
Levi menghentikan mobil itu di dekat sebuah bangunan bertingkat tiga dengan banyak papan nama usang bergelantungan tidak terurus. Bahkan sebuah papan nama tempat itu sudah miring akibat salah satu pengaitnya putus.
“Apa kau yakin disini?” Arro sedikit ragu melihat kondisi bangunan itu.
“Info yang aku dapat, benar di sini.” Levi sendiri juga sedang mempertanyakan informasi yang ia terima. Harusnya, jika ia seorang malaikat dari Dunia Atas, membeli bangunan yang lebih mewah bukanlah hal yang sulit.
Arro membuka pintu dan keluar dari mobil sambil membaca satu persatu papan nama tempat usaha yang berjajar di sana.
Sebuah papan bertuliskan ‘Membaca Nasib’ dengan tulisan yang dibuat-buat menyeramkan menarik perhatian Arro. “Siapa yang masih percaya pada hal seperti itu,” batin Arro mengejek nama itu.
“Itu tempatnya.” Levi menunjuk sebuah papan nama di depan, Arro menoleh mencari kemana arah telunjuk Levi. Ya, ‘Membaca Nasib’ itu adalah tempat yang Levi tunjuk. Arro hampir mengumpat karena terkejut. Seandainya rakyat Kerajaan Vasileion yang membuka tempat itu, pasti akan ia seret orang itu untuk kembali ke Dunia Atas. Melakukan penipuan di Daratan Manusia termasuk kejahatan besar.
“Siapa namanya?” tanya Arro sambil berjalan disamping Levi.
“Arzeus.”
Bunyi lonceng yang tergantung di atas pintu memecah keheningan tempat itu ketika Arro mendorong pintu masuk. Seperti papan namanya, suasananya juga dibuat menyeramkan. Lampu temaram berdominan merah, poster yang tertempel dengan gambar-gambar aneh, hingga bau dupa yang terbakar meninggalkan sedikit asap untuk menambah kesan mencekam.
Tapi anehnya, Arro dan Levi tidak menemukan siapa-siapa di dalam ruangan itu.
“Haloo!” teriak Levi untuk memanggil siapa pun di sana.
Tidak ada jawaban. Levi berteriak memanggil lagi, tiba-tiba suara dari pengeras suara mengejutkan Arro dan Levi.
“Selamat Datang, sebutkan namamu dan aku akan membacakan nasibmu.”
Kesabaran Arro sudah semakin menipis. Ia tidak suka permainan seperti ini. “Arzeus, kalau kau tidak keluar sekarang. Aku pastikan kau tidak akan bisa berbisnis di Daratan Manusia lagi.”
Sebuah pintu yang sangat menyerupai dinding perlahan terbuka. Seseorang mengintip dengan hati-hati. “Siapa kalian?” tanya pemilik tempat itu.
Levi maju dan menegapkan tubuhnya. Ia memperkenalkan dirinya secara formal, “Aku Levi, Panglima Utama dari Kerajaan Vasileion. Tunjukkan hormatmu untuk Sang Pangeran, Yang Mulia Arro.”
Pemuda itu tentu saja sangat terkejut. Ia segera keluar dari persembunyiannya lalu membungkuk dengan hormat. “Maafkan saya, Yang Mulia.”
Arro tidak ingin terlalu lama berbasa basi. “Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Apakah itu, Yang Mulia?”
__ADS_1
Arro mendesah kesal, “tidak dengan keadaan seperti ini.” Arro memutar telunjuknya, menunjukkan suasana dan tempat itu.
Pemuda itu segera mengerti lalu berdiri menyalakan saklar lampunya hingga suasana di tempat itu menjadi terang. Ia juga segera mengunci pintu utama tempatnya dan menutup semua jendela dengan rapat. Tidak lupa, ia juga mematikan dupa yang masih terbakar.
Pemuda itu juga kini menggeser sebuah kursi empuk untuk Arro duduki. Setelah itu, ia kembali berlutut di depan Arro. “Apakah ada yang bisa saya lakukan lagi, Yang Mulia?”
“Berdirilah. Aku tidak akan lama di sini.” Arro lalu menduduki kursi itu.
Pemuda itu berdiri, tapi tetap menunduk untuk menunjukkan hormatnya. Ia menelan salivanya untuk mengatasi kegugupannya. Baginya, kedatangan anggota Kerajaan Utama Vasileion adalah sebuah kemungkinan yang hampir tidak mungkin terjadi.
“Kapan terakhir kau mengunjungi Kerajaan Aelios?” Arro memulai pertanyaannya.
