DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 35 (Bag. 2)


__ADS_3

Bunyi dentingan pedang saling beradu di tanah luas depan Istana Utama. Levi mulai kewalahan mengatasi pasukan Argus yang jika terluka akan kembali pulih dengan sangat cepat. Tidak ada malaikat yang bisa pulih secepat itu. Mereka seperti diberikan sesuatu oleh Argus untuk bisa bertahan di medan perang.


“Agnor. Mereka tidak terkalahkan.” Levi berbicara kepada Agnor yang sedang bertarung tidak jauh darinya.


“Benar. Mereka bahkan tidak terpengaruh dengan kekuatanku,” balas Agnor sambil memenggal kepala lawannya. Tapi, percuma saja, mereka akan kembali menyatukan tubuh mereka yang sudah terpisah.


Levi yang sedang mengatasi tiga lawan sekaligus, terkecoh saat lawan keempatnya sudah ikut bergabung dan dengan mudah meraih tubuh Levi dan melukainya.


Jasmine yang sedang bersembunyi di belakang Adela saat menjatuhkan Dewan Kerajaan, merasakan sakit di tandanya. Ia segera mencari eksistensi Levi. Benar, Levi sedang terluka di bagian dadanya. Ia terkena goresan panjang pedang lawannya.


Levi terjatuh. Agnor berusaha menjangkau Levi, tapi lawan di depannya sangat tangguh. Sementara Damian juga sudah terluka parah di sana. Darah mengucur dari lengan Damian, sementara Levi sudah bermandikan darah dari tubuhnya sendiri.


Jasmine menatap nanar ke sana. Ia tidak mempunyai kekuatan apa pun. Ia sangat tidak berguna saat ini. Jasmine harus melakukan sesuatu.


“ICARUS!” teriak Jasmine dengan sangat keras, berharap Icarus bisa mendengarnya.


Seorang lawan yang berdiri di depan Levi mengacungkan pedangnya tinggi-tinggi untuk bisa menancapkannya. Tiba-tiba gerakannya terhenti saat mendengar suara auman keras menggelegar tanpa wujud.


Semua yang mendengar auman itu berhenti melakukan gerakan mereka. Mereka mendongak melihat apa pun yang akan turun dari sana. Saat auman kedua, seekor singa dengan sayap putihnya muncul dari arah utara mereka. Dengan sekali kepakan dari sayapnya, mereka yang sedang berdiri langsung terlempar dan tersungkur menerima hantaman angin yang dibuat makhluk besar itu.


Icarus melihat ke arah Jasmine yang baik-baik saja, tapi arah telunjuk Jasmine mengisyaratkannya sesuatu. Ketika menyadarinya. Icarus langsung berdiri membelakangi Levi yang sedang menahan aliran darah dari lukanya.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Icarus dengan sedikit melirik ke arah Levi.


“Hanya luka kecil,” balasnya.


“Bagus. Aku sudah memperingatimu jangan membuat Jasmine sedih. Itu termasuk jangan mati.”


Levi tersenyum kecil mendengarnya.


Icarus menatap semua pasukan di depan sana. Hidungnya mencium sesuatu yang aneh. “Apakah lawannya adalah mereka yang bukan berasal dari Dunia Atas?”

__ADS_1


Levi yang berusaha berdiri di samping tubuh Icarus yang sangat tinggi menjawab, “Bukan. Mereka sekutu.”


Icarus paham. Lalu menoleh ke arah Agnor tidak jauh di sana. Agnor mengangguk kecil, seperti isyarat kecil bahwa ia dan semua dari Dunia Bawah adalah sekutu. Setelah mengenali yang mana menjadi musuh mereka, Icarus berkata, “Naiklah. Kau tidak mungkin bisa melawan dengan tubuh seperti itu.”


Setelah Icarus merendahkan tubuhnya, Levi menggunakan sayapnya untuk duduk di punggung Icarus. Dengan sekali auman lagi, Icarus mulai bergerak, dan langsung menginjak, memakan, hingga mencabik satu persatu pasukan Argus. Semua tubuh yang mati di tangannya tidak ada yang kembali pulih. Icarus menghancurkan tubuh-tubuh itu, hingga sangat tidak terbentuk.


