Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Khawatir


__ADS_3

"Akh!!" teriak Wita meringis dan kedua orang itu menghentikan perdebatannya.


"Wit kamu kenapa?" tanya Nawa dari atas pohon karena pekikan Wita barusan.


"Gak aku gak papa," Wita menggeleng berekspresi seolah-olah tidak terjadi apa-apa tapi apa daya saat ini tangannya sakit jadi ia memegang tangannya yang sakit dengan tangan kanannya yang tidak sakit.


"Apanya yang gak papa itu kamu kayak kesakitan banget," kata Nawa yang saat ini sudah turun dari atas pohon begitu juga Raka.


Wita tidak menyahut ia diam saja karena saat ini tangannya benar-benar sakit dan ia ingin meninggalkan teman-temannya itu agar mereka tidak tahu kalau saat ini tangannya sakit.


Tapi tiba-tiba Raka memegang tangannya yang sakit dan Wita meringis saat itu Raka juga melihat lecet ditangan Wita dan menatap tidak percaya ia bahkan tidak menangis dan tidak bersikap alay seperti anak perempuan lain yang kebanyakan pasti saat ini mengeluh.


.


.


.


"Harusnya lo itu hati-hati!" ucap Raka saat ini sedang mengobati luka Wita di UKS.


Awalnya Nawa yang ingin mengobati tapi Raka ingin dia yang mengobatinya dan kebetulan saat ini Nawa sudah pergi mendatangi klub menyanyi karena mereka semua disuruh untuk berkumpul dan ia benar-benar merasa tidak enak hati meninggalkan Wita tapi Wita bilang tidak apa-apa bila dia pergi karena ada Raka yang mengobatinya dan akhirnya Nawa mempercayakan semuanya kepada Raka dan melupakan pertengkarannya tadi.


Wita awalnya menolak kalau Raka yang mengobati tapi Raka bersikeras agar dia yang mengobatinya dan kebetulan Nawa juga tidak bisa mengobatinya karena harus kumpul klub.


"Shhht!!" ringis Wita saat revanol mengenai lukanya dan membuat Raka tidak tega.


"Makanya jangan manjat-manjat lagi, kalau gak mau nyusahin orang," kata Raka dingin.


"Kalau kamu gak ikhlas nolongnya kenapa gak Nawa aja yang ngobatin aku tadi, lagi pula luka segini mah biasa aja bagiku sebenarnya kadang-kadang gak ku apa-apain malahan dan ini pertamakalinya aku diobatin sama obat pembersih luka ini makanya aku kaget, ternyata pantas aja orang terluka terus dikasih ini meringis ternyata perih," kata Wita dan membuat Raka menarik nafas pasrah karena kehabisan kata-kata.


"Tapi lo kayak gini buat orang khawatir aja tau." jelas Raka terucap begitu saja dari hatinya yang paling dalam.


Wita saat ini sedang menahan rasa malunya dan berusaha tidak salah tingkah dan berusaha mencairkan suasana.


"Wah, kamu ternyata pintar yah ngobatin luka orang," kata Wita menghilangkan kecanggungan.


"Ini tuh hal yang biasa aja," kata Raka dan akhirnya selesai mengobati Wita walaupun hanya luka lecetnya yang dia beri obat karena Raka tidak bisa mengurut tangan Wita yang terkilir.


Ckk, kok bisa sih gue khawatir banget sama dia apa sih yang salah, seharusnya tadi itu gue bersikap manis sama dia kemudian membuat dia tertarik dan akan gue sakitin dia sebagai kesenagan. Tapi..gue gak tega sama dia kenapa bisa. Apaan sih harusnya gue tuh gak boleh kek gitu sadar Ka dia itu cuma gadis kampung yang gak selevel sama lo. Batin Raka beradu kemudian ia seolah tidak peduli dan berjalan membuntuti Wita menuju kelas.


Wita. Batinnya kemudian tersenyum tipis tanpa ia sadari.