“Sekitar 10 tahun yang lalu, Yang Mulia.”
Arro kini melirik Levi yang berdiri di sampingnya. Mereka memikirkan hal yang sama. Itu artinya, pemuda itu masih berada di Kerajaan Aelios saat Bella lahir.
“Apa kau tau sesuatu tentang Ratu Camelia?”
Pemuda itu tidak langsung menjawab, itu adalah aib dari kerajaannya. “Ampuni saya, Yang Mulia, tapi, Ratu Camelia sudah lama tidak ada.”
“Aku tau, kau hanya perlu menjawab yang aku tanyakan.”
“Apa yang terjadi?”
“Ratu Camelia memilih meninggalkan pragma-nya dan menikah dengan seorang manusia.”
Informasi itu cukup membuat Arro terkejut. “Apa dia adalah malaikat yang beritanya sampai di Kerajaan Vasileion?” tanya Arro kepada Levi.
“Sepertinya benar, Yang Mulia,” jawab Levi dengan formal.
“Lalu, apa yang terjadi?” tanya Arro lagi kepada Arzeus.
“Kami tidak terlalu mendapatkan banyak informasi, Yang Mulia. Karena kami hanya rakyat biasa. Bahkan informasi bagaimana dan apa yang terjadi dalam istana saat pemberontakan terjadi sangat di tutupi oleh anggota kerajaan. Jika ada yang berani mengeluarkan berita tidak benar. Maka, akan langsung mendapatkan hukuman penggal.”
“Pemberontakan?”
“Pragma Sang Ratu datang dan menghancurkan isi istana dan ... membunuh suami Sang Ratu.”
__ADS_1
Arro dan Levi tentu saja sangat terkejut dengan informasi itu.
“Ampuni saya, Yang Mulia. Hanya informasi itu yang dibagikan kepada rakyat Aelios.”
Arro sedikit kecewa dengan informasi yang sangat sedikit itu. Tidak ada lagi yang bisa ia tanyakan. Karena itu, Arro beranjak dari duduknya dan mengajak Levi untuk meninggalkan tempat itu.
“Yang Mulia…” panggil Arzeus.
Arro dan Levi berbalik kembali.
“Apakah saya boleh mengetahui ini tentang apa?”
“Tidak, kau tidak perlu tau.” Arro sudah akan kembali berbalik dan pergi sebelum kalimat dari Arzeus menghentikan langkahnya.
“Apakah ini tentang keturunan Sang Ratu?” tanya Arzues dengan sangat hati-hati.
Arro dan Levi tidak menjawab tapi raut wajah mereka menunggu Arzeus melanjutkan kalimatnya sendiri.
“Saya tidak mengetahui apa yang terjadi dalam istana waktu itu, tapi saya bisa membaca pikiran dan ingatan seseorang.”
Levi kini sudah maju dengan cepat, memelintir tangan Arzeus memaksanya kembali berlutut dengan tangan yang masih di cengkram oleh Levi.
“Kau tau itu kejahatan, sudah berapa orang yang kau jebak?”
Arzeus meringis sambil memegang bahunya yang terkilir, “Ampuni saya Tuan, mereka yang datang dan meminta saya membaca nasib mereka. Saya tau itu sebuah kejahatan jika melakukannya tanpa persetujuan mereka.”
“Levi, lepaskan,” perintah Arro yang kini menunduk menyamakan tingginya dengan Arzeus yang masih berlutut.
Levi melepaskan Arzeus dengan kasar.
“Arzeus, aku hanya akan bertanya ini sekali. Aku akan menghabisimu di tempat ini kalau kau berbohong. Mengerti?” Arro mencoba menatap mata Arzeus. Membaca gerakan matanya.
“Saya tidak mungkin berani, Yang Mulia.”
“Bagus, sekarang jawab pertanyaanku. Apa kau pernah bertemu dengan Argus?”
Arzeus langsung mengangkat wajahnya mendengar nama itu. Mata Arzeus menatap Arro dengan sebuah kilasan kemarahan dan kesedihan menyatu dalam tatapan itu. “Tentu saja, Yang Mulia. Saya tidak mungkin melupakan pertemuan pertama saya dengan Argus. Pertemuan yang menyebabkan saya kehilangan istri dan anakku.”
__ADS_1
Arro menegakkan kembali tubuhnya. Tanpa melepas pandangannya kepada Arzeus yang kini sudah menunduk lemah. “Levi, bawa Arzeus ke Markas Dunia Atas.”