
Setelah kejadian tersesat di hutan Raka dan Wita menjadi semakin akrab mereka sekarang menjadi teman dekat.
Raka merupakan teman pria pertama Wita setelah sekian lama ia tidak pernah dekat dengan pria.
Mereka begitu akrab seperti sahabat dan sekarang Wita juga bisa bersosialisasi dengan teman-teman sekelasnya.
Wita juga terkadang berbincang-bincang dengan beberapa orang pria termasuk Dava orang yang pernah Wita sukai walaupun sekarang ia sudah tidak merasakan perasaan itu lagi ketika bersama Dava. Perasaan suka Wita terhadap Dava telah menghilang.
***
"Wit, gue kangen sama Putri. Gimana saran lo buat gue?" tanya Raka pada Wita di sela-sela kesibukannya merapikan buku pelajarannya.
Ketika itu jam istirahat pertama baru berbunyi dan Wita yang juga merapikan bukunya terhenti sejenak dan menatap Raka bingung kemudian melanjutkan pekerjaannya, sambil memberikan saran.
"Kalau kamu kangen sama dia. Datangin dia dong, kenapa emangnya? Wah-wah kayaknya ada yang 'meriang' nih, merindukan kasih sayang. Eh maksudnya kangen sama pacar. Hehe," kata Wita kemudian tertawa kecil ia memang punya perasaan pada Raka tapi ia sadar cinta tidak selalu harus memiliki dan ia akan selalu mendukung apa keinginan Raka selama itu baik dan tidak seperti sebelumnya.
"Wit gue serius tau nanyanya." protes Raka dan Wita menanggapinya hanya dengan tersenyum dan telah selesai merapikan buku pelajarannya yang tadi berantakan di atas meja.
"Iya-iya aku tau, umm... menurutku sebaiknya secepatnya kamu temuin dia deh dari pada kamu tambah kangen. Gimana kalau besok aja kamu berangkatnya, kebetulan kan besok kita udah mulai liburan selama seminggu tuh atau nggak kamu tentuin aja hari mana yang pas buat ketemu sama dia, intinya dalam minggu ini kamu sebaiknya bertemu dia." saran Wita kepada Raka dan Raka ia mengangguk paham.
"Lagian ngapain kamu minta saran sama aku coba, kan kamu bisa memikirkannya sendiri?" tanya Wita.
"Gak papa, entah mengapa rasanya kalau gue mikirin dia, otak gue jadi buntu." jelas Raka, terlihat dari raut wajahnya ia begitu menyayangi pacarnya membicarakannya saja ia begitu senang, jarang sekali Raka memasang ekspresi itu bahkan mungkin tidak pernah.
"Oh, kamu benar-benar cinta mati yah sama dia. Aku mau nanya nih seandainya..." ucapan Wita terpotong.
__ADS_1
"Entahlah Wit, gue gak bisa bayangin, sebaiknya kamu gak usah lanjutin perbincangan ini," kata Raka tampaknya dia menjadi murung ketika Wita bertanya seperti itu walaupun Wita belum sempat menyelesaikan pertanyaannya tapi Raka tahu apa yang ingin di katakan Wita, ia sangat takut memikirkan hal itu terlebih ia sekarang mempunyai firasat tidak enak tentang pacarnya, pacarnya tidak dapat ia hubungi. Tapi, dengan keras Raka menepis pemikiran buruknya.
"Maaf Raka kalau tadi pertanyaanku membuatmu sedih," kata Wita pada Raka menyesal dan merasa begitu bersalah ia tidak menyangka jika perkataannya yang bahkan tidak selesai itu dapat membuat Raka begitu murung. Wita sekarang menyadari betapa berartinya kekasihnya itu bagi Raka.
Beruntungnya gadis itu. Batin Wita, ia tersenyum memikirkannya.
"Iya gak papa, tapi gue ada satu pertanyaan nih buat lo. Emang kapan lo punya pacar?" tanya Raka dan pertanyaan ini membuat Wita kaget dan membuat Wita tertunduk malu.
"Ngapain coba kamu nanya kayak gitu ada-ada aja deh, gini yah prinsipku aku gak mau pacaran dan gak akan pernah pacaran lagian apa untungnya sih pacaran, kalau sakit hati gimana?" ucap Wita spontan sambil tersenyum malu dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali karena sebenarnya saat ini dia sedang salah tingkah. Ia tidak menyangka Raka akan menanyakan hal itu pada dirinya.
"Woyy!!!" teriakan Nawa yang tiba-tiba datang membuat Wita dan Raka menatapnya heran.
"Lagi cerita apaan nih? Kayaknya seru banget deh boleh tau gak?" tanya Nawa keingintahuannya memuncak.
"Menjelaskan pelajaran," kata Raka sambil meremas tangan Wita dan refleks Wita memukul tangan Raka karena kaget disentuh tiba-tiba.
Plak!
Bunyi pukulan tangan Wita kepada tangan Raka.
"Jangan sentuh-sentuh!" ucap Wita kesal dan Nawa hanya menatap mereka heran.
"Iya-iya." ucap Raka mengelus tangannya tampaknya pukulan Wita tadi membuat tangannya perih terlihat sekarang tangannya memerah.
"Ada apa ini sebenarnya? Aku pengen tau Wita jelasin dong ke aku," kata Nawa minta penjelasan sedangkan Raka mendelik tajam ke arah Wita dengan tatapan 'Jangan beritahu dia atau lo akan tau akibatnya' sedangkan Wita meringis melihat tatapan Raka.
__ADS_1
"Kamu ngancam Wita?" tanya Nawa sebal.
"Siapa yang ngancam, aku cuma tidak ingin loh tau pembicaraan gue sama Wita." jawab Raka. Mereka berdua mulai beradu mulut lagi dan Wita hanya menanggapi mereka berdua dengan senyuman tidak jelasnya.
Biasanya bila Raka dan Nawa bertemu seperti ini mereka akan berdebat hal yang tidak penting sedangkan Wita hanya akan mendengarkan sesekali menjadi hakim mana yang betul dan mana yang salah. Atau hanya sekedar senyum-senyum menanