DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 28 (Bag. 5)


__ADS_3

“Sebuah kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan Pangeran Kerajaan Vasileon. Oh …,” Xavier menutup mulutnya sendiri, “maafkan saya, maksud saya adalah ... Raja Kerajaan Vasileon?” Xavier jelas menyembunyikan tawanya. Ia sedang meremehkan Arro dan gelarnya yang belum resmi.


“Tutup mulutmu, biadap!” Maki Arro yang sudah sangat marah.


“Yang Mulia, tenanglah! Pragma anda akan marah jika mendengar anda berkata kasar.”


“Dimana … Bella?” tanya Arro dengan penuh penekanan.


“Bella …?” Xavier sengaja menjeda kalimatnya, sambil berpura-pura berpikir. “Entahlah, tadi dia masih bernapas saat aku mematahkan kedua tangannya.”


Kalimat itu sukses membuat Arro berang. Sebenarnya sudah seberapa parah Xavier melukai Bella. Arro tidak bisa menahannya lagi, ia marah … sangat marah. Netranya berganti warna, kepala dan tubuhnya memanas. Energi itu sudah menggelegar tidak tertahan.


Xavier bersiap melakukan serangannya, ia membentangkan sayapnya dan terbang lebih tinggi. Sementara semua prajurit dari Kerajaan Doria sudah berlarian ke arah Arro dan Agnor. Arro membentangkan juga sayapnya mengejar Xavier, sementara Agnor mengatasi para prajurit yang berjumlah lebih dari 50. Jelas, mereka sudah terlatih. Agnor tidak punya waktu untuk bermain-main. Ia mengangkat tongkatnya lalu menancapkannya ke tanah.


Cahaya putih keluar dari tanah itu, diikuti dengan retakkan yang menjalar dan menciptakan jurang yang semakin besar dan cepat ke arah lawannya. Mereka yang berada di baris paling depan tidak bisa berkutik saat cahaya itu menyeret mereka masuk dan jatuh ke jurang yang dalam. Sedangkan pasukan yang berada di belakang, menggunakan sayapnya untuk menghindari tarikan dari cahaya itu.


Suara erangan dan jeritan terdengar dari mereka yang sudah tidak bisa menyelamatkan diri. Agnor yang melihat mereka yang mampu menghindar, kini memutarkan tongkatnya ke udara. Kumpulan awan dan angin besar berkumpul dan memutar-mutar di sana. Saat Agnor melemparkan kekuatan itu, para prajurit yang sedang berusaha menggapainya, terperangkap dalam pusaran angin buatannya. Tubuh mereka terbanting dan terlempar jauh. Beberapa dari mereka tertusuk oleh sesuatu yang tajam, dan beberapa lainnya jatuh setelah tubuh mereka menghantam pohon yang besar.


Prajurit yang tertinggal semakin panik. Jumlah mereka berkurang banyak. Saatnya melakukan penyerangan terakhir. Mereka menembakkan panah yang sudah diberi mantra oleh Xavier.


Agnor yang melemparkan kekuatan dengan cahaya berwarna putih tidak mampu menjatuhkan anak panah yang melesat menuju dirinya. Agnor mengeluarkan sayapnya, dan terbang menghindari anak panah itu. Anehnya, anak panah itu ikut berbelok mengejar dirinya. Agnor tidak punya pilihan, ia kembali mendaratkan kakinya ke atas tanah, lalu mengubah tongkatnya menjadi sebuah perisai. Ia putarkan tongkatnya dengan kekuatan penuh untuk menangkis semua anak panah itu. Berhasil, anak panah yang terlempar berhasil ia jatuhkan.


Setelah yakin, dirinya sudah aman. Agnor kembali menoleh ke arah para prajurit itu. Mereka gelagapan saat melihat Agnor masih berdiri dengan tegap. Sebelum mereka menarik anak panah kedua. Agnor sudah lebih dulu mendekati mereka.

__ADS_1


Agnor memutar pegangan tongkatnya, sebuah mata pedang keluar dari sisi lain tongkat itu. Ia bergerak sangat cepat, dari satu prajurit ke prajurit lainnya. Semua hanya terjadi dengan sekejab mata. Setelah berhasil melewati prajurit terakhir, Agnor kembali memutar pegangan tongkatnya, hingga ujung pedang yang tajam itu masuk kembali ke tempatnya. Bersamaan dengan tumbangnya para prajurit itu satu persatu setelah menyadari perut mereka sudah terkoyak.


