DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 22


__ADS_3

Arzeus datang dan langsung membungkuk di hadapan Arro. “Salam hormat saya untuk Yang Mulia Arro.”


“Apa kau sudah menemukan cara memasuki ingatan Bella?”


“Sudah, Yang Mulia. Saya sudah menemukan petunjuk dari buku kuno dari ruang perpustakaan.”


“Bagus, jadi apa yang harus kau lakukan?”


“Ampun, Yang Mulia. Sebelum saya memasuki ingatan nona Bella ada hal yang ingin saya sampaikan.”


“Apa itu?”


“Cara yang saya temukan adalah cara kuno, karena itu nona Bella akan merasakan sakit yang luar biasa. Bahkan jika ritual ini gagal, nona Bella bisa ….” Arzeus menggantung kalimatnya. Ia tidak akan berani mengatakan hal buruk itu.


Arro menghembuskan napasnya kasar. “Jika terjadi sesuatu kepadanya, bukan hanya kau, tapi semua keluargamu yang tersisa akan merasakan siksaan sampai kalian memohon untuk mati. Mengerti?”


Arzeus menelan salivanya dengan susah. Ia sangat gugup. Ia baru mempelajari hal ini kemarin. “Saya mengerti, Yang Mulia.” Hanya kalimat itu yang bisa ia ucapkan.


...------...


Bella terbangun dari tidurnya dan sudah tidak menemukan Arro di sofa sana. Bella kembali mengendarkan pandangannya melihat isi kamar yang luas itu. Ia belum pernah melihat dinding setinggi dan semewah ini. Bukan hanya itu, bahkan kain yang membungkus tempat tidur itu sangat lembut dan nyaman. Kamar dengan dominasi warna hitam itu terlihat sangat elegan. Dari semua hal di kamar itu, yang menjadi favoritnya adalah aroma segar sekaligus manis kamar itu. Aroma yang menenangkan seperti pohon pinus di musim semi. Persis seperti aroma tubuh Arro.


“Apa aku mengganggumu?”


Arro datang menghampiri Bella. Bella tersenyum manis melihatnya. “Tentu tidak. Ini kamarmu kau bebas keluar masuk di sini.”


“Kamar kita.” Arro mengoreksi Bella.


Bella membeku, ucapan itu terlalu vulgar untuknya. Pipi Bella sudah kembali bersemu. “Kita belum menikah,” ucap Bella sambil berusaha menahan lengkungan bibirnya.


Melihat pipi Bella yang bersemu, Arro semakin ingin menggoda Bella “Apa kau sedang melamarku?” Arro berpura-pura terharu.


Mata Bella membelalak mendengarnya, ia ingin memukul pelan tubuh Arro yang semakin membuatnya malu. Tapi tangannya di tahan oleh Arro lalu menariknya mendekat.

__ADS_1


Mata Arro menatap dalam manik Bella. “Aku yang akan melamarmu. Jadi, jangan mengambil peranku.”


Bella tidak menjawab, tapi bibirnya yang tersenyum dan matanya yang mulai berkaca-kaca menunjukkan ia sedang sangat bahagia. Akhirnya … perasaannya terbalas. Atau mungkin … ia yang sudah membalas perasaan Arro.


“Bel, apa kau ingat mimpimu semalam?”


Bella mengangguk dalam pelukan Arro.


“Apa kau mau mengembalikan ingatanmu?”


Bella melepas pelukannya dan menatap Arro meminta penjelasan lebih.


“Ini akan sedikit sulit. Dan mungkin kau akan merasakan kesakitan. Aku tidak akan memaksamu kal—”


“Aku mau.” Bella memotong kalimat Arro.


Arro menarik napasnya, ia sebenarnya sangat khawatir. “Jika kau ingin berhenti, genggam tanganku kuat, ya.”


Bella mengangguk paham.


Sebuah air mancur kecil menghiasi taman itu, suara airnya yang saling beradu menari indah di telinga Bella. Di depan sana ada sebuah paviliun berwarna putih dengan empat pilar besar yang menyangga atapnya. sudah ada Levi dan seorang yang Bella belum pernah lihat. Tubuhnya tinggi, tapi tidak setinggi Arro dan Levi. Rambutnya berwarna coklat tidak alami, seperti sudah berkali-kali menggunakan pewarna.


“Bell, ini Arzeus. Dia yang akan membantumu.”


“Salam kenal, Nona Bella. Saya Arzeus dari Kerajaan Aelios.” Tangan Arzeus terangkat ingin menyalami Bella.


Bella tentu saja menjulurkan tangannya menyambut tangan Arzeus. Tapi Arro sudah menepis tangan Arzeus dengan sedikit kasar.


“Tidak usah.” Arro menatap Arzeus dengan tidak suka.


