
Bella kini terkagum-kagum dengan yang dilihatnya. Ia sampai mengedip-ngedipkan matanya karena tidak percaya dengan yang di lihatnya. Sebuah ladang rumput hijau yang terbentang luas, dengan berbagai bunga-bunga cantik yang berhamburan di atas rumput itu. Bella ingin rasanya berlari tanpa alas kaki di atas rumput itu.
Arro kini mendaratkan kakinya dan melepaskan pelukannya, Bella tentu saja berlari dengan sangat bahagia. Ia tidak tau kapan ia sebahagia ini. Matanya seperti dimanjakan oleh pemandangan ini. Bahkan ini mengalahkan semua mimpi-mimpi indahnya.
Arro terpana melihat senyum Bella. Akhirnya, ia bisa melihat senyum yang cerah itu lagi. Persis seperti foto di figura yang selama ini tersimpan di atas meja belajar Bella.
Arro mendekati Bella dengan tersenyum. Memeluk Bella hangat, “aku senang melihatmu tersenyum.”
“Terima kasih, Arro.” Bella membalas pelukan Arro. Ia seperti tidak ingin kembali ke dunianya yang dingin.
Sebuah suara binatang terdengar dari kejauhan, Bella melepas pelukan Arro dan mencari asal suara itu, ternyata berasal dari rusa yang berdiri dibelakang sebuah pohon besar. Kapan terakhir Bella melihat rusa? Mungkin saat dirinya berumur 5 tahun, saat bu Rina mengajak anak panti ke kebun binatang.
Bella berlari ingin menghampiri rusa itu, tapi tiba-tiba gerakan Bella berhenti, ia segera menyadari kalau rusa itu memiliki tiga ekor dengan tanduk hampir sebesar dirinya. Arro tentu saja tertawa melihat Bella yang sudah kembali berlari ke arahnya dengan ketakutan.
“Lain kali, beri aku peringatan kalau hewan di dunia ini sangat berbeda dengan duniaku,” protes Bella.
Arro masih tertawa terbahak-bahak melihat Bella, “baiklah, aku minta maaf.” Arro mencoba menghentikan tawanya setelah melihat Bella mulai kesal.
Sebuah kepakan sayap terdengar oleh mereka, Arro dengan siaga menarik Bella kembali ke pelukannya. Ternyata, Levi datang dengan sedikit lebam di sudut bibirnya.
"Wah, lihatlah betapa bahagianya kalian,” sarkas Levi, “aku bahkan hampir mati karena mengatasi sepuluh pasukan Abercio tadi.”
“Kau ingin hadiah apa?” Arro tanpa basa basi.
“Mungkin sebuah rumah di pusat kota,” balas Levi sambil memegang sudut bibirnya yang terluka.
“Baiklah, aku akan memberikannya untukmu …,” Arro menjeda kalimatnya, “setelah kau dan Jasmine di berkati.”
“Sialan kau, itu artinya masih 3 tahun lagi.” Levi kesal. Arro hanya tertawa.
Bella terdiam, otaknya sedang mencerna informasi baru itu, pragma Levi telah terlahir tapi ia belum bisa di berkati karena umur pragma-nya yang belum memasuki usia dewasa.
“Di mana pragma-mu, Lev”? tanya Bella penasaran.
“Di suatu tempat. Karena sekarang lagi kacau, jadi aku menyembunyikannya di tempat aman.”
Bella mengangguk paham. Tapi sesuatu mengganggu pikirannya. Jika ini Dunia Atas, kenapa yang dilihatnya sekarang adalah taman luas tanpa adanya tanda-tanda kekacauan. “Apa ini kerajaan yang kau ceritakan?” tanya Bella ke Arro.
Arro tidak langsung menjawab, ia melirik Levi seperti mengisyaratkan sesuatu. Levi paham dan terbang menjauh. Bella tidak paham dengan situasi itu, ia menatap Arro meminta penjelasan.
__ADS_1
“Ini adalah Taman Asfalus. Taman ini adalah taman perlindungan. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke taman ini.” Arro menjelaskan sambil menarik tangan Bella lembut untuk mengikutinya berjalan.
“Orang tertentu itu adalah?” Bella meminta penjelasan lebih.
“Anggota kerajaan,” jawab Arro.
“Oh, jadi kau dan Levi adalah anggota kerajaan?”
“Kau bisa menganggapnya seperti itu.” Arro kini berhenti dan mengajak Bella untuk duduk di sebuah batu besar yang berada di antara tanaman Bunga Lavender berwarna ungu cerah. Bunga-bunga itu sedang menari mengikuti arah angin.
Wanginya sangat menyegarkan, tapi Bella yakin, ini bukan seperti wangi Bunga Lavender yang pernah ia hirup di toko bunga. Wanginya lebih memabukkan dan lebih menggoda indranya. Bella serasa ingin menghirup udara itu lebih dalam.
“Lalu, kenapa aku bisa masuk ke sini?” Bella melanjutkan pertanyaannya sambil menyaksikan hamparan taman bunga itu.
“Karena aku mengizinkannya.”
Bella teringat kecupan Arro di kedua kelopak matanya. Bella kembali tersipu. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Ia menelan salivanya untuk mengatasi gugupnya. Arro meliriknya dan tersenyum kecil.
Terdengar kepakan sayap mendekat, Arro dan Bella mendongak melihat Levi kembali menghampiri mereka.
“Bagaimana?” tanya Arro sambil berdiri dari duduknya.
Bella mengenyitkan keningnya, “aku harus bermalam disini?”
“Tidak aman untuk sekarang kembali ke daratan. Menetaplah di sini beberapa hari,” kata Arro menatap Bella.
“Agnor dan Damian belum kembali. Kami belum mendapat info tentang situasi Abercio sekarang,” timpal Levi.
“Tapi aku ada ujian akhir besok. Sebentar lagi aku akan lulus. Tidak mungkin aku meninggalkan sekolahku.” Bella memohon kepada Arro untuk mengizinkannya tetap bersekolah. Biar bagaimanapun ia adalah manusia, Bella perlu masa depan untuk dirinya sendiri.
Arro menghembuskan napasnya berat, mencoba mencari jalan keluar. “Besok, kita liat situasinya. Jika Agnor dan Damian tidak kembali malam ini, kau tidak akan kembali ke daratan.”
Bella akan protes lagi, tapi Levi menggeleng mengisyaratkan Bella untuk tidak menantang Arro. Tapi Bella tidak peduli. Bella tetap harus bersekolah. Perjuangannnya selama tiga tahun tidak akan ia sia-siakan.
“Tidak. Aku akan tetap ke sekolah. Ini adalah satu-satunya hal yang aku punya sekarang. Kau atau pun Abercio tidak akan bisa menghalangiku.” Bella menatap Arro marah.
“Bel, sudah … aku akan menemanimu besok.” Levi menengahi.
“Tidak!” Arro sudah hampir berteriak karena marah. “Tidak akan ada yang kembali ke daratan manusia.”
__ADS_1
Levi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia harus menyaksikan pertengkaran pertama Arro dan Bella. Bella dengan keras kepalanya dan Arro dengan perintah tak terbantahkannya.
“Kenapa kau melarangku? Kau tidak pernah tau apa yang sudah aku perjuangkan untuk bisa tetap bersekolah. Bahkan ketika keningku berdarah karena mamaku melemparku dengan gelas kaca, aku tetap berangkat ke sekolah,” kenang Bella.
“Oh bagus, aku tidak menyesal telah mengirim mamamu ke nerakanya!”
“Arro …!” Levi ingin menyela Arro tapi terlambat.
“A … apa?” Air mata Bella sudah mengalir, ia seakan tidak percaya apa yang dikatakan Arro. “Apa kau yang membuat mamaku pergi?”
Arro gelagapan, ia terpancing emosinya. “Bella aku … tidak, bukan seperti itu.”
“LALU APA?!” teriak Bella keras. Hembusan angin yang tadinya semilir berubah menjadi hembusan kuat. Arro dan Levi terkejut dengan hembusan angin yang tiba-tiba itu.
“KAU TIDAK TAU BAGAIMANA AKU MENDERITA!” Bella masih belum menurunkan nada suaranya. Dadanya bergemuruh hebat menahan emosi. Setiap malam ia merindukan seseorang di sampingnya. Jocelyn memang jahat, tetapi hanya dengan melihat wajah Jocelyn bisa membuatnya merasa memiliki keluarga. Bella kembali terisak, ia menutup matanya dengan erat mencoba menenangkan hatinya sendiri. Tapi semakin ia mencoba tenang, sakit di hatinya semakin menjadi.
“Arro, kau harus menenangkan Bella,” gumam Levi.
“Kau sendiri tau, hipnotisku tidak mempan,” balas Arro dengan bergumam juga.
Dada Arro merasakan sakit di hati Bella. Ia bisa merasakan betapa Bella menanggung sakit itu. Tapi, sesuatu berbeda … sakit di dadanya bukan hanya karena sakit kehilangan Jocelyn. Seperti sesuatu bergejolak aneh.
Arro berjalan mendekati Bella ingin meminta maaf. Ia menyentuh pundak Bella yang masih memejamkan matanya. “Bell,” panggil Arro dengan lembut.
Bella masih mengatur napasnya, lalu membuka matanya dan menatap Arro dengan tiba-tiba. Arro terkejut melihat manik bola mata Bella yang berubah menjadi kuning keemasan. Tidak, tidak mungkin. Batin Arro menangkal firasatnya.
“PERGII!” teriak Bella dengan sangat nyaring, bahkan teriakan itu menghasilkan gelombang gema yang mampu membuat Arro terhempas jauh seperti seseorang mendorongnya dengan keras.
Levi terpaku tidak percaya dengan apa yang ia lihat. “Bella!” Levi refleks memegang Bella yang terjatuh tidak sadarkan diri.
“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Levi saat Arro kembali mendekatinya.
“Tidak, aku tidak apa-apa. Hanya saja … dorongan itu cukup sakit.” Arro memegang dadanya, tapi ia malah tersenyum lebar.
“Arro, perubahan warna mata Bella … apakah dia …?” Levi tidak melanjutkan kalimatnya.
Arro mengambil alih tubuh Bella dari Levi. Ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Bella. “Hanya ada satu cara mengetahuinya. Kita harus membawa Bella ke tanah kelahirannya …”
“Kerajaan Aelios Timur,” ucap Arro dan Levi bersamaan.
__ADS_1
...****************...