DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 7


__ADS_3

Sayup-sayup Bella mendengar suara air yang jatuh setetes demi setetes. Udara yang dingin dan lembab terasa di kulitnya. Aroma dari besi yang telah berkarat juga sangat menyengat. Bella mengerjapkan matanya, mencoba membiasakan cahaya yang menusuk ke indranya.


Bella melihat lampu pijar yang hanya tergantung asal di sana. Sinarnya hanya mampu menerangi seadanya. Ia sedang terbaring di atas permukaan yang keras dengan beralaskan sebuah kain lapuk berwarna hijau tua. Di sebelah kanannya, hanya tembok yang sudah berlumut, sedangkan di kirinya sebuah pagar dari besi dengan satu pintu yang terkunci dengan rantai yang besar. Bella tersadar, dia sedang berada di penjara antah berantah.


Bella bangun dari baringnya, lalu duduk dan memeluk dirinya, ia masih berharap Arro mendengar isi hatinya yang ketakutan. Air matanya sudah mengalir deras tapi ia tidak mengeluarkan suara apapun. Ia takut makhluk itu muncul jika mendengarnya menangis. Tapi, sebuah suara dari depan sana samar-samar terdengar. Bella berbaring kembali, dan menutup matanya, berpura-pura masih tertidur. Lalu langkah kaki-kaki itu berhenti tepat di depan pintu selnya.


"Kenapa tidak membawanya ke Vasíleion?" kata seorang diantara mereka.


"Ini permintaan Yang Mulia Argus," jawab seorang lagi. Tunggu, suara ini seperti tidak asing bagi Bella.


"Ini bukan daerah kekuasaannya, dia pasti sulit menemukan gadis ini."


"Bodoh. Menempatkannya di dunia manusia sama saja mati."


"Zayn, kita tidak punya pilihan apa-apa."


Bella tersentak mendengar nama itu. Tidak mungkin. Zayn yang ramah kepadanya, dan selalu membantunya. Bella yang masih menutup matanya, berusaha sekuat tenaga tidak mengeluarkan suara.


"Aku sudah mengawasinya beberapa minggu. Sudah sepatutnya aku mendapat imbalan"


"Ya. Katakan itu pada Yang Mulia Argus"


"Siapa yang menyangka, Sang Pangeran yang terkenal cacat karena tidak memiliki Pragma ternyata jatuh cinta pada gadis manusia ini."


"Apa kau belum tau? Aku mencuri informasi dari penjaga kerajaan, mereka mengatakan manusia ini adalah pragma sang Pangeran. Bahkan Yang Mulia Argus sendiri yang memerintahkan Abercio membawanya ke sini."


"Hei.. Ayolah. Dia tidak memiliki tandanya. Aku sudah memeriksanya." Zayn sedikit tertawa saat mengatakannya.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Kau pikir kenapa aku mau bekerja di daratan manusia? Itu karena aku harus memastikan dia tidak memiliki tanda sang pragma." Suara Zayn kembali terdengar.


"Hahahaha… kau benar-benar mengincar posisi dewan kerajaan?"


"Hahaha. Kau memang sangat mengenalku"


Bella mendengarkan percakapan itu, dengan banyak pertanyaan. Siapa yang mereka maksud. Apa hubungannya dengan semua ini. Apa mereka salah mengiranya? Dia hanya anak yatim piatu yang sedang berusaha menyambung hidupnya setiap hari.


Lalu Bella hanya mendengar suara langkah kaki-kaki itu menjauh. Ia membuka matanya, bangun dan duduk dengan bersandar kembali di tembok berlumut itu. Jika ia masih hidup sampai bertemu Arro, maka Arro harus menjelaskan semuanya.


Saat Bella masih dengan pikirannya. Ia mendengar suara gaduh dari depan sana. Bella menajamkan pendengarannya. Lalu dia mendengar suara erangan dan jeritan disusul dengan suara seseorang jatuh dengan keras ke tanah, Bella menutup telinganya. Ia tidak suka mendengar suara itu. Entah kenapa seperti sebuah trauma tersendiri baginya.


