DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 24


__ADS_3

Bella dan Arzeus tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri. Arro segera memeluk pragma-nya sementara Arzeus sudah terjatuh ke lantai marmer paviliun itu. Arro menepuk pelan pipi Bella untuk menyadarkannya.


Bella membuka matanya perlahan dan langsung memeluk Arro di sana. Bella menangis segugukan. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Bella ingin menyalurkan betapa ia sangat … sangat merindukan ibundanya.


“Orang tuaku tidak membuangku. Mereka menyelamatkanku. Mereka … mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkanku.” Hanya kalimat itu yang Bella sanggup ucapkan dari sela tangisannya.


Dada Arro bergemuruh hebat. Ia bisa merasakan apa yang Bella rasakan. Arro juga mencengkram dadanya kuat. Perasaan sedih itu sangat menyakitkan untuknya.


Arzeus kini sudah terbangun dari lantai, ia sangat pusing. Kepalanya seperti berputar-putar. Levi membantunya dengan mengambilkan segelas air untuknya. Biar bagaimanapun, Arzeus sudah berjasa mengembalikan ingatan Bella.


Arzeus menerima gelas itu dengan canggung. Ia lalu meminum habis air itu. Energinya terkuras habis. Tapi, setelah melihat Arro yang tersenyum kecil kepadanya untuk menunjukkan rasa terima kasih, cukup untuk mengembalikan energinya. Ia sangat senang bisa membantu seseorang. Apalagi itu adalah calon Raja Kerajaan Utama.


Setelah Bella sudah sedikit tenang, Arro mengantar Bella kembali ke kamar dengan diikuti oleh Jasmine. “Pastikan ia memakan sesuatu ketika ia terbangun. Bella sudah tidak menyentuh makanan selama 2 hari ini,” pesan Arro kepada Jasmine.


“Baik, saya mengerti, Yang Mulia.”


Setelah mendengar jawaban Jasmine, Arro pun melangkah menuju ruang pertemuan. Tempat Levi dan Arzeus menunggunya.


“Ceritakan semuanya padaku!” perintah Arro saat ia sudah duduk di kursi dengan meja besar berbentuk oval ditengah-tengah mereka. Levi duduk di samping kanan Arro dan Arzeus duduk di seberang meja itu.


Arzeus pun menceritakan semua yang ia lihat bersama Bella. Tentang pemberontakan dan penyerangan yang dilakukan oleh pragma Ratu Camelia dari Kerajaan Doria, tentang bagaimana perpisahan Bella bersama ibundanya dan tentang sebuah tempat bernama Tanah Abadi.


Arro dan Levi mendengarkan cerita itu sampai selesai. Banyak hal yang mereka harus diskusikan. Mereka harus mencari tau siapa pragma Ratu Camelia dan mereka harus mencari tau dimana tempat Tanah Abadi itu.


Arro memijat pelipisnya yang mulai sakit. Argus belum kembali melakukan serangan. Tapi, ia tau Argus masih gencar mengumpulkan banyak sekutu agar Kerajaan Vaselion segera jatuh di tangannya.


“Arro, prioritas kita adalah mengembalikan kekuatan malaikat Bella dan melakukan ritual pemberkatan kalian, agar kekuatanmu sempurna dan tidak ada lagi rakyat kerajaan yang meragukanmu.” Levi seperti bisa paham pikiran Arro yang sangat kewalahan.


Arro mengangguk setuju. Tujuan mereka sekarang adalah mencari dimana Tanah Abadi.


“Apa kau pernah mendengar tentang Tanah Abadi?” tanya Arro kepada Arzeus.


“Belum pernah, Yang Mulia. Tapi … mungkin ada seseorang yang bisa membantu kita.”


“Siapa?”


“Namanya Mystica. Dia adalah salah satu wanita yang saya lihat dalam ingatan itu. Saya tidak tau apakah dia selamat dari penyerangan itu tapi ia sangat terkenal di Kerajaan Aelios, hampir semua rakyat Aelios tau wanita itu.”


