DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 17


__ADS_3

Bella tersadar dari tidurnya dengan terkejut. Ia segera bangun dan duduk, lalu ia mengendarkan pandangannnya keseluruh ruang itu. Lemari, meja belajar, buku-buku yang tersusun, hingga cat kamar itu. Bella menarik napas leganya. Ia berada di kamarnya sendiri.


Dari arah jendela, Bella bisa melihat matahari belum terbit, dari warna langit yang kebiruan mungkin sekitar sejam lagi. Bella mengusap kasar wajahnya. Ia sedikit gerah karena pakaian seragamnya belum ia ganti sejak kejadian di sekolahnya kemarin.


Sejak kejadian di Taman Asfalus, ia tidak ingat apa yang terjadi setelahnya. Seingatnya ia sangat marah dengan Arro karena berbohong tentang mamanya. Bella menekuk kakinya lalu menyembunyikan wajahnya diantara lututnya. Bella merasakan sendiri lagi. Air matanya sudah mulai mengenang, padahal ia percaya kalau Arro tidak melakukan apa pun kepada Jocelyn. Entah apa yang sebenarnya membuat Bella marah. Fakta bahwa Arro lah penyebab Jocelyn pergi, atau fakta bahwa Jocelyn memilih untuk meninggalkannya.


Ketukan dari pintu kamar, membuat Bella tergesa-gesa menghapus air matanya. Jika bukan Arro, maka pastilah Levi yang mengetuk. Hanya mereka berdua yang bergantian menjaganya. Bella merapikan pakaiannya, lalu turun dari tempat tidurnya dan membuka pintu. Di sana Arro sudah berdiri menunggunya.


“Ada apa?” tanya Bella dengan ketus.


“Apa aku boleh masuk?”


“untuk apa?”


Arro tidak menjawab, ia mendorong pintu itu agar terbuka sedikit lebih lebar, membuatnya bisa menjangkau Bella. “Untuk memelukmu.”


Bella terpaku, ia tidak bisa melawan saat tubuh Arro sudah mendekapnya dengan erat. Pertahanan Bella runtuh, air matanya mengalir deras. “Kenapa kau buat mamaku pergi juga? Kenapaa?” Bella memukul-mukul punggung Arro melampiaskan marahnya.


Arro tidak menjawab. Ia hanya akan membiarkan Bella meluapkan amarahnya. Ia hanya semakin mengeratkan dekapan itu.


Setelah merasa Bella sudah tenang, Arro melonggarkan pelukannya dan memaksa Bella untuk melihatnya. Arro mengusap lembut sisa-sisa butiran air itu di pipi Bella. “Bella dengar, Aku tidak melukai Jocelyn. Aku hanya membuatnya memilih. Pilihannya adalah apakah ia akan menggunakan uang yang aku berikan untuk dipakai bersamamu, atau mengunakan uang itu untuk hidupnya sendiri. Dan … Jocelyn memilih untuk meninggalkanmu dan menikmati uang itu sendiri.”


“Tidak. Mama tidak seperti itu. Bahkan uang yang dikirimkan oleh perusahaan papaku, mama gunakan untuk membayar sekolahku,” sanggah Bella. Ia tidak ingin mempercayai cerita Arro.


“Bel, apa kau tau kenapa Jocelyn selalu keluar setiap hari minggu hingga malam?”


Bella menggeleng lemah. Ya, itu adalah kebiasaan Jocelyn sejak kematian Robert.

__ADS_1


“Dia bertemu dengan Antonio. Atasan Robert di tempat kerjanya dulu dan …” Arro menjeda, sebenarnya ia tidak ingin Bella mengetahui rahasia ini, “mereka sudah punya hubungan bahkan sebelum Robert meninggal. Kecelakaan yang merengut nyawa Robert adalah karena rencana mereka berdua.”


Bella menegang, bola matanya membesar, air matanya yang sudah berhenti mengalir, perlahan mulai turun lagi. Hati Bella tiba-tiba berdenyut sakit. Isi kepalanya berputar memberontak. Apa yang salah? Apa yang aku lewatkan? Kenapa mama melakukan itu? Bukankah kehidupan kami ber-empat dulu sangat bahagia?


Bella jatuh tersungkur. Bella memegang dadanya yang sangat perih. Setiap malam ia berdoa saat matahari terbit, Jocelyn akan mengetuk pintu kamarnya dan membangunkannya untuk ke sekolah. Sama seperti dulu.


Bella menggeleng kuat. Ia tidak ingin mempercayai cerita Arro, “kenapa?? Kenapaa mama membunuh papa? Lalu, bagaimana dengan Kenzo? Apa … mama juga yang ….” Bella tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


Arro merendahkan posisinya, memeluk Bella dan mengarahkannya untuk berdiri. Kaki Bella yang melemas tidak sanggup membuatnya berdiri. Tanpa menunggu persetujuan Bella, Arro membopong Bella lalu menurunkannya di atas tempat tidurnya.


“Bel, minumlah dulu.” Arro menyodorkan gelas yang sudah ia siapkan saat Bella tertidur tadi.


