aliran pernapasannya. Mata pemuda itu sudah berputar ke atas. Arro kembali menggerakkan jarinya sedikit, pemuda pertama itu terlempar jauh dan menimpa pemuda ketiga yang sudah tidak bergerak.


Arro kini menatap pemuda kedua yang sudah berlari menjauh. Arro tidak tinggal diam, ia segera berlari mendekati pemuda kedua itu. Hanya dengan sekali kedipan, kini Arro sudah berdiri di hadapan pemuda kedua itu. Pemuda itu memohon-mohon ampun, tapi Arro segera mencengkeram kerah baju garis-garis itu membuat pemuda itu terangkat tinggi dengan kakinya yang tergantung. Arro mengucapkan sebuah kalimat asing yang Bella tidak bisa dengar dari tempatnya. Tiba-tiba pemuda itu berhenti memberontak, Arro menurunkan pemuda itu hingga pemuda itu berjalan kembali. Bella menghembuskan napasnya lega, setidaknya Arro memaafkan pemuda kedua itu.


Bella segera menghampiri Arro sambil matanya tetap mengawasi pemuda kedua yang masih berjalan. Tapi, Bella menyadari sesuatu yang aneh.


Pemuda itu tidak menghentikan langkahnya saat menuju jalan raya yang ramai di sana. Bella sudah akan berteriak untuk menghentikan pemuda kedua itu, tapi terlambat. Pemuda itu baru saja tertabrak lalu terlindas sebuah truk yang sedang melintas, membuat sisa tubuhnya berhamburan ke segala arah.


Teriakan histeris dari orang-orang yang menyaksikan kecelakaan itu menggema memasuki pendengaran Bella. Bella menutup mulutnya karena sangat terkejut. Sedangkan Arro menyunggingkan sebuah seringai kepuasan.


Air mata Bella mengalir, mulutnya tertutup rapat oleh tangannya. Suara riuh, sirene polisi dan ambulans terdengar memekakkan telinga Bella. Bella sudah hampir tidak bisa bernapas dengan normal. Bahkan ia tidak menyadari, Arro sudah menariknya menjauh dari tempat itu. Mendudukkan Bella dalam mobil dan melesatkan mobil itu ke tempat yang lebih tenang.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2