DIA BUKAN MANUSIA

DIA BUKAN MANUSIA
BAB 27


__ADS_3

Bella terjaga ketika sebuah lengan kekar memeluk pinggangnya erat, seseorang di belakang tubuhnya ikut berbaring dan memeluknya. Bella sudah akan bangun dan marah karena Arro tidak kembali sesuai janjinya. Tapi, tangan kekar itu menahan pergerakan Bella. “Arro?” gumam Bella.


Arro tidak menjawab, ia benamkan kepalanya dalam pelukan itu, menghirup dalam aroma Bella yang sangat memabukkan untuknya. Arro masih belum bisa menerima semua informasi dari Adena.


Bella yang merasakan getaran tubuh Arro yang sedang bersedih dan tangannya yang erat memeluknya, Bella mengerti sesuatu tidak berjalan sesuai rencana Arro. “Apa semuanya baik-baik saja?”


Arro tidak menjawab, ia menarik napasnya dalam sebelum berkata, “Bella, aku mencintaimu.”


Bella tersenyum sambil mengambil jari jemari Arro lalu menautkan dengan jari-jarinya. “Aku tau. Aku juga mencintaimu.”


Arro lalu membalik tubuh Bella agar menghadapnya, sebuah bulir air terjatuh dari sudut mata Arro. “Menikahlah denganku besok. Aku mohon.”


Bella terkejut melihat Arro dengan air matanya di sana. Belum pernah ia melihat Arro selemah ini. “Iya, kita akan menikah besok,” ucap Bella menarik Arro ke dalam pelukannya. Bella ingin menenangkan Arro dari apa pun yang mengganggunya.


Keesokan harinya, Bella terbangun tanpa Arro di sampingnya. Tapi, Jasmine sudah ada di sana sambil memegang seikat bunga cantik. Jasmine yang menyadari Bella sudah terbangun segera menghampiri Bella.


“Bella, upacara akan dilaksanakan dua jam lagi. Masih banyak yang harus kita siapkan.”


Bella sedikit bingung dengan ucapan Jasmine, upacara? Ah, benar. Semalam Arro melamarnya dan hari ini ia berjanji akan menikah. Bella pikir Arro tidak sungguh-sungguh. Wajah Bella bersemu merah, ia masih tidak percaya akan menikah dalam … dua jam.


“Oh dan ini buket bunga dari Yang Mulia Arro. Katanya, selamat ulang tahun untuk sang pengantin wanita,” ucap Jasmine sambil menirukan suara Arro yang berat.


Bella terkekeh melihat tingkah Jasmine. Bella menerima bunga itu lalu menghirup udara segar di bunga itu. Aromanya manis, Bella menyukainya. Setelah meletakkan bunga itu si samping nakas, ia segera menggulung rambutnya ke atas lalu berucap, “jadi, apa yang harus aku lakukan?”


Jasmine tersenyum senang, lalu ia menepukkan tangannya sebanyak dua kali. Dari arah pintu, empat wanita muda dengan pakaian yang lebih sederhana masuk dan memberi hormat kepada Bella.


“Mereka pelayan istana dari Kerajaan Utama. Yang Mulia Arro yang memanggil mereka untuk membantu persiapan pengantin wanita,” jelas Jasmine.


“Salam hormat kami untuk sang Ratu,” kata mereka bersamaan.


Bella sedikit kaget dengan kata-kata itu. Ia masih belum terbiasa. “Ha-hai … aku Bella.”


“Ratu Bella.” Koreksi Jasmine.


“I-iya maksudku seperti itu.” Bella lalu mengusap tengkuknya karena sedikit merasa tidak nyaman.

__ADS_1


“Baiklah, bawa masuk gaun pengantin sang Ratu.”


Salah satu dari keempat wanita muda itu keluar kemudian masuk kembali dengan membawa sebuah gaun mewah berwarna putih tulang. Di bagian depan gaun itu berhias permata berkilauan yang menggantung dan menjalar membentuk pola yang megah namun tidak berlebihan. Sementara di belakangnya dibiarkan terbuka, yang akan menampilkan punggung indah dari si pemakai.