“Maksudmu? Kita akan mencari seseorang yang belum tentu selamat dari penyerangan itu?”


Arzeus sedikit bingung bagaimana harus menjelaskannya, “Dari semua orang dalam kerajaan itu, saya yakin dia selamat Yang Mulia. Karena … ia adalah salah satu penyihir gelap.”


“Penyihir gelap?” Arro berdiri dari duduknya karena terkejut. “Dunia Atas tidak pernah menerima seorang penyihir dengan ilmu hitam. Memiliki sihir hitam sama dengan mengikat perjanjian dengan kegelapan.”


Arzeus ketakutan dengan Arro yang sudah marah. Ia segera menyingkirkan kursi dari tempatnya duduk lalu segera bersujud memohon ampun. “Kerajaan Aelios mengizinkan praktek sihir apa pun, Yang Mulia. Ini adalah kebijakan dari Ratu Camelia sendiri. Karena itu, rakyat banyak menyukainya dan menerimanya meskipun ia mempunyai suami dari bangsa manusia. Saya juga menyadari saat membuka kunci ingatan Nona Bella, kekuatan penghalang itu bukan kekuatan biasa.”


“Apa maksudmu? Berapa lama praktek itu berjalan?”


“Ampun Yang Mulia. Setau saya praktek itu berjalan hanya selama 2 tahun masa kepemimpinan Ratu Camelia dan Ratu Ouranos. Setelah itu, Kerajaan Aelios menentang dan mengembalikan peraturan penentangan terhadap sihir hitam. Tapi, masih banyak yang sembunyi-sembunyi melakukan praktek itu.”


“Sial! Kenapa ini bisa luput dari Kerajaan Vasileion?” geram Arro yang kini menatap tajam Levi.


Levi yang merasakan aura gelap Arro hanya bisa menunduk. Levi memutar otaknya mengingat apa cerita penting yang pernah diceritakan ayahnya kepadanya, peristiwa penting saat ayahnya menjadi penasehat kerajaan menemani Sang Raja Lexander Kyrillos. Tiba-tiba Levi teringat sesuatu. “Yang Mulia, saat itu Duke Abrion lah yang menangani Kerajaan di wilayah Timur.”

__ADS_1


“Terus?” Arro masih belum paham arah pembicaraan Levi.


“Duke Abrion lah dalang dari mimpi buruk yang dialami oleh Sang Raja Lexander Kyriloss. Tepat sebelum Damian diangkat menjadi penjaga istana utama.”


“Jadi? Maksudmu, Duke Abrion mempelajari sihir dari Kerajaan Aelios?”


“Saya tidak tau, tapi mungkin karena itu kenapa informasi tentang praktek sihir hitam di Kerajaan Aelios tidak tercium sampai di Kerajaan Vasileion.”


Arro paham. Kepalanya berputar-putar menyusun informasi-informasi itu. Arro menekuk sikunya keatas meja dan menautkan jari-jarinya, ia sedang dalam gejolak pikirannya sendiri. Benar, yang penting Kerajaan Aelios sudah kembali menentang semua kegiatan sihir. Arro memantapkan tujuannya lalu berkata dengan tegas, “Siapkan pasukan, Aku, kau dan Arzeus akan mengunjungi Kerajaan Aelios.”


“Lalu, siapa yang berjaga di sini, Yang Mulia?” tanya Levi.


Arro menarik napasnya, “panggil Agnor dan Damian, kembali ke Markas Kerajaan.”


Levi mengangguk paham. “Baik, Yang Mulia.”


...----------------...


“Bagaimana perasaan anda, Nona?” tanya Jasmine saat melihat Bella sudah terbangun.


“Kepalaku masih sedikit sakit.” Bella mencoba duduk dari baringnya.


Jasmine dengan sigap membantu Bella untuk duduk lalu memberi Bella air dari gelas yang sudah ia siapkan.


