
Saat Levi dan Agnor sudah terbang untuk mencari informasi, Arzeus mendekati mayat wanita-wanita pelayan itu. Ia mencari informasi apa pun yang masih tersisa diingatan mereka sebelum benar-benar hilang.
Mata Arro mengikuti gerak Arzeus yang berpindah dari satu wanita ke wanita lain. Setelah sampai di wanita keempat, Arzeus membelalakan matanya dengan raut wajah yang terkejut. “Yang Mulia, saya tau siapa yang membawa sang Ratu … pria dari kediaman Adena.”
“Lacak dia sekarang!” perintah Arro tegas.
“Baik, Yang Mulia.”
Arzeus segera terbang menuju kediaman Adena di wilayah Kerajaan Aelios untuk mencari tau apa yang terjadi.
Rumah itu sudah porak poranda, tidak ada jejak Adena maupun suaminya. Arzeus sama sekali menemui jalan buntu. Ia segera kembali ke Markas Kerajaan untuk melapor.
Saat tiba di ruang pertemuan, Arzeus melihat sudah ada Levi dan Agnor di sana.
“Bagaimana?” tanya Arro.
“Rumah mereka sudah hancur dan saya tidak menemukan jejak mereka berdua, Yang Mulia.”
Arro yang murka jalan ke arah Arzeus dengan cepat. Lalu menarik leher Arzeus ke atas, “Kau yang membawa kami menemui mereka. Apa kau sudah merencanakan ini?”
Arzeus berusaha bisa tetap bernapas, sambil berusaha menghirup udara di sela-sela cengkeraman Arro di lehernya. “Saya … tidak … mungkin … berani …,” jawab Arzeus terbata-bata.
“Yang Mulia!” seru Levi. “Ini bukan kesalahannya.” Levi memegang tangan Arro yang masih mencekik leher Arzeus.
Arro menghempaskan Arzeus. “Agnor, cari Ardios bahkan ke dunia kematian sekali pun.”
__ADS_1
Agnor akan berucap, tapi suara dari arah pintu ruang pertemuan itu mengalihkan perhatian mereka.
“Yang Mulia ….” Suara Damian yang lemah terdengar. Ia berdiri diambang pintu dengan di sampingnya ada Jasmine yang berjaga, meskipun ia belum bisa berdiri tegak dan masih memegang lukanya yang sudah diperban oleh Jasmine. “Ardios tidak akan ada di dunia kematian, saya tau dia dimana,” lanjutnya.
Damian sedikit terbatuk sebelum melanjutkan kalimatnya, “sebelum terkena serangan terakhir Ardios, saya sempat mencium sesuatu yang aneh. Awalnya saya tidak yakin darimana bau itu berasal. Tapi saat menerpa tubuh Ardios saya yakin dengan bau itu berasal dari tubuhnya. Bau itu berasal dari bunga Eryngium.”
“Bunga Eryngium adalah tanaman berbau menyengat yang digunakan sebagai bahan untuk menciptakan sihir hitam langka. Karena sihir hitam sangat di larang di Dunia Atas, tumbuhan ini hampir tidak ada di wilayah kerajaan mana pun,” jelas Jasmine mengambil alih perhatian mereka yang di sana.
“Apa yang ingin kalian sampaikan?” tanya Arro dengan tidak sabar. Setiap detik sangat berharga untuknya.
Jasmine yang ragu melirik ke arah Levi meminta bantuan. Levi yang menyadari pragma-nya sedang ketakutan, menghampiri Jasmine lalu memberikan anggukan kecil, sebagai isyarat kalau Levi akan melindunginya.
“Dia … adalah Ardios.” Jari telunjuk Jasmine terangkat, menunjuk ke seorang prajurit yang sedang berdiri di samping pintu masuk.
“Kau menggunakan sihir hitam pengganti wujud dengan bunga Eryngium!” teriak Jasmine menuduh.
Prajurit itu yang tadinya hanya berdiam diri, kini menyeringai. “Seharusnya, kau tidak usah ikut campur.” Suara itu … adalah benar suara Ardios.
Setelah mendengarkan jawaban itu, Levi segera mengarahkan prajurit lainnya untuk menangkap Ardios. Sedangkan Jasmine sudah berlari ke belakang, menjauh dari apa pun yang akan terjadi.
Ardios segera melemparkan serangan untuk menjatuhkan semua prajurit yang mendekat. Sangat mudah baginya untuk membunuh prajurit-prajurit lemah itu.