Bella tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Mulutnya sampai terbuka lebar. Sejak kapan Arro menyiapkan gaun mewah itu.


“Nona Bella, silahkan ikut saya untuk membersihkan diri.”


Bella menurut. Sepertinya ia akan membutuhkan lebih dari dua jam untuk bersiap.


...----------------...


Jasmine membawa Bella ke taman tempat ia mendapatkan ingatannya. Taman itu sudah dihias seindah mungkin untuk menjadi tempat pemberkatannya bersama Arro. Di depan sana, Arro sudah memakai setelan tuxedo yang berwarna senada dengan gaun Bella. Rambut Arro juga sudah ia potong pendek, Arro menjadi sangat … sangat tampan. Bella tidak bisa menatap Arro lama, kalau tidak jantungnya akan melupakan irama normalnya. Bella mengalihkan pandangannya, ia melihat Levi berada di belakang Arro, Agnor di samping Levi dan Arzeus berada tidak jauh dari mereka. Bella juga melihat sekitar sepuluh pasukan di beberapa sisi menjaga tempat itu.


Bella sangat gugup tapi ia mencoba untuk tersenyum. Saat itu, ia sangat berharap ia memiliki keluarga yang akan ikut berbahagia untuknya. Tapi tidak ada siapa pun dari dunianya yang akan berbahagia untuk Bella. Mungkin sebaiknya, Bella tidak perlu kembali ke Daratan Manusia.


Arro tidak bisa menyembunyikan kekagumannya melihat Bella dengan gaun pernikahan itu. Rambut Bella diikat sedikit dan rambut lainnya dibiarkan terurai. Sebuah mahkota kecil di puncak kepala Bella. Lalu buket bunga yang ia berikan, sudah Bella genggam. Bella berjalan menuju arahnya seperti sebuah gerakan lambat yang sangat indah. Senyuman Bella menyempurnakan kebahagian Arro. Akhirnya, ia akan memiliki seorang keluarga lagi. Seseorang yang benar-benar akan berada di sisinya. Selamanya.


Arro menyambut tangan Bella. Bisa Arro rasakan tangan Bella sangat dingin. “Apa kau tidak apa-apa?” tanya Arro sedikit khawatir.


“Aku sangat gugup,” gumam Bella sedikit berbisik. Arro lalu menggenggam tangan Bella untuk menyalurkan kehangatan.


Bella tidak tau harus melakukan apa, ia hanya melihat Arro menggores sedikit jari telunjuknya hingga mengeluarkan sedikit darah. Arro lalu memasukan tangannya yang terluka itu ke sebuah wadah yang terbuat dari kristal yang sudah terisi air.


“Silahkan, Nona.” Agnor lalu mempersilahkan Bella.


Bella sedikit takut, tapi ia melihat Arro yang meyakinkannya, Bella lalu mengambil benda tajam itu dan menggores sedikit jarinya, seperti yang dilakukan Arro. Lalu memasukkan tangannya juga kedalam wadah itu.


Lalu Agnor merapalkan sebuah mantra yang Bella tidak tau apa artinya. Bella melihat darah dari jari Arro dan darah dari jarinya menjalar seperti sebuah benang merah yang saling bertaut lalu mengelilingi jari manisnya dan berputar membentuk sebuah cincin di sana. Hal yang sana terjadi dengan jari Arro. Benang merah yang terbuat dari darah Bella mengelilingi jari manis Arro lalu mengeluarkan cahaya kecil sebelum menghilang. Tiba-tiba Bella merasakan sakit di dadanya. Tidak terlalu sakit. Hanya seperti sengatan listrik kecil. Arro juga merasakannya. Lalu, tanda Arro dan Bella yang masih samar itu, berubah menjadi sangat jelas.


“Ritual sudah selesai, Yang Mulia Raja bisa mencium Sang Ratu,” kata Agnor sambil tersenyum kecil dan mundur, memberikan privasi untuk Arro dan Bella.


