DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 6


__ADS_3

Malam sudah larut, tapi Bella masih mengutak atik ponselnya. Mencari lowongan pekerjaan untuk anak SMA seperti dirinya. Tidak banyak pilihan, selain menjadi karyawan kedai kecil atau menjadi kasir di minimarket.


Keesokan harinya, sepulang sekolah, Bella mampir ke salah satu minimarket depan jalan yang biasa ia lalui. Ia berharap, dari 5 tempat yang ia tandai semalam, setidaknya ada satu yang mau menerimanya. Bagaimanapun, ini adalah pengalaman kerja pertama untuknya.


"Selamat sore. Apa lowongan kerja disini masih tersedia?" tanya Bella pada pemuda yang sepertinya lebih tua darinya.


"Oh, tunggu sebentar," jawab pemuda itu sopan, lalu masuk ke ruang di belakangnya. Tidak berselang lama, seorang pria paruh baya keluar bersama pemuda tadi


"Selamat sore nona, Saya Rudy, Kepala Toko." pria tua itu memperkenalkan diri.


"Sore Pak, saya Bella. Saya ingin melamar kerja disini, apakah lowongannya masih tersedia?"


"Masih, tapi tersisa shift malam hari dan berakhir di jam 11 malam. Gimana?" tanya Pak Rudi.


"Oh tidak apa-apa pak. Saya kebetulan tinggal di dekat sini, jadi saya tidak khawatir jika harus pulang semalam itu," jawab Bella lagi.


"Baik kalau begitu, nona Bella bisa mulai malam ini. Shift selanjutnya akan dimulai jam 6 sore pastikan datang tepat waktu dan untuk makan malam kami sediakan makanan instan di belakang," jelas Pak Rudy.


"Baik pak, terima kasih." Bella menjawab dengan senang.


"Oh ya, ini Zayn. Dia yang akan menjaga di shift siang." Pak Rudy mengenalkan pemuda itu.


"Salam kenal Bella." Zayn menjulurkan tangannya.


"Salam kenal Zayn." Bella menyambutnya.


Setelah perkenalan singkat itu, Bella pulang untuk mengganti seragamnya dan kembali ke minimarket itu. Ia masih melihat Zayn di balik meja kasir, sedang menghitung sesuatu.


"Selamat Malam Zayn," sapa Bella ramah.


Zayn masih berkutat dengan angka dan kalkulator di depannya membalas sapaannya. "Hai Bella. Sudah makan?" tanya Zayn.


"Sudah," jawab Bella sambil mengintip tumpukan kertas diatas meja kasir. "Kau sedang apa?"

__ADS_1


"Aku sedang menghitung hasil pemasukan selama shift untuk laporan ke pak Rudy. Mau ku ajari?" tawar Zayn.


"Boleh. Aku belum pernah bekerja sebelumnya. Jadi, mohon bersabarlah denganku.” Bella tersenyum.


"Hahaha. Baiklah. Sekarang kemarilah." Zayn menunjuk ke sampingnya.


Bella setuju dan mendekat ke arahnya, ia fokus dengan apa yang Zayn ajarkan. Sesekali ia mengangguk paham dan sesekali dia mengulang arah telunjuk Zayn di atas kertas-kertas itu.


Tapi, Seseorang diluar sana. Di dalam gelapnya malam, ia tampak tidak senang dengan pemandangan yang dilihatnya. Dia mengepalkan tangannya. Dia sedang menimbang apakah harus melenyapkan laki-laki itu atau tidak.


...****************...


Hari pertama kerja untuk Bella tentu saja sangat melelahkan. Ia menutup laci kasir, membuat laporan di atas buku yang sudah disiapkan. Lalu menaruh kembali buku itu di lemari kecil tepat di bawah laci dan menguncinya. Persis seperti arahan Zayn sebelum pergantian shift tadi.


Setelah memastikan semua lampu sudah mati, Bella mengunci pintu akses minimarket dan berbalik, "Astaga!" Bella terperanjat sambil memegang dadanya, ia terkejut melihat Arro sudah berdiri di sana.


Bella menarik napasnya dalam, sementara Arro hanya tersenyum melihat Bella. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Bella setelah memastikan detak jantungnya kembali normal.


"Rumahku hanya 10 menit berjalan kaki," ucap Bella sambil berjalan.


Arro menghela napasnya. "Kau tidak tau apa yang akan terjadi di 10 menit itu."


"Ya baiklah … hanya tinggal malam ini, dan perjanjian itu berakhir, kan?" tanya Bella.


Arro menyusul langkah Bella. "Bella, apa kau tidak ingin memperpanjang perjanjian itu?"


"Untuk apa? Cintya masih di rumah sakit, dan mamaku sudah pergi jauh. Tidak ada lagi yang aku khawatirkan," gumam Bella.


