DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 26


__ADS_3

Sementara itu, Di wilayah Kerajaan Aelios.


“Apa kau yakin di sini tempatnya?” tanya Arro kepada Arzeus.


“Benar Yang Mulia. Setau saya, dia pernah tinggal disini.”


Mereka telah tiba di sebuah rumah kecil yang di satu wilayah pedalaman di Kerajaan Aelion. Rumah kecil itu disusun dari kayu-kayu kering yang kuat dan kokoh. Tidak ada rumah lain di tempat itu. Meskipun rumah itu kecil, tapi terlihat sangat terawat. Apalagi tepat di depan rumah itu ada danau kecil yang airnya sangat jernih dan bercahaya saat bertemu dengan sinar matahari. Lalu di sebelahnya, tertanam beberapa pohon tinggi yang warna daunnya sudah berubah warna menjadi kecoklatan. Di salah satu batang pohon besar itu terikat sebuah ayunan tua yang sudah lama tidak terpakai dengan tali yang berasal dari tanaman abacca. Sesekali ayunan itu bergoyang mengikuti hembusan angin.


Arzeus dengan hati-hati melangkah masuk ke pekarangan rumah itu. Arzeus berdeham sebelum mengetukkan jarinya di atas pintu kayu. Sebuah suara langkah dari dalam terdengar bergegas menuju ke arah pintu.


“Apa ada yang bisa saya bantu?” seorang pria baya dengan keriput di area matanya bertanya kepada Arzeus setelah membuka pintu.


Levi maju dengan memperkenalkan dirinya. “Kami dari kerajaan Vaseleion. Kami sedang mencari seseorang yang bernama Mystica.”


Pria baya itu mengernyitkan dahinya. “Tidak ada yang bernama Mystica di sini.”


Levi sudah akan melotot kepada Arzeus jika mereka salah rumah. Tapi, Arzeus tampak tenang. Arzeus kembali berbicara, “Maaf, maksud kami Agacia.”


“Agacia?” pria baya itu kembali tidak paham.


Arzeus kembali mengingat-ingat, “Aalisha?”


Pria baya itu sudah mulai kesal, “sebenarnya kalian mencari siapa?” suaranya sudah sedikit meninggi.


Levi tersenyum canggung dan Arzeus terlihat sibuk mencari-cari dalam pikirannya siapa nama yang sedang dipakai oleh Mystica. Lalu suara wanita dalam rumah itu terdengar oleh mereka. Seorang wanita cantik dengan wajah yang tentu lebih muda muncul menyapa mereka.


“Adena. Saya Adena.” Wanita cantik itu tersenyum memperkenalkan dirinya sendiri. Ia seperti paham siapa yang sedang berdiri di hadapannya. Adena lalu menarik matanya untuk melihat Arro yang masih melihat mereka dari arah pagar rumahnya. “Silahkan masuk, Tuan-Tuan,” lanjutnya.


Levi yang bingung meminta penjelasan kepada Arzeus dengan tatapannya, Arzeus mendekatkan wajahnya ke telinga Levi untuk berbisik, “Mystica selalu mengganti-ganti namanya, Tuan, untuk menghindari prajurit dari Kerajaan Aelios yang masih memburu penyihir dengan sihir hitam. Dan untuk menyembunyikan identitasnya sepertinya ia merekayasa ingatan suaminya.”


Levi yang tadinya akan memarahi Arzeus kini mengangguk paham, setelah memanggil Arro mereka kini sudah masuk ke dalam rumah kecil itu. Rumah itu sama seperti rumah pada umumnya. Tidak ada tanda-tanda praktek sihir hitam di sana. Arro duduk bersama Levi di atas kursi lebar yang juga terbuat dari kayu, sementara Arzeus berdiri di sebelah Levi.

__ADS_1


Adena datang menghampiri mereka setelah meyakinkan pria baya itu bahwa semuanya baik-baik saja, pria itu mengangguk dan masuk ke suatu ruangan yang sepertinya kamar mereka. Adena terlihat hidup seperti wanita sudah berkeluarga pada umumnya. Ia terlihat bahagia. Tidak ada aura mencekam atau aura gelap dalam dirinya. Arro dan Levi bisa merasakan itu. Mereka sedikit bimbang dan mulai meragukan informasi dari Arzeus.


Wajah yang di penuhi senyuman itu terlihat berubah saat ia sudah memastikan pria baya itu sudah tidak melihat mereka. Adena langsung menjatuhkan dirinya dan memberi hormat kepada Arro di depannya. “Salam hormat saya, untuk sang Raja, Arro.”


“Duduklah!” perintah Arro dengan suara pelan.


Adena segera berdiri dan duduk di depan mereka. Adena menunggu Arro untuk memulai percakapannya.


“Aku hanya akan langsung pada intinya, apa kau tau di mana Tanah Abadi?”


Pertanyaan itu sukses membuat Adena terperanjat. “Apakah Yang Mulia sudah bertemu dengan keturunan sang Ratu?” Mata Adena berkaca-kaca.


Arro sedikit bimbang menjawab, ia harus tau dulu apakah Adena berada dipihaknya atau bukan. Memberikan informasi tentang Bella tentu sangat riskan.


“Apa yang kau tau tentang keturunan sang Ratu?” tanya Arro balik.


“Saya berada di sana saat kelahiran sang Putri. Saya adalah orang yang membantu Ratu Camelia melahirkan.”


