
Sementara itu...
“Agnor …?” Abercio terkejut melihat Agnor di sana. “Apa yang kau lakukan di Daratan Manusia?”
“Abercio, bukankah aku juga harus bertanya hal yang sama?” Agnor maju mendekati Abercio yang masih terkejut, “Apa yang kau lakukan dengan membuat kekacauan di sini?”
“Bukan urusanmu!” hardik Abercio lalu mengepakkan sayapnya kuat membuat hembusan angin yang mampu membuat mundur Agnor dari tempatnya.
“DAMIAN!” teriak Agnor, “BUKA GERBANG SEKARANG!”
Abercio mundur, ia tidak akan masuk ke jebakan Agnor. Tapi terlambat, Damian sudah berada di belakangnya sambil membaca mantra pembuka gerbang Dunia Bawah. Lingkaran api muncul seketika membuat Abercio panik, jika ia turun ke Dunia Bawah kekuatannya akan menghilang dan Agnor akan sangat mudah mengalahkannya.
“Abercio ingatlah, kita pernah satu angkatan dalam pelatihan perang. Aku harap kau tidak lupa kalau mengalahkanmu adalah hal paling mudah yang pernah aku lakukan.” Agnor mengejek Abercio yang sedang berusaha keluar dari lingkaran api itu.
“SIALAN KAU, AGNOR!!” teriak Abercio kencang sebelum ia menghilang bersama Damian. Agnor tanpa menunggu lagi, segera menyusul mereka.
Levi sudah menghilang sejak tadi. Ia sedang sibuk mengamankan semua penghuni sekolah yang masih dalam keadaan tertidur karena pengaruh hipnotisnya. Levi menempatkan mereka di setiap ruangan acak. Setidaknya mereka tidak lagi tertidur bergelimpangan. Setelah pekerjaan berat itu, Levi segera menyusul Arro dan Bella. Abercio tidak mungkin datang sendiri ke Daratan Manusia.
...----------------...
“Kita akan kemana?” tanya Bella dengan heran, ia merasa Arro terbang terlalu tinggi.
"Aku akan membawamu ke Dunia Atas,” balas Arro tanpa melihat Bella.
__ADS_1
Bella tidak bertanya lagi, ia mengintip dari sela-sela punggung Arro, Bella menyipitkan matanya, seperti sesuatu terbang mendekati mereka.
“ARRO, AWAS!” teriak Bella saat melihat beberapa malaikat dengan topeng berwarna hitam terbang mendekati Arro dengan agresif.
Arro yang mendengar teriakan Bella, berbelok dengan tajam, menghindari serangan dari pasukan itu.
“Bella tutup matamu!” perintah Arro. Bella menurut.
Arro kini terbang dengan sangat cepat, Bella bisa merasakan dari hembusan angin yang kuat menerpa tubuhnya. Arro berteriak memanggil Levi. Tidak berselang lama, Levi muncul lalu mendekati para pasukan itu.
Levi menyerang dengan bertubi-tubi. Tendangan, pukulan, hingga cabikkan pada sayap musuhnya itu satu persatu. Kadang Levi juga menukik tajam untuk menghindar. Hingga salah satu dari pasukan itu membawa panah dan menembakkan salah satu anak panah itu ke arah sayap Levi. Levi yang menyadarinya bisa langsung menghindar, tapi tatapan mata Levi berubah. Ia marah. Ia terbang mendekat ke arah musuh itu dengan sangat cepat. Pasukan itu panik hingga tidak sempat menembakkan anak panahnya lagi. Levi segera merebut panah itu, lalu mencabik sayap malaikat pengkhianat itu hingga terbakar dan hilang sebelum melewati awan.
Arro fokus dengan keselamatan Bella. Tujuan utama mereka adalah Bella. Jika Bella mati, selamanya Arro tidak akan pernah bisa menyelamatkan Dunia Atas. Tapi sial, seorang pasukan itu berhasil lari dari serangan Levi dan sekarang terbang mendekati Arro. Bella membuka matanya, ia melihat pasukan itu hampir meraih ujung sayap Arro. Bella tidak bisa tinggal diam. Arro tidak bisa melepas rangkulannya dari Bella.
“Bell?!” tanya Arro panik dengan perlakuan Bella, tapi Bella sudah melayangkan cutter itu mengenai dada malaikat bertopeng itu. Sebuah goresan panjang dan dalam tercetak jelas. Malaikat itu terkejut lalu meringis.
Arro yang tidak sadar akan situasi itu, segera mengerti. Lalu menendang dengan keras pasukan itu. “Bella, pegangan erat!” perintah Arro, Bella segera memeluk erat tubuh Arro, saat Arro merasa posisi Bella aman, ia melepas rangkulannya pada Bella lalu mendekati pasukan itu dan merobek dengan sekuat tenaga salah satu sayapnya. Pasukan itu berteriak kesakitan, lalu terjatuh dan terbakar.
Arro segera mengambil kembali pinggang Bella untuk merangkulnya. Napas mereka tersenggal-senggal merasakan adrenalin mengalir deras di darah mereka. Bella tersenyum puas. Arro melihatnya, “kenapa kau tersenyum?”
“Entahlah, tapi rasanya menyenangkan. Seperti telah berhasil memenangkan sesuatu." jawab Bella dengan kembali tersenyum.
Arro terkekeh dengan jawaban Bella. “Terima kasih telah menyelamatkanku,” gumam Arro.
__ADS_1
“Aku baru menyelamatkanmu sekali, ini tidak sebanding dengan yang kau lakukan untukku,” balas Bella.
“Kita sudah hampir sampai,” ucap Arro.
Bella segera menolehkan wajahnya kearah mata Arro memandang. Mata Bella memeriksa sekitarnya, mencari sesuatu, tapi tidak ada. Hanya bentangan awan yang luas yang memenuhi indra penglihatannya.
“Tutup matamu!” perintah Arro lagi.
Bella menurut, sedetik kemudian ia merasakan sesuatu yang lembut dan basah mengenai kelopak mata kanannya lalu berganti ke kelopak mata kirinya. Bella terkejut dan membuka matanya, ia tersipu melihat wajah Arro terlalu dekat. Jantung Bella sudah berdetak aneh lagi. Arro tersenyum melihat wajah Bella yang memerah.
"Apa sekarang kau melihat sesuatu?" tanya Arro mengalihkan pikirannya untuk mencium Bella di tempat lain.
Bella tidak menjawab, ia lalu kembali memalingkan wajahnya melihat ke depan sana. Netra Bella membesar, ia seperti melihat sebuah daratan yang luas, tapi melayang di atas awan. Tapi sesuatu setipis kaca menghalangi pandangannya.
“Apa ini?” tanya Bella pada Arro.
“Ini adalah sekat penghalang untuk menghalangi pandangan makhluk lain dari Dunia Atas,” jelas Arro.
Arro lalu berhenti di depan penghalang itu. Bella yang penasaran mengangkat tangannya ingin menyentuh ‘kaca’ tipis itu. Tapi tangannya tidak merasakan apa pun, tangannya menembus pembatas itu dan Bella bisa merasakan perubahan suhu di tangannya.
“Apa kau ingin masuk?” tanya Arro kepada Bella. Tentu saja Bella mengangguk bersemangat.
Arro pun membawa Bella melintasi pembatas itu. “Selamat Datang di Dunia Atas, Bella,” kata Arro dengan tersenyum hangat.
__ADS_1
...****************...