Damian, Levi dan Agnor hanya bisa menatap senang dengan apa yang Icarus lakukan. Akhirnya, mereka bisa mengurangi jumlah pasukan Argus.


Sementara itu …


Bella sedang membantu Arro dengan melemparkan kekuatan cahaya emasnya ke arah Argus. Bangunan depan istana itu juga sudah rusak karena terkena lemparan energi besar dari Argus dan Arro yang saling menyerang.


Dalam diri Arro mengalir darah kerajaan, tapi hal yang sama terjadi dengan Argus. Apalagi Argus menggunakan bantuan dari kegelapan untuk menyempurnakan kekuatannya. Kekuatan yang hampir tidak bisa dikalahkan.


Arro yang masih tersungkur, melihat Bella yang sedang berusaha menghindari serangan dari Argus. Saat itulah, Arro mempunyai rencana. Benar, Bella dan dirinya harus bisa menyeimbangkan kekuatannya.


“Bella.” Arro lalu mengisyaratkan dengan tatapan matanya.


Arro memeluk Bella yang akhirnya bisa mengalahkan pamannya itu. Darah di kening Bella tidak membuatnya merasakan sakit. Ia juga merasakan kelegaan karena berhasil. Namun, ternyata mereka salah.


Seketika udara berubah menjadi berat dan dingin. Tubuh Argus mengejang hebat. Kulit kepalanya terkelupas, lalu sesuatu menyeruak keluar. Seperti sebuah tanduk hitam yang panjang. Belum lagi dari susunan tulangnya bisa sangat jelas kelihatan seperti membentuk jaringan baru di sana. Kulitnya berubah menjadi bersisik hitam legam. Kedua bola matanya pun berganti warna menjadi hitam tanpa putih.


Arro dan Bella yang masih menganga tidak percaya dengan penglihatan mengerikan itu, dikagetkan saat semua pasukan Argus di bawah sana yang sedang berusaha menjatuhkan Icarus, serentak tergeletak tidak bernyawa. Sebuah kabut hitam keluar dari jasad mereka lalu berkumpul menjadi satu titik yang membesar lalu melesat ke arah sosok Argus dengan sangat cepat. Argus merentangkan tangannya menerima persembahan nyawa itu.


Arro, Levi, Agnor dan Damian kini paham. Kenapa Argus mengumpulkan pasukan sebanyak itu. Selain untuk membuat Arro gentar, juga untuk membuat jebakan agar sekutunya menyerahkan nyawa mereka ketika ia membutuhkannya. Demi menyingkirkan tubuh malaikatnya dan menerima kegelapan untuk menyempurnakan sosoknya.


“Sudah cukup untuk bersenang-senang.” Suara berat dan menggema itu bukanlah suara Argus.


Argus melihat tinggal mereka yang berdiri adalah sekutu dari Arro. Ia segera melemparkan sebuah kekuatan kecil untuk membunuh yang berdiri di sana. Melihat itu, Agnor langsung memukulkan tongkatnya lagi, meskipun sangat tidak mungkin menghalau kekuatan hitam itu, tapi setidaknya ia bisa meminimalkan efek serangannya.


Saat sekat penghalang Agnor pecah karena kekuatan kecil itu, mereka pun ikut terlempar jauh ke belakang. Termasuk Icarus yang mengerang kesakitan. Mereka memuntahkan darah dari mulut mereka. Apalagi Damian dan Levi yang sudah terluka parah sebelumnya.

__ADS_1


“Tidak!” teriak Bella melihat mereka semua sudah tersungkur sambil memegang dada mereka dengan darah mengalir dari mulut mereka. Jasmine pun sudah histeris di belakang sana bersama Adena.


“Jangan menyentuh keluargaku!” teriak Bella nyalang. Matanya berubah menjadi hijau pekat. Arro pun sudah tidak terkejut dengan perubahan Bella. Ia tau, Bella sudah bisa mengendalikan kekuatannya.


Apalagi saat Bella mengeluarkan sayap perak dengan ujung yang lancipnya. Arro kini sudah bersiap dengan kekuatan besar dari tangannya juga.


Arro melemparkan kekuatan merah itu, lalu di bantu dengan Bella yang melemparkan cahaya hijau itu. Argus pun mengeluarkan sebuah kekuatan cahaya berwarna hitamnya. Kekuatan itu sama-sama besar, saling mendorong, saling ingin sampai ke tujuan masing-masing. Bunyi gemuruh dan kilatan cahaya muncul dari tabrakan energi besar itu.