“Terima kasih, Jasmine,” ujar Bella setelah menerima gelas itu.


Jasmine lalu berdiri dan keluar dari kamar, saat kembali ia sudah memegang nampan berisi berbagai jenis makanan.


“Nona, anda harus makan sesuatu.”


Berdua dengan Jasmine sedikit membuat Bella canggung, Bella melirik Jasmine yang sedang mencoba membuka jendela kamar lebih lebar. “Jasmine, apa kau mau berteman denganku?” tanya Bella dengan hati-hati. Ia belum pernah mempunyai teman sebelumnya. Ia takut, Jasmine akan menolaknya.


Jasmine tersenyum manis mendengar pertanyaan Bella, “tentu saya mau, Nona.”


Wajah Bella berganti cerah. Akhirnya, ia mempunyai teman wanita yang mau berteman dengannya. “Jangan memanggilku nona lagi. Panggil aku Bella. Aku ingin akrab denganmu, seperti Arro dan Levi.”


Jasmine terkekeh mendengarnya, “iya … Bella.”


Bella kini ikut tertawa bersama Jasmine.


“Kalian sudah akrab?” Arro datang dari arah pintu menghampiri mereka.


Bella tersenyum dan mengangguk begitupun Jasmine.


“Terima kasih, Jasmine,” ucap Arro dengan tulus.


“Kalau begitu, saya permisi.” Jasmine tersenyum lalu melangkah keluar dari kamar itu.


“Arro …,” panggil Bella dengan hati-hati, “apa Jasmine boleh tinggal di sini bersamaku?” tanya Bella penuh harap.


Arro mendekati Bella, mengambil nampan makanan yang sudah habis lalu meletakkannya pada meja nakas disamping tempat tidur besar itu. Arro kini duduk bersama Bella di atas ranjangnya. “tentu boleh, aku akan meminta Jasmine menjagamu di sini saat aku ke Kerajaan Aelios.”


Mata Bella berbinar saat Arro akan berkunjung ke tanah kelahirannya. “Apa aku boleh ikut?”

__ADS_1


Arro menarik sudut bibirnya, “nanti ya, saat aku sudah memastikan di sana aman. Mungkin masih ada beberapa orang yang masih mencarimu. Entah dengan niat baik atau buruk. Kau adalah satu-satunya keturunan Ratu Camelia.”


Benar. Bella harus memikirkan tentang itu. Ia adalah keturunan dari seorang Ratu Kerajaan Dunia Atas. Masih banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Dirinya adalah seorang manusia dengan kekuatan malaikat yang sedang terkunci. Bella menjadi ketakutan dengan takdirnya sendiri. Ia tidak tau apakah ia masih bisa hidup di Daratan Manusia? Atau ia harus tinggal di Dunia Atas selamanya?


Arro melihat Bella yang seperti sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Arro bisa mengerti, sulit bagi siapa pun untuk menerima kenyataan ini. Semuanya sangat tiba-tiba. “Bell, jangan khawatir. Aku akan selalu bersamamu.”


Ucapan Arro mengalihkan perhatian Bella. “Terima kasih, Arro. Sungguh, aku sangat berterima kasih.”


Arro kini menarik Bella dan memeluknya hangat. “Tapi, ada satu hal yang ingin aku katakan padamu?”


Bella menarik tubuhnya untuk bisa melihat wajah Arro.


“Aku tau seharusnya aku mengatakan ini sedari dulu. Tapi, mau kah kau menikah denganku dan memimpin kerajaan ini?”


Bella terhenyak mendengar pertanyaan Arro. Bella sendiri bingung yang mana yang lebih membuatnya terkejut. Apakah karena Arro mengajaknya menikah atau karena Arro mengajaknya memimpin kerajaan terbesar itu.


“Tunggu … aku harus mencerna ini satu-satu.” Bella berkutat dengan pikirannya sendiri. “Apa maksudmu memimpin kerajaan ini?”


