
Bell pertanda pelajaran pertama berakhir, guru di depan pun mengakhiri materinya dan keluar dari kelas. Bella berbalik melihat Levi yang tetap pada posisinya yang sedang membaca novel pemberiannya.
“Lev, tadi aku tidak sempat beli roti, aku mau ke kantin sebentar, kamu mau makan sesuatu?” tanya Bella.
Levi melepas pandangan pada novelnya lalu menatap Bella, Levi mendengus merasa terganggu. “Nanti aku yang ke kantin,” ucap Levi beranjak berdiri.
Tapi, Levi hanya berdiri di tempatnya, ia seperti sedang mendengarkan sesuatu, tiba-tiba raut wajahnya berubah. Bella yang melihat ekspresi Levi bertanya heran, “Levi, ada apa?”
“Bella, kau punya sesuatu untuk menutup telingamu?” Levi sedikit tergesa-gesa mengatakannya.
__ADS_1
“Aku tidak punya, headsetku rusak dan a-” ucapan Bella terpotong, Levi sudah berjalan menuju meja di sampingnya, ia melihat sebuah headset tergeletak tidak terpakai di atas meja.
“Apa aku boleh memilikinya?” tanya Levi pada Erina, pemilik headset itu. Erina yang melihat senyuman maut Levi tentu saja mengangguk mengiyakan. Tapi Levi tidak repot-repot berterima kasih.
Levi kemudian berjalan ke meja Bella. “Pakai ini!” perintah Levi, “dan jangan pernah keluar dari kelas ini, tutup mata dan telingamu rapat-rapat. Mengerti, Bel?”
“Levi, ada apa?” tanya Bella kini khawatir. Ia tidak tau apa yang terjadi.
Bella mengintip dari jendela kelasnya untuk melihat apa yang akan di lakukan Levi di sana. Bella membelalak terkejut melihat Levi membuka seragam atasnya, hingga ia bertelanjang dada. Para siswa dan siswi tentu saja geger melihat pemandangan itu. Para gadis berteriak histeris entah karena terkejut atau mengagumi tubuh Levi yang terbentuk dengan sempurna. Karena teriakan itu, semakin banyak siswa yang penasaran dan akhirnya ikut berkumpul dan melihat ke arah Levi sekarang. Tidak lebih dari semenit, semua orang di sekolah itu, kini hanya menatap Levi di tengah sana.
__ADS_1
Levi yang sudah merasa cukup menjadi pusat tontonan, melirik ke arah kelas Bella mengisyaratkannya untuk melakukan pesan yang tadi ia perintahkan. Bella mengangguk, ia segera kembali duduk di kursinya lalu memasang headset itu memutar musik sekencang mungkin dari ponselnya, lalu melipat tangannya di atas meja dan menundukan kepalanya di atas lipatan tangan. Ia menutup matanya seerat mungkin. Kelas yang sudah kosong itu meninggalkan Bella yang sendirian.
Levi sudah tidak melihat Bella lagi, artinya ia sudah bisa melakukan aksinya. Ia mengangkat tangannya, matanya sudah berubah menjadi abu-abu terang. Ia menarik napasnya dalam, ia harus memastikan semuanya harus bisa mendengar kalimatnya agar mantranya berfungsi, lalu sebuah kalimat aneh terucap dengan sangat lantang. Seketika itu, semua yang mendengarnya jatuh tidak sadarkan diri.
Setelah Levi merasa yang dilakukannya berhasil, ia segera berlari menemui Bella ke dalam kelas. Ia melihat Bella yang masih dengan posisinya. Tertunduk dan kabel headset yang terjuntai. Levi memastikan Bella tidak terpengaruh mantranya.
“Bel?” Levi menggoyang pelan tubuh Bella.
Bella yang menyadari Levi sudah berdiri di sampingnya, membuka headsetnya. “apa yang kau lakukan tadi?”
__ADS_1
“Jangan khawatir, mereka hanya tertidur. Sekarang, ikut aku!” Levi menarik pergelangan tangan Bella untuk segera keluar dari lingkungan Sekolah. Tapi semuanya sudah terlambat.
...****************...