Hari itu Pak Bowo mengumpulkan seluruh siswa siswi untuk mengadakan perkemahan sabtu minggu yang diadakan besok, mendadak memang tapi kata pak Bowo itu sebuah kejutan dan ia pun membagikan surat pengizinan untuk orang tua supaya memberikan izin pada anaknya untuk melakukan perkemahan.


Jam pulang pun berbunyi.


"Wita!" teriak Nawa dari belakang karena saat ini Wita sedang berdiri didepan pagar sekolah menunggu Nawa sedangkan Raka dia asik membaca buku di depan pos satpam tidak jauh dari Wita sambil mendengarkan musik dengan earphonenya.

__ADS_1


"Nah ini dia orang yang ditunggu," kata Wita tersenyum kearah Nawa.


"Wit, maaf yah aku gak bisa pulang sama kamu, hari ini klub ku lagi ngumpul jadinya kamu gak papakan pulang sama Raka." jelas Nawa.


"Gak papa sih," kata Wita melihat ke arah Raka.


"Udah gak papa, kuatkan hatimu jangan baperan oke! Kamu harus terbiasa mulai sekarang," kata Nawa berbisik ditelinga Wita.


"Oke!" semangat Wita sebenarnya Wita sudah sering pulang dengan Raka tapi tidak pernah hanya berdua dari sekolah karena biasa mereka selalu bertiga tapi Nawa hari ini harus pulang telat.


"Oy!" teriak Wita dari depan gerbang sekolah tapi Raka tidak mendengar kemudian Wita mendatanginya dan menarik headshet yang berada diteliga Raka dan membuat Wita menatapnya dan membuat Wita harus menahan perasaannya sekarang.


"Kata Nawa dia gak bisa ikut pulang sama kita, jadi dia nyuruh kita pulang duluan." ucap Wita menjelaskan.


"Bagus kalo gitu," kata Raka.


"Loh apa yang bagus?" tanya Wita pada Raka kemudian Raka hanya menggeleng tidak ingin melanjutkan kata-katanya tadi.


Diperjalanan pulang Wita terlihat murung dan tampak tidak bergairah dan semangat.


Semoga gak ada yang salah sangka. Batin Wita.


"Lo kok murung kayak gitu?" tanya Raka dan Wita tidak menjawab ia asik dengan khayalannya sendiri.


Ckk,apa sih yang dipikirin cewek aneh ini. Gue bahkan gak pernah sama sekali dikacangin cewek dan biasanya malah gue yang kacangin cewek tapi sekarang, berani-beraninya dia. Batin Raka geram karena dikacangin.


"Jangan pegang-pegang!" ucap Wita refleks memukul tangan Raka dengan tangan kirinya yang sakit.


"Aww!" suara Wita kesakitan, ia yang memukul dan ia pula yamg kesakitan.


"Lo kenapa sih dari tadi melamun melulu?" tanya Raka.


"Gak papa," kata Wita menjawab pertanyaan Raka.


Irit banget omongnya nih cewek, biasanya selalu gue yang irit ngomong kenapa sekarang terbalik. Batin Raka memikirkan seolah-olah keadaannya terbalik sekarang.


Kemudian ada anak kecilĀ  laki-laki yang datang dengan wajah celemotan kearah Raka.


"Kakak! Kakak! Beliin pelmen," kata anak kecil itu meminta pada Raka dengan menarik-narik celananya dan Raka merasa jijik kemudian mendorong anak kecil itu dan anak kecil itu menangis.


"Uwaa!" tangis anak kecil itu.


"Ih nangis lagi," kata Raka seolah-olah tidak perduli.


"Mana sih orang tuanya?" kata Raka hanya melihat anak itu menangis.


"Raka kamu apa-apaan sih sama anak kecil kayak gitu, tega amat gimana nanti kamu kalau punya anak, apa anakmu mau kamu kayak giniin?" ucap Wita memarahi Raka ia kecewa.

__ADS_1


"Ternyata benar jangan pandang orang itu dari luar tapi liat dalamnya, kamu memang yah bisa dibilang keren dari luar tapi gak tahu deh dalamnya," kata Wita sambil mengelap mulut anak kecil yang celemotan itu dan Raka hanya memandangnya tanpa berkata-kata.