Arro menarik napasnya dalam. Ia tau ia salah tidak memperjelas ini dari dulu. “Bell, Aku Arro, Putera Mahkota dari Kerajaan Vasileon. Aku … calon Raja kerajaan ini.”


Bella membungkam mulutnya yang terbuka lebar. Kenapa tidak ada yang memberitaunya. Kenapa Arro baru berkata sekarang.


“Aku minta maaf tidak memberitahumu. Aku hanya tidak ingin menakutimu saat belum tau apa sebenarnya yang terjadi … sejak bertemu denganmu di lorong gelap malam itu, kekuatanku sedikit menguat. Saat itu aku tau sesuatu berbeda denganmu. Karena itu juga aku meminta izinmu untuk mengawasimu selama 3 hari. Mulai saat itu, perlahan semuanya mulai terjawab.”


Bella hanya terdiam mendengar penjelasan Arro yang panjang. Bella mengingat dengan jelas semua kejadian yang Arro maksud. Tapi, menjadi seorang Ratu dari Kerajaan Utama, jelas jauh dari sangkaan Bella. Ia sudah cukup bahagia bisa bersama Arro dan menjadi pragmanya. Tapi, menjadi seorang Ratu adalah masalah yang lain.


“Aku … tidak bisa menjadi seorang Ratu, Arro. Aku tidak mengerti dengan Dunia Atas, aku bahkan masih sangat asing dengan semua istilah yang kalian katakan. Aku … hanya akan menjadi bebanmu.” Bella bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Dalam lubuk hatinya, ia sangat tidak pantas dengan gelar kehormatan tertinggi itu.


“Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Aku yang akan melakukan semuanya. Aku hanya perlu kau menemaniku. Aku membutuhkanmu, Bell.” Arro memastikan ia tidak membuat Bella menanggung apa pun. Ia hanya ingin Bella berada di sisinya. Itu sudah sangat cukup untuknya.


Bella melemparkan pandangannya ke arah jendela yang dibuka Jasmine tadi. Ia tidak tau harus menjawab apa lagi. Ia berkutat dengan pikirannya sendiri.


“Aku akan membiarkanmu istirahat dulu, aku hanya ingin kau berada di sampingku. Aku tidak membutuhkan lebih dari itu.” Arro berdiri lalu mencium kening Bella singkat lalu keluar menutup pintu kamar itu.


Bella masih terdiam di sana. Ia kemudian berdiri dan berjalan ke arah jendela itu. Di bawah kamar itu ada sebuah taman yang indah. Sebuah taman yang dirawat dengan baik. Bella mencoba menghirup udara dari taman itu. Sedikit wangi dari bunga-bunga yang terbawa angin menyapa indera penciuman Bella. Wangi itu cukup menghiburnya dari pikirannya sendiri.


Dari arah pintu terdengar suara ketukan sebanyak tiga kali, lalu Jasmine muncul dari arah sana.


“Bella, kau bertengkar dengan Yang Mulia Arro?” tanya Jasmine dengan khawatir.


Bella mengernyitkan keningnya heran.


“Yang Mulia Arro menyuruhku menemanimu, auranya sedikit menggelap. Aku pikir kalian sedang bertengkar.” Jasmine mencoba menjelaskan.


Bella menggeleng lemah. “Aku hanya sedang terkejut dengan fakta bahwa dia seorang calon Raja.”


“Jadi kau tidak tau? Apa Levi tidak memberitahumu juga?”


Bella kembali menggeleng kesal.


Jasmine berpura-pura memasang wajah marah. “Baiklah, aku akan membantumu memarahi Levi.”


Bella tertawa melihat wajah marah Jasmine, bukan menakutkan tapi malah sangat menggemaskan. Perasaan Bella menjadi tenang, ia seperti mendapatkan seorang adik perempuan. Seperti saudaranya dulu Kenzo, yang selalu menjadi penenangnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2