
Arro tersenyum puas saat membaca sebuah laporan yang ia terima dari seorang utusan Kerajaan Doria. Di laporan itu di jelaskan, bahwa sang Raja Lostire telah bangun dari tidur panjangnya, meskipun sang Raja tidak mengingat apa yang terjadi, tapi sang Raja dan Ratu kerajaan mulai kembali bangkit dan mengembalikan semua peraturan seperti awal kepemimpinannya.
Meskipun Arro belum secara resmi menyandang gelar Raja Utama, tapi, ia sudah cukup merasa lega bisa membantu kerajaan lainnya.
“Arro, kapan kau akan menceritakannya padaku?” tanya Bella yang sedang mengamati suaminya itu.
Arro mengangkat wajahnya melihat Bella yang sudah cemberut karena diabaikan sedari tadi. Arro kemudian mengambil lengan istrinya itu lalu mendudukkan Bella di atas pangkuannya.
“Apa yang aku belum ceritakan, hm?”
Bella tentu saja merasa tidak nyaman, mereka sedang berada di ruang kerja Arro. Meskipun tidak ada orang tapi cukup memalukan jika ada yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu.
“Aku sebaiknya berdiri saja.”
“Jangan mencoba kabur, tidak ada yang akan masuk ke ruangan ini, kecuali ….” Arro sudah mendekatkan wajahnya ingin meraih bibir merah Bella, matahari yang masuk dari jendela di belakang kursinya semakin membuat wajah Bella berbinar indah saat terterpa sinar matahari itu.
“Arro, Agnor su ….” Levi memotong kalimatnya sendiri saat masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Itu adalah kebiasaannya sejak lama. Ia selalu lupa kalau Arro sudah tidak sendiri.
__ADS_1
Arro tentu saja langsung menjauhkan wajahnya dari Bella, dan Bella sudah berdiri dengan canggung. Bella memilih melihat ke arah jendela untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
Levi yang melihat adegan itu, segera menutup kembali pintu itu dengan hati-hati, ia ingin menghilang dari tatapan Arro yang sudah siap memenggal kepalanya.
“Levi selalu membuatku ingin membunuhnya,” gumam Arro.
Bella hanya tertawa mendengarnya. “Aku akan membantumu. Lagipula Jasmine terlalu sempurna untuk Levi.”
Kini Arro yang terkekeh dengan jawaban Bella. Arro tidak mau lagi seseorang mengganggunya jadi ia lemparkan kekuatan kecil untuk menyegel pintu di depan sana. Lalu menarik Bella dan kembali menciumnya dengan lembut.
Arro tidak langsung menjawab, ia menarik napasnya terlebih dahulu, dan membuat Bella berjanji. “Aku akan menceritakannya padamu semuanya, tapi berjanjilah, kau tidak akan bersedih apalagi menyalahkan dirimu sendiri.”
Bella sebenarnya tidak mengerti dan tidak tau apakah harus berjanji atau tidak. Dari kalimat Arro sepertinya sesuatu yang besar telah terjadi. Bella meneguk salivanya dengan berat. Lalu ia akhirnya mengangguk sambil menatap Arro dengan tidak yakin dengan janjinya sendiri.
Arro mendudukan Bella di kursi yang sudah di rancang semewah dan senyaman mungkin untuk sang Raja. Sementara Arro memilih untuk berlutut di depan Bella. Posisi itu Arro ambil agar ia bisa melihat manik Bella jika Bella menunduk dalam karena bersedih.
Arro pun mulai menceritakan semuanya, mulai dari penculikan, Ardios yang menyamar, Adena dan kedelapan penyihir hitam yang sudah memberikan kekuatannya untuk Bella, hingga apa yang terjadi di Kerajaan Doria saat Bella membunuh Xavier.
__ADS_1
Seperti yang sudah Arro duga, Bella tidak menepati janjinya. Bella kini sudah terisak dan menangis pilu. Ia tidak tau bahwa ia sudah membunuh seseorang. Apalagi tentang kekuatan malaikat dan sihir hitam yang ada pada dirinya. Ia merasa tidak pantas berada di Dunia Atas, apalagi hidup di Daratan Manusia.
Arro hanya bisa memeluk Bella dengan erat dan membiarkan Bella mengeluarkan semua emosi dalam hatinya. Dada Arro kini menjadi sakit lagi. Meskipun ini adalah kenyataan pahit untuk Bella, tapi Bella harus mengetahuinya. Bella harus bisa menguasai kekuatannya sendiri.
“Bella, dengarkan aku. Kau sudah menyelamatkanku dan Agnor. Jika saja kau tidak membunuh Xavier, aku mungkin tidak akan pernah bertemu denganmu lagi.” Arro berusaha membuat Bella menerima takdirnya. Ia juga tau, Bella sangat ingin bisa melindungi Arro.
Kalimatnya berhasil menghentikan tangisan Bella.
“Kau juga menyembuhkan lukaku, lihat … aku sangat sehat sekarang.” Arro kini merentangkan tangannya untuk membuktikan ucapannya.
Bella masih mengatur napasnya yang masih tersendat. “Benarkah?”
Arro membantu Bella mengusap air matanya yang tertinggal di pipinya. “Benar, Sayang.”
Bella kembali tersenyum dan memeluk Arro di depannya. Benar kata Arro, selama ia bisa menyelamatkan keluarganya, ia tidak akan peduli seberapa banyak orang yang akan mati di tangannya. Tiba-tiba manik emas Bella sekilas menghijau lalu kembali ke warna emasnya.
...****************...
__ADS_1