DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 35 (Bag. 1)


__ADS_3

“Yang Mulia, saya akan mengambil seratus pasukan dari Dunia Bawah.” Agnor mengusulkan idenya.


“Yang Mulia, kita harus membuktikan kalau Argus lah dalang dari kematian mendiang Raja Lexander. Dengan begitu, rakyat bisa memihak anda.” Levi kembali bersuara.


Sementara Bella yang berdiri disamping Arro bisa merasakan kegugupan bercampur amarah di hati suaminya. Ia berharap bisa melakukan sesuatu untuk Arro. Adena, Arzeus dan Jasmine berdiri di sudut ruangan itu. Mereka ikut gelisah dengan apa yang akan terjadi.


Arro bergelut dengan pikirannya sendiri. Ia tau sangat sulit bisa menemukan bukti pengkhianatan dan pemberontakan yang dilakukan Argus.


“Yang Mulia, saya punya rencana untuk meyakinkan rakyat bahwa Argus adalah penyebab dari semua kekacauan di Kerajaan Utama.” Agnor terlihat yakin dengan ucapannya.


“Apa rencanamu?” Arro akhirnya menaruh perhatian pada Agnor.


“Abercio, Yang Mulia.”


Arro mengernyitkan dahinya. “Abercio?” Arro tidak paham.


“Damian!” seru Agnor.


Damian segera maju dan menceritakan yang sebenarnya. “Yang Mulia. Sewaktu melawan Abercio di Dunia Bawah. Kami tidak membunuhnya. Kami mengurungnya di bawah sana. Kami pikir mungkin suatu hari, ia akan berguna. Meskipun kami sudah menyiksanya dengan sangat berat. Tapi, ia tidak juga mau mengatakan sesuatu. Ia memilih memotong lidahnya sendiri.”


“Jadi, dia masih hidup?” tanya Arro dengan terkejut, yang di balas anggukan oleh Agnor dan Damian.


Arro kini paham rencana yang mereka maksud.


Levi kini maju mendekat. “Pasukan Argus sudah berada di depan Istana Kerajaan Utama. Mereka juga sudah mengumpulkan dewan kerajaan dan rakyat di sana.”


Arro berdiri dari duduknya dengan mata yang membelalak. “APA?!”


“Mereka … akan mengadakan peresmian gelar Raja untuknya.”


Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana terkejutnya mereka mendengar berita mendadak itu. Padahal Arro adalah keturunan Raja yang sebenarnya. Ia tidak akan membiarkan Argus mengambil tahtanya. Argus hanya akan menjadi bencana untuk Dunia Atas.


Arro tidak berkata-kata lagi. Ia segera menuju keluar dari ruang itu dan terbang menuju Istana Utama Kerajaan Vasileion. Istana yang sudah lama ia tinggalkan.


...----------------...


Arro bisa melihat dari atas, kumpulan pasukan Argus dan rakyat sudah menjadi satu di halaman istana kerajaan yang luas itu. Lalu ada Argus dan kelima dewan anggota kerajaan yang sepertinya juga sudah menjadi sekutu Argus.


Istana itu memiliki pintu masuk dengan puluhan anak tangga. Rakyat sudah berkumpul di bawah anak tangga itu untuk menyaksikan penobatan Argus untuk menjadi seorang Raja.


Ketika Arro turun dan mendaratkan kakinya tidak jauh dari Argus, Bella dan semua yang mengikuti Arro juga melakukan pendaratan di belakang Arro.


Rakyat sangat terkejut melihat putra mahkota ada disana. Sejak kematian ayah dan ibunya. Arro hampir tidak pernah menginjakkan kakinya ke Istana Utama. Itu semua karena Argus.


“APA YANG KAU LAKUKAN?” Arro murka melihat seorang anggota dewan sudah hampir melampirkan mahkota yang dulu dipakai ayahnya.

__ADS_1


Dewan kerajaan itu tersentak, lalu memilih mundur saat Argus sudah berdiri dari berlututnya.


“Dimana sopan santunmu kepada pamanmu, Arro?!” Argus terlihat tidak kaget dengan kehadiran Arro.


“Aku adalah keturunan Raja Lexander Kyrillos. Aku yang berhak menggantikan ayahku.”