Bella meminum air di gelas itu dengan sangat rakus. Ia bahkan menghabiskan segelas air itu hanya dengan tiga kali tegukan. Anehnya, perasaannya menjadi lebih tenang.


“Bel, dengarkan aku. Aku bisa terbang sekarang dan mencari Jocelyn hanya untuk mencabik-cabiknya jika kau mengizinkanku.” Arro serius dengan ucapannya. Bella hanya perlu mengangguk, bahkan anggukan lemah pun akan ia anggap persetujuan.


“Baiklah. Tapi berjanjilah, untuk tidak menangis lagi. Hatiku seperti terbakar setiap kau menangis.”


Bella mengangguk.


Arro menarik napasnya dalam, hatinya menyuruhnya untuk berhenti bercerita, tapi Bella harus tau apa yang terjadi. “Kecelakaan kerja yang terjadi dengan Robert adalah rencana kotor Jocelyn dan Antonio. Mereka bahkan sudah menyiapkan asuransi untuk kecelakaan itu. Uang dari asuransi itu mereka gunakan untuk membiayai kencan mewah mereka.” Arro menjeda. Ia mengambil jemari Bella dan menggenggamnya. “Untuk adikmu sendiri. Itu adalah kecelakaan murni. Itu adalah awal dari kerenggangan hubungan Jocelyn dengan Robert.”


Bella hanya mendengarkannya sambil sesekali mengusap air matanya.


“Jocelyn tidak bisa mengusirmu karena namamu ada dalam surat asuransi itu. Jika Robert mempunyai tanggungan anak maka dana asuransinya akan semakin banyak. Karena itu, Jocelyn dan Antonio memasukkan namamu sebagai anak yang masih ditanggung dan tidak bisa melepaskanmu sampai kau selesai sekolah.” Arro kini berdiri lalu membuka sedikit gorden tipis yang tergantung menutupi jendela kamar Bella. Arro membuka jendela kamar itu dan membiarkan udara segar masuk. Udara yang selalu di sukai Arro, selain aroma tubuh Bella.


Arro terdiam sedikit lama, rahangnya mengeras, tangannya terkepal kuat. Lalu ia melanjutkan kalimatnya, “mereka menunggumu sampai selesai sekolah … untuk bisa membunuhmu juga.”.

__ADS_1


Ketika mengetahui rencana itu, Arro sudah hampir kehilangan akal sehatnya. Kalau bukan karena Levi yang memperingatinya, mungkin sudah lama Jocelyn ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.


Bella tersentak mendengar kalimat itu. “Apa maksudmu?”


“Mereka sudah menyiapkan asuransi kecelakaanmu. Di kertas itu, bahkan kau sudah menandatangani persetujuannya.”


Bella lalu teringat, ia pernah diajak oleh Jocelyn untuk menandatangai sebuah dokumen. Jocelyn mengatakan itu adalah dana darurat untuknya jika Jocelyn meninggal.


“Lalu di mana mamaku sekarang?”


“Sedang di Hawai, bersama Antonio.”


Bella mengeryitkan keningnya. “Dari mana kau tau?”


Arro menunjukkan seringainya lalu ia terkekeh, “Bella … tentu saja aku tau di mana mereka. Aku selalu tau dimana dan apa pergerakan musuhku.”


Aura Arro tiba-tiba memekat. Bella pun bisa merasakannya. Ia tau, Arro pasti sangat menahan keinginannya.


Bella meremas tangannya. Ia marah dan kecewa. Sangat kecewa. Hatinya sedikit meringis. Tapi, satu hal yang pasti. Ia tidak akan pernah lagi merindukan sosok Jocelyn.


Arro menarik napasnya dalam, membiarkan udara pagi itu menjernihkan pikirannya. Ia mendekati Bella dan mengusap lembut surai Bella. “Bersiaplah ke sekolah. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu.” Lalu Arro berjalan menuju pintu dan menutup pintu kamar Bella.


Setelah menutup pintu kamar Bella, Arro tidak langsung beranjak pergi. Ada satu cerita yang tidak ia katakan kepada Bella. Memang benar, Jocelyn sedang berada di Hawai bersama kekasihnya. Tapi ia tidak memberitahu Bella kondisi Jocelyn sekarang. Arro menarik sedikit bibirnya, ia menyeringai. “Maafkan aku Bella, karena membuat mamamu berada di penjara paling mematikan.” Kalimat itu terucap dari gumaman Arro tanpa sedikit pun rasa penyesalan di sana.


Sementara itu, Bella masih bersandar pada *headboard* ranjangnya. Ah, benar. Sekolah. Hari ini pelaksanaan Ujian Akhir. Sekarang, itu adalah prioritas Bella. Menyelesaikan pendidikannya, mencari kerja, lalu hidup dengan penghasilannya. Cahaya terang mulai memasuki kamarnya, matahari sudah terbit. Bella menarik napasnya untuk membiarkan udara segar itu mengisi rongga paru-parunya. Setelah ia merasa baikan, ia turun dari tempat tidurnya dan bergegas bersiap.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2