Sementara itu, Arro mengeluarkan cahaya merah dari ujung jari telunjuknya, kecepatan cahaya itu mampu mengejutkan Xavier. Cahaya merah adalah lambang dari kekuatan besar dari semua kekuatan malaikat murni. Xavier membuka lebar telapak tangannya. Sebuah kabut hitam keluar dari sana. Kabut dan cahaya merah itu saling dorong dengan kuat. Arro yang sudah tidak sabar, membuka lipatan jarinya, kini bukan lagi hanya ujung jari telunjuknya yang mendorong kekuatan itu. Tentu saja, Xavier terdorong jauh dan jatuh kembali ke tanah saat kabut hitamnya kalah.


Xavier kembali berdiri tegak. Arro sedikit kaget, seharusnya Xavier sudah tidak bernyawa saat terserang energi sebesar itu. Xavier hanya meludahkan sedikit darah dari mulutnya. Lalu ia tersenyum lebar. “Akhirnya, aku mempunyai lawan yang seimbang. Aku selalu bosan saat lawanku terlalu cepat mati.”


Xavier tidak mau seseorang mengganggu kesenangannya bersama Arro. Karena itu, ia menjentikkan jarinya, Agnor yang sudah bersiaga di belakang Arro tiba-tiba berlutut sambil memegang dadanya kuat, ia memuntahkan darah segar dari mulutnya. Agnor masih bisa mendongakkan kepala melihat tajam ke arah Xavier, sebelum ia jatuh tidak sadarkan diri.


Arro yang geram melihat Agnor tergeletak segera menembakkan serangan kedua. Kali ini, ia merentangkan tangannya lebar, cahaya merah seperti api berkumpul di sekitarnya. Suara gemuruh terdengar dari kilatan cahaya itu. Arro kembali melemparkan kekuatan besar itu. Xavier memutar dua tangannya searah jarum jam, mengeluarkan kabut hitam lain yang berkumpul membentuk lingkar sempurna, saat cahaya merah itu menggebu ingin menghancurkan, lingkar kabut itu cukup untuk menahannya sebentar. Kaki Xavier terseret mundur ke belakang saat ia hampir tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Energi itu terlalu besar untuknya.


Xavier menyadari kekuatan dari kabutnya hampir tidak bisa menahan lagi. Ia jentikkan jarinya, Arro yang sedang melemparkan cahaya api dari sana mengerang kesakitan, Arro lalu terjatuh ke atas tanah.


Cahaya merah itu akhirnya menghilang. Tapi cukup membuat Xavier kesakitan juga. Xavier terjatuh ke tanah dengan napas berat. Setelah menerima serangan Arro, ia juga harus melemparkan sihir kuat untuk menjatuhkan Arro. Kalau tidak, ia tidak bisa selamat.


...----...


...Sebias sinar kecil muncul dari tandanya. Jantung Bella berdegup kencang … lalu semakin kencang. ...


...Seperti sesuatu ingin keluar dari sana. ...


...Jari Bella mulai tergerak....


...----...

__ADS_1


Xavier tertawa nyaring, saat melihat Arro menunduk lemah. Tapi, Arro masih bertahan. Ia tidak akan kalah. Bella menunggunya. Bella membutuhkannya. Arro kini tetap berdiri tegap meskipun dengan tergopoh-gopoh.


“Yang Mulia, jangan memaksakan diri. Kau bisa mati sebelum menyelamatkan pragma-mu,” sarkas Xavier.


“Diamlah, suaramu sangat menggangguku.” Mata Arro terbuka lebar, ia tidak lagi menggunakan kekuatannya. Tapi, ia sudah berlari mendekati Xavier dengan sangat cepat.


Xavier yang tidak siap, akan menjetikkan jarinya lagi. Tapi, Arro sudah lebih dulu memegang tangannya, menghentikan Xavier dari menjetikkan jari. Arro memelintir dan memutar satu persatu jari Xavier hingga membengkok akibat patahan dari tiap tulangnya. Xavier berteriak keras karena kesakitan. Saat Arro akan mengambil tangannya yang kedua, Xavier lebih dulu menjetikkan jarinya. Arro pun kembali merasakan gemuruh dalam dadanya. Sangat kuat. Arro kembali terjatuh dengan berlutut di depan Xavier.


...-----...


...Bella kembali merasakan sakit itu. Sakit itu seperti menjadi alat kejut untuknya. ...


...Aliran dalam tubuh Bella mengalir sangat cepat. Ada sesuatu yang bercampur di sana. ...


...Aliran darah itu seakan membantu sel-sel dalam tubuhnya untuk meregenerasi semua kerusakan. ...


...Memulihkan setiap luka, tulang yang patah, hingga memar di tubuh Bella....


...-----...


Xavier tersenyum menang, dengan satu tangannya memegang ujung leher Arro dan mencekiknya. Arro yang masih merasakan gemuruh dalam dadanya, tidak bisa melawan.


“Selamat tinggal ... Arro.”

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2