
Sementara itu, jauh di bawah sana. Di Dunia Bawah…
“Yang Mulia, silahkan ikuti saya,” ucap Damian kepada Arro sambil berjalan dengan posisi siaga.
Sudah lama Damian tidak turun ke dunia ini, sejak Sang Raja mengangkatnya untuk ikut melindungi kerajaan di Dunia Atas. Ia dulu adalah pengawal pribadi dari Agnor. Penguasa tempat ini. Damian teringat bagaimana ia bisa sampai menjadi pengawal khusus di Kerajaan Vasileion.
......................
Bertahun-tahun yang lalu. Dunia Atas, Kerajaan Vasileion. Istana utama Raja Lexander Kyrillos.
“Katakan tujuan kedatanganmu!” perintah Sang Raja Lexander.
“Salam hormat saya kepada Yang Mulia. Saya Damian, diutus oleh pemimpin Dunia Bawah, Yang Mulia Agnor, untuk menyampaikan laporan kejadian bulan ini.” Damian masih berlutut hormat kepada Sang Raja di hadapannya.
“Oh, Agnor. Bagaimana kabarnya? Apakah dia menyukai tempatnya?” tanya Sang Raja Lexander dengan senyum di wajahnya.
“Yang Mulia Agnor dalam keadaan baik Yang Mulia. Ia juga memimpin Dunia Bawah dengan sangat baik. Hanya saja, ia masih tidak menerima hukuman untuk tidak diperbolehkan berkunjung ke Dunia Atas.”
“Hahahahaha… sampaikan salamku untuknya. Dan katakan padanya aku melakukannya untuk kebaikannya. Dia sudah terlalu sering berbuat onar disini.” Sang Raja tertawa, tapi sebenarnya ia punya alasan lain untuk ‘menghukum’ Agnor.
“Baik, Yang Mulia,” jawab Damian dengan masih posisinya tanpa mengangkat wajahnya.
“Sampaikan laporanmu!” perintah Raja lagi.
“Ampuni saya Yang Mulia, sebelum saya menyampaikan laporan ada hal yang ingin saya sampaikan.”
“Katakanlah!”
“Maaf jika saya sudah lancang, tapi saya ingin menyampaikannya hanya berdua dengan Yang Mulia.” Damian mengangkat wajahnya. Ia ingin menunjukkan bahwa apa yang ingin ia sampaikan sangatlah penting.
“Jangan melewati batas, Damian!” bentak seseorang yang berdiri disamping singgasana Sang Raja. Ia adalah seorang Duke, seorang kepercayaan Sang Raja.
Sang Raja belum bersuara, ia mengerutkan keningnya, mencari jawaban dari tatap mata Damian.
“Keluarlah kalian semua!” perintah Sang Raja Lexander dengan suara lantang.
“Tapi, Yang Mulia…kami tidak bisa melindungi anda, Damian adalah prajurit dari Dunia Bawah. Agnor bisa saja punya rencana jahat,” bisik Duke itu. Tapi suaranya bisa terdengar samar-samar oleh Damian.
“Saya tidak mungkin berani, Yang Mulia,” ucap Damian tiba-tiba. Ia ingin menghilangkan keraguan Sang Raja.
“Keluarlah. Aku masih sangat bisa mengalahkannya seorang diri.” Sang Raja meyakinkan Sang Duke.
Sang Duke masih ragu, tapi ia mengangguk patuh, lalu berjalan menuju pintu diikuti oleh lima pengawal lainnya.
Kini, tinggal Damian dan Sang Raja. Damian berdiri dari posisinya lalu melihat sekitarnya, seketika ia sudah merasa aman, ia kembali menghadap ke Sang Raja.
“Saya tidak bermaksud lancang Yang Mulia. Tapi, saya menemukan ini saat berjalan menuju kediaman anda.” Damian mendekat ke singgasana Sang Raja dan menunjukkan sebuah kertas kusut yang tidak berisi tulisan apapun.
“Apa ini?” tanya Sang Raja heran.
“Saat menunggu di luar tadi, saya memungut kertas itu terselip di antara tiang utama. Saya juga tidak menaruh curiga apapun. Tapi, saya merasakan sebuah sihir hitam saat menyentuhnya.” Damian mengucapkannya sepelan mungkin.
__ADS_1
“Di desa saya, sangat umum untuk menggunakan sihir hitam untuk melukai seseorang yang kami benci. Karena itu, saya sangat akrab dengan benda seperti ini,” lanjut Damian.
“Lalu?”
“Mudah bagi saya untuk mengetahui sihir apa yang dipakai, tujuan dan orang yang dituju,” jelas Damian lagi. “Dan ketika saya membukanya, saya tau kalau sihir jahat ini dipakai untuk melukai anda, Yang Mulia.” Damian tertunduk, ia tidak ingin membuat Sang Raja ketakutan.
