
“Yang Mulia, Nona Bella sudah hampir menguasai kekuatan malaikatnya.” Arzeus melaporkan hasil pelatihan yang mereka lakukan beberapa hari ini.
Arro tampak tersenyum puas. “Lalu apa rencana kalian selanjutnya?”
Adena melirik ke arah Arzeus. Arzeus mengangguk paham, “kami sudah mencoba untuk mengecek kekuatan sihir gelapnya, tapi Nona Bella sama sekali tidak bisa mengeluarkan kekuatan apa pun.”
Arro sedikit ragu, tapi mereka tidak punya cara lain lagi. “Baiklah, mari kita coba rencana Levi.”
“Baik, Yang Mulia.”
Arro berjalan duluan lalu disusul Arzeus dan Adena di belakangnya. Mereka berjalan ke arah tanah lapang. Di sana sudah ada Bella, Jasmine dan Levi yang menunggu mereka.
“Agnor, Damian, kemarilah,” ucap Arro tanpa suara.
Sedetik kemudian, Agnor dan Damian sudah terlihat menghampiri Arro. Arro mempersihkan Adena dan Arzeus berjalan duluan menghampiri Bella, sementara ia memberikan instruksi kepada Agnor dan Damian.
“Dengar, jika Bella tidak terkendali. Gunakan kekuatan kalian untuk menahannya, tapi jangan menyakitinya, mengerti?”
“Mengerti, Yang Mulia,” jawab Agnor dan Damian bersamaan. Mereka segera berpencar menjaga jarak dari Bella, tapi juga masih bisa mengawasi dan menjangkau Bella jika sesuatu terjadi.
Setelah puas melihat posisi Agnor dan Damian, Arro kembali berjalan mendekati Bella. Sebenarnya Arro sendiri sedang gugup. Semoga semua berjalan sesuai rencananya dan tidak ada yang perlu mati.
“Kau kenapa? Apa kau sedang merasa tidak enak badan?” tanya Bella dengan khawatir.
“Tidak, Sayang. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Arro mencoba menyembunyikan keresahannya.
“Levi. Bawalah Jasmine masuk,” seru Arro.
Levi yang paham segera menarik Jasmine meninggalkan tempat itu.
“Bella, kita akan belajar membuatmu mengendalikan sihir hitam itu.”
“Aku sudah mencobanya, tapi ….” Raut Bella terlihat kecewa dan sedih.
__ADS_1
“Cobalah sekali lagi, ya.”
Bella tersenyum dan mengangguk patuh.
Arro kini berjalan ke arah Adena, lalu mengambil jarak dua meter di depan Adena. Sebelum memulai, Arro menoleh ke arah Bella dengan mengatakan, “Bel, cobalah untuk tidak menyakiti Adena. Ingatlah, Adena bagian dari hidupmu.”
Bella tidak mengerti, ia tidak akan pernah menyakiti Adena yang sudah seperti sosok ibu untuknya. Yang menyaksikan Bella dilahirkan, yang menemani ibunya di saat-saat terakhirnya. “Aku tidak mung—”
Belum Bella menyelesaikan kalimatnya, Adena sudah menyerang Arro. Adena mengeluarkan kekuatannya untuk menghantam tubuh Arro. Arro yang tidak melawan, termundur jatuh dan terbatuk-batuk dengan keras.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN?” teriak Bella yang terkejut.
“Bella, jangan melangkah dari tempatmu!” perintah Arro dengan keras.
Bella terkejut. Apa maksudnya ia tidak boleh melangkah. Apa yang mereka rencanakan sebenarnya.
Adena kembali mengangkat tangannya, tubuh Arro yang tidak siap, melayang tinggi lalu saat Adena menurunkan tangannya dengan cepat, tubuh Arro juga jatuh dengan keras. Arro bisa merasakan ada tulangnya yang patah.
Dada Bella sudah kesakitan. “AKU MOHON HENTIKAN!” Bella sudah menangis dengan sesak. Sementara Arro masih menerima serangan dari Adena.
“Berhenti!” Suara Bella terdengar datar. Ia menatap lurus ke arah cahaya putih itu yang sudah melayang sejengkal sebelum menabrak Arro.
Manik itu sudah berubah menjadi hijau terang. Dengan jari telunjuknya ia mengarahkan kekuatan putih itu untuk kembali ke arah Adena. Adena yang menyadari Bella ingin menyerangnya, segera menghindar lalu mengambil alih kekuatan putihnya untuk ia arahkan menabrak Arro lagi.
Bella yang marah, melemparkan sebuah bola cahaya untuk menabrak kekuatan putih milik Adena. Setelah kekuatan itu saling menabrak terjadi ledakan hebat di sana. Arro dan Adena sama-sama terlempar ke belakang karena efek ledakan itu.
