DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 32


__ADS_3

Levi, Jasmine, Damian dan beberapa prajurit kerajaan berangkat ke Kerajaan Antasia. Setelah memasuki daerah kerajaan, mereka menyusuri kota hingga pinggiran wilayah. Mereka baru berhenti saat melihat sebuah gerbang tinggi dan tembok besar yang menjalar sepanjang hutan itu. Raja dari Kerajaan Antasia seperti ingin memperingati siapa pun untuk tidak memasuki area di dalam sana.


Mereka tidak bisa terbang menyusuri hutan itu. Hutan Mati bukanlah hanya karena hutan itu dipenuhi oleh pohon-pohon yang menjulang tanpa daun, tapi juga karena kabut tebal berwarna putih yang sangat membatasi jarak pandang mereka.


Levi mengeluarkan pedangnya, begitu juga dengan Damian, dan kelima prajurit di belakangnya. Sementara Jasmine yang tidak menguasai bela diri apa pun hanya berlindung di belakang Levi.


Mereka terbang melewati gerbang, lalu mendarat di sisi lain gerbang itu. Karena jarak pandang yang sangat pendek, mereka berjalan dengan sangat waspada. Sementara Jasmine sudah mengedarkan pandangannya dan memusatkan penciumannya.


Jasmine sebagai keturunan keluarga yang menguasai tanaman obat, bisa mengenali hampir semua jenis bau dan wangi tanaman dari penciuman mereka yang tajam. Untuk tanaman Rhyzentelle sendiri, wanginya seperti bunga anggrek yang baru mekar dan basah karena air hujan. Harum tapi tidak begitu menusuk. Wangi khas setiap tanaman bisa tercium oleh Jasmine dari jarak berpuluh-puluh meter. Kemampuan Jasmine ini juga lah yang berhasil mengungkap penyamaran Ardios.


Waktu itu, Jasmine sebenarnya sudah mencium bau bunga Eryngium sejak Damian pertama kali dibawa oleh Agnor dalam keadaan terluka. Tapi ia tidak yakin, karena bunga itu hampir tidak ada di Dunia Atas.


Jasmine sendiri belum pernah melihat tanaman langka itu, tapi dari ajaran ayahnya yang mendeskripsikan bau bunga itu, Jasmine menjadi tau meskipun belum pernah benar-benar menciumnya.


Damian yang waktu itu terbangun, melihat Jasmine yang sedang mengobatinya. Damian yang mencium bau tanaman obat dari Jasmine mengusap-usap hidungnya. Lalu ia mengatakan bahwa tanaman obat itu masih lebih harum dari bau yang terakhir kali ia cium. Saat tubuhnya bertabrakan dengan Ardios.


Saat itulah Jasmine menjadi yakin kalau firasatnya benar. Ada seseorang yang menyusup di antara mereka. Damian yang terkejut mendengar hal itu segera bangun, apalagi saat mengetahui Bella juga menghilang. Dengan tergopoh-gopoh ia dan Jasmine mencari siapa yang berbau seperti tanaman itu.


Saat memasuki ruangan tempat Arro mengadakan pertemuannya, bau itu semakin tajam bagi Jasmine. Ia pun mengangguk kuat ke arah Damian, mereka tau siapa yang beraroma busuk itu.


Jasmine kembali tersenyum kecil, kini ia berjalan sambil membusungkan dadanya dengan bangga. Ia bangga dengan dirinya sendiri yang berhasil membantu kerajaan saat itu.


Levi yang berbalik untuk memeriksa keadaan Jasmine, sedikit bingung dengan tingkah Jasmine yang senyum-senyum sendiri sambil berjalan dengan aneh.


“Kau kenapa?” gumam Levi dengan suara kecil.


“Ah, tidak apa-apa.” Jasmine yang kedapatan, langsung kembali mengubah cara jalannya.


Sementara Damian dan lima orang lainnya berjaga di belakang Jasmine dan Levi. Levi yang berjalan paling depan berusaha untuk memusatkan pendengaran dan penglihatannya.


Derap langkah yang berat terdengar di telinga mereka, lalu di susul dengan bunyi kepakan sayap, kemudian suara kembali hening. Keheningan itu malah semakin membuat suasana mencekam. Damian dan Levi saling pandang, mereka sama-sama mengerti apa yang harus mereka lakukan. Damian segera mendekati Levi dan bersiaga di sampingnya, sementara kelima prajurit lainnya mengikuti Damian dan membentuk lingkaran dengan saling membelakangi. Jasmine berada di dalam lingkaran yang mereka buat.

__ADS_1


Mereka menggenggam erat pedang mereka. Mata mereka tidak berhenti untuk mencari asal suara itu. Tiba-tiba terdengar suara auman yang menggema. Suara itu sangat dekat, tapi karena kabut putih mereka tidak bisa melihat apa pun di depan sana.


Saat itulah Jasmine mencium wangi bunga yang mereka cari. Jasmine menutup matanya lalu mencoba memusatkan penciumannya. Tapi, ia mengenyitkan dahinya. Kenapa wangi itu berpindah-pindah. Jasmine segera paham. Ia membuka matanya dan berteriak ke mereka yang sedang waspada. “Sebelah Kanan!”


Mendengar teriakan itu, mereka langsung berbalik ke arah telunjuk Jasmine. Samar-samar dari depan mereka, sebuah makhluk setinggi lima meter dengan keempat kakinya yang mempunyai cakar di masing-masing jarinya, berjalan keluar dari kabut dengan wajah yang datar.


Makhluk itu berwajah seperti singa dengan rambut yang menjuntai di sepanjang lehernya. Sayap panjang menyeruak dari punggung makhluk besar itu. Tapi, sesuatu menarik perhatian Jasmine.


Jasmine berbisik ke arah Levi dan Damian. “Tumbuhan yang kita cari berada di atas kepala makhluk itu.”


Levi dan Damian tentu saja terkejut. Artinya mereka harus mengalahkan mahkluk itu atau membuatnya menyerahkan bunga itu.


Damian ambil langkah terlebih dahulu. Ia maju dan langsung melebaskan pedangnya ke arah kaki depan makhluk itu. Saat pedangnya berhasil mendarat diatas kulit, pedang itu malah patah. Kulit makhluk itu sangat keras. Mereka tentu saja sangat terkejut.


Semua prajurit pun saling pandang, mereka ragu bisa mengalahkan makhluk besar itu. Sementara makhluk itu hanya berdiri di sana dan melihat lurus ke satu titik.


Levi segera menarik mundur Damian yang masih membeku memikirkan bagaimana bisa pedangnya patah. Pedang itu adalah pemberian dari Agnor saat ia masih menjadi pengawalnya di Dunia Bawah.


Mereka tersentak. Tidak banyak makhluk, apalagi hewan di Dunia Atas yang bisa berbicara. Kecuali makhluk itu telah mengikat kontrak dengan salah satu malaikat. Jika malaikat itu mati, maka jiwanya akan digunakan untuk menambah kekuatan makhluk yang telah mereka ikat. Itu adalah perjanjian bodoh. Tidak ada malaikat yang akan memberikan jiwanya kepada seekor hewan.


Jasmine kini maju selangkah, “kami membutuhkan tanaman yang berada di atas kepalamu.” Jasmine seperti tidak gentar.


Levi dan Damian semakin waspada jika makhluk itu menyerang Jasmine. Jika pedang tidak bisa membunuh makhluk itu, maka Damian akan menggunakan kekuatan malaikatnya. Meskipun ia tidak tau apakah akan cukup kuat untuk membunuh mahkluk besar itu.


Makhluk itu tidak menjawab, ia hanya menatap lurus ke arah gadis yang menjawabnya. Tiba-tiba makhluk itu berjalan mendekati Jasmine, Levi dan kelima prajurit sudah bersiap untuk menyerang, dan damian sudah mengumpulkan energinya meskipun kecil. Tetapi … gerakan mereka terhenti saat makhluk itu tiba-tiba merendahkan posisi kepalanya di depan Jasmine.


Jasmine yang ragu, tetap mengulurkan tangannya untuk meraih bunga itu tapi sepertinya ia tidak sampai. Saat Jasmine sudah melebarkan sayapnya untuk membantunya melepas tanaman itu, makhluk itu malah menekuk keempat kakinya dan semakin merendahkan kepalanya.


Mereka semua tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Makhluk itu seperti sedang berlutut di depan seorang Putri cantik.


“Terima kasih,” ucap Jasmine dengan tulus setelah berhasil mengambil bunga itu.

__ADS_1


“Namaku Icarus.” Makhluk itu kembali bersuara setelah kembali berdiri seperti semula.


Kini Jasmine yang tersentak. Nama itu adalah … netra Jasmine basah. Ia langsung menerbangkan dirinya agar bisa sejajar dengan tinggi Icarus.


“Apa kau adalah … makhluk yang selalu ayah ceritakan?” tanya Jasmine dengan air mata yang sudah jatuh.


“Senang bertemu denganmu, Jasmine. Ayahmu adalah teman baikku.”


Tangan Jasmine terangkat lalu menyentuh wajah Icarus dengan hati-hati. Icarus pun menikmati usapan Jasmine di pipinya.


Mereka yang di bawah hanya mendongak dengan penuh tanya. Kecuali Levi, ia sedikit tau nama itu. Jasmine pernah sekali menceritakan tentang makhluk bernama Icarus, meskipun is tidak tahu apa hubungan Icarus dengan ayah Jasmine.


Levi yang menyadari mereka sudah terlalu lama di dalam hutan, segera menyusul Jasmine di atas sana. “Jasmine, sudah hampir malam.”


“Ini pragmaku, Levi.” Jasmine seperti memperkenalkan Levi ke keluarganya.


Icarus hanya mendengus, Levi seperti seorang laki-laki yang belum mendapat restu dari keluarga wanita.


“Hei … saya adalah seorang panglima utama dari Kerajaan Vasileion.” Levi protes dengan respon yang diberikan Icarus.


“Saya akan mencarimu kemanapun kalau kau membuat Jasmine menangis, mengerti?” Icarus mengubah nama bicaranya menjadi sangat menyeramkan.


Jasmine hanya tertawa melihat interaksi itu. Sementara Levi tidak menanggapinya lagi.


“Saya akan mengantar kalian sampai melewati kabut.” Icarus lalu mengepakkan sayapnya lalu terbang lebih dulu.


Levi pun mengisyaratkan Damian dan mereka yang lain untuk mengikuti makhluk besar itu.


Setelah berada di luar gerbang, Icarus berpamitan dengan Jasmine. Ada satu hal yang Icarus sampaikan padanya. “Kalau kau membutuhkan bantuanku. Panggil namaku dengan kencang. Aku pasti akan datang membantumu.”


Jasmine saat itu hanya mengangguk dan kembali memeluk Icarus sebagai tanda perpisahan. Jasmine tidak pernah tau, bahwa ia akan membutuhkan Icarus hanya dalam beberapa hari. Saat mereka semua dalam keadaan antara hidup dan mati.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2