DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 18


__ADS_3

“Kemarilah,” ajak Arro setelah melihat Bella membuka pintu kamarnya dengan seragam sekolahnya yang lengkap.


Bella melirik kearah meja makan, sudah ada sandwich dan segelas susu segar untuk mereka berdua.


“Aku tidak tau kau bisa masak makanan manusia,” ucap Bella sambil memasukkan roti lapis itu ke mulutnya. Enak. Bella kembali menggigit roti itu padahal ia belum menelan gigitan pertamanya.


Arro terkekeh melihat mulut Bella menggembung, “pelan-pelanlah. Aku tidak akan mengambil makananmu.”


“Aku sudah lama tidak makan buatan rumah. Biasanya aku hanya makan sesuatu yang instan.”


“Apa itu artinya, kau ingin aku membuatkannya tiap hari untukmu?”


Bella tersedak. Ia segera meraih gelas dan meminum isinya. “Bukan. Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin berterima kasih sudah membuatkanku sarapan,” jelas Bella, tidak ingin Arro salah paham.


“Hahaha … baiklah, aku mengerti. Habiskan makananmu, Aku akan keluar sebentar.” Arro lalu berdiri dan berjalan menuju pintu dan menghilang di balik pintu.


Bella tidak bertanya lagi, ia fokus menghabiskan makanannya.


Setelah menyelesaikan sarapannya. Ia membersihkan meja dan membawa piring kotor ke wash dishes. Suara pintu di buka membuatnya menebak Arro pasti sudah kembali.


“Aku sudah sele-” Kalimat Bella terpotong, matanya terpesona oleh penampilan Arro dengan rambutnya yang sedikit menutupi leher kini sudah terikat rapi ke belekang, sweater hitam lengan panjang dengan detail turtle neck yang menutup leher jenjangnya dipadukan dengan celana panjang berwarna senada, sangat cocok dengan tubuhnya yang tinggi. Bella tidak bisa menyembunyikan raut terpesonanya.


“Aku akan mengantarmu ke sekolah,” kata Arro sambil mendekati Bella.


Ucapan Arro menyadarkan Bella dari kekagumannya, Apa? Mengantar? Tidak… tidak… Bella bahkan masih ingat jelas bagaimana Levi membuatnya sangat malu kemarin.


“Tidak, terima kasih. Levi sudah membuatku sangat malu kemarin.”


“Teman sekolahmu tidak akan ada yang mengingat kejadian kemarin.”

__ADS_1


“Tetap saja, aku tidak mau kau mengikutiku sampai ke kelas.”


“Baiklah. Aku tidak akan mengikutimu sampai ke kelas. Tapi, aku akan menunggumu di depan gerbang sampai kau pulang.”


“Tetap saja, dengan penampilanmu seperti ini, kau akan menarik perhatian orang-orang.”


“Aku akan berada dalam mobil dan tidak akan keluar,” janji Arro.


Bella tidak menjawab lagi, ia sedang memikirkan apa kemungkinan terburuk dari menyetujui kemauan Arro.


“Kau akan memakai mobil apa kali ini?” Tolong jangan mobil yang kemarin.


“Hanya mobil sederhana yang aku dapatkan dengan diskon,” jawab Arro dengan santai, ia berjalan keluar ingin menunjukkannya ke Bella.


Bella mengikuti Arro setelah memakai sepatu sekolahnya.


“Astaga … ini yang kau maksud mobil sederhana?” Bella memijat pelipisnya yang tiba-tiba sakit. Ia seperti deja vu dengan kejadian kemarin.


“Aku membelinya dengan harga diskon. Jadi aku menyebutnya mobil sederhana.” Arro kini sudah membuka pintu dan duduk di kursi kemudi.


“Mmm … Arro,” panggil Bella dengan nada serendah mungkin. Bella menundukkan tubuhnya agar menyamai dengan tinggi Arro yang sedang menyalakan mesin mobil itu. “Sekolahku hanya berjarak 10 menit berjalan kaki. Sebaiknya aku jalan kaki saja, bagaimana?”


“Baiklah.”


Bella sudah tersenyum senang, tidak biasanya Arro cepat mengalah.


“Artinya, kau ingin ke Dunia Atas sekarang, kan?” sarkas Arro.


Bella mendengus kesal. Percuma berdebat dengan Arro, Bella akhirnya membuka pintu mobil itu dan duduk di samping Arro yang sudah siap menjalankan mobil.

__ADS_1


-----


Arro menghentikan mobilnya seratus meter dari gerbang sekolah sesuai permintaan Bella. Ia masih bisa melihat Bella memeriksa keadaan sebelum membuka pintu mobil.


“Terima kasih sudah mengantarku,” ucap Bella tulus.


“Tunggu…” Arro menghentikan Bella yang akan membuka pintu.


Bella kembali berbalik ke arah Arro, tiba-tiba Arro mendekatinya dan mengecup singkat keningnya. Aliran darah Bella berdesir, jantungnya tidak cukup kuat menerima perlakuan manis itu sepagi ini.


“Semoga ujiannya berhasil,” ucap Arro lembut dengan suara rendahnya.


Tidak. Jantung Bella seperti di kelilingi oleh ratusan kupu-kupu yang membawanya terbang jauh. Bella harus segera pergi, sebelum ia benar-benar terlena. “Te-terima kasih.” Bella bahkan tidak bisa mengucapkan kalimat sederhana itu dengan baik. Ia pun membuka pintu mobil itu dan meninggalkan Arro yang tergelak melihatnya salah tingkah.


Setelah memastikan Bella memasuki kelasnya, Arro keluar dari mobilnya dan memanggil Levi untuk turun. Beberapa menit kemudian Levi muncul dari arah punggungnya dengan sedikit berlari.


“Kenapa kau terlalu lama?”


“Yang Mulia Arro, kau memanggilku di tempat seramai ini. Aku tidak mungkin muncul dengan sayapku.” Levi terkadang ingin memukul teman kecilnya ini. Bahkan kadang ia juga lupa kalau Arro adalah calon raja kerajaannya.


Arro berjalan memutari mobilnya dan duduk di kursi penumpang. “Apa Argus sudah meninggalkan kerajaan?”


Levi mengikuti Arro mengambil tempat di kursi pengemudi. “Sudah. Setelah mendengar Abercio mati. Ia segera meninggalkan kerajaan untuk bersembunyi. Kita memiliki waktu sebelum Argus kembali menyusun rencana,” jawab Levi sambil menyalakan mesin mobil.


“Bagus.” Arro tersenyum senang. “Lalu di mana Agnor?”


“Dia sedang menemui istrinya. Kau sebaiknya tidak mengganggu mereka dulu. Agnor cukup lama terpisah dari pragma-nya.”


Arro tidak menjawab, tapi ia setuju dengan usul Levi.

__ADS_1


Levi pun menjalankan mobil dan mengemudikannya ke suatu tempat. Tempat di mana seorang malaikat memilih tinggal di daratan manusia. Seorang malaikat yang dulunya berasal dari Kerajaan Aelios.


...****************...


__ADS_2