DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 29


__ADS_3

Jasmine yang melihat Bella sudah keluar dari kamarnya segera berlari lalu memeluk Bella. Ia tersenyum tapi matanya basah, “saya sangat khawatir.”


Bella tentu saja sedikit terkejut melihat reaksi Jasmine. Ia belum pernah mempunyai teman yang mengkhawatirkannya. Bella membalas pelukan Jasmine dengan tersenyum juga. “Terima kasih, Jasmine.”


“Bella, dan ini adalah Adena.” Arro memperkenalkan Adena.


Adena menghampiri Bella juga dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak pernah tau, bisa bertemu langsung dengan sosok dewasa Putri dari Ratu-nya terdahulu. Bella yang tidak tau siapa Adena, tetap menyambut tangan Adena yang ingin menggapainya. Adena juga memeluk erat Bella seakan ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


“Adena kehilangan suaranya, Xavier yang mengambilnya,” ungkap Arro lagi.


Mendengar itu, Bella menolehkan wajahnya ke arah Arro dengan heran, “Siapa Xavier?”


Pertanyaan dari Bella, sukses mengejutkan mereka yang di sana. Levi dan Arzeus memandang Bella dengan penuh tanda tanya.


“Baiklah, Bella. Aku akan bicara dengan mereka lebih dulu,” ucap Arro sebelum Bella semakin bingung dan mengecup singkap kening Bella. “Jasmine tolong temani Bella ke taman.”


Arro lalu menggeleng kecil ke arah Jasmine. Jasmine yang menyadarinya, segera paham. Ia tidak akan menceritakan apa pun kepada Bella. Sebelum Arro yang menjelaskannya.


“Baik, Yang Mulia,” jawab Jasmine patuh. Ia mengambil tangan Bella dan menuntunnya menjauh dari mereka yang masih terdiam.


Setelah memastikan Bella tidak bisa mendengar mereka, Arro kemudian berjalan duluan ke arah sebaliknya, “Ikuti aku!” perintah Arro kepada mereka di sana. Termasuk Adena.


Arro menuntun mereka ke sebuah ruang besar dengan tirai yang menggantung tinggi sepanjang jendela besar itu. Di depannya terletak sebuah meja kerja yang terbuat dari kayu berwarna cokelat, lemari penuh buku terpajang di kanan dan kiri meja itu. Tempat itu menjadi tempat Arro jika ingin menyendiri dan mengenang dirinya bersama keluarganya. Ya, tempat itu dulunya adalah ruang kerja ayahnya, Raja Lexander Kyriloss.


“Kekuatan Bella sangat besar. Aku sendiri masih belum percaya apa yang aku lihat.” Arro memulai ceritanya sambil memutari meja itu dan duduk di kursi mewah di sana. Posisi Arro kini membelakangi jendela besar itu, sementara mereka berdiri di seberang meja.


Adena tidak terkejut dengan kalimat Arro.


Arro lalu melanjutkan, “Bella tidak mengingat apa pun. Yang ia ingat, hanya kejadian saat ….” Arro melirik ke arah Adena, “pragma Adena menculiknya.”


Adena tersentak. Ia baru mengetahui kalau Eric lah yang menculik Bella. Air mata Adena sudah hampir jatuh lagi. Ia menunduk dalam. Ia merasa bersalah.


Arro yang meyadari perubahan raut Adena segera memperbaiki kalimatnya, “pragma-mu tidak bersalah. Aku pun akan melakukan hal yang sama, jika pragma-ku diculik dan aku tidak bisa apa-apa.”


Adena mengangkat wajahnya dengan tersenyum kecil untuk berterima kasih untuk ucapan Arro.


“Yang Mulia, apakah berarti Nona Bella tidak sadar ketika melakukan serangan itu?”


Arro kembali mengangguk, lalu meletakkan kedua sikunya diatas meja dan menautkan jari-jarinya, “Dia melindungiku, dan menghabisi yang lain. Jika Agnor tidak sekarat, mungkin Bella akan menganggapnya sebagai musuh juga.”


