DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 9


__ADS_3

Bella menyesap cokelat panasnya, sementara Arro kini sudah duduk di sampingnya. Jam dinding di ruang utama itu sudah menunjukkan pukul 4 pagi, artinya sudah 2 jam yang lalu sejak Arro dan Levi menyelamatkannya.


"Apa kau tidak ingin beristirahat?" tanya Arro.


"Aku memang lelah, tapi aku sangat ingin mendengarkan semuanya." Bella mengubah posisi duduknya. Ia Mengangkat kedua kakinya, melipatnya dan menghadapkan badannya ke sisi Arro.


Arro menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Ingatannya kembali saat ia melihat Bella berada dalam sel penjara yang kotor itu. Emosinya kini kembali muncul. Ia tidak menyangka kalau mereka berani menyentuhnya. Arro melirik Bella yang masih setia menunggunya mulai bercerita.


"Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan?" Arro menutup matanya, dia ingin meredakan sedikit emosinya. Dalam hatinya, ia sedikit lega melihat Bella tidak terluka sedikit pun.


"Jadi, siapa yang menculikku? Dan kenapa Zayn … bisa ada disana?" Bella mengawali pertanyaannya. Raut kecewa terukis jelas di wajahnya. Zayn, teman yang sudah mengisi hari-harinya dan mengajarkan Bella hal baru. Bella pikir, ia akhirnya bisa mendapatkan seorang teman lagi, setelah sekian lama.


Arro menarik napas panjangnya, "Namanya Abercio. Dia kaki tangan Argus. Dan Zayn ..." Arro menghentikan kalimatnya, rahangnya kembali mengeras, tangannya terkepal menahan amarah "Dia seharusnya kubunuh saat melihatnya di toko bersamamu."


Bella hati-hati mengelus pergelangan tangan Arro lembut. Menenangkannya. Arro tersenyum tipis mendapat perlakuan itu. Panas di kepalanya seperti tersiram dengan air dingin.


"Zayn adalah salah satu pasukan khusus. Dia diperintahkan untuk mengawasimu, sejak kau bertemu denganku di lorong gelap malam itu. Aku tidak tau bahwa Zayn sudah berpihak pada Argus. Dia dulu dikenal sangat setia pada Sang Raja," lanjutnya.


"Apa mereka yang melukaimu waktu itu?" Bella menatap iba pada Arro. Masih jelas diingatan Bella sayatan luka di sekujur tubuh Arro.

__ADS_1


"Iya. Pasukan Argus yang melukaiku. Mereka menyerang kami, saat kami sedang lengah." Arro memperhatikan wajah Bella yang seperti kebingungan. Ia menarik napasnya dalam, dia sedang memilih darimana ia akan memulai kisahnya.


"Kemarilah!" seru Arro dengan lembut, ia menunjuk kesisinya. Bella mendekat dengan hati-hati, ia menurunkan kakinya dan duduk persis di samping Arro. Arro merentangkan tangannya melewati bahu Bella dan membelai lembut surai Bella. Belaian lembut itu membuat Bella merasakan kenyamanan. Arro membawa kepala Bella untuk bersandar dipundaknya. Kenyamanan itu kini bertambah berkali-kali lipat.


"Kami bangsa malaikat, berasal dari Kerajaan Vasíleion. Kerajaan ini dulunya mempunyai Raja dengan nama Lexander Kyrillos, yang hanya memiliki seorang putra sebagai Putra Mahkotanya, Sang Pangeran." Arro memulai kisahnya.


"Sejak lahir Sang Pangeran dilatih untuk menjadi penerus kerajaan. Tapi, sampai ketika waktunya ia bisa menggantikan Sang Raja, Pragma-nya menghilang saat terlahir. Sang Pangeran mencari keseluruh wilayah kerajaan, bahkan menyebrang ke kerajaan lain untuk mencari sang Pragma, tapi hasilnya nihil. Sang Pangeran pun dicap sebagai Putera Mahkota yang cacat. Yang tidak bisa menjadi penerus kerajaan."


"Pragma? Aku ingat Abercio menggunakan kata itu," ucap Bella sambil masih menikmati belaian dirambutnya.


"Pragma adalah Pasangan Abadi. Setiap malaikat hanya memiliki satu pragma. Jika mereka sudah bertemu, terikat dan diberkati. Maka kekuatan mereka akan lebih kuat. Bahkan mengusai kekuatan yang mereka belum punya sebelumnya," jelas Arro.