“Lalu, bagaimana kau bisa selamat dari penyerangan hari itu?”


Arro mengernyitkan dahinya, “aku tau kau memiliki sihir hitam, kenapa kau tidak menyelamatkan Ratu dan putrinya?”


Air mata Adena sukses terjatuh, ia menarik napasnya dalam ketika mengingat lagi kejadian itu. “Malam sebelum penyerangan itu, saya sudah memberitahu sang Raja dan Ratu bahwa mereka harus segera melarikan diri dan saya akan membantu mereka, tapi mereka tidak ingin saya melakukan apa pun. Instruksi dari mereka sangat jelas, tugas saya hanya satu….” Adena menghapus air matanya sendiri, lalu melihat dalam ke manik mata Arro, “sang Putri harus memiliki sihir hitam yang kuat sebelum terlahir.”


Mata Arro membelalak, Levi dan Arzeus pun tidak kalah kagetnya dengan informasi itu.


Adena mengabaikan ekspresi kaget dari ketiga anggota kerajaan di depannya. Ia lalu melanjutkan, “sejak Ratu Camelia memerintah dan memilih menikah dengan seorang manusia. Ia sangat ketakutan dengan keturunannya kelak. Ia tau, kekuatan keturunannya tidak akan sesempurna keturunan malaikat murni. Apalagi, ia selalu menerima teror dari pragma-nya. Saat mengetahui dirinya hamil, sang Ratu mulai mengumpulkan semua penyihir untuk bergantian memberikan kekuatan untuk sang Putri. Saya adalah penyihir terakhir yang diundang ke istana kerajaan.”


Arro mengusap kasar wajahnya. “Berapa banyak penyihir yang memberikan kekuatannya?”


Adena bisa melihat raut wajah cemas bercampur kegelisahan dari sang Raja, “saya adalah penyihir ke-sembilan, Yang Mulia.”

__ADS_1


Arro menunduk dengan lemah mendengar informasi itu. Levi dan Arzeus juga terdiam tidak bisa berkata apa-apa. Arro sedang menimbang apakah ia tidak perlu membuka kunci kekuatan Bella? Tapi, jika mereka di berkati dan Bella tidak memiliki kekuatan apa pun, ia hanya akan menjadi target yang mudah untuk siapa pun melukainya. Arro tidak ingin Bella terluka. Hanya Bella yang ia punya sekarang dan Arro tidak akan melakukan kesalahannya yang sama berulang kali. Lalai menjaga keluarganya.


“Seberapa besar kekuatan Bella yang terkunci?” tanya Arro dengan nada yang lemah.


“Saya tidak tau, Yang Mulia. Saya juga tidak tau kekuatan malaikat dan kekuatan sihir hitam yang terpendam itu apakah bisa bercampur dengan saling menerima.”


Arro terdiam sejenak, “apa yang terjadi jika kekuatan itu saling menolak?”


Adena ragu dengan kalimat yang akan ia keluarkan. “saya tidak tau, Yang Mulia. Tapi, kemungkinan terburuk adalah … jiwa sang Putri terjebak di antara kedua kekuatan itu dan selamanya tidak akan pernah menyatu.”


“Apa maksudmu?”


Adena melihat takut-takut ke mata Arro, “sang Putri akan berada di fase hidup atau mati.”


Ya, kalimat itu cukup untuk membuat Arro memutuskan pilihannya. Ia tidak akan membuka kekuatan Bella. Membuat Bella berada diambang kematian adalah pilihan terburuknya. Arro berdiri dari duduknya, Levi yang melihat Arro berdiri pun ikut berdiri.


“Terima kasih untuk waktumu,” pamit Arro. Ia lalu berjalan ke arah pintu. Levi dan Arzeus pun ikut berjalan ke arah pintu.


“Saya mohon maaf, Yang Mulia,” ucap Adena dengan menunduk dalam.


Arro mengangguk, “aku mengerti, tidak ada yang bisa kita lakukan. Aku tidak akan membawanya ke Tanah Abadi dan membuka kunci kekuatannya.” Jika Bella harus berada dalam perlindungannya setiap detik, Arro tidak akan keberatan.


Adena mengernyitkan dahinya, ia lalu berdiri dan berkata “Yang Mulia, saya tidak meminta maaf karena tidak membuka kekuatan sang Putri …,” jelas Adena untuk membuat Arro paham, “saya meminta maaf karena ikut bersedih, sang Putri akan mengalami fase itu. Pengunci kekuatan itu akan hilang tepat setelah 20 tahun, dengan atau tanpa Tanah Abadi.”


Netra Arro membelalak, tangannya mengepal dengan keras, auranya menggelap sangat kental. Levi dan Arzeus saling pandang. Tidak ada yang berani berbicara atau menyentuh Arro. Adena pun mematung merasakan aura itu. Bulu kuduknya meremang. Adena tidak akan kaget jika rumahnya tiba-tiba runtuh karena ikut merasakan energi kuat itu.


“Kapan?” tanya Arro dengan intonasi yang berat.


“Bulan purnama pertama, musim gugur tahun ini,” ucap Adena yang di susul dengan hembusan angin semilir membuat daun-daun berwarna coklat dari pepohonan di sekitar rumah kecil itu berjatuhan mengikuti arah angin.


Arro tersenyum getir, “besok?”

__ADS_1


Adena hanya bisa menunduk dalam dan mengangguk kecil.


...****************...


__ADS_2