“Diam! Kau tidak bisa menjadi seorang Raja, pragmamu adalah setengah manusia. Bukan malaikat murni.” Argus tidak berbicara menghadap Arro. Dia sengaja berteriak agar semua rakyat yang hadir mendengarkan faktanya.


Arro bisa mendengar suara bisik-bisik dari rakyatnya. Mereka memandang rendah ke arah Arro. Apalagi dengan semua tatapan sinis yang mereka berikan.


Bella yang tidak tahan melihat suaminya di rendahkan karena dirinya. Memilih maju untuk membela Arro. “Aku memang bukan keturunan malaikat murni. Tapi, aku … tidak pernah membunuh saudaraku sendiri demi tahta.”


Ucapan Bella berhasil membuat Argus menarik perhatiannya. Argus mengepalkan jemarinya sambil memandang marah ke arah Bella. “Nona, kau tidak punya bukti untuk itu,” geram Argus.


Rakyat menjadi riuh karena bingung dengan percakapan yang terjadi di depan mereka.


“DAMIAN!” teriak Agnor memanggil Damian yang tidak ada di sana.


Tidak berapa lama, Damian dan Arzeus muncul. Tetapi, yang membuat Argus dan semua rakyat terkejut adalah kehadiran Abercio yang sangat memprihatinkan. Tubuhnya melemah, tangannya diikat dengan tali dari Dunia Bawah. Mengunci kekuatan dari tahanan. Apalagi tubuh Abercio memiliki banyak luka dan darah dimana-mana.


Argus terpaku. Ia tidak menyangka Abercio masih hidup.


“Saya adalah Arzeus. Rakyat dari Kerajaan Doria. Saya bisa membaca pikiran dan ingatan seseorang.” Arzeus berucap lantang, berharap rakyat bisa mendengar suaranya.


Arzeus yang merasa dihina, segera memegang kepala Abercio. Ia tidak memperdulikan suara teriakan kesakitan dari Abercio. Arzeus berkeliling di semua pikiran Abercio. “Argus, bagaimana caramu mendapatkan racun itu?” Arzeus mengucapkan kalimat itu tanpa membuka matanya dan dengan cara bicara yang biasa dilakukan oleh Abercio.


Argus membelalakan matanya, tentu saja ia tau kalimat itu adalah kalimat yang pernah ditanyakan Abercio setelah mengetahui rencana Argus untuk membunuh sang raja.


“Kau tidak perlu tau, ini adalah satu-satunya cara menghabisi Lexander. Apalagi setelah anaknya kehilangan pragmanya,” ungkap Arzeus lagi. Setelahnya Arzeus terdiam, ia seperti sedang memilih-milih adegan mana yang akan ia ungkapkan lagi.


Bella bisa merasakaan menggenggam Arro menguat. Bella juga membalas genggaram erat itu, menguatkan Arro dengan apa yang akan didengarnya.


“Hahaha, aku tau dimana Arro menyembunyikan ibunya. Bagaimana kalau sedikit bersenang-senang sebelum membunuhnya.”


Kini Bella yang menutup mulutnya karena terkejut. Benar, ibu Arro juga dibunuh. Hati Bella meringis mendengar ucapan menjijikkan itu.


“Jangan menyentuhku, biadap! … Arro akan membalas kalian. Arro adalah pewaris tahta sebenarnya.” Arzeus meneteskan air matanya, ia bisa melihat adegan memilukan di sana.


“Sayang sekali, kau tidak akan melihat anakmu mati … seperti ayah dan ibunya yang mati ditanganku.”


“Kau tidak akan bisa membunuhnya. Dia memiliki darah sang Raja.” Arzeus menirukan ucapan ibu Arro dengan air mata. Arzeus sedikit meringis melihat kejadian setelahnya.


Sebelum Arzeus membuka matanya dan mengakhiri adegan mengerikan itu. Ia menunggu sesuatu. Sesuatu dalam ingatan itu terlihat sangat gelap. Di sana, ia melihat. Tidak… Arzeus langsung membuka matanya dan berteriak kepada Argus.


“KAU BERSEKUTU DENGAN RAJA KEGELAPAN!” tuduh Arzeus dengan nyalang. Rakyat tentu saja terkejut, tapi tidak percaya dengan ucapan Arzeus.