“Katakan apa yang kau ketahui!” Sang Raja menunjukkan raut cemas.
“Seseorang menggunakan sihir mimpi buruk. Tujuannya untuk membunuh anda saat tertidur. Dan itu adalah sebuah kematian paling alami, juga tidak meninggalkan bekas apapun.”
Sang Raja terkejut dengan apa yang dikatakan Damian. Tidak ada yang mengetahui mimpi buruk yang sudah seminggu ia alami. Hanya istrinya, Sang Ratu Alisha yang tau bagaimana gelisahnya Sang Raja setiap malam.
“Apa kau tau siapa yang memiliki sihir ini?” Sang Raja sudah belingsatan. Ia sudah hampir berteriak marah.
“Saya tau yang Mulia. Saya bertemu dengannya saat memasuki ruangan ini,” kata Damian hati-hati.
“Siapa? Katakan padaku!”
Damian menjatuhkan dirinya untuk berlutut kembali. “Ampuni saya Yang Mulia jika saya lancang. Tapi, orang yang mengirimkan sihir itu adalah… Duke yang berdiri disamping anda tadi. Energinya sama dengan energi yang tersisa di kertas itu.”
Bola mata Sang Raja terbuka lebar, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang bercampur amarah. Bagaimana bisa, seseorang yang sudah ia anggap bagian dari keluarga berani mencelakainya. Tapi, Sang Raja melemaskan otot-ototnya, ia tidak ingin terpancing dulu. “Tunjukan padaku kenapa kau menuduhnya!”
Damian kembali berdiri. Ia mendekat ke singgasana Sang Raja lagi dan meminta kertas itu kembali. “Yang Mulia, saya akan mengirimkan sihir sederhana melalui media kertas ini. Jika Sang Duke itu masuk kembali ke ruangan ini dengan keadaan tangan yang terluka, maka ia adalah orangnya.” Damian menunggu persetujuan Sang Raja.
Sang Raja pun mengangguk setuju. Damian menutup matanya sebentar, mengucapkan beberapa kalimat lalu tiba-tiba kertas yang kosong itu, perlahan menunjukkan sebuah tulisan tak terbaca dengan tinta semerah darah lalu terbakar hingga menjadi abu. Sang Raja melihatnya dengan tidak percaya.
“Sudah selesai, Yang Mulia,” ucap Damian.
“Masuklah kalian yang di luar!” teriak Sang Raja.
Tidak menunggu waktu lama untuk para pengawal di luar untuk masuk kembali. Tapi, Sang Duke tidak terlihat ikut masuk. Sang Raja dan Damian saling lirik, apakah rencana mereka gagal?
“Kemana Duke Abrion?” tanya Sang Raja kepada seorang pengawal.
“Tadi kami melihat Duke Abrion berlari menuju ruang perawatan, Yang Mulia,” jawab pengawal itu.
“Ada apa dengannya?”
“Saya tidak tau, Yang Mulia. Duke hanya mengeluhkan tangannya yang terasa panas dan melepuh,” jelas pengawal itu.
Damian dan Sang Raja kembali saling melirik. Rencana mereka berhasil. Tapi, bukan raut bahagia yang tercetak di wajah Sang Raja, tapi kesedihan dan kekecewaan meliputi perasaan Sang Raja. Damian tertunduk, ia tau bagaimana rasanya dikhianati oleh seseorang yang sudah kau anggap seorang keluarga.
Tidak menunggu lama untuk Sang Raja menerima kenyataan itu. Ia mengusap wajahnya, lalu berkata dengan lantang, “Seret Duke Abrion ke ruang peradilan, sekarang juga!”
Semua pengawal saling melihat heran, tapi tidak ada satupun yang mempertanyakan perintah Sang Raja. Beberapa pengawal dengan pakaian yang lebih lengkap beserta senjata, berlari keluar dan hilang dari pandangan.
“Damian, kembalilah! Terima kasih untuk informasimu. Dan sampaikan salamku untuk Agnor.”
Damian menunduk hormat, lalu berkata, “Baik Yang Mulia, akan saya sampaikan. Tapi, bagaimana dengan laporan dari Dunia Bawah?” tanya Damian, ia belum sempat menyampaikan laporannya. Itu adalah tujuan utamanya menemui Raja Lexander.
“Tidak perlu, saya menggunakan perintah ‘menyampaikan laporan dunia bawah’ itu hanya untuk mengetahui kabar sahabatku di bawah sana.”
__ADS_1
Damian sedikit terkejut. Ia tidak mengetahui hubungan yang dimiliki oleh Agnor dan Raja Lexander sedekat itu.