Arro menghentikan langkahnya. "Kalau begitu, izinkan aku untuk tetap di sampingmu."


Bella yang mendengarnya, ikut menghentikan langkahnya. "Arro ... sepertinya kita sudah tidak usah bertemu lagi," ucap Bella tanpa berbalik melihatnya. "Aku sudah aman sekarang dan … kau sudah membalas budi kepadaku karena menolongmu," lanjutnya. Suara Bella melemah. Ia sendiri tidak tau, apakah keputusaannya ini benar. Tapi, Bella harus mengakhiri ini.


Arro masih terdiam di belakang sana. Banyak yang ingin dia katakan. Tapi apakah Bella akan percaya padanya. Bagaimana jika semua makin rumit?

__ADS_1


Bella yang tidak mendengar jawaban apa pun lagi dari Arro, melangkah maju meninggalkan Arro dengan pikirannya sendiri. Meskipun dia tau, Arro masih memperhatikannya hingga ia membuka pintu rumahnya.


...****************...


Setelah percakapan yang terjadi malam itu. Bella menjalani hari-harinya tanpa kehadiran Arro lagi. Bahkan ketika ia mengunci diri di kamar dan menangis merindukan masa-masa indah bersama orang tua angkat dan adiknya Kenzo, Arro tetap tidak muncul.


Bella lega, setidaknya Arro sudah tidak merasakan apa yang ia rasakan. Tapi malam ini, ia bersedih bukan karena keluarga angkatnya. Tapi karena ia merasakan sakit di hatinya. Melepaskan sesuatu yang entah kenapa ia sesali. Bella sadar akan perasaannya, saat Arro sudah tidak berada di sisinya.


Bella tidak tau sejak kapan ia memiliki perasaan itu. Apakah sejak pertama ia bertemu Arro, atau sejak Arro selalu menghiburnya saat ia terluka.


Bella hanya tidak ingin terlena dengan perasaannya saat bisa mengandalkan orang lain dan bisa mempunyai orang yang selalu berada di sisinya. Bella belajar bahwa kehilangan seseorang tidak akan lebih pedih saat kau bisa melepaskan lebih dulu.


Itu adalah alasannya tidak ingin bertemu dengan Arro lagi. Dunia mereka berbeda. Bella tidak bodoh dengan bermimpi akan menjalin hubungan dengan makhluk yang bukan dari dunianya.


Hingga, suatu malam saat ia baru selesai bekerja. Seperti kebiasaannya, memastikan lampu sudah mati, dan semua pintu sudah benar-benar terkunci. Bella melangkah menembus malam yang sangat dingin.


Lampu-lampu jalan yang biasa terang, kini sedikit tertutup kabut tipis. Langit juga sangat gelap. Seperti awan yang menutupi jalur sinar dari bulan. Bella memeluk tubuhnya, sambil sesekali meniup telapak tangannya.


Sampai ketika netranya menangkap sosok di depan sana. Dengan sayapnya yang masih terbentang kokoh. Apa itu Arro? Bella menyipitkan matanya, mencoba memperjelas penglihatannya. Tapi sosok itu hanya berdiri di depan sana.


Ketika Bella berjalan mendekat dengan hati-hati. Sosok itu juga berjalan mendekatinya. Hingga saat Bella bisa melihat sosok itu dengan jelas. Dia … bukan Arro atau Levi. Tapi seorang pria tua dengan rambut panjangnya yang seputih perak dan matanya yang merah menyala. Sayapnya menjulang tinggi dan tanduk lancip di sisi sayapnya.


Bella membeku. Dia tidak bisa menggerakkan kakinya. Ada apa ini?


"Ck, jadi ini pragma sang pangeran?" pria tua itu sudah berdiri tepat di depan Bella dengan seringai tajam. Ia berjalan memutari Bella dan mengamatinya. "Hanya seorang manusia? Bagaimana bisa? Makhluk lemah yang bahkan tidak bisa melawan sihir kecil," sindir pria tua itu.


Pragma? Pangeran? Bella tidak paham dengan apa yang dimaksud makhluk itu. Tapi Bella tau dia dalam bahaya. Bella bisa merasakan udara yang semakin mendingin di sekitarnya. Bella bergidik ngeri. Dia ingin berlari sekuat tenaga dan berteriak meminta tolong kepada siapa pun. Tapi sial, mulutnya sama kakunya dengan tubuhnya.


"Sepertinya, ini akan menjadi kado terbaik," gumam pria tua itu yang kini berhenti di belakang Bella.


Air mata Bella yang tertahan jatuh perlahan. Matanya mulai terasa berat. "AAROO!" jerit Bella dalam hati. Lalu, semuanya menggelap.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2