DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 28 (Bag. 2)


__ADS_3

“Ardios sudah bersekutu dengan Argus sejak lama. Awalnya ia hanya marah karena Abrion dihukum mati. Argus lalu datang dan memintanya bergabung untuk mengambil alih Kerajaan Vasileion.” Arzeus menceritakan semua yang ia lihat, termasuk tujuan Ardios mengubah wujudnya. “Dia dikirim menjadi mata-mata oleh Argus. Argus harusnya sekarang sudah tau kalau Ardios sudah mati,” lanjutnya.


“Lalu bagaimana dengan Bella? Apa kau melihat kemana mereka membawanya?”


Arzeus menggeleng kecil, “tidak, Yang Mulia.”


Arro mendengus geram. “Lalu, apalagi yang kau lihat?”


“Saya melihat seorang dengan pakaian bangsawan yang mereka panggil Xavier untuk bergabung. Saya tidak tau apakah ini bersangkutan atau tidak, ingatan itu terpecah, putus-putus dan samar. Tapi, saya mendengar mereka memberikan perintah kepada Xavier untuk menyerang Kerajaan Aelios.”


“Levi, siapa Xavier?”


“Saya belum pernah mendengar nama itu, Yang Mulia,” jawabnya.


“Apa yang kau lihat dari baju bangsawan itu?” tanya Agnor. Keempat kerajaan besar dan satu kerajaan utama memiliki simbol ciri khasnya sendiri.


Arzeus tidak langsung menjawab, ia menutup matanya, mengingat-ingat apa yang melekat pada jubah dikenakan pria itu. “Sebuah emblem berwarna kuning dengan gambar … burung phoenix merah dan api.”


“Kerajaan Doria Barat …,” gumam Agnor tidak yakin.


“Benar, itu adalah lambang Kerajaan Doria, Yang Mulia,” sela Levi.


Arro bersedekap, apakah Xavier adalah pragma dari Ratu Camelia terdahulu? Kenapa suami Adena menculik Bella? Apa mereka adalah seorang pengkhianat juga? Arro bergulat dengan pikirannya sendiri. Sebias cahaya dari jendela yang terbuka, masuk dan menyinari tempat itu. Arro menolehkan wajahnya, ia tersenyum sedih, ia menatap nanar ke arah bulan di atas sana yang sudah berbentuk bulat sempurna, mengeluarkan cahaya terangnya. Bella sudah mulai memasuki fasenya. Arro mengepalkan tangannya kuat. Ia sangat marah, marah pada dirinya sendiri.

__ADS_1


“Siapkan Pasukan, kita akan ke Kerajaan Doria malam ini!” perintah Arro.


“Yang Mulia, kita belum tau apakah Kerajaan Doria adalah dalang dibalik penculikan dan penyerangan ini. Menuduh mereka tanpa bukti bisa berakibat fatal. Raja Lostier bisa tersinggung dan –”


Arro berbalik menatap Levi. “Aku tidak peduli dengan kekuasaan lagi. Prioritasku adalah istriku, Bella. Aku akan menghancurkan semua yang sudah menyakiti keluargaku, bahkan jika harus menghancurkan empat kerajaan besar Dunia Atas.” Nada Arro tegas dan tidak terbantahkan.


Levi menegak salivanya dengan susah. Ia merinding mendapatkan intimidasi dari Arro. Levi tau kekuatan Arro akan sekuat dan sepekat ini. Ia tidak bisa menolak perintah Arro.


“Ada berapa pasukan yang tersisa?” tanya Arro memecah keheningan.


“Kurang dari seratus, Yang Mulia.”


“Apakah saya perlu memanggil prajurit dari Dunia Bawah?” tanya Agnor.


“Tidak, Yang Mulia. Saya akan ikut bersama anda.” Damian menolak perintah Arro, ia tidak ingin hanya berdiam diri seperti pengecut padahal ia adalah salah satu pengawal utama kerajaan.


Arro tidak menjawab, ia angkat jari telunjuknya, lalu mengarahkan ke Damian. Damian termundur dan terjatuh dengan terbatuk-batuk. Padahal Arro hanya melayangkan sebuah serangan terkecil yang bisa ia buat. “Jangan bertingkah saat kau masih tidak bisa berdiri dengan benar,” sarkas Arro.


“Ma-maaf, Yang Mulia.” Damian kini mencoba kembali berdiri dengan dibantu Arzeus.


“Saya akan menyusul setelah mengantar Jasmine, Yang Mulia.” Levi kini keluar dari ruangan itu bersama Jasmine.


...----------------...

__ADS_1


Sementara itu, Wilayah Kerajaan Doria Barat, setelah penculikan.


“Jadi ini anak dari Camelia?” ucap seorang pria dengan pakaian bangsawannya. Xavier. Seorang bangsawan dengan gelar Marquess. Tatapan penuh jijiknya ia layangkan ke tubuh seorang wanita yang tidak sadarkan diri dengan masih memakai gaun pernikahannya.


“Benar, Tuan.”


“Ck, dia sangat mirip dengan Camelia. Aku seperti ingin mengoyak wajah ini. Bawa dia ke penjara! Jangan beri dia makan atau minum. Dia bukan malaikat murni, dia tidak mungkin bisa menahan lapar.”


“Baik, Tuan.” Prajurit itu kemudian membawa tubuh Bella dengan sangat kasar, menuju ke sebuah ruang lembab dan gelap.


“Saya sudah melakukan semua perintahmu, di mana Adena?” Suara dari pragma Adena, Eric, terdengar geram. Pria baya itu sudah tidak bisa menahan amarahnya.


“Tenanglah. Aku belum membunuhnya.” Sementara Xavier terlihat sangat santai sambil menggosok-gosok ujung anak panahnya, memastikan mata panah itu cukup tajam untuk membunuh seseorang.


“Kembalikan Adena, saya sudah membawakan anda pragma Raja Vasileion.”


Ujung mata tanah itu terhunus menyentuh sedikit leher Eric. “Jangan mengaturku!” tegas Xavier.


“Saya hanya meminta pragma-ku, Tuan, kami akan pergi dari sini dan tidak akan bertemu siapa pun lagi,” lirih Eric.


Xavier menyingkirkan ujung panah itu dengan menyeringai. Ia menjetikkan jarinya. Saat itu juga, Eric berteriak nyaring. Ia merasakan sesuatu membakar dirinya dari dalam. Hanya dalam hitungan detik, tubuh Eric terjatuh.


Xavier kembali menggosok ujung panahnya yang tadi menyentuh leher Eric, “Aku sudah bilang, jangan mengaturku. Kenapa kau masih mengeluh.” Xavier meniup ujung panahnya yang sudah bersih. Lalu meninggalkan tubuh Eric yang masih mengeluarkan asap dari sisa-sisa organ dan dagingnya yang terbakar dari dalam.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2