DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 25


__ADS_3

Keesokan paginya, Arro membawa Bella ke Gerbang Utama, di sana sudah ada ada beberapa orang yang Bella kenali dan tidak kenali.


“Bella, ini Damian dan Agnor. Mereka akan menjagamu disini bersama Jasmine. Aku akan kembali sebelum matahari terbenam.” Arro mempersilahkan Damian dan Agnor memperkenalkan diri mereka.


“Saya Agnor, Nona.” Agnor sedikit membungkuk untuk memberi hormat.


Bella yang pertama kali bertemu dengan Agnor merinding ketakutan. Auranya sama seperti Abercio. Bella sedikit bersembunyi di belakang Arro. Tapi, ia berusaha tersenyum untuk bersikap sopan. “Sa-saya, Bella.”


Arro bisa melihat Bella yang sedikit tidak nyaman, ia memutar lembut kedua pundak Bella untuk menatapnya, “dia tidak akan menyakitimu, tidak ada siapa pun di markas ini yang berani menyakitimu.” Suara Arro lembut tapi nadanya tegas. Ia ingin meyakinkan Bella untuk tidak mengkhawatirkan apa pun.


Bella hanya mengangguk. Arro pun kembali berbicara kepada Damian dan Agnor di sana. Bella kemudian melirik ke arah Jasmine yang sedang berbicara dengan Levi. Bella tidak bisa mendengar percakapan mereka, tapi Bella bisa melihat Levi yang tersenyum manis sambil menepuk-nepuk puncak kepala Jasmine lembut. Bella ikut tersenyum melihat interaksi itu.


“Bella, aku pergi ya, ingatlah untuk makan,” ucap Arro lalu mencium kening Bella singkat.


Bella jadi salah tingkah, ia bisa melihat mereka semua mengalihkan pandangan mereka. Setelah Arro memeluk Bella, mereka pun terbang menjauh.


“Jasmine, maukah kau menemaniku ke taman bunga?” tanya Bella.


“Tentu saja.” Jasmine lalu berjalan bersama Bella, sementara Agnor dan Damian mengikuti mereka dari belakang.


“Jadi, ceritakan padaku, bagaimana kau bisa bertemu dengan Levi?” tanya Bella penasaran saat menyusuri taman bunga itu.


Taman itu lebih mirip ladang bunga, terlalu banyak bunga cantik di sana. Beberapa hampir sama dengan bunga dari Daratan Manusia dan beberapa juga bunga yang tidak Bella kenali. Salah satunya adalah tanaman kochia yang sudah berwarna merah. Tanaman unik berbentuk gumpalan seperti bola itu mengelilingi sekitar taman.


“Levi menemukanku saat aku tersesat di hutan Agreon. Aku sedang menemani ayahku untuk memetik beberapa tanaman untuk di jadikan obat. Tapi, beberapa orang jahat mencoba mencelakai kami. Saat itu, Levi datang dan mencoba menyelamatkanku.” Cerita Jasmine dengan wajah yang bersemu.


“Bagaimana Levi bisa menemukanmu? Apakah setiap orang yang memiliki tanda yang sama, pasti akan bertemu?” tanya Bella semakin penasaran. Kini mereka duduk di sebuah bangku panjang yang berwarna putih di taman itu.


“Kami bangsa malaikat, pasti akan bertemu pragma kami. Tanda yang berada di dada ini adalah sebuah benang merah yang tidak terlihat. Seperti takdir yang akan selalu mengikuti kami. Jika pragma kami mengalami kesulitan atau kesedihan, kami pasti akan merasakannya.”

__ADS_1


Bella mengangguk paham. “Lalu kenapa kalian belum diberkati?”


“Kami memiliki aturan tentang pemberkatan. Bertemu dengan pragma selalu berbeda-beda. Ada yang bertemu ketika pragmanya terlahir, ada yang bertemu saat pragmanya belum dewasa, ada yang bertemu setelah puluhan tahun. Untuk pemberkatan, mereka harus mencapai usia dewasa dulu.”


Bella lalu melirik Agnor takut-takut. “Kalau dia, apa kau tau berapa umurnya?”


Jasmine mencoba mencari kemana arah mata Bella. Saat melihatnya, Jasmine tersenyum, “Agnor sudah berusia ratusan tahun, mungkin sekitar … 200 tahun lebih.”


Bella membelalak, “Apa? Usia kalian bisa sampai berapa ratus tahun? Apa Arro juga memiliki usia setua itu?” Bella pusing memikirkan usia yang terlalu jauh itu.


Jasmine tergelak mendengar pertanyaan polos Bella, “baiklah, akan aku jelaskan perlahan.” Kini Jasmine menjadi sangat antusias, ia memperbaiki duduknya agar bisa bercerita dengan lebih nyaman.


“Kami, akan menua seperti manusia biasa sebelum pemberkatan. Pemberkatan itu sangat penting untuk kami karena selain menyatukan pragma, pemberkatan juga bisa menyempurkan kekuatan kami. Sebelum pemberkatan, jika kami sudah menemukan pragma kami, kekuatan kami bisa menguat meskipun tidak bertambah dan sempurna. Artinya, setelah pemberkatan, kekuatan sebenarnya dari tiap malaikat akan sempurna dan kami akan menua sangat lambat. Tidak lagi mengikuti usia manusia. Kami akan tetap hidup, kecuali dibunuh atau bunuh diri. Untuk Yang Mulia Arro sendiri, kekuatannya akan sangat kuat, karena ia adalah keturunan kerajaan utama.”


Bella mengangguk paham, penjelasan Jasmine hampir sama dengan penjelasan Arro dulu kepadanya. Berarti, usia Arro masih mengikuti usia manusia dan tidak terpaut jauh dari usianya.


Jasmine akan bercerita lagi, tapi tiba-tiba Damian berlari kearahnya. “Nona, masuklah sekarang. Kami merasa ada sesuatu yang tidak beres.”


“Untuk sekarang, sudah aman.” ucap Jasmine menenangkan Bella.


Sementara itu, di taman bunga itu, Agnor dan Damian berhasil menghindar dari ledakan. Mereka tidak tau darimana asalnya serangan itu. Agnor segera membentakkan sayapnya kokoh sebagai bentuk pertahanan. Sementara Damian bersiaga dari atas.


“AWAS!” pekik Agnor saat melihat sebuah anak panah terbang ke arah Damian di atas.


Damian yang segera sadar, segera menghindar lalu menajamkan indera penglihatannya. Ketemu. Di depan sana seorang terbang dengan memakai topeng berwarna hitam. “TUAN!” teriak Damian mengambil perhatian Agnor untuk melihat ke arah telunjuknya.


Agnor segera paham, ia lalu berteriak dengan sangat kencang sambil menepukkan tongkatnya ke tanah keras itu. “TERBENTANGLAH.”


Seperti sebuah kaca tipis dari dalam tanah muncul lalu membentang dan meninggi, lalu membentuk sebuah kubah melindungi apa yang ada di dalamnya. Untuk sementara, Bella dan Jasmine akan aman di dalam sana.

__ADS_1


Saat Damian sedang bergulat dengan malaikat bertopeng di atas, Agnor bersiaga tepat di depan kaca tipis itu. Lalu sebuah ledakan muncul lagi, tapi mengenai pelindung kaca itu dan berhasil menghalau serangan itu.


“SIAPA KAU, SIALAN?” geram Agnor. Ia tidak melihat siapa pun, sementara Damian di atas sana sudah sedikit kewalahan.


“Tenanglah Agnor. Kenapa kau jadi pemarah? Apa memimpin Dunia Bawah menghilangkan akalmu?”


Suara itu muncul dari atas Agnor. Agnor mengadahkan wajahnya melihat siapa makhluk yang berani menyerang Markas Kerajaan Vaselion. Ya, wajah itu Agnor kenal. Ardios. Saudara dari Abrion.


“Apa yang kau lakukan? Ini adalah Markas Kerajaan Vaselion.”


“Aku sudah lama menunggumu keluar dari Dunia Bawah. Ketika mendengar kau sedang berada di Dunia Atas, aku sangat senang, aku datang untuk menyambutmu.” Ardios sudah menapakkan kakinya di atas tanah. Kalimatnya yang terucap sangat bertentangan dengan rautnya yang dipenuhi amarah.


Agnor sedikit lega, Ardios bukan datang untuk pragma Arro, tapi untuk dirinya. “Ck, apa kau marah karena aku telah menyiksa Abrion di bawah sana?”


“DIAM!” Ardios marah dengan ucapan Agnor. “Abrion tidak seharusnya mati seperti itu.”


“Dia sudah melakukan pengkhianatan. Apa kau masih mau membela adikmu itu?”


“Dia tidak mungkin melakukannya. Kau tau, dia juga teman dari Raja Kyrillos.”


“Ya. Katakan itu sendiri ketika kau menemuinya. Di kehidupan selanjutnya,”


Wajah Ardios memerah karena murka. Ia mengangkat tangannya lalu mengarahkannya ke Agnor, Agnor segera mengangkat tongkatnya untuk menghalau serangan dari Ardios. Sebuah kabut gelap keluar dari telapak tangan Ardios lalu melesat cepat menuju posisi Agnor.


Agnor terperanjat, ia mundur selangkah. “Apa ini? kau tidak mungkin …,” ucapan Agnor terhenti. Kabut gelap itu sudah mengunci pergerakannnya. Agnor bersusah payah menggerakkan tongkatnya. Keringat mengucur deras di dahinya, Agnor kewalahan, kekuatan itu bukan kekuatan malaikat murni. Sesuatu bercampur di kekuatan itu.


Damian yang sudah berhasil mengalahkan pasukan dari atas melihat Agnor yang tidak bisa bergerak di bawah sana. Damian sendiri terkejut melihat kabut gelap itu. Itu adalah tanda dari sihir hitam. Damian sadar ia tidak mungkin bisa mengalahkan Ardios sendirian. Tapi, ia tidak bisa tinggal diam, ia memutar otaknya untuk mencari cara. Setelah melihat sebuah kesempatan, Damian terbang lebih tinggi, lalu melakukan gerakan memutar, dengan kecepatan tinggi ia menuju ke arah Ardios.


Ardios terlambat menyadari kemunculan Damian, tapi ia sempat mengangkat tangannya yang lain untuk melepaskan serangan. Damian menggeram sambil memegang dadanya yang terkena serangan itu, tapi ia tidak menurunkan kecepatannya. Ia menabrakkan dirinya sendiri ke Ardios. Tubuh mereka berdua terpental jauh, sementara kabut itu sudah menipis lalu menghilang. Agnor akhirnya bisa terlepas. Ia segera berlari untuk menghampiri Ardios tapi Ardios sudah tidak di sana. Ia menghilang. Sementara Damian masih tergeletak tidak bergerak. Agnor segera membopong Damian dan membawanya masuk ke Markas. Jika, Ardios muncul lagi. Ia tidak akan segan-segan membunuhnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2