
“Apa kau merindukan tempat ini?” pertanyaan dari Arro menyadarkan Damian dari kenangannya saat itu.
“Raja Agnor memang sangat jahat ketika menghukum tahanan disini, tapi ia sangat baik dalam memimpin,” jawab Damian, ia masih melangkah dengan hati-hati tapi ia tau persis kemana tujuannya.
Arro juga tau bagaimana Damian bisa menjadi prajurit di Dunia Atas. Levi yang menceritakan padanya. Levi memang banyak mengetahui informasi penting. Bukan hanya karena ia adalah teman dekatnya, tapi ayahnya yang merupakan penasehat kerajaan membuatnya banyak mengetahui informasi yang rahasia. Tanpa diminta pun, Levi akan mencuri informasi apa pun dan menyampaikannya ke Arro.
Arro melihat sekeliling Dunia Bawah itu, Jika Dunia Atas sangatlah indah, dengan banyak pohon tinggi dan keindahan makhluknya, maka hal itu adalah kebalikan dari apa yang dilihat Arro sekarang.
Tanah yang mereka injak mengeluarkan bau amis yang sangat menusuk, tempat itu hanya diterangi oleh nyala api yang terbakar dipucuk sebuah kayu. Anehnya api tersebut tidak melahap habis kayu itu. Arro mengikuti langkah Damian memasuki sebuah gerbang besar berwarna hitam yang menjulang tinggi dengan salah satu pintu gerbang yang sudah hampir ambruk.
Di depan sana, Arro melihat bangunan yang sama buruknya dengan gerbang itu. Besar tapi tidak mewah. Untuk bisa mencapai pintu utama bangunan itu, Arro dan Damian harus melewati sebuah jembatan gantung yang terikat oleh sebuah kayu di pinggir tebing itu. Pijakannya pun sangat mengkhawatirkan, deretan papan kayu yang sudah tidak lengkap, mengharuskan mereka melompak ke pijakan kayu yang masih tersisa. Dibawah jembatan itu ada air berwarna hijau pekat yang meletup-letup. Jangan lupakan bau busuknya yang juga sangat mengganggu.
“Kenapa kita tidak terbang saja?” tanya Arro penasaran. Menyebrangi jembatan ini bukanlah hal yang sulit selama kau mempunyai sayap.
__ADS_1
Damian tersenyum mendengar pertanyaan itu, “Kelebihan dari Dunia Bawah adalah tidak ada satu pun kekuatan yang dimiliki makhluk dunia lain yang bisa berguna di sini. Ini adalah penjara Yang Mulia. Dunia ini adalah dunia buangan untuk semua pengkhianat dan untuk semua makhluk yang telah dihukum mati. Tempat ini adalah neraka untuk penduduknya.” Damian menjelaskannya dengan detail sambil melangkah dengan hati-hati. Tak lupa, ia menunjukkan jalan yang aman untuk Arro.
“Kau dulu bertugas dimana?” tanya Arro lagi. Ia hanya berbasa basi. Jujur Arro sedikit tidak nyaman dengan tempat ini. Tidak ada siapa pun yang akan nyaman.
“Saya bertugas disamping Agnor Yang Mulia. Saya dulu bekerja sebagai pendampingnya untuk menghukum para tahanan disini.”
Arro tidak bersuara lagi, kini mereka telah sampai di depan pintu utama.
“Yang Mulia, izinkan saya untuk masuk terlebih dahulu dan membujuk Agnor,” usul Damian.
Damian mengangguk, tidak membantah lagi. Damian kemudian menggerakkan tangannya sambil mendorong keras pintu itu. Pintu itu pun terbuka. Damian tersenyum lega.
“Saya akan masuk terlebih dahulu, Yang Mulia.” Damian kemudian melangkahkan kakinya terlebih dahulu.
__ADS_1
Arro mengintip dari belakang Damian. Tempat itu sangat gelap. Tidak ada cahaya sedikit pun. Arro dengan ragu ikut melangkah perlahan. Tapi baru melangkah sejengkal, tubuh Arro terlempar hebat ke belakang. Ia jatuh persis ditepi jembatan itu, menyebabkan jembatan gantung itu bergoyang. Arro menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh ke dalam air mendidih di bawahnya.
Damian yang melihatnya terkejut lalu berlari menyelamatkan Arro. Ia mengutuk dirinya, seharusnya ia sudah menyadari kalau memasuki bangunan milik Agnor pasti tidak akan semudah itu.
Damian membantu Arro untuk berdiri. “Maafkan saya Yang Mulia Arro, saya tidak menyadari Agnor memasang mantra disini.”
“Tidak apa-apa. Kau masuklah duluan dan sampaikan pada Agnor salamku. Bilang padanya, aku datang untuk berunding dengannya,” ujar Arro.
“Baik, Yang Mulia,” ucap Damian lalu berjalan menjauh.
“Tunggu…sampaikan pada Agnor, pragma-nya, aku tau dimana dia.”
Damian menegang mendengar perkataan Arro. Ia sangat tau, bagaimana dulu Agnor berusaha memanggil dan terhubung dengan Pragma-nya.
__ADS_1
Damian mengangguk paham lalu berjalan masuk dan menghilang di gelapnya bangunan itu.
...****************...