
Bella masuk ke kamarnya, mengambil baju dari lemari lalu berjalan ke kamar mandi. Ia membasuh tubuhnya dan mengganti pakaian. Setelah yang terjadi malam ini, Bella sadar situasinya benar-benar sangat berbahaya.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, ia melihat Arro sedang berdiri di samping meja belajar. Arro memegang figura foto dirinya bersama keluarga angkatnya yang saat itu masih sangat bahagia. Bahkan Bella tersenyum cerah di foto itu.
"Aku belum pernah melihatmu tersenyum seperti ini," ucap Arro tanpa melepaskan pandangannya pada figura itu.
Bella tidak bersuara, dia tidak tau harus menjawab apa. Ia sendiri juga tidak tau sejak kapan semuanya berubah. Apakah sejak kepergian Kenzo? Atau sejak Jocelyn menjadi pecandu alkohol.
Arro meletakkan figura itu kembali. Lalu berbalik dan berjalan mendekati Bella. "Aku ingin melihatmu tersenyum lagi, Bel."
"Mungkin saat aku sudah menemukan keluarga lagi." jawabnya membalas tatapan Arro. Itu hanya jawaban asal dari Bella.
Kini giliran Arro yang tidak bersuara. Matanya hanya mengikuti arah gerakan Bella yang menuju ke meja belajar itu.
Bella mengambil figura itu dan menyimpannya ke dalam laci, lalu ia menguncinya. Ia sudah lelah dengan potret masa lalu di sana yang tidak akan pernah kembali lagi.
Suasana berubah menjadi hening. Tidak ada yang berbicara lagi. Arro masih menatap Bella lekat. Sampai ia mendengar suara kecil Bella yang mulai terisak. Ia tau Bella ingin sekali kembali ke masa itu. Masa dimana setidaknya kehidupannya masih baik-baik saja.
Arro mendekati Bella dan memeluknya hangat dari belakang. “Aku di sini, Bel. Kau bisa melupakan masa lalu itu,” bisik Arro dengan lembut.
__ADS_1
Arro mencoba memutar tubuh Bella agar menghadapnya. Ia bisa melihat sisa air mata di wajah kecil Bella. Tangan Arro yang lebih besar dari wajah itu menangkup pipi Bella, ia menghapus sisa air mata di sana. Tanpa Arro sadari, ia sudah mendekatkan wajahnya, ingin menjangkau sesuatu di wajah Bella, Bella ikut terhanyut dengan suasana yang diciptakan Arro.
Jantung Bella sudah berdetak hebat, ia tau, ia juga menginginkan Arro. Bella merasakan kenyamanan tiap Arro menyentuhnya. Bella menelan ludahnya, ia gugup.
Saat Arro sudah hampir memangkas jarak mereka. Tiba-tiba suara ketukan dari jendela kamar menghentikan pergerakan Arro.
Arro mendengus kesal. Lalu berbalik dan berkata dengan nada ketus "Ya, Levi?!" Kata itu terdengar bukan seperti pertanyaan, tapi seperti ledakan amarah.
"Apa aku mengganggu sesuatu yang belum terjadi?" Levi menahan senyumnya.
"ehm, berbincang lah. A--aku mau ke dapur dulu mengambil minum," kata Bella sedikit canggung.
"Diamlah Levi. Aku tidak bisa mengendalikan diriku." Arro juga gusar dengan dirinya.
"Ya. Anda harus!" Levi memperingati.
Arro membuang napasnya dengan berat. "Bagaimana dengan pasukan Argus?"
"Aku tidak melihat ada pergerakan lagi. Hanya saja, Bella sudah tidak aman sendiri." Levi bisa merasakan kegundahan Arro.
__ADS_1
"Kita masih belum bisa membawanya ke kerajaan. Sebagian wilayah sudah dikuasai Argus."
"Jadi? Apa rencanamu?"
"Aku dan kau harus bergantian menemaninya di sini. Minta beberapa pasukan untuk berjaga dari atas."
"Kau serius?" Levi tidak mengerti dengan perintah Arro. Menyembunyikan Bella di daratan manusia sama dengan menyerahkan diri. Levi tau, bagaimana kalang kabutnya Arro beberapa waktu lalu saat ia mengetahui Abercio menculik Bella.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" Arro mempertegas nadanya.
"Baiklah. Baiklah..." Kata Levi sambil berjalan keluar "Aku akan berjaga sementara dari atas, pastikan kau mengendalikan dirimu Yang Mulia" Tegas Levi lagi.
Arro hanya mendengus mendengar perkataan Levi.
"Jadi, kau mau bercerita dari mana?"
Arro berbalik mendengar suara Bella yang sudah berdiri diambang pintu.
...****************...
__ADS_1