
Tubuh Bella mengejang hebat. Setelah semua proses dari pemulihan tubuhnya selesai, kini bunyi retakan dari tulang punggungnya terdengar keras. Bunyi itu diikuti dengan sobekan kulit pada punggungnya. Anehnya sobekan kulit itu tidak mengalirkan darah. Seperti memang sengaja memberi akses kepada apa pun yang akan keluar dari sana.
Sebuah susunan tulang menyeruak keluar dari punggung itu, diikuti dengan lapisan daging yang membungkus tulang, dan terakhir helaian bulu berwarna perak tumbuh di atas daging itu. Bella … mendapatkan sayapnya.
Saat semua proses itu selesai. Bella membuka matanya. Netranya bukan lagi berwarna cokelat, tapi berganti menjadi warna kuning keemasan. Dan saat ia merasakan sebuah kesakitan dari dalam dadanya lagi, netra itu berubah warna menjadi hijau emerald. Ekspresi Bella sangat datar. Ia tidak tersenyum atau marah. Yang ia tau, ia harus membunuh seseorang.
Bella melepaskan tangannya dari borgol besi hanya dengan gerakan kecil. Lalu menghancurkan tembok di belakangnya hanya dengan menyentuhkan ujung jari telunjuknya.
...----------------...
Xavier mengeratkan cekikannya, napas Arro sudah tertahan. Tetapi, sebuah ledakan besar dari ujung bangunan yang ia jadikan penjara, tiba-tiba hancur. Tembok besar dan kokoh itu hancur meninggalkan lubang yang sangat besar.
Xavier menyipitkan matanya untuk melihat siapa yang sudah menghancurkan tembok itu. Seorang wanita dengan gaun pengantinnya yang sudah kotor dan robekan panjang sampai paha berjalan keluar, menginjak sisa-sisa runtuhan itu.
Xavier tersentak melihat wanita itu sudah mempunyai sayap berwarna perak dengan ujungnya yang mengkilap. Setiap helai dari sayap itu mempunyai ujung yang tajam. Seperti mata pisau yang sengaja di bentuk menyerupai sayap.
Xavier lebih terkejut lagi, saat ia menatap mata wanita yang sesaat tadi tidak berdaya itu, berwarna sama dengan mata Argus. Hijau emerald. Lambang dari kekuatan besar dari sihir hitam. Bagaimana bisa? Kenapa anak itu memilikinya?
Xavier yang masih tercengang, menjatuhkan Arro ke tanah. Arro yang masih mempertahankan kesadarannya ikut terpaku saat melihat Bella berdiri dengan diam di sana. Arro sangat tau, wanita itu, bukanlah Bella yang ia kenal.
Bella menolehkan pandangan kosongnya ke arah Arro yang juga sedang menatapnya. Dengan sekali gerakan dari tangannya, Arro terhempas menjauh dari Xavier. Arro berhenti saat menabrak tubuh Agnor yang masih tidak sadarkan diri.
Xavier yang panik segera menghempaskan telapak tangannya memukul tanah tempatnya berpijak. Semua prajurit-prajurit yang sudah dihabisi oleh Agnor kembali bergerak dan berdiri dengan tidak normal.
Arro membelalakkan matanya. Tidak, Bella tidak bisa melawan mereka semua. Puluhan prajurit itu berjalan ke arah Bella dengan agresif. Arro harus melakukan sesuatu. Dengan sisa-sisa kekuatannya yang terkumpul, Arro layangkan untuk menghantam mayat prajurit-prajurit itu. Berhasil, beberapa prajurit itu terlempar dan … tidak … Arro salah, mayat itu kembali bangun seperti tidak terjadi apa-apa.
Xavier masih dengan posisinya. Mulutnya terus merapalkan mantra di sana. Arro mencoba melayangkan kekuatannya untuk melemparkan Xavier, tapi gagal, kekuatan Arro melemah. Ia baru menyempurnakan kekuatannya. Tubuhnya masih belum sekuat itu untuk terus menerus memompa kekuatan besar.
Saat Arro masih dengan usahanya, Bella sudah menggunakan sayapnya dan terbang lebih tinggi lalu menghilang dari pandangan mereka.
__ADS_1
Xavier mendongak mencari keberadaan Bella. Semua pasukan prajurit itu juga berdiam di tempatnya. Xavier mengedarkan pandangannya dengan waspada. Tidak ada yang tau di mana Bella. Tiba-tiba sebuah helaian sayap menancap dan menembus leher, wajah, dada, hingga kaki semua pasukan mayat hidup itu. Mereka pun berjatuhan dengan anggota tubuh yang terpotong-potong.
Arro bergidik menyaksikan pembantaian masal itu.
Helaian itu semakin cepat dan semakin banyak. Xavier segera menghindar dari serangan itu. Saat merasakan tidak ada lagi kumpulan musuh, Bella turun dari atas sana. Hembusan angin kuat menyebar saat kaki bella yang tanpa alas menyentuh tanah.
Sayap Bella yang tadinya melempar setiap helaiannya, kini kembali tumbuh dengan cepat seperti tidak pernah meninggalkan tempatnya.
Tatapan bella menjadi sangat tajam. Bella mengangkat tangan kanannya dengan anggun, lalu membuat gerakan seperti sedang mencekik. Xavier yang masih menganga tidak percaya, terdorong maju ke arah bella dengan sangat cepat.
Xavier berhenti tepat di hadapan Bella dengan leher yang sudah dicengkeram. Xavier berusaha menjentikkan jarinya dari tangannya yang masih bisa bergerak, tapi sial, Bella meloloskan satu lagi helaian sayap tajamnya hingga memisahkan lengan Xavier dari tubuhnya.