Mereka merinding dengan jawaban Arro. Sepertinya Bella benar-benar tidak bisa membedakan kawan dan lawan saat sedang dikuasai sihir hitam.


Arro kini mengembuskan napasnya dengan lemah, “Saat ini, Bella tidak bisa menggunakan kekuatannya. Bahkan saat aku memintanya mengeluarkan sayapnya, ia tidak bisa.”

__ADS_1


Suasana kembali hening. Mereka tenggelam dengan pikiran mereka sendiri-sendiri. Mencari jawaban.


“Dimana Damian?” tanya Arro lagi saat tidak melihat sosok pengawal itu.


“Dia sedang mencoba mengobati Agnor. Lukanya sangat parah. Bahkan obat tumbuhan dari Jasmine tidak mampu menutup luka di tubuhnya,” jawab Levi.


Arro paham, ia sangat paham bagaimana kekuatan itu sangat menghancurkan dari dalam. Jika Arro tidak memiliki darah keturunan sang Raja, ia pasti berakhir seperti Agnor.


“Oh benar, Bella, dia bisa menyembuhkan ku dengan kekuatannya,” ucap Arro dengan semangat. Harusnya Bella juga bisa menyembuhkan Agnor.


Saat Arro berkata seperti itu, Adena maju selangkah dengan raut yang bingung. Ia ingin menjelaskan sesuatu, tapi ia tidak bisa mengeluarkan suaranya. Adena sampai menghentakkan kakinya kasar ke lantai karena kesal.


Arzeus segera menghentikan pergerakan Adena yang terlihat tidak sopan. Saat ia menarik tangan Adena untuk kembali mundur, Arzeus tersentak. Ia seperti mendengar suara seorang wanita berteriak kepadanya. Saat ia melepas tangannya dari Adena, Arzeus menoleh kiri dan kanan mencari asal suara dengan kebingungan.


“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Levi dengan heran. Arro juga hanya memasang raut datar melihat kedua orang itu.


“Maaf, Tuan. Tadi saya mendengar suara seorang wanita sedang berteriak. Karena itu saya terkejut.”


Adena menolehkan wajahnya dengan cepat ketika mendengar jawaban Arzeus. Dengan ragu, ia kembali mengulurkan pergelangan tangannya untuk Arzeus sentuh. Arzeus tentu saja kebingungan. Tapi, Adena sudah lebih dulu menarik tangan Arzeus mengarahkannya untuk memegang tangannya. Saat itu, Arzeus kembali mendengar suara wanita.


“Kau bisa mendengarku?” tanya suara itu. Arzeus kembali mencari asal suara. Tapi, Adena segera menunjuk dirinya sendiri. Arzeus kini paham.


“Tuan, saya bisa mendengar suara Adena,” ucap Arzeus dengan bangga.


Arro tersenyum kecil, “bagus, Arzeus.”


“Apa yang ingin kau katakan Adena?” tanya Arro lagi.


Adena segera menatap Arzeus. Arzeus pun terlihat mengangguk-angguk saat Adena terus menatapnya intens tanpa melepas genggamannya pada pergelangan tangan Adena.


“Adena mengatakan, kekuatan Nona Bella yang berasal dari sihir hitam, tidak bisa untuk menyembuhkan. Karena sihir hitam hanya digunakan untuk merusak dan menghancurkan. Adena menduga kekuatan malaikat Nona Bella lah yang bisa menyembuhkan, artinya, itu hanya bisa gunakan kepada pragma-nya.”


Arro sangat tidak puas dengan jawaban Arzeus. Saat Arro masih memikirkannya, Arzeus kembali bersuara.


“Tapi, selama itu adalah kekuatan malaikat. Semuanya bisa dilatih. Kelak Nona Bella mungkin bisa menjadi ahli healing.”


“Ahli healing?” Arro baru pertama mendengarnya.


“Saya pernah mendengarnya. Kekuatannya lebih hebat dari tabib istana…,” timpal Levi.


