
Suara ban berdecit saat Arro menghentikan mobil itu dengan kasar. Arro keluar dari mobil itu lalu membanting pintunya, melepas atasan yang ia kenakan dan mengeluarkan sayapnya. Arro lalu terbang meninggalkan Bella sendiri.
Tidak, Arro tidak meninggalkan Bella sendiri. Ia sudah mengirimkan Levi untuk menemani Bella. Arro harus melampiaskan amarahnya terlebih dahulu. Badan Arro memanas, kepalanya berdenyut sangat sakit. Ia seperti ingin meledakkan sebuah gunung besar.
Pintu mobil tiba-tiba terbuka, Levi di sana mengambil alih tempat Arro di kursi pengemudi. Bella tidak peduli dengan kehadiran Levi. Bella masih mencoba mengatur napasnya yang sedang tidak normal karena tangisan.
“Bell,” panggil Levi lembut.
Bella tidak menjawab. Wajahnya ia palingkan untuk melihat keluar jendela.
“Aku akan mengantarmu pulang, ya?”
Bella masih tidak mengatakan apa pun.
Levi menganggap itu sebagai persetujuan. Levi pun menjalankan mobil itu menuju rumah Bella.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Bella, Levi tidak juga turun dan Bella juga tidak melakukan apa pun.
Levi mengembuskan napasnya dengan lemah, “Apa Arro belum bercerita bagaimana ibunya meninggal?”
Pertanyaan Levi berhasil menarik perhatian Bella. Bella menggeleng kecil.
Levi menimbang apakah ia harus menceritakan kisah pilu itu atau tidak. Levi menarik napasnya dalam lalu ia bercerita, “Setelah Ayah Arro meninggal, Arro curiga ada pengkhianat yang meracuni ayahnya, karena itu ia mengirim ibunya ke tempat aman. Karena Arro harus mengawasi istana, ia tidak bisa menemani ibunya di tempat persembunyian. Saat Arro menjenguk ibunya, ibunya sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Ibunya … dibunuh.”
Bella tertegun mendengar cerita itu. Perasaan marahnya ke Arro berubah menjadi perasaan sedih yang tidak pernah bisa ia bayangkan. Tanpa sadar, air matanya terjatuh lagi.
"Arro sangat frustasi dan marah karena tidak bisa melindungi keluarganya. Arro menganggap semua yang terjadi karena kelalaiannya." Levi lalu menolehkan wajahnya ke Bella. “Bell, masuklah. Setelah Arro menyelesaikan amarahnya, ia akan kembali menemuimu. Tapi, jangan membahas yang aku katakan padamu.”
Setelah hampir sejam, pintu kamar Bella di buka. Ada Arro di sana yang berdiri dengan lemah. Ia ingin meminta maaf kepada Bella karena meninggalkannya tadi. Tapi, belum ia mengucapkan sepatah kata pun, Bella sudah berlari ke arahnya. Arro mematung, belum pernah Bella yang duluan memeluknya. Entah kenapa, rasa pelukan itu terasa berbeda. Arro membalas pelukan itu dan entah kenapa perasaan Arro menjadi sedih. Sangat sedih. Cairan bening seperti mengenang di pelupuk matanya.
Bella menepuk-nepuk lembut punggung Arro menyalurkan kenyamanan dan kehangatan untuknya. Ia memeluk Arro kuat, seakan ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
Bella melonggarkan pelukannya dan disaat itu ia sudah tidak memperdulikan perbedaan dunia mereka. Yang ia tau, Arro selalu ada untuknya. Jadi, biarkan Bella menebus semua kebaikan yang Arro berikan. “Arro, aku tidak peduli dengan pragma-mu atau apa pun namanya … kapanpun kau membutuhkanku, aku akan selalu ada untukmu,” ucap Bella dengan menatap lekat manik bola mata biru itu.
Arro sudah tidak tahan dengan air matanya yang akan terjatuh, untuk menyembunyikan kesedihan di matanya, ia mendekat dan menarik Bella, memangkas jarak antara dirinya dan Bella.
Bella mematung, matanya terbuka lebar, sesuatu yang kenyal dan basah menyentuh bibirnya. Arro … menyatukan bibir mereka. Bella yang terpaku dengan tindakan Arro tidak bisa bernapas dengan normal. Jantungnya sudah akan melompat keluar. Kupu-kupu entah datang darimana terbang bebas mengisi perutnya. Bella memejamkan matanya. Bella belum pernah berciuman sebelumnya, karena itu, ia hanya menikmati gerakan Arro pada bibirnya.
Arro mencium Bella dengan sangat hangat. Jika dunia akan runtuh saat itu juga atau jika langit di atasnya terbelah menjadi dua, Arro tidak akan peduli lagi. Ia hanya ingin bersama Bella sekarang.
Ciuman itu berubah semakin panas, Arro tidak lagi hanya menempelkan bibirnya, tapi mencium dalam bibir Bella. Bella bahkan sudah tidak bisa bernapas lagi. Ia mendorong tubuh Arro untuk menjauhinya. Tapi, Arro semakin mengeratkan pelukannya, mengukung Bella. Saat itu juga, sebuah rasa sakit muncul perlahan dari dada Bella. Tepatnya di bawah tulang selangka dadanya. Bella memegang dadanya dengan air mata mengalir ke pipinya, membasahi bibirnya yang masih dilumat oleh Arro.
Arro yang tadinya memejamkan mata, menyadari Bella meringis kesakitan, Arro mendorong dirinya sendiri menjauh. Ia berbuat kesalahan. “Tidak, Bella aku minta maaf.” Arro panik, ia ingin memukul dirinya sendiri.
Bella tidak menjawab, Bella jatuh terduduk sambil memegang dadanya. Sebuah cahaya kecil muncul dari sela-sela jari tangan Bella yang sedang mencengram dadanya sendiri.
Tiba-tiba Bella berteriak keras menyalurkan rasa sakit itu yang semakin membesar. Arro mencoba membuka cengkeraman Bella di dadanya. Sebuah tanda yang selama ini Arro tunggu, tercetak samar.
__ADS_1
Bella jatuh tidak sadarkan diri setelah cahaya kecil itu mulai padam. Arro segera memanggil Levi untuk turun saat itu juga.
...****************...