
Sudah tiga tahun sejak kejadian mengerikan itu. Setiap malam Bella selalu bermimpi buruk tentang sesuatu yang akan menimpa putrinya. Aurora Kyrillos.
“Kau masih memimpikannya?” tanya Arro khawatir yang melihat Bella lagi-lagi gelisah dengan tidurnya.
“Aku sangat takut.” Bella berusaha mengusap air matanya.
“Hei … aku selalu bersamamu. Kita akan menghadapi apa pun itu bersama. Kau dan aku bisa melindungi Aurora.” Arro menyalurkan pelukan hangat untuk istrinya itu. “Jangan menangis lagi, ya. Jasmine akan sedih melihatmu besok dengan wajah seperti ini.”
Bella terkekeh sambil kembali menghapus air matanya. “Aku yang gugup akan mengantarnya menuju pemberkatan besok. Aku seperti menikahkan adikku sendiri.”
Arro hanya tersenyum mendengarnya, lalu memeluk Bella. Malam masih sangat panjang untuk mereka berdua.
...****************...
“Jasmine, tarik napasmu dengan teratur.” Bella berusaha menghapus bulir keringat di kening Jasmine dan menggenggam erat tangan kanannya yang sedang menangis karena kesakitan.
“Aku tidak sanggup lagi.” Jasmine menggeleng tidak kuat.
__ADS_1
“Kau bisa. Pikirkan Levi.” Bella memberi saran ke Jasmine seperti bagaimana dulu ia bisa melaluinya.
“Nona, satu tarikan napas lagi. Dorong yang kuat,” perintah tabib istana itu.
Adena yang menggenggam tangan kiri jasmine ikut menahan napasnya. Saat Jasmine dengan kuat berteriak dan mendorong sambil memajukan tubuhnya ke arah perutnya.
Suara tangisan bayi berhasil membahana di ruangan tertutup itu. Air mata Adena dan Bella mengalir, sedangkan Jasmine sudah tersenyum penuh haru.
“Selamat anak anda laki-laki,” ungkap tabib kerajaan itu sambil membersihkan bayi merah di pelukannya. Saat mengusap area dada bayi kecil itu. Matanya berbinar penuh kebahagian.
“Yang Mulia Ratu, anak ini memiliki tanda yang sama dengan sang Putri Mahkota.”
...****************...
...EPILOG...
Aurora berlari mendekati ibunya setelah memetik bunga dari salah satu bunga ditaman Asfalus. "Ini untuk mama. Wanita paling cantik di dunia ini."
__ADS_1
Bella menerima uluran tangan mungil dari putrinya itu dengan mata yang berbinar. "Terima kasih, Sayang"
Setelah Aurora mendapatkan hadiah ciuman dari ibunya, ia kembali berlari-lari ditaman yang luas itu.
Arro yang sedari tadi mengantri di belakang putrinya, kini maju selangkah untuk memberikan Bella sesuatu. Ia memberikan secarik kertas untuk Bella. Ketika Bella menerimanya dengan bertanya-tanya, Arro sudah mendekatkan wajahnya dan meraih bibir Bella, lalu mengecupnya dalam. “Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-empat, Sayang.”
Bella yang akan terharu hanya bisa kembali tersenyum, saat Arro sudah melarikan dirinya untuk mengejar putrinya yang sedang berlarian ke sana kemari, mengejar sebuah kupu-kupu dengan sayap bercahaya biru.
Bella membuka lipatan kertas yang Arro berikan. Saat membaca dengan penuh perasaan semua kata indah yang ada di sana, air mata Bella berhasil lolos dan jatuh tidak terkendali. Pertemuannya dengan Arro adalah sebuah takdir yang paling indah yang pernah terjadi kepadanya.
Setelah membaca surat kecil itu, Bella menyimpannya di atas batu tempatnya duduk, lalu meletakkan sebuah batu kecil sebagai pemberat agar kertas itu tidak terbang terbawa angin. Bella mengusap air matanya, tersenyum penuh kebahagaian, lalu menyusul ke arah putrinya dan Arro yang sudah jatuh berpelukan di atas rerumputan sambil tertawa bahagia.
...----------------...
..."Aku adalah seorang yang sangat beruntung memilikimu. Terima kasih sudah menyelamatkanku malam itu, terima kasih sudah berjuang bersamaku, dan terima kasih kau tetap berada di sisiku saat semua orang meninggalkanku. Aku akan selalu mencintaimu, Bella, selamanya." ...
...ARRO....
__ADS_1
...****************...