DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 13


__ADS_3

Arro berdiri dengan gelisah. Ia mondar-mandir di depan pintu besar itu menunggu Damian yang sedang menghadap Agnor. Jika Agnor menolak bertemu dengannya, maka rencanya gagal dan ia akan dihadapkan kembali dengan jalan buntu. Sementara Argus di atas sana semakin gencar melakukan aksi pemberontakan.


Saat sedang menunggu dengan cemas, tiba-tiba hembusan angin kencang datang dari dalam bangunan yang gelap itu, disusul dengan api yang menyala satu persatu yang membakar kayu-kayu yang tergantung berjajar sepanjang dinding. Arro kini bisa melihat jalan menuju sebuah ruang di ujung sana.


Perlahan Arro melangkahkan kakinya, ia sudah mengambil kuda-kuda jika akan terbanting lagi ke belakang. Tapi … tidak terjadi apapun, Arro lega, ini berarti Agnor mengizinkan ia untuk bertemu dengannya. Arro pun melangkah masuk lebih dalam.


“Wah… Wah... lihat siapa yang berkunjung ke Dunia Bawah,” sindir Agnor sambil bertepuk tangan.


Arro tidak menyahuti ucapan Agnor, matanya menilik sekeliling ruang itu. Dinding-dinding yang bisa dilihat Arro tersusun dari tengkorak, sementara tulang belulang lainnya dijadikan sebagai singgasana yang di duduki oleh Agnor.


Ini adalah pertama kalinya Arro bertemu Agnor setelah berpuluh-puluh tahun. Saat masih kecil dulu, Agnor sering mengajaknya bermain di taman Kerajaan Vasileion. Meskipun samar-samar, Arro masih ingat bagaimana wujud Agnor dulu, tidak banyak yang berubah dengan yang dilihatnya sekarang. Rambutnya masih seputih perak dan tongkat kebesarannya yang selalu ia bawa kemana-mana. Hanya saja, wajah Agnor menunjukkan banyak kemarahan dan aura hitamnya semakin menusuk.


“Halo Agnor,” sapa Arro. Suaranya lantang terdengar. Seperti menantang lawan bicaranya.


“Hentikan basa-basimu! Dimana pragma-ku?” tatapan mata Agnor berubah.


“Dia aman, tapi sebelum itu, aku ingin meminta bantuanmu.” Arro berjalan mendekati Damian yang berdiri tidak jauh darinya.

__ADS_1


“Hahaha … lihat siapa yang meminta bantuanku sekarang?” Agnor tertawa meremehkan.


Arro tersenyum sinis, sejak awal ia tau tidak mudah membujuk Agnor. Karena itu ia terpaksa menggunakan kelemahan Agnor. “Agnor kau hanya mempunyai dua pilihan. Mengikuti perintahku atau pragma-mu … akan kubunuh.” Ucapan itu terpaksa Arro lontarkan. Ia sedang berburu dengan waktu.


Damian yang mendengar perkataan Arro menolehkan wajahnya ke arah Arro mencari jawaban, tapi ia hanya menemukan wajah Arro yang sangat serius dengan ucapannya.


Mendengar jawaban Arro, membuat Agnor berdiri dari singgasananya. Tatapannya memerah, tangannya terkepal kuat. “Jangan pernah menyentuh istriku!” hardik Agnor.


“Kalau begitu, kau hanya mempunyai satu pilihan,” balas Arro. Agnor sudah terpancing dan terpojok. Ini saat untuk Arro menjelaskan situasinya, “Agnor ... kau sama seperti ayahku, sangat keras kepala. Dan aku tidak punya pilihan lain, selain menggunakan pragma-mu. Tapi, aku bisa menjamin kalau sekarang dia dalam keadaan aman,” jelas Arro, sebelum Agnor semakin murka.


“Kenapa kau tidak meminta bantuan dari ayahmu yang Agung itu?” tanya Agnor mencibir.


“Apa … apa yang kau katakan?” Agnor tidak percaya apa yang di dengarnya. Ia tidak siap untuk informasi itu.


“Sang Raja Lexander Kyrillos, meninggal karena sebuah penyakit.” Arro menjeda kalimatnya, kemudian ia bergumam, “Ya, alasan itu yang mereka ingin aku percaya.”


“Mereka? Siapa ‘mereka’ yang kau maksud?” tanya Agnor tidak mengerti.

__ADS_1


Damian yang melihat perdebatan itu, memilih ikut membuka rahasianya, “Tuan Agnor, alasan Yang Mulia Raja Lexander mengangkat saya sebagai prajurit Kerajaan Vasileion adalah karena saya bisa membaca sihir hitam. Sejak menyampaikan laporan terakhir saya, saya tidak sengaja menemukan sihir hitam yang digunakan untuk melukai Sang Raja.”


Agnor terkejut mendengar penjelasan Damian, Agnor merasa seperti orang bodoh yang tidak mengetahui apapun. Ia malah asyik ‘bermain’ dengan semua tahanan di sini. “KENAPA TIDAK ADA YANG MEMBERITAHUKU? KENAPA KALIAN SEMUA MERAHASIAKAN INI, HAH?!” teriak Agnor murka. Suaranya menggema di ruangan itu. Ia selama ini menyimpan amarah kepada Lexander, tapi bukan kematian Lexander yang ia inginkan. Biar bagaimanapun juga Lexander adalah temannya selama beratus-ratus tahun.


“Semuanya karena perintah Ayah. Ia sudah tidak bisa mempercayai siapapun!” balas Arro dengan suara keras. Napasnya tersengal-sengal menahan emosi karena semua pemberontakan yang terjadi. Ketika ia sudah mulai tenang ia kemudian melanjutkan ceritanya, “Sejak kejadian Duke Abrion, Ayah mengurung dirinya. Ia menjadi sangat berhati-hati. Saat itu, aku masih sangat kecil. Ayah harus tetap hidup sampai aku bisa menggantikannya. Tapi, pragma-ku juga menghilang, aku tidak bisa menggantikan Sang Raja tanpa pragma. Sampai pada akhirnya para pengkhianat itu berhasil membunuh Ayah.”


Agnor mengingat-ingat, “Abrion? Si pengkhianat itu bahkan tetap menutup mulutnya sampai kematiannya.”


“Sebenarnya, sebelum duke Abrion, Ayah sudah beberapa kali menerima teror. Karena itu, Ayah mengirimmu ke Dunia Bawah untuk menjauh dari siapa pun yang Ayah curigai,” sambung Arro.


“Apa maksudmu?” Agnor semakin tidak mengerti. Ia pikir, kelakuannyalah yang membuat Lexander marah.


“Ayah tidak ingin kau terpengaruh oleh siapa pun dibalik pemberontakan yang terjadi. Kau adalah satu-satunya teman yang Ayah bisa percaya,” jelas Arro.


“Lexander…” Agnor mendengus, “Kenapa dia mempercayaiku? Bagaimana kalau ternyata aku sama seperti pemberontak itu?”


Arro menatap mata Agnor lekat, “Karena ... kau terikat janji nyawa dengan ayahku.”

__ADS_1


Agnor terperanjat. Benar. Ia tidak akan pernah bisa melukai Raja. Ia hampir lupa dengan perjanjian itu. Perjanian abadi.


...****************...


__ADS_2