__ADS_1


Arzeus berbalik ke arah Arro. “Yang Mulia, lengan kiri ada tanda dari kegelapan. Tanda berbentuk ling—"


“DIAM!” Argus langsung melemparkan kekuatannya untuk membungkam Arzeus. Arzeus terlempar jauh menerima serangan itu. Ia terbatuk darah, hingga ia tidak bergerak lagi.


Adena yang melihatnya berteriak histeris tapi ia tidak bisa mengeluarkan suaranya. Ia segera berlari menghampiri tubuh Arzeus. Arzeus masih bisa membuka matanya dengan lemah. “Akhirnya, aku akan bertemu dengan istri dan anakku,” ucapnya, lalu menutup matanya dengan rapat. Napasnya melemah hingga hilang tak berhembus lagi.


Adena memeluk tubuh Arzeus. Ia seperti kehilangan pasangannya. Ia dan Arzeus seperti berbagi takdir. Sama-sama kehilangan pragma mereka. Kini, Adena ditinggalkan sendiri lagi.


Jasmine segera berlari mendekati Adena dan tubuh Arzeus. Air mata Jasmine terjatuh, ia lalu menatap ke arah Arro dan menggeleng lemah.


“Kau baru saja mengungkap dirimu sendiri!” teriak Arro lantang. Lalu melemparkan kekuatan kecil untuk menyingkap jubah kerajaan yang sedang dipakainya. Benar, dilengan kiri Argus ada sebuah lingkaran berwarna hitam dengan simbol bintang ditengahnya. Semua malaikat tau arti dari simbol itu.


Argus segera sadar, rakyat sedang memperhatikannya. Mereka ikut terkejut dengan apa yang dilakukan Argus dan apa yang disingkap Arro.


“Agnor! Levi! apa pun yang terjadi, lindungi rakyat,” bisik Arro.


“Kami paham, Yang Mulia.”


“KAU TIDAK PANTAS MENJADI RAJA.” Salah satu rakyat berteriak dari bawah sana menunjuk Argus yang berdiri dengan marah.


“KAU SEHARUSNYA MATI!”


“KAU YANG SEHARUSNYA DIASINGKAN, BUKAN PUTRA MAHKOTA.”


Suara teriakan dari rakyat masih terus menyudutkan Argus. Argus yang sudah tau rencananya gagal. Langsung memerintahkan pasukannya yang berbaur untuk mulai menyerang.


“Sekarang!” perintah Arro kepada Agnor dan Levi.


Levi mengerahkan pasukannya yang kurang dari seratus untuk memukul mundur pasukan Argus. Memisahkan mereka dari rakyat.


Adena dan Jasmine menatap nanar ke tubuh Arzeus yang mulai menghilang menyisakan cahaya yang mulai memadam. Sementara Damian sudah membakar tubuh Abercio hingga habis, lalu turun membantu Levi dan pasukannya.


Agnor menutup matanya, sebuah lingkaran merah dari api muncul dihadapannya. “Keluarlah!”


Satu persatu pasukan dari dalam lingkaran itu keluar, pasukan yang Agnor panggil dari Dunia Bawah. Kini jumlah mereka sudah hampir setara dengan pasukan Argus.


Setelah itu, Agnor lalu memukul tongkatnya dengan keras ke tanah. Serat kaca mulai terbentang di depan sana. Semua rakyat berada dalam ruang dalam lingkaran itu. Agnor memerintahkan rakyat untuk mengikutinya. Ratusan rakyat itu kini berjalan setengah berlari. Menghindari apa yang akan terjadi.


Argus dengan murka akan menyerang serat kaca yang dibuat oleh Argus. Ia tidak membutuhkan rakyat yang tidak memihaknya. Energi yang di keluarkan Argus berwarna hijau pekat dan besar. Tentu saja, tidak sepadan dengan kekuatan pelindung di sana.


Melihat itu, Arro dengan cepat melemparkan kekuatannya, untuk menabrak kekuatan Argus. Bunyi ledakan besar terdengar saat kedua kekuatan itu saling beradu.


Argus melihat marah ke arah Arro dan Bella yang berdiri disampingnya. Argus menyeringai. “Bagaimana kalau sedikit bersenang-senang sebelum membunuh mereka,” gumam Argus dengan sesuatu dalam dirinya sendiri. Sesuatu yang selalu menemani Argus sejak ia mendapatkan tanda dilengan kirinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2