“Benar, Tuan. Kekuatan ahli healing, sangat hebat. Selain bisa menyembuhkan luka dari serangan. Ia juga bisa menyembuhkan luka akibat sihir hitam.”


“Kalau begitu, siapa yang bisa melatih Bella?”

__ADS_1


Levi, Arzeus dan Adena saling tatap. Mereka sama-sama menunggu seseorang untuk menjawab pertanyaan Arro.


Arro memijat pelipisnya sambil mendengus, “Jangan bilang kalian belum pernah bertemu siapa pun dengan kemampuan itu,” sergap Arro.


Ya, mereka semua kini tertunduk menyesal. Arro yang kesal, memutar kepalanya untuk menghilangkan ketegangan di lehernya akibat marah.


“Yang Mulia, bagaimana jika melatih Nona Bella untuk mengendalikan kekuatan sihir hitam dan malaikatnya?” usul Levi.


Arro mendongak melihat Levi yang sudah bersemangat. “Bagaimana caranya?”


“Saat merasa pragma-nya sedang terluka, Nona Bella bisa mengeluarkan kekuatannya, bukan?” tanya Levi memastikan.


Arro yang paham maksud Levi, segera menggeleng kuat. “Tidak … kau akan membuat kita terbunuh."


“Ia tidak akan menyakiti anda.”


“Benar, tapi Bella akan membunuh kalian.”


“Saya punya rencana bagus, Yang Mulia,” balas Levi lagi dengan sebuah senyuman licik sambil melirik ke arah Adena dan Arzeus.


Mereka yang di tatap pun hanya bisa menelan salivanya dengan susah. Sepertinya seseorang akan dijadikan tumbal.


...----------------...


Jasmine yang sedang berbincang dengan Bella, segera berdiri ketika melihat Arro menghampiri mereka. Sedangkan Bella tersenyum lebar saat Arro langsung memeluknya. Jasmine yang melihat itu, segera menunduk hormat untuk pamit lalu berjalan ke arah Levi yang juga sedang menunggunya di pinggir taman.


Pandangan Levi lurus ke arah Arro dan Bella. Sangat menyenangkan saat melihat mereka bermesraan di taman itu. Levi tau, mereka sudah melalui banyak hal. Jika membayangkan semua hal yang mereka lalui, Levi sendiri ragu ia bisa bertahan seperti mereka.


“Apa kau sedang iri?” goda Jasmine.


Levi melirik sedikit ke arah Jasmine lalu tersenyum manis, “iya, aku sedang iri. Aku belum bisa menikahimu.”


Wajah Jasmine tentu saja memerah. Jasmine kini melemparkan wajahnya untuk melihat hal lain di sana.


“Ada apa dengan wajah yang merah ini?” goda Levi lagi saat melihat Jasmine menghindari tatapannya.


“Jangan menggangguku. Lagi pula, Aku ke sini bukan untuk dirimu.”


“Iya, aku tau. Tapi aku juga tau, kau sering mencuri pandang ke arahku, kan?” Levi masih belum berhenti. Sangat menyenangkan saat Jasmine mulai salah tingkah.


Jasmine yang juga melihat ke arah Bella dan Arro langsung membeku ketika melihat pasangan itu berciuman di tengah taman di sana, Levi yang menyadarinya langsung menutup kedua mata Jasmine dengan satu tangannya.


Jasmine ingin protes, tapi Levi sudah mendekapnya lalu mengarahkannya berjalan dengan mata yang tertutup. “Jangan lihat mereka. Atau aku akan melakukan hal yang sama,” bisik Levi tepat di daun telinga Jasmine.

__ADS_1


Suara rendah Levi berhasil membuat jantung Jasmine tidak bisa berdetak normal. Setelah Levi melepaskan tangannya dari pinggangnya. Jasmine segera berlari ke arah lain untuk menghindari Levi yang sudah tertawa karena melihat tingkahnya.


...****************...


__ADS_2