Bella tidak menyangka akan ada acara ciuman itu. Bella menggeleng kecil kepada Arro, ia sangat malu berciuman dihadapan semua orang. Tapi Arro tidak memperdulikan gelengan Bella. Ia sudah menarik Bella dan menciumnya dalam. Suara tepuk tangan dari mereka yang menyaksikan pemberkatan itu menghilangkan kegugupan Bella. Ia pun membalas ciuman Arro.


Acara yang dimulai pagi hari itu sudah berakhir sebelum matahari meninggi. Tidak ada acara dansa dan sebagainya. Mereka sedang berada dalam situasi peperangan. Apalagi Damian yang masih belum sadarkan diri.

__ADS_1


Setelah mengantar Bella ke kamar untuk berganti pakaian dan beristirahat. Arro kini menemui Agnor, Levi dan Arzeus di kamar yang di tempati Damian. Arro sedikit khawatir melihat Damian yang belum sadarkan diri.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Arro khawatir kepada Jasmine yang sedang memeriksa luka Damian, diatas luka itu, sudah terdapat gumpalan daun-daun yang sudah ditumbuk. Jasmine mempunyai keahlian dengan tanaman obat.


“Lukanya sudah hampir menutup Yang Mulia,” jawab Jasmine.


“Bagaimana dengan Ardios? Kau belum menemukan informasi apa pun?”


“Nihil, entah kenapa Ardios seperti hilang di telan bumi. Saya tidak mempunyai informasi apa pun tentang dia,” jawab Levi.


“Mungkin saya bisa membantu dengan kembali masuk ke ingatan Damian, Yang Mulia. Saya mungkin bisa melihat informasi kecil di sana.”


Arro sedikit menimbang. “Baiklah, tapi jangan mengganggu ingatan yang lain. Aku akan membunuhmu kalau kau mengganggu privasinya,” ancam Arro.


“Saya tidak mungkin berani, Yang Mulia.”


Arro lalu memberi akses Arzeus untuk mendekati tubuh Damian. Ia meletakkan jarinya tepat di atas kepala Damian lalu menutup matanya.


Hanya beberapa menit, Arzeus sudah kembali membuka matanya. Ia memegang janjinya, ia hanya melihat apa yang terjadi saat itu. “Seperti kata Tuan Agnor, Ardios memakai sihir hitam juga, Yang Mulia.”


“Hanya itu yang kau lihat?”


“Benar, hanya itu, Yang Mulia. Setelah mengalahkan pasukan bertopeng hitam, Damian membantu Tuan Agnor tapi terkena serangan di dadanya, setelah it—”


“Tunggu.” Levi menginterupsi kalimat Arzeus. “Kau bilang topeng hitam?”


Arzeus mengangguk takut.


“Yang Mulia, pasukan Abercio juga waktu itu memakai topeng hitam. Jangan-jangan … itu adalah sebuah ….” Levi menggantung kalimatnya.


“Bella,” gumam Arro panik. Ia melihat mereka semua berada di sana. Tidak ada yang menjaga Bella di kamarnya. Arro langsung bergegas menuju kamar Bella. Semua yang berada di sana juga langsung ikut berlari di belakang Arro.


Mata Arro membelalak ketika melihat keempat pelayan yang harusnya membantu Bella sudah tergeletak tidak bernyawa di sekitar kamar yang sudah berantakan itu. Arro seperti kerasukan, ia berteriak keras hingga memecahkan semua benda kaca di kamar itu. Lampu hias kristal yang bergelantung ikut jatuh dan pecah menghantam lantai yang keras.


Netra Arro berganti warna. Merah sepekat darah. Aura gelap hitam berkecamuk mengelilingi Arro. Jelas kekuatan Arro sudah sempurna. “Temukan Bella atau aku akan memenggal kepala kalian semua!”

__ADS_1


“Baik, Yang Mulia!” jawab mereka semua serentak.


...****************...


__ADS_2