Agnor dan Damian yang sedang menyaksikannya juga ikut terkejut. Mereka baru kali ini melihat sihir hitam Bella.
Adena yang masih berusaha bangun melihat Bella sudah berjalan mendekat ke arahnya dengan menggenggam sebuah kekuatan cahaya hijau yang menyeruak keluar dari jari-jari Bella yang mengepal.
“BELLA! DIA ADENA. SADAR BELLA!” teriak Arro dengan suara menggema.
Bella tidak mendengarnya, Arro segera terbang mendekati Bella, tapi sebelum Arro berhasil menjangkaunya, Bella sudah menghempaskan Arro untuk kembali mundur.
__ADS_1
Bella merasakan sesuatu mengancamnya. Ia berbalik dan melihat Agnor dan Damian yang mendekat. Mereka sudah bersiap dengan kekuatan yang bisa menahan pergerakan Bella. Agnor mengangkat tongkatnya lalu memukulkannya ke tanah. Sebuah serat tipis menyerupai kaca mulai terbentuk di sekitar Bella, lalu megurung Bella di dalamnya.
Bella mencoba menyentuh kaca tipis itu, tapi jarinya merasakan seperti tersengat listrik besar. Bella menyeringai, ia menutup matanya lalu mendorong kecil kaca itu. Agnor, Damian, Adena, bahkan Arro terkejut saat penghalang itu pecah menjadi serpihan kecil lalu menghilang saat menyentuh tanah. Padahal itu adalah kekuatan yang sama yang Agnor gunakan untuk melindungi bangunan markas saat Ardios mencoba meledakkannya.
Bella yang sudah terbebas, kini kembali berjalan ke arah Adena. Adena sudah bersiaga penuh. Tapi lagi-lagi teriakan Arro terdengar, ia masih mencoba membuat Bella mengendalikan amarah itu.
“Bella. Kau akan membunuh keluargamu kalau tidak bisa mengendalikannya!”
Berhasil. Bella menghentikan langkahnya. Kata keluarga berputar-putar di kenangan Bella, mencoba mengambil alih semua kekuatan dan pikirannya. Adegan saat ia menikah dengan Arro, adegan saat Bella lahir dan menatap ibundanya untuk pertama kali, adegan saat Jasmine dan Adena memeluknya, bahkan adegan saat Levi menjahilinya sewaktu di Daratan Manusia.
Kekuatan yang berada di tangan Bella melemah tapi tidak menghilang. Bella merasakan dirinya sangat pusing. Saat ia mengerjapkan matanya, manik Bella berubah-ubah. Hingga netra keemasaanya menang dan menetap di sana. Sementara Bella masih menggenggam kekuatan berwarna hijau itu.
Bella yang terkejut dengan apa yang berada di tangannya segera melempar kekuatan itu lalu menghantam pohon di dekat sana. Seperti biasa, ledakkan terdengar dan lahapan api membakar sisa pohon itu.
Mereka berhasil. Kekuatan malaikat Bella berhasil mengendalikan kekuatan sihir hitamnya. Arro tersenyum cerah, sementara Adena menjatuhkan dirinya karena ketakutan yang sedari tadi ia rasakan. Agnor dan Damian juga ikut melepaskan napas leganya. Arzeus yang bersembunyi dari tadi ikut bertepuk tangan dengan gembira.
Arro segera berlari ke arah Bella dan memeluknya erat. “Kau berhasil, Sayang.”
Bella juga ikut tersenyum, lalu mengambil dada Arro dan menyembuhkan sisa luka di dalam sana. “Jangan pernah merencanakan hal seperti tadi lagi. Aku sangat ketakutan melukai mereka.”
Arro paham dan berjanji tidak akan melakukan rencana bodoh itu lagi.
Dari arah bangunan markas, terlihat Levi yang sudah terbang mendekati mereka dengan terburu-buru. Arro yang masih memeluk Bella dengan bahagia merubah ekspresinya ketika Levi sudah berdiri di depannya dengan wajah yang panik.
“Yang Mulia. Argus dan lima ratus pasukan sekutunya sudah bergerak ke Kerajaan Vasileion. Mereka … menyatakan perang melawan anda.”
Arro tercengang, “lima ratus?”
Levi tidak menyahut, diamnya adalah jawaban untuk pertanyaan Arro.
Mereka yang mendengar berita yang disampaikan Levi juga ikut tertegun. Tiba-tiba Agnor berlutut depan Arro dan Bella. Damian, Adena, Arzeus dan Levi ikut berlutut juga.
“Kami akan membantu anda, Yang Mulia … Raja.”
__ADS_1
...****************...