Bella menyeringai, lalu ia berucap dengan sangat lembut. "Matilah!" Lalu ia menyempitkan cengkeramannya, seperti seseorang yang sedang memeras jeruk.
Leher yang tidak bisa menerima tekanan sekuat itu, akhirnya terkoyak hingga akhirnya ikut terpisah dari tubuh pemiliknya. Tangan bella penuh dengan cairan kental berwarna merah. Bahkan wajah dan gaun bella sudah terciprat warna itu.
Bella berbalik menoleh ke arah Agnor yang masih tidak sadarkan diri. Lalu mengalihkan pandangannya menatap Arro yang sedang menatapnya juga sambil memegang dadanya yang terluka.
Bella menekuk kakinya dan duduk di hadapan Arro yang sedang menatapnya sendu. Tangannya yang dipenuhi darah terangkat menyentuh dada Arro.
Arro memejamkan matanya. Ia tidak akan mengeluh jika ia harus mati di tangan Bella.
Dari telapak tangan Bella keluar cahaya keemasan. Arro merasakan dingin dari telapak tangan itu, lalu menjulur ke seluruh tubuhnya. Dadanya yang tadinya sangat sakit seperti ditekan dengan sebuah batu raksasa, kini terasa sangat dingin. Kekuatan itu, menyingkirkan semua rasa sakit di sana.
Setelah cahaya itu memudar, Bella jatuh tidak sadarkan diri kembali. Arro sigap menarik tubuh Bella agar jatuh di pelukannya. Arro menilik tubuh Bella, darah yang bukan milik Bella, menutupi hampir semua bagian gaunnya. Ia kembali memeriksa wajah dan tubuh Bella, ia mengembuskan napas lega saat tidak melihat luka apa pun. Arro mengusap pipi istrinya itu lalu ia bergumam dengan lembut, “terima kasih telah bertahan, Sayang.”
...---------------...
Setelah semua kejadian mengerikan itu, Levi datang dengan wajah yang sangat terkejut melihat banyaknya potongan tubuh hingga darah yang memenuhi tanah tempat pertarungan terjadi, sebelum mayat-mayat itu terbakar dan menghilang.
__ADS_1
Arro meminta Levi dan beberapa prajuritnya untuk memeriksa penjara apakah mereka mempunyai sekutu di sana atau tidak. Saat itulah Levi bertemu dengan Adena. Levi membantu Adena dan membawanya ke Markas Utama Kerajaan Vasileion.
Setelah mereka kembali ke Markas Utama, Jasmine menyambut mereka. Jasmine tidak kembali ke daerah amannya. Ia bersikeras ingin menunggu Bella pulang. Benar saja, Jasmine menjatuhkan air matanya saat melihat kondisi Bella yang berlumuran darah. Hingga Levi harus menenangkannya dan memberitahu Jasmine, itu bukanlah darah dari tubuh Bella.
Arro yang tidak ingin melihat tubuh Bella tanpa izinnya, meminta bantuan Jasmine dan Adena untuk membersihkan tubuh Bella. Jasmine dan Adena tentu saja dengan senang hati membantu.
Saat Arro masuk kembali ke kamarnya, ia melihat Jasmine sedang menyisir lembut rambut Bella yang masih setengah basah. Sementara Adena sedang merapikan dress Bella yang sudah dipakainya. Gaun itu mempunyai potongan dada yang lebih rendah dengan warna midnight blue. Sangat kontras dengan kulit Bella yang cerah. Arro terpana melihatnya. Adena dan Jasmine saling pandang saat melihat wajah calon Raja mereka memerah, mereka pun ikut tersenyum malu.
“Terima kasih, Jasmine, Adena,” ucap Arro dengan tulus.
Jasmine dan Adena menunduk hormat, “kami pamit, Yang Mulia,” jawab Jasmine, mereka pun keluar dari kamar itu.
Arro membelai lembut surai Bella yang masih tidak sadarkan diri. Entah sampai kapan Bella harus tertidur seperti ini. Ia menggenggam tangan Bella yang sudah menghangat. Tidak sedingin waktu tangan itu menyembuhkan lukanya.
Mata Arro menjadi basah. Saat ia meloloskan air mata di sana. Tiba-tiba Bella menggerakkan jarinya singkat. Arro terpaku, ia segera mendekatkan wajahnya untuk menatap Bella yang mulai mengerjapkan mata.
Arro tersentak saat melihat netra Bella yang berwarna kuning keemasan. “Bella?” gumam Arro sangat lembut.
Bella langsung memeluk Arro kuat. Tubuhnya gemetar ketakutan.
“Tidak, apa-apa. Aku di sini,” ucap Arro sambil mengusap punggung Bella untuk menenangkannya.
“Bagaimana kau menyelamatkanku?” tanya Bella penasaran.
Arro melepaskan pelukannya lalu menatap Bella, “Bell, apa yang terakhir kali kau ingat?”
“Aku sedang melepaskan ikatan pada rambutku, tiba-tiba pelayan wanita di belakangku mulai jatuh satu persatu. Saat berbalik seseorang sudah berdiri didekatku. Aku dengar dia mengucapkan sesuatu … ‘maafkan saya’ itu katanya, lalu semuanya menggelap.”
Arro terdiam mendengar cerita Bella. Artinya, Bella tidak mengingat semua hal mengerikan itu. Memang sebaiknya seperti itu. Bella tidak perlu mengingat apa pun.
__ADS_1
Arro kembali mendekap Bella. Hanya saja, Arro tau, saat Bella melakukannya tanpa sadar, artinya ia bisa membunuh siapa pun dengan tidak terkendali.
...****************...