Arro kini menutup matanya, menarik napasnya dalam. Lalu membuka matanya dengan membeliak. Dorongan kekuatan itu semakin mempersempit kekuatan kabut itu. Argus yang merasa akan dikalahkan, membelokkan kekuatan itu hingga menabrak gedung lain istana yang tidak jauh di sana. Suara ledakkan dan robohan gedung itu terdengar menggema.


Argus belum puas, ia segera terbang ke atas, lalu kembali akan melepaskan kekuatan ke arah Bella. Hanya dengan gerakan memutar, Bella bisa menangkis kekuatan itu. Hingga kembali menabrak dinding istana. Bella dan Arro mengikuti Argus dan menyamakan tingginya. Bella maju lebih depan, lalu menerbangkan helaian tajam sayapnya ke arah Argus. Argus tentu dengan mudah menghentikan helaian sayap itu beberapa meter dari tubuhnya, tapi, yang ia tidak tau, Arro sudah melayangkan kekuatan ikut mendorong helaian tajam itu. Argus terkejut saat panahan dari helaian itu berhasil memotong tangannya dan mencabik dagingnya.


Arro dan Bella belum bisa bernapas lega, ketika melihat tangan Argus kembali tumbuh seperti semula. Bella tidak terkejut. Sebelum Argus menyempurnakan anggota tubuhnya, ia sudah mengumpulkan energi besar di atas kepalanya. Energi itu sangat besar. Suara gemuruh dan kilatan cahaya bertebaran di atas sana. Bella kembali terbawa kenangan saat melihat Adena yang histeris saat Arzeus harus mati, dan Jasmine yang menangis pilu melihat Levi terluka parah.


Bella melirik ke arah Arro yang masih mendongak melihat apa yang sedang Bella kumpulkan. Arro yang menyadari apa yang akan Bella lakukan segera membantu Bella. Kekuatan Energi itu sangat besar, kini Arro malah menambahnya dengan kekuatan malaikat murni darinya.


Bella bisa merasakan tulang bahunya seperti ingin patah menahan energi itu. Apalagi Arro terus ikut menambahnya juga. Kekuatan energi bercahayakan hijau, emas dan merah berputar-putar saling mengikat hingga akhirnya menyatu. Ini semua akan berhasil kalau Argus tidak berpindah atau menghindar.


“AGNOR!” teriak Arro dengan nyaring. Agnor yang sedang terluka, langsung paham. Ia mengarahkan mata tongkatnya, lalu mengucapkan sesuatu dengan nyaring. “Terkuncilah!"


Argus yang masih belum siap, menerima serangan Agnor dan terkunci. Argus bisa saja langsung mematahkan kekuatan lemah itu. Kalau saja, Bella dan Arro tidak melemparkan kekuatan yang besar, penuh dan cepat itu ke arahnya.


Dentuman, kilatan cahaya, suara erangan yang menggelegar hingga taburan cahaya dan suara gemuruh dari udara yang saling bersahutan menggema di seluruh wilayah Kerajaan itu.


Saat berhasil mengenai Argus dan terjadi ledakan, Bella terjatuh karena melemah. Arro segera terbang terjun untuk menangkap tubuh Bella yang sangat terluka karena menyulut energi yang sangat besar. Apalagi ia tidak hanya menggunakan kekuatan malaikatnya, tapi ia mengambil dari semua kekuatan sihir gelap yang ia punya.


Tubuh Argus hilang tanpa jasad. Hanya menyisakan sebuah kabut hitam gelap di sana. Kabut itu berputar-putar dan menghasilkan petir yang mengelilinginya. “Ini belum berakhir. Nikmati kemenangan kalian. Sang Putri Mahkota tidak akan pernah menduduki tahtanya. Karena aku yang akan membunuhnya. Itu adalah kutukanku.” Suara yang berasal dari kabut itu lalu menghilang seperti udara yang berdesir.


Bella yang setengah sadar tidak mengerti apa maksud kalimat itu. Adena yang seperti orang kerasukan segera memeriksa kondisi Bella. Air mata Adena terjatuh lagi. Dengan isyaratnya ia mengatakan … Bella sedang hamil.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2