
Tubuh Bella terkulai tidak sadarkan diri di atas tumpukan jerami tua yang sudah mengeluarkan bau tidak sedap akibat penyimpanan yang lama diruang yang lembab. Tidak ada penerangan di tempat itu. Satu-satunya cahaya berasal dari sinar bulan yang masuk melalui lubang kecil yang hanya mampu meloloskan udara. Kedua tangan Bella terentang dan terikat pada sebuah besi panjang. Ikatannya sangat kuat sampai menimbulkan kemerahan pada pergelangan tangannya. Sementara gaun Bella yang tadinya berwarna putih bersih dan mewah, kini sudah kotor dan sobek dipinggirannya.
Di setiap jeruji sel itu sudah di pasang mantra kuat agar tidak bisa di hancurkan. Di sebelah ‘kamar’ Bella, ada seorang wanita yang sedang menangis pilu. Ia baru saja merasakan pragmanya sudah tiada. Jika ia bisa melarikan diri, akan ia pastikan orang itu, Xavier, mati di tangannya sendiri. Bagaimana bisa, mereka membunuh seorang laki-laki yang tidak tau apa-apa hanya untuk tujuan keji mereka.
...-----...
Jam 4.25 A.M., kediaman Adena. Kerajaan Aelios. (Sebelum penculikan)
Adena yang sedang terlelap, terjaga karena suara langkah yang seperti berkeliling di sekitar rumahnya. Ia membangunkan pragmanya, Eric untuk berwaspada. Adena dan Eric menajamkan pendengaran mereka, sunyi. Seperti sedang menunggu perintah. Benar saja, rumah mereka tiba-tiba di terobos masuk oleh sekumpulan prajurit entah dari mana mengelilingi Adena dan Eric yang masih terkejut. Dan di sana, Xavier muncul.
“Jadi, apa tujuan pangeran Arro mengunjungimu?” tanya Xavier sambil berjalan menilik rumah kayu itu. Tidak ada yang istimewa.
Adena tidak mengerti, “Anda siapa? Dan Bagaimana anda tau?”
Xavier tertawa nyaring, “Hahaha, apa kau pikir, aku begitu ceroboh hingga membiarkanmu bisa meloloskan diri dari penyerangan ….” Xavier meningat-ingat, “20 tahun lalu?”
Adena dan suaminya terperanjat. Tidak, ini tidak mungkin. Orang ini adalah pragma dari Ratu Camelia.
Xavier kini mendekat ke arah Adena dan suaminya yang masih membeku di atas ranjang mereka. Ia membungkuk lalu menahan tubuhnya dengan kedua tangannya yang berada dipinggiran ranjang itu, seraya menatap intens ke dalam manik Adena. Ia tersenyum kecil, meremehkan. “Aku mengawasimu selama ini. Selama bertahun-tahun. Aku tau, suatu hari anak haram itu atau pragma-nya pasti akan mencarimu, satu-satunya orang yang selamat dari penyerangan hari itu.”
Cairan bening berkumpul di pelupuk mata Adena, Xavier sudah merencanakan ini sejak dulu. Padahal ia sudah mengganti namanya, hidup di pedalaman dan tidak berinteraksi dengan siapa pun.
“Apa maumu?” kini suara bariton dari suami Adena yang mengambil alih perhatian Xavier.
__ADS_1
Xavier pura-pura kaget mendengar nada ancaman dari suami Adena. “Lihatlah Mystica, bahkan suami bodohmu ini mencoba menjadi pahlawan.”
“DIAM! Jangan pernah berkata seperti itu kepada suamiku,” geram Adena, tiba-tiba semua benda di rumah itu bergetar hebat lalu terjatuh. Adena mengangkat tangannya lalu mengumpulkan kekuatannya di sana. Cahaya merah berpendar siap untuk menghantam apa pun.
Xavier malah tertawa terbahak-bahak melihat Adena mencoba menyerangnya. Sementara Adena yang sudah tidak tahan, melemparkan bola api itu. Xavier hanya dengan kibasan tangannya bisa menghadang lalu membelokkan ke arah jendela kamar itu. Suara dentuman disertai lahapan api membakar pohon di sana.
Adena sekali lagi berhasil di buat terkejut. Ilmu yang dimiliki Xavier sangat kuat. Jadi, inikah alasan sang Ratu mengumpulkan semua penyihir hitam hebat? Ratu Camelia sudah tau kekuatan pragma-nya.
Xavier kemudian menjetikkan jarinya, tubuh Adena tiba-tiba jatuh tidak berdaya. Sementara Eric, suaminya, sudah berteriak tidak terima melihat tubuh istrinya dibuat tidak bergerak.
“Pergilah ke Kerajaan Vasileon, culik anak manusia itu. Aku akan menunggumu sebelum matahari terbenam. Kalau kau terlambat sedetik saja, istrimu yang cantik ini akan kujadikan pupuk untuk tanamanku. Mengerti?”
“Tuan, bagaimana bisa? Sebelum saya membawanya, saya akan lebih dulu mati.” Eric benar. Ia tidak bisa datang dan langsung membawa sang Putri. Ia tidak mempunyai kekuatan besar untuk melawan anggota kerajaan utama.
Eric tidak menjawab lagi, air matanya terjatuh saat hanya bisa menatap tubuh istrinya yang dibawa pergi oleh pasukan itu.
...-----...
Pantulan cahaya dari penerangan yang dihasilkan oleh nyala api diikuti dengan suara langkah kaki membuyarkan kenangan Adena bersama suaminya yang terakhir kali. Adena menajamkan pendengarannya. Suara itu semakin mendekat, tapi bukan ke arah selnya, tapi ke arah sel yang dihuni oleh seseorang yang mereka bawa beberapa jam yang lalu.
“Kenapa dia masih tidak sadarkan diri?” tanya suara itu, Xavier, kepada penjaga yang berdiri di belakangnya.
Adena ingin memberontak dan mengkonfrontasi pria itu. Tapi, suara selanjutnya dari Xavier menghentikan niatnya.
__ADS_1
“Dia harus bangun dan merasakan siksaanku. Anak ini harus menerima semua siksaan atas penghinaan Camelia, benarkan … Mystica??” Xavier menolehkan wajahnya yang tersenyum sambil melihat ke arah sel Mystica yang tepat berada di sebelah sel Bella.
Adena membeku. Tahanan itu adalah anak dari Camelia. Air mata Adena mengucur deras. “Tuan. Jangan sakiti anak itu! Dia tidak salah.” Adena berlutut, memohon-mohon.
“Hahaha.” Xavier tertawa nyaring, meninggalkan gema di sepanjang lorong penjara. “Apa maksudmu dia tidak salah? Anak ini harusnya sudah mati sejak dulu. Kalau saja, Ratu hina itu tidak menyembunyikan anak ini.”
“Tuan, saya mohon, Tuan. Anak itu adalah satu-satunya harapan Dunia Atas. Dia adalah pasangan dari calon Raja Kerajaan Utama.”
Xavier terdiam mendengarnya. Lalu ia tiba-tiba tersenyum lebar. “Aku sudah tau, karena itu, alasan untuk membunuhnya semakin bertambah," tekan Xavier.
Mata Adena membesar. “Kau … tidak mungkin ….” Adena tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia bahkan sudah lupa tata krama berbicara kepada seorang dengan tingkat bangsawan. Baginya, semua yang berhubungan dengan Argus adalah penjahat licik.
Perseturuan, pemberontakan dan perebutan kekuasaan dari Kerajaan Utama jelas sudah menyebar. Beberapa rakyat dari empat kerajaan yang mendengar desas desus itu, terbagi dalam beberapa kelompok. Kelompok yang mendukung Arro, keturunan langsung sang Raja Lexander Kyrillos, dan kelompok yang mendukung Argus, saudara sang Raja Lexander Kyrillos.
“Oh, ayolah Mystica, jangan munafik seperti itu. Kita harus mendukung seseorang dengan kekuatan yang lebih besar, kan?”
Adena mendelik, “Apa kau juga mendapatkan kekuatan besar itu dari Argus?” Kekuatan Xavier tidak mungkin murni. Dari jarak sedekat ini, Adena yakin ada sesuatu dari aura itu.
“Jadi, kau menyadarinya?” Xavier tertawa senang.
Adena tau, itu bukan pertanyaan. Tapi seperti ungkapan kesombongan. Mata Adena yang penuh amarah dan kebencian mengikuti pergerakan Xavier yang kini berjalan keluar dari penjara gelap itu.
...----------------...
__ADS_1