Bella sudah menangis terisak. Ia masih menutup telinganya rapat-rapat.


"Arro?" ucapnya lirih. Bella refleks memeluk Arro kuat.


"Iya, ini aku. Maaf aku terlambat" Arro membalas pelukan Bella dengan hangat. Dia menenangkan Bella yang masih terisak.


"Arro, kita harus bergegas. Pasukan Argus akan segera datang." Suara Levi di sana menginterupsi.


Arro sadar situasi masih belum aman, membawa Bella ke dekapannya, dan menempatkan satu tangan di punggungnya dan tangan lain di bawah lututnya. "Bella. Tutup matamu. Dan percaya padaku."


Bella menurutinya, dan meletakkan tangannya mengalungi leher Arro. Bella sudah tidak tau lagi dengan alur ritme jantung nya. Apakah karena dia merasa senang bertemu dengan Arro lagi atau karena posisinya dengan Arro sekarang.


Bella yang masih menutup mata, mendengar beberapa kepakan sayap yang saling beradu. Lalu diganti dengan suara jeritan yang saling bersahut-sahutan. Levi banyak berteriak memerintahkan pasukannya untuk merubah arah. Diantara suara yang kacau itu, Bella merasakan angin malam yang semakin dingin. Bella merasa dia sedang terbang lurus kearah langit.

__ADS_1


"Sekarang sudah aman, buka matamu Bell." Perintah Arro yang masih membawanya ke angkasa.


Bella perlahan membuka matanya. Ia melihat di bawah sana pemandangan kotanya yang berkilau seperti hamparan bintang yang indah. Di belakang sana ada Levi yang mengikuti mereka. Bella merasa nyaman dan aman, ia hampir melupakan kejadian buruk tadi.


"Kau akan membawaku kemana?" tanya Bella, ia melihat wajah Arro yang sangat dekat. Bella menelusuri wajah indah itu. Ia rasakan kebahagian dalam hatinya. Kebahagian saat ia bisa mengandalkan orang lain. Saat ia mulai merasa dirinya penting untuk orang lain. Apakah tidak apa-apa merasa bahagia seperti ini? tanya Bella pada dirinya sendiri. Ia takut, Tuhan mengambil kebahagian itu lagi.


Arro tersenyum tipis, ia bisa merasakan Bella memperhatikannya. "Aku ingin membawamu ke kerajaan, tapi situasi belum tenang. Aku akan membawamu pulang dan menjagamu."


"Arro … Apa kau benar-benar mengabaikanku?" ucap Bella pelan dengan nada kecewa.


"Aku tidak benar-benar mengabaikanmu. Aku mengawasimu dari jauh. Hanya saja malam itu, beberapa orang membuatku sibuk, sehingga aku terkecoh. Maafkan aku. Aku tidak mungkin mengabaikanmu." Arro menunduk melihat Bella dipelukannya. Bella tertunduk malu dan mengangguk mengerti.


Saat mereka sampai di halaman rumah Bella. Beberapa orang melihat mereka dengan terkejut dan tidak percaya. Salah seorang wanita diantara mereka sudah berlari sambil berteriak ketakutan. Arro yang menyadarinya meminta Levi membereskannya. Bella yang kaget mendengar perintah Arro, mencoba menghentikan Levi. "Apa maksudmu membereskan mereka?" tanya Bella panik.


"Memangnya apa yang kau pikirkan?" Levi kembali bertanya.


"Kalian tidak bermaksud membunuh mereka, kan?" tanya Bella serius.


"Astaga Bella ... kami tidak berkeliling membunuh manusia begitu saja. Kami hanya menghipnotis mereka untuk melupakan apa yang mereka lihat." Levi menahan tawanya, ia bisa melihat perubahan raut wajah Bella yang melembut.


"Ya, mereka tidak sepertimu yang tidak mempan dengan hipnotisku," ejek Arro.


Bella yang menginggat kejadian itu, menghadap Arro dengan berkata, "Banyak yang ingin aku tanyakan padamu."


Arro mengerti, dia mengangguk ke Levi, dan Levi berjalan menjauh untuk "membereskan" orang-orang itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2