
Udara yang dingin masuk melalui sela jendela yang sudah tertutup rapat. Bella bisa melihat sebias sinar bulan yang terang di luar sana. Bulan itu, lebih terang dari bulan yang biasa Bella lihat di daratannya. Bella hanyut dalam lamunannya. Seandainya ia tidak bertemu dengan Arro. Apa yang akan terjadi kepada dirinya sekarang? Bella tersenyum dengan tatapan yang sedih mengingat semua kenangan pahitnya di bawah sana.
“Kau sedang memikirkan apa?” Arro datang dan langsung memeluk Bella dari belakang. Melampirkan sebuah kain tebal di bahu Bella untuk menghangatkannya.
“Aku hanya sedang mengingat pertemuan pertama kita di lorong itu. Aku bahkan masih ingat, kau hampir membunuhku.” Bella mengatakannya sambil memasang raut kesal.
Arro tentu saja tergelak mendengar ucapan Bella. “Aku tidak berniat membunuhmu. Aku hanya ingin menghipnotismu dan kembali dengan tenang.” Arro lalu memutar tubuh Bella dengan lembut agar menatapnya, “Siapa sangka, gadis itu malah tidak terpengaruh sama sekali. Bahkan, gadis itu mencoba mengobati lukaku.”
Bella berusaha menahan air yang sudah sedari tadi mengenang di pelupuk matanya. Sambil terus menatap manik biru laut suaminya itu.
“Bella, sejak malam itu, aku terus memikirkanmu, mengawasimu, mengikutimu dan … menggenggam tanganmu saat kau terlelap. Matamu yang basah setiap kali kau tidur sangat membuatku marah. Saat itu, aku tidak tau, apakah perasaan yang aku rasakan itu hanya sebuah obsesi atau penasaran kepada gadis manusia yang malang.” Arro lalu kembali mendekap Bella dengan perasaan yang masih sama sejak malam itu. “Saat ini, aku tau perasaan apa yang kurasakan waktu itu. Aku … mencintaimu, Bella.”
Arro lalu menurunkan wajahnya lalu memaksa Bella mendongak menerima ciumannya. Bella bisa merasakan kasih sayang yang Arro berikan untuknya. Rasa itu terlalu besar. Bella bahkan sangat malu, karena ia kalah dalam hal itu.
Arro melepaskan ciumannya dengan sangat tidak rela. Napasnya memburu di sana, apakah karena cahaya dikamar itu yang hanya bermandikan cahaya bulan, atau karena memang Bella juga merasakan hal yang sama dengan Arro. Menginginkan lebih dari ini.
“Bella, aku tidak akan memaksamu jika kau belum siap,” lirih Arro dengan napas yang masih belum teratur. Ia sedang menahan sesuatu dalam dirinya yang sudah meminta dilepaskan.
Bella tentu saja menggeleng kuat. “Aku milikmu, selamanya miikmu.”
Setelah mendapat persetujuan dari Bella, Arro kembali mencium Bella dengan sangat dalam. Bella kini sudah melingkarkan kedua tangannya di leher Arro, menahan tungkuk Arro agar tidak melepaskan ciuman itu.
Arro yang merasa Bella kelelahan, mengangkat tubuh mungil Bella lalu menurunkannya pelan di atas tempat tidur mereka. Tanpa melepaskan ciumannya, Arro mulai membuka satu persatu pita yang ada di gaun Bella. Bella yang masih sangat malu sempat menahan tangan Arro sebentar. Arro pun menurut dan menghentikan gerakannya sebelum Bella benar-benar siap.
Saat Bella mulai melonggarkan genggamannya di atas jari jemari Arro, Arro pun melanjutkan gerakannya melepas semua pita itu. Bella dan Arro kini hanya akan saling menyalurkan rasa cinta mereka. Melalui sentuhan-sentuhan yang sangat lembut dan juga menghangatkan.
...----------------...
Bella mengerjap membuka matanya dengan perlahan. Tangan Arro yang besar sedang memeluk pinggangnya dari belakang. Bella mencoba berbalik untuk melihat wajah Arro yang sedang damai dalam tidurnya.
Bella dengan jail menekan-nekan pipi Arro untuk mengganggunya. Arro tiba-tiba menarik Bella lebih dekat ke arahnya, “apa kau masih menginginkannya?”
Bella tersentak, jelas ia sangat tau maksud dari kalimat Arro. Ia segera menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada Arro dan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polos mereka. Sedangkan Arro hanya tersenyum lebar melihat tingkah Bella.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri, Bella dan Arro berjalan menuju tempat pertemuan yang sudah Levi sampaikan kepada mereka. Di sebuah tanah lapang dengan banyak pohon mati di sekitar sana. Bella melihat ada Adena, Levi dan Arzeus yang sudah menunggu mereka di sana.
“Bella. Hari ini mereka akan membantumu mengendalikan kekuatan malaikatmu,” ucap Arro lembut.
Bella tersenyum senang, akhirnya ia akan mempelajari kekuatan malaikatnya. Artinya, ia bisa melindungi Arro nanti, seperti Arro melindunginya selama ini.
“Nona Bella, Adena dan Arzeus akan membantu anda,” timpal Levi dengan sopan.
Bella sedikit merinding mendengar sapaan Levi yang berubah kepadanya. Padahal ia masih ingat, bagaimana ia dan Levi bertengkar masalah mobil dan seragam sekolah Bella. Bella yang mengingat kejadian itu langsung senyum sendiri.
Levi mengedipkan sebelah matanya untuk mengisyaratkan Bella bahwa ia sedang memainkan peran anggota kerajaan di depan bawahannya. Bella pun mengangguk paham.
“Adena, kau bisa mulai.”
Adena pun menunduk hormat sebelum mempersilahkan Bella berdiri di dekatnya.