"Setiap malaikat memiliki satu tanda di dada mereka yang sama dengan pragma mereka, tepat dibawah tulang selangka. Setiap kelahiran pasangan mereka tanda itu akan bersinar terang dan jika tanda itu menghilang, maka pasangan mereka telah mati."


"Lalu ... bagaimana dengan pragma mu? Apa sudah terlahir?" Bella mengatakannya dengan suara rendah, hampir seperti bergumam. Ia sedikit tidak siap dengan jawaban Arro.


Arro mengangguk pelan dan berkata, "Sudah, dia sudah terlahir." Arro melihat perubahan raut Bella. Bella ingin mengangkat kepalanya yang masih bersandar dibahu Arro, tapi Arro menahannya.


Bella sebenarnya sudah tidak ingin bertanya lagi, tapi penasaran dalam hatinya terus mengganggu. "Dan … bagaimana jika pragma-mu mati, apa yang akan terjadi padamu?" tanya Bella dengan hati-hati. Entahlah, sedikit dalam dirinya berharap itu terjadi.

__ADS_1


"Jika kami belum terikat dan diberkati, maka kekuatanku hanya dasar yang kubawa sejak lahir, kekuatan yang umum dimiliki semua malaikat, seperti terbang, menghipnotis, dan memakai mantra sederhana … tapi jika ia mati setelah kami terikat, maka kekuatanku hanya yang ku dapatkan sejak bersamanya dan tidak akan berkembang lagi," jawab Arro.


Bella mengangguk paham, lalu sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya, "Apakah seorang malaikat bisa menolak pragma-nya? Maksudku, bagaimana jika ia mencintai malaikat lain? Atau.. seorang dari bangsa manusia." Kalimat terakhir Bella hampir tidak terdengar. Ia seperti berbicara pada dirinya sendiri.


Arro memperhatikan Bella sejenak sebelum menjawab, "Aku pernah mendengar cerita itu. Seorang malaikat berkhianat pada pragma-nya, sesaat sebelum mereka diberkati. Yang ku tahu, kekuatan malaikatnya akan melemah dan akan menghilang jika energinya sudah habis. Maka dari itu, jika ia ingin hidup lebih lama, ia harus menghemat energinya dan tidak menggunakan kekuatannya sama sekali."


Bella hanya terdiam. Jika harus memaksakan seperti itu, maka sama saja misi bunuh diri untuk seorang malaikat. Bella sadar, sepertinya, tidak ada celah untuknya bersama Arro. Bella menghela napasnya berat. Jawabannya persis seperti yang ia pikirkan selama ini. Sebuah ketidakmungkinan.


Bella menenangkan dirinya, ada hal yang lebih penting dari perasaannya. "Lalu, siapa Argus? Kenapa Abercio dan pasukannya memberontak dan menyerangmu?" tanya Bella, ia berusaha mengalihkan pikirannya dari hatinya yang kacau.


Arro tidak bisa melihat raut wajah Bella lagi, Bella seakan menunduk dalam, menhindari tatapan Arro. Arro menarik napasnya, dan menjawab pertanyaan Bella. "Argus, adalah saudara Sang Raja. Saat Argus mengetahui bahwa Sang Pangeran kehilangan Pragma-nya, dia membunuh Sang Raja. Argus kemudian menghasut seluruh rakyat kerajaan untuk mengasingkan Sang Pangeran. Tapi, Sang Pangeran tidak tinggal diam, Dia mencari semua bukti untuk menunjukkan bahwa pamannya lah yang membunuh Raja. Saat Argus mengetahui pergerakan itu, saat itulah dia mengejar semua yang berpihak pada Sang Pangeran."


"Apa Sang Pangeran sudah menemukan bukti itu?"


"Sayangnya belum. Sang Paman sangat cerdik. Ternyata dia sudah mengumpulkan pasukan untuk memberontak pada kerajaan bahkan sebelum kematian Sang Raja. Sehingga banyak yang berpihak padanya. Karena itu Sang Pangeran sangat kewalahan."


"Aku turut bersedih untuk Sang Pangeran," kata Bella dengan sangat pelan sebelum menutup matanya dan bernapas dengan teratur. Arro yang menyadari Bella yang sudah tertidur, mengangkat Bella ke kamarnya dan membaringkannya dengan pelan.


Arro memandang Bella yang sudah damai dalam tidurnya. "Selamat tidur, Pragma Sang Pangeran," kata Arro lembut lalu mengecup pelan kening Bella.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2