Pria itu hanya tersenyum canggung, lagi-lagi ia berbuat kesalahan. Sementara Levi hanya menahan tawanya. Sangat menyenangkan baginya melihat Arro yang semakin posesif kepada Bella.


“Bel, ingat pesanku yang tadi?” Arro memastikan Bella mengingatnya.

__ADS_1


“Iya. Aku akan menggenggam erat tanganmu saat aku sudah tidak tahan.”


Arro puas dengan jawaban Bella, kini Arro mengalihkan pandangannya untuk melihat Levi. Levi yang paham segera mengangguk. Tak lama setelah itu, dari arah depan taman itu, muncul seorang gadis muda yang sangat anggun. Gaun putihnya yang terjuntai melambai-lambai mengikuti gerakan gadis itu. Bahkan Bella ikut terpesona hanya dengan melihat gadis itu berjalan.


“Bella. Ini Jasmine, pragma Levi.”


“Salam kenal, nona Bella.” Jasmine sedikit menekuk lututnya lalu kembali berdiri dengan sempurna. Ia kemudian berjalan dan berdiri di samping Levi.


Bella masih mematung mengagumi gadis jelita itu. Benar, Bella belum pernah melihat seorang wanita dari bangsa Dunia Atas. “Apa kau satu-satunya gadis di sini?”


Pertanyaan Bella dibalas senyuman manis gadis itu, Bella semakin terpesona olehnya. Jika Bella adalah seorang pria, ia akan sangat rela bertarung memperebutkan gadis itu.


“Banyak, Nona. Tapi semuanya sedang berada dalam persembunyian masing-masing. Hanya anggota kerajaan yang diizinkan untuk berkeliling mengawasi situasi,” jawab Jasmine dengan sangat lembut. Levi sangat beruntung mempunyai pasangan seperti Jasmine.


“Aku membawanya ke sini untuk menemanimu. Aku khawatir kau tidak nyaman jika tidak mempunyai teman wanita,” ucap Arro sambil menuntun Bella untuk duduk diatas kursi di sana. “Aku akan berada di sampingmu,” bisik Arro lalu mengecup singkat pipi Bella untuk meredam rasa khawatirnya sendiri.


Levi, Jasmine dan Arzeus membuang pandangan mereka. Melihat interaksi itu membuat mereka sangat canggung.


“Mulailah!” perintah Arro kepada Arzeus.


Arzeus kini berdiri di belakang Bella lalu meletakkan tangannya tiga sentimeter diatas kepala Bella. Arzeus kini menutup matanya sambil mulai mengucap sesuatu yang asing.


Bella yang mulai gugup menolehkan wajahnya untuk melihat Arro yang masih menggenggam tangan kanannya. Arro hanya mengangguk meyakinkan Bella semua akan baik-baik saja. Bella pun ikut menutup matanya.


Awalnya Bella masih belum merasakan apa pun. Tapi sedetik kemudian, sesuatu di dalam kepalanya berdenyut sangat dahsyat. Bella mulai mengeritkan keningnya menahan kesakitan. Sementara Arzeus terus mengulang-ulang kalimat anehnya.


Di telapak tangan Arzeus yang berada diatas kepala Bella kini mengeluarkan sebuah cahaya putih. Cahaya itu perlahan membesar. Arzeus sudah mulai mengucurkan keringat karena melawan sesuatu dalam ingatan Bella.


Bella semakin bergerak gelisah, ia bertahan agar tidak menggenggam erat tangan Arro. Bella juga sedang berjuang melawan apa pun di dalam ingatannya sendiri.


Cahaya itu semakin membesar, diikuti dengan teriakan Bella dan Arzeus bersamaan. Suara mereka menggema di paviliun itu. Arro panik ingin segera menghentikan Arzeus, tapi Levi menahan Arro untuk tidak mengganggu ritual itu.


Setelah teriakan yang memekakkan telinga itu, Arzeus kini seperti orang yang tidak sadarkan diri. Begitu pun Bella. Mereka masih dengan posisinya masing-masing. Hanya saja, raut wajah mereka menjadi lebih tenang. Seperti orang yang tertidur.

__ADS_1


Di dalam ingatan itu. Bella dan Arzeus tersadar berada dalam selasar di lingkungan sebuah istana. Mereka saling tatap dan saling ingin bertanya tapi mereka tidak bisa mengeluarkan suara apa pun. Tubuh mereka juga seperti melayang dan tidak terlihat. Tidak menyentuh tanah dan tidak tersentuh oleh orang-orang yang lalu lalang dengan kepanikan di sana. Lalu sebuah suara dari sebuah ruangan mengalihkan perhatian mereka. Tubuh mereka melayang mengikuti asal suara. Di sana, Bella melihat dirinya … yang baru terlahir.


...****************...


__ADS_2