Agnor mengambil kesempatan, ia langsung melancarkan serangan pertama. Ia mengangkat tinggi tongkatnya. Sebuah cahaya tajam berkumpul di ujung tongkat itu. Sebelum Ardios bisa kembali mengeluarkan kabut hitamnya, Agnor sudah melayangkan tongkat itu. Sebuah sambaran cahaya melaju cepat lalu menghantam tubuh di depannya dengan keras.
Ardios memegang dadanya yang terkena serangan. Itu adalah serangan besar dari Agnor, tapi Ardios masih bisa berdiri tegap. Agnor terperanjat, sementara Ardios sudah tersenyum lebar. “Kau pikir, serangan kecil itu bisa mengalahkanku?”
__ADS_1
Levi sudah mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Tapi, Arro menahannya, Levi belum bisa mengeluarkan kekuatan apa pun, Ardios adalah lawan berat untuknya. Ia bisa terluka parah sebelum Ardios tergores kecil.
Arro mengangkat satu jarinya, lalu menunjuk Ardios di depan sana. Ardios yang tidak siap, terkejut saat merasakan dorongan sangat keras. Tubuhnya menghantam tembok di belakangnya hingga tembok itu hancur tidak berbentuk. Apa ini? apakah Ini adalah kekuatan hanya dari telunjuknya?
Mata Arro kembali memerah. Energi yang bergejolak memenuhi ruangan. Angin berdesir hebat tiap Arro melangkah mendekati Ardios. Ardios yang mulai panik mencoba melancarkan serangannya. Ia mengangkat tangannya, lalu mengucapkan sesuatu yang bukanlah sebuah mantra dari kekuatan malaikat.
Gelombang api muncul dari telapak tangannya. Lidah api itu menjilat-jilat semua yang bersentuhan dengannya. “Terbakarlah!” teriak Ardios nyalang. Arro yang melihat pergerakan lidah api yang brutal, sebisa mungkin menghindar.
Agnor tidak bisa tinggal diam melihat Arro kesulitan. Agnor kembali mengangkat tongkatnya, lalu mengarahkan lurus ke arah Ardios, “padamkan semua yang membawa kerusakan!” sebuah kilatan cahaya kembali keluar dari ujung tongkatnya. Berhasil. Jilatan api itu berhasil mengecil tapi belum padam.
Melihat kobaran apinya yang mengecil, membuat Ardios menambahkan tangannya lalu melakukan hal yang sama, mengeluarkan kobaran api yang besar dan membara.
Arro sudah cukup melihat Ardios berusaha mencelakainya. Arro mengangkat jarinya lagi, melakukan gerakan memutar, menutup matanya, lalu menarik napasnya dalam. Cahaya besar berwarna putih menggumpal di sana. Ketika merasakan dorongan kekuatan itu semakin besar, Arro membuka matanya dengan tatapan lurus dan tajam.
Cahaya itu terlempar cepat dan menimbulkan gelombang yang berpendar. Lantai tempat mereka berpijak bergetar hebat. Ketika cahaya itu terlempar, lantai yang dilalui cahaya itu retak dan terbelah karena tidak mampu menopang energi besar.
Mata Ardios membesar ketika gelombang cahaya itu berhasil memadamkan api yang keluar dari telapak tangannya. Ia ingin menghindar tapi terlambat. Ia lagi-lagi terlempar jauh ke belakang, tapi kali ini ia sudah tidak bisa lagi bangun. Ardios memuntahkan darah dari mulutnya. Hidung dan telinganya juga ikut mengalirkan cairan pekat. Wujudnya kini sudah kembali. Wajah dan tubuh Ardios.
Kekuatan itu sangat kuat, seharusnya ia melancarkan aksi sebelum Arro melakukan pemberkatannya. Ardios yang sudah terbaring lemah dengan pendarahan hebat hanya bisa melihat Arro, Levi, Agnor dan Arzeus berdiri mengelilinginya.
Saat tau ajalnya akan tiba, Arzeus masih sempat tertawa mengejek, “kalian tidak akan pernah bisa melawan Argus. Dia jauh lebih kuat.” Ardios kembali terbatuk keras dengan mengeluarkan darah. “Argus, sudah … mengikat perjanjian … dengan … Raja kegelapan.”
Kalimat terakhir Ardios cukup membuat mereka tersentak. Arzeus segera duduk di samping mayat Ardios dan membaca ingatan Ardios. Semuanya, ia mencoba melihat semuanya. Sebelum benar-benar menghilang.
...----------------...
__ADS_1