Arro berjalan mendekati Levi tanpa melepas pandangannya ke arah Bella yang sedang mendengarkan instruksi dari Arzeus. “Kalau kau berani mengedipkan matamu lagi kepada Bella, aku akan menarik keluar kedua matamu dengan tanganku sendiri,” gumam Arro dengan sangat geram, ia memastikan Levi mendengarkan ancamannya.
Levi tentu saja malah tersenyum mendengarnya, “kau berubah sangat posesif Arro,” gumam Levi juga.
Levi tidak menjawab lagi, tatapan kedua pria itu kini lurus ke arah Bella di depan sana.
“Nona, berkonsentrasilah. Cobalah mengeluarkan sayap dulu.”
Bella menutup matanya erat lalu mulai berkonsentrasi sesuai arahan Arzeus. Setelah lebih dari semenit, Bella tidak mengeluarkan apa pun dari punggungnya. Hanya peluh yang mengucur dari keningnya.
“Nona, kau bisa membayangkan sesuatu yang indah. Sambil bayangkan anda sedang terbang dengan kenangan indah itu.” Arzeus kembali bersuara setelah mendengar suara Adena.
Bella hanya berdiam mendengarkan saran dari Arzeus, di pikirannya sedang memikirkan apa kenangan indah yang ia miliki. Bella menundukkan wajahnya, ia tidak punya kenangan indah apa pun. Kecuali saat … Bella mengangkat wajahnya dan melihat Arro yang berdiri sedikit jauh darinya dengan tersenyum manis di sana. Iya, itu adalah kenangan indahnya. Saat bersama Arro.
Bella kembali menutup matanya dan mulai memikirkan semua kenangan indah itu. Saat pertama kali Arro menarik tangannya ke sebuah kastil tua, saat Arro melindunginya, saat Arro tersenyum sambil mengusap rambutnya, dan saat pertama kali Arro menciumnya.
Tiba-tiba sebuah cahaya keemasan berpendar di sekitar Bella. Lalu saat itu juga, sayap perak Bella muncul di sana. Sangat indah dan terbentang kokoh. Bella yang menggunakan gaun panjang berwarna merah muda yang menjuntai hingga menyentuh tanah semakin memperindah potretnya. Arro, Levi, Adena dan Arzeus sampai ternganga melihat wujud malaikat Bella.
__ADS_1
Bella membuka matanya, ia bisa merasakan ada sesuatu di belakang punggungnya, saat Bella menolehkan wajahnya, ia bisa melihat ada sayap di sana. Bella berteriak kegirangan dan langsung memeluk Adena. Adena sampai menangis karena terharu menyaksikan peristiwa bersejarah itu.
Sebenarnya Bella merasakan sayap itu sedikit berat di punggungnya. Ia juga sedikit linglung saat angin berhembus menerpa sayapnya yang lebar. Ia masih belum terbiasa dengan sayap itu. Adena yang sedang mengusap air matanya tertawa melihat Bella yang berusaha tetap berdiri tegak.
“Nona, anda bisa menyembunyikannya saat tidak dipakai.” Arzeus berusaha menahan tawanya juga.
“Bagaimana caranya?” tanya Bella dengan wajah yang malu.
“Berkonsentrasi seperti tadi, Nona.”
Bella menutup lagi matanya lalu mulai berkonstrasi, dan benar saja, ia berhasil menyembunyikan sayap itu.
Bella tersenyum bangga dengan dirinya sendiri. Sementara Arro di sana sudah bertepuk tangan untuknya. Adena dan Arzeus juga bertepuk tangan untuk Bella.
“Sekarang, Nona bisa mencoba mengeluarkan kekuatan dari tangan.”
Bella sedikit ragu, tapi kemudian ia mengangkat tangannya hingga setinggi sikunya, lalu kembali berkonstrasi. Kali ini ia tidak menutup matanya, ia menatap lekat ke arah telapak tangannya.
Secuil cahaya mulai terbentuk di sana. Tapi sesaat kemudian berpendar dan menghilang. Bella kecewa, ia mencobanya lagi. Kali ini, ia mencoba lebih berkonsentrasi. Cahaya mulai berkumpul lagi, cahaya berwarna keemasan itu dengan perlahan mulai membesar. Bella yang melihat cahaya itu, tersenyum puas.
Ia mengalihkan pandangannya untuk melihat Adena yang juga tersenyum melihatnya berhasil. Tapi, tiba-tiba Adena menyingkirkan senyumnya dan mengganti dengan raut terkejut dan panik. Bella yang tidak tau mengapa, melihat kembali ke arah tangannya.
Di sana, cahaya keemasan itu berputar-putar dengan cahaya kehijauan yang seakan saling beradu di atas telapak tangannya. Bella malah terkagum melihat kedua warna yang indah itu seakan menari, sementara Adena sudah memegang pergelangan tangan Bella lalu membantunya mendorong kekuatan itu ke arah sebuah pohon mati yang tertanam jauh di seberang sana.
Saat kekuatan itu terlepas dan terhantam, bunyi dentuman keras memekikkan telinga mereka. Lalu digantikan dengan bunyi lahapan api yang sudah memakan habis pohon kering itu. Padahal, kekuatan yang Bella lemparkan, hanya sebesar buah apel yang matang.
Arro segera menghampiri Bella dengan khawatir, “kau tidak apa-apa?”
Bella menggeleng dengan bingung, seharusnya mereka senang Bella bisa mengeluarkan kekuatannya.
Arro kemudian menatap ke arah Adena dan Arzeus lalu berkata, “cukup pelajaran hari ini.”
Adena dan Arzeus hanya bisa membungkuk hormat saat Arro sudah menarik Bella menjauh.
__ADS_1
...****************...