"Adik jangan nangis lagi yah, nanti kakak beliin permen tapi kakak mau tanya dulu mana ibu adik?" tanya Wita lembut kemudian menggendong anak kecil itu dan anak kecil itu berhenti menangis dan menunjukan dimana ibunya, Wita saat itu tidak perduli pada Raka.


Sedangkan Raka saat ini mencerna perkataan Wita dan hanya membuntutinya.


"Sesuai janji kakak ini kakak kasih permen, tapi adik jangan jauh-jauh dari ibu lagi yah, bahaya!" saran Wita kepada anak kecil itu dan dia mengangguk paham kemudian Wita menasehati ibunya agar berhati-hati menjaga anaknya.


Wita pergi dengan senyuman cerahnya meninggalkan anak dan ibunya itu.


Diperjalanan pulang Wita tidak menegur Raka karena masih marah tampaknya tangannya mulai bertambah sakit tapi Wita hanya diam saja, saat itu Raka memerhatikan Wita ia tahu saat ini Wita sedang kesakitan karena dari tadi ia memijat-mijat tangannya.


"Apa tangan lo tambah sakit?" tanya Raka khawatir dan ingin memegang tangan Wita tapi Wita menangkisnya.


"Apa lo masih marah sama kejadian tadi?" tanya Raka.


"Kalau gitu gue minta maaf, gue gak bakalan kayak gitu lagi," kata Raka membuat janji Wita mengernyitkan keningnya.


"Sebenarnya gue gak pernah sama sekali bermain sama anak kecil." ungkap Raka.


Wita masih diam tapi saat ini Wita sepertinya tidak marah lagi dengan Raka karena Raka sudah mengakui kesalahannya dan ingin berubah, begitulah Wita ia bila marah dengan seseorang hanya sebentar tidak bisa lama-lama ketika marah.


Kenapa rasanya gue gak suka kalau liat Wita marah sama gue, dari ekspresinya ada sesuatu yamg membuat gue ngerasa gak nyaman, kenapa gue bisa ngerasain hal ini, Perasaan apa ini. Gue gak pernah rasain hal ini, kenapa gue ngerasa takut kalau Wita marah sama gue. Batin Raka dan membuatnya murung seperti menyesal.


"Wit gue minta maaf." ucap Raka benar-benar menyesal.


"Udahlah Raka, aku bukan marah gara-gara itu kok tadi itu tanganku sakit banget jadinya aku gak bisa jawab kamu aku juga minta maaf aku gak terlalu fokus sama perkataanmu tanganku sakit banget soalnya ini," kata Wita tersenyum menahan sakit sambil memegang tangannya yang sakit.


Syukurlah. Batin Raka lega.


"Wit makanya mulai sekarang lo itu harus hati-hati jangan kayak anak kecil lagi lo itu sudah dewasa," ceramah Raka dan Wita hanya menaggapinya dengan tersenyum.


"Aku hanya suka melakukan hal seperti itu, sebenarnya aku cuma ngilangin rasa bosan aja." jelas Wita menjelaskan kenapa ia senang bersikap seperti anak kecil.


"Tapi tangan lo udah gak apa-apa?" tanya Raka.


"Masih sakit sih, tapi kayaknya udah mendingan deh cuma tadi tergerak aja makanya sakit." jelas Wita tak terasa mereka sampai ditempat mereka terpisah.


"Gue pulang dulu yah, hati-hati dijalan!" ucap Raka berpesan pada Wita.


"Oke!" Wita mengacungkan jempolnya meyakinkan Raka bahwa dia akan hati-hati dan tidak akan membuat khawatir kemudian ia meneruskan perjalanan pulangnya.


Diperjalanan pulang mereka terhanyut dengan pemikirannya masing-masing.


Wita yang merasa bahagia sepertinya sekarang Wita sudah menaruh perasaan pada Raka dan berhasil move on dari Dava buktinya sekarang ia sudah tidak merasakan perasaan apa-apa lagi saat dekat dengan Dava tidak seperti dulu.


Sedangkan Raka ia sedang memikirkan bagaimana cara menjalankan akal liciknya.

__ADS_1


__ADS_2