DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 21


__ADS_3

“Bagaimana?” tanya Arro dengan sangat khawatir. Tangannya masih menggenggam tangan Bella yang masih terbaring tidak sadarkan diri.


“Kekuatan yang menutup ingatannya sangat kuat, Yang Mulia. Hanya seorang dengan kekuatan besar yang bisa mengendalikan ingatan sekuat ini,” balas Arzeus. Sudah hampir sejam ia mencoba memasuki ingatan Bella.


“Arro, kita harus membiarkan Bella beristirahat dulu.” Levi menepuk pelan bahu Arro yang masih menatap sayu wajah pragma-nya.


“Tapi, dia tidak apa-apa, kan?”


“Nona Bella hanya tertidur, Yang Mulia.” Arzeus menjawab pertanyaan Arro.


“Kalian keluarlah, aku akan menjaganya di sini.”


Levi dan Arzeus paham, lalu berjalan bersamaan ke arah pintu kamar Arro.


“Bella, bangunlah,” Arro memejamkan matanya sambil terus menggenggam erat jari jemari Bella. Seperti ingin menyalurkan kenyamanan untuk Bella.


Tubuh Bella tidak bergeming. Tapi … tidak dengan pikirannya, sesuatu dalam ingatan terdalam Bella sedang melawan sisa-sisa kekuatan yang mengekang ingatannya.

__ADS_1


“Bell?” panggil Arro saat merasakan jari Bella bergerak ikut menggenggam tangannya.


Perlahan kelopak mata Bella terbuka, netranya menyusuri semua hal baru di sana. Kamar itu didominasi oleh warna hitam, ranjang yang ia tempati mempunyai permukaan yang sangat nyaman dan empuk, lalu penerangan dari salah satu lampu kristal besar yang terjuntai di tengah kamar itu. Bella menolehkan wajahnya ke sisi Arro. Entah kenapa tiba-tiba air mata Bella mengalir deras. “Arro,” gumam Bella sambil berusaha menggapai tubuh Arro dan memeluknya.


“Aku di sini.” Arro berusaha menenangkan Bella.


“Aku bermimpi… aku mimpi sangat buruk. Itu adalah mimpi terburuk yang pernah aku alami.” Bella sekarang menangis sesegukan. Seperti baru kehilangan sesuatu yang sangat berharga.


Arro kini naik ke atas ranjang dan duduk bersama Bella. Ia mengusap air mata Bella dan mencoba mencari tau apa mimpi Bella. “Apa kau bisa ceritakan padaku apa yang kau lihat?”


“Semuanya sangat samar.” Bella mencoba mengingat-ingat. “Aku hanya mendengar suara seorang wanita menangis yang entah kenapa sangat menyesakkan dadaku. Lalu aku mendengarnya mengucapkan sesuatu yang aku tidak tau … setelah itu, sesuatu menarikku menjauh dari sana, hal yang terakhir aku dengar adalah…” Bella kini menatap manik mata Arro yang masih menatapnya sejak tadi. “Suara pengurus pantiku. Bu Rina.”


“Arro … ini dimana?” tanya Bella penasaran.


“Ini di Dunia Atas. Markas Utama Kerajaan Vasileion.”


Bella mengernyitkan keningnya, “kapan kau membawaku ke sini?”

__ADS_1


Arro tersenyum, “Maaf membawamu tanpa persetujuanmu, aku khawatir di bawah sana kau tidak akan terbangun lagi. Jadi aku membawamu ke sini sekitar … 20 jam yang lalu.”


Bella mengangguk paham, surainya masih dibelai lembut oleh Arro.


“Apa kau lapar, hm?”


Bella menggeleng kecil. Entah kenapa Bella tidak merasakan lapar. Ia seperti lebih membutuhkan tidur daripada makan. Padahal ia sudah tertidur selama itu.


“Baiklah. Sekarang tidurlah. Aku akan berada di sebelah sana.” Arro menunjuk sebuah sofa mewah yang terbuat dari kulit berwarna hitam dan terletak di sudut kamar itu. Sofa itu menghadap ke arah tempat tidur yang Bella tempati.


Tiba-tiba Bella mengingat sesuatu. Ia meraba dadanya, seingatnya ia mengalami rasa sakit yang hebat seperti rasa terbakar di bawah tulang selangkanya.


Arro yang menyadari itu, menarik sedikit leher baju Bella ke bawah. Membantu Bella melihat sebuah tanda di sana yang masih samar. Lalu Arro menarik sedikit kerah baju hitam yang ia kenakan menunjukkan tanda yang sama dengan milik Bella.


Bella tidak mengerti, sementara wajah Arro penuh dengan senyuman kebahagiaan. “Aku sudah menemukan pragma-ku yang hilang.”


Bella mengingat-ingat cerita yang pernah Arro sampaikan padanya tentang tanda dan tentang pragma. Saat itu Bella tersadar. Ia adalah Pasangan Abadi Arro.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2