“Damian, jangan sampaikan apapun yang terjadi di sini kepada Agnor!” lanjut Sang Raja, ia serius dengan ucapannya.
“Baik, Saya mengerti. Saya pamit, Yang Mulia.” Damian pun meninggalkan Kerajaan Vasileion.
Saat kembali ke Dunia Bawah, Damian hanya menyampaikan bahwa laporan telah terkirim dan diterima oleh Raja Lexander, tidak lupa titipan salam dari Sang Raja untuk tuannya, Agnor. Tapi, Agnor malah tidak suka dengan ‘salam’ itu. Itu seperti ejekan untuknya.
Ia dulu adalah sahabat Sang Raja. Tapi sikapnya yang sangat tidak patuh dan sering membantah perintah kerajaan membuatnya di ‘hukum’ untuk turun dan memimpin Dunia Bawah. ia diberikan tugas menyampaikan semua kejadian dari bawah sana setiap sebulan sekali.
Awalnya Agnor menyukai ‘hukuman’ itu. Kapan lagi ia bisa memimpin, meskipun itu Dunia Bawah, sebuah tempat yang tidak ada siapa pun ingin memasukinya. Tapi, ketika hukuman itu diikuti dengan perintah untuk tidak pernah memasuki Dunia Atas lagi, Agnor murka. Jika ia dilarang untuk tidak menyentuh Dunia Atas, maka ia juga melarang siapa pun untuk memasuki Dunia Bawah. Apalagi keturunan Sang Raja.
Dunia Bawah adalah sebuah penjara mematikan untuk para pengkhianat, pemberontak dan penjahat kelas kakap dari semua kerajaan dari Dunia Atas. Sang Pemimpin, Agnor sangat tidak berbelas kasihan. Baginya ini seperti taman bermain. Apalagi ia ditemani dengan ribuan tentara yang juga berperan sebagai algojo ditempat itu. Tapi, Damian adalah satu-satunya prajurit yang ia andalkan.
Beberapa hari kemudian, seorang prajurit khusus pengantar tahanan dari Dunia Atas datang menghadap Agnor.
“Salam saya untuk Yang Mulia Agnor.” Seorang prajurit masuk.
“Apa ada tahanan Baru?” tanya Agnor santai sambil menuangkan minuman berwarna merah pekat ke dalam gelasnya.
“Ada, Yang Mulia. Namanya Abrion, ia adalah seorang pengkhianat dari Kerajaan Vasileion,” jawab prajurit itu.
Agnor tersedak minumannya saat mendengar nama itu. Ia tau siapa Abrion. Seorang yang selalu berjalan dengannya dan Lexander saat ia masih di Kerajaan Vasileion. Mereka sudah berteman sejak lama. Apa yang terjadi diatas sana?
Agnor menoleh melirik Damian yang berdiri disampingnya. Wajah Agnor seperti meminta jawaban dari Damian, tapi Damian menggeleng menegaskan ia tidak mengetahui apa pun. Jelas, Damian berbohong.
“Kesalahan apa yang ia perbuat?” tanya Agnor masih tidak percaya.
“Ia berniat mencelakai Sang Raja Lexander Kyrillos. Ia mengakui perbuatannya tapi enggan menyebutkan orang yang terlibat.” Prajurit itu menjelaskan dengan detail.
Agnor terdiam beberapa saat, “Bawa dia ke ruang eksekusi utama!” perintahnya.
“Baik, Yang Mulia… dan juga selain membawa tahanan, saya ingin menyampaikan perintah dari Raja Lexander,” kata prajurit itu lagi.
“Apa lagi perintahnya?” suara Agnor melemah, ia tertunduk memijat pelipisnya, ia masih bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi.
“Ia ingin tuan Damian menjadi salah satu prajurit di Kerajaan Vasileion.”
Agnor mengangkat wajahnya melihat prajurit itu, ia terkejut mendengar perintah itu. “Apa? kenapa tiba-tiba?” Agnor menoleh ke Damian.
“Saya tidak diberitau alasannya, Yang Mulia,” jawab prajurit itu lagi.
“Terserah sajalah…Lexander kau memang brengsek,” gumam Agnor.
“Kalau begitu, saya permisi, Yang Mulia.” Prajurit itu pun keluar meninggalkan ruang singgasana Agnor.
Agnor kembali memijat pelipisnya. Lalu berkata, “apa benar kau tidak mengetahui apa-apa?” tanya Agnor tanpa melihat Damian.
“Saya tidak mengetahui apapun, Yang Mulia.” Damian berbohong lagi. Ia mengerti, Raja Lexander pasti mempunyai alasan untuk menyembunyikan ini dan memanggilnya.
......................
__ADS_1