
Jam 5:05 A.M., Istana Kerajaan Doria. (18 Jam setelah penculikan)
“Selamat datang, Yang Mulia,” sambut seorang wanita yang seharusnya adalah Ratu Kerajaan Doria. Tapi, penampilannya yang hanya memakai gaun sederhana tanpa mahkota di atas kepalanya membuat Arro dan Agnor mengernyitkan dahi mereka.
Agnor membungkuk untuk menunjukkan sikap hormat. Mereka kini berada di dalam istana utama kerajaan itu. Tapi, banyak hal yang membuat Arro dan Agnor merasa aneh. Istana utama yang seharusnya menjadi tempat paling sibuk sebagai inti dari semua kegiatan dalam kerajaan terlihat sangat sepi, di jam ini seharusnya para pelayan istana sudah bersiap untuk menyambut pagi hari. Bahkan di singgasana yang seharusnya di tempati oleh Raja Doria terlihat sangat usang. Hanya dengan melihatnya sekilas, mereka yakin, bukan hanya sehari atau dua hari tempat itu tidak dibersihkan.
“Kalau saya boleh tau, dalam rangka apa Pangeran Kerajaan Vasileon datang berkunjung di jam ini?” tanya sang Ratu kepada Arro.
“Kami ingin bertemu dengan Raja Lostire.”
Wanita itu sedikit tidak nyaman. Ia seperti sedang gelisah.
“Ratu Anggira. Di mana Raja Lostire?” tanya Arro lagi setelah melihat gerak gerik mencurigakan sang Ratu.
“Raja Lostire, ada di kamarnya. Silahkan ikut saya, Yang Mulia.”
Arro dan Agnor saling pandang, Agnor juga merasakan hal yang sama. Agnor mengalihkan pandangannya menyusuri tempat-tempat yang seharusnya diisi oleh para pengawal kerajaan. Tapi nihil, Agnor dan Arro hampir tidak menemukan pasukan dan prajurit yang berjaga.
Mereka mengikuti langkah Ratu Anggira ke sebuah kamar besar di dalam istana itu. Arro dan Agnor sama-sama terkejut melihat kondisi sang Raja yang terbaring lemah. Tubuhnya sangat kurus dan matanya tertutup rapat. Hanya gerakan pelan dari dadanya yang menunjukkan kalau sang Raja masih hidup dan bernapas.
__ADS_1
“Apa yang terjadi dengan Raja?” tanya Arro terheran.
“Saya tidak tau, Yang Mulia. Raja Lostire sudah mengalami ini selama bertahun-tahun.”
“Kenapa tidak ada yang mengobati atau melapor ke Kerajaan Utama?”
“Kami tidak tau harus melapor kepada siapa, Yang Mulia? Kerajaan Utama sudah lama kacau. Sudah lebih dari setahun tidak ada yang menduduki tahta Raja.”
Benar. Seandainya saja, pamannya Argus tidak berbuat ulah. Pasti keempat wilayah Kerajaan Besar tidak akan menanggung akibat dari pemberontakan itu. Arro menyadari betapa besar kekacauan yang terjadi akibat ulah satu orang dengan ambisi dan keegoisannya.
“Saya, keturunan Raja Lexander Kyrillos, sangat meminta maaf kepada Kerajaan Doria.” Arro lalu menunduk dalam menunjukkan penyesalannya.
“Tujuan kedatangan kami, ingin bertanya tentang seseorang yang bernama … Xavier.”
Raut wajah Ratu Anggira berubah. Sinar matanya memancarkan kemarahan. “Kenapa Yang Mulia mencari …,” ucapan Ratu Anggira terputus. Ia menoleh ke arah Agnor yang juga sedang menatapnya heran. “Xavier adalah penyebab kekacauan di kerajaan ini.”
Arro kembali tidak mengerti. “Bagaimana bisa?”
Ratu Anggira tidak menjawab, ia berjalan ke arah meja besar yang berada tidak jauh dari tempat tidur Raja. Di sana, Ratu mengeluarkan secarik kertas dari tumpukan kertas. Setelah yakin, ia menyerahkan kepada Arro kertas itu.
__ADS_1
Arro membacanya, Arro terkejut dengan isi kertas itu. Di sana tertulis, bahwa semua peraturan, kebijakan dan pajak di seluruh wilayah Doria akan di pegang oleh Xavier. Sang Raja juga memberikan kuasa penuh kepada Xavier untuk memimpin pasukan dan prajurit Kerajaan Doria. Tanda cap Raja tercetak jelas di bawah kertas itu.
“Xavier hanyalah seorang marquess yang Raja tugaskan untuk mengawasi perbatasan kerajaan. Kenapa dan bagaimana Raja mengeluarkan perintah itu, saya tidak pernah tau. Karena setelah menuliskan dan mengumumkan isinya, sang Raja mulai tertidur dan tidak bangun lagi sampai hari ini,” lirih Anggira dengan derai air mata.
Arro mendengus lemah. “Saya akan membantu Kerajaan Doria saat semuanya sudah selesai. Saya mohon bertahanlah sebentar lagi.” Arro berjanji, ia akan memulihkan semua kekacauan ini.
Ratu Anggira menghapus air matanya. Ia menatap Arro dengan penuh harap. “Saya akan menagih janji itu, Yang Mulia. Rakyat kami sudah sangat menderita.”
Arro mengangguk mengerti. “Jadi, di mana Xavier sekarang?”
...----------------...
“Bangun!” Suara Xavier lagi-lagi menggema setelah ia menyiramkan air busuk ke tubuh tidak berdaya Bella. Tapi tubuh Bella tidak bergeming. Tidak ada tanda ia akan terbangun. Xavier yang geram, mendekati tubuh Bella lalu memukul keras wajahnya. Dari sudut bibir dan hidung Bella mengeluarkan darah segar. “Apa kau akan terus berpura-pura seperti ini?!”
Sementara Adena sudah meronta dan menangis pilu mendengar suara pukulan dan hantaman yang dilakukan Xavier. Ia berteriak keras tapi tidak ada suara yang terdengar. Xavier … sudah menghilangkan suara dari Adena.
Tubuh Bella sudah sangat terluka, pergelangan tangannya patah, wajahnya memar kebiruan. Sementara pria yang menyiksanya tertawa sangat puas. “Bagus, kau tidak perlu bangun. Aku suka sikap pasrahmu, dan tolong jangan cepat mati. Ini sangat seru,” gumam Xavier sambil tersenyum lebar dan melanjutkan penyiksaannya.
Xavier yang sedang menikmati ‘kegiatannya’ harus berhenti saat salah satu prajurit menghampirinya dan membisikkan sesuatu. Mata Xavier membesar mendengarnya. Sang Pangeran sudah datang sendiri menemuinya. Ia bukannya terkejut, tapi ia malah tertawa. Ia sedang membayangkan hadiah apa yang akan Argus berikan kepadanya jika berhasil membunuh keturunan Raja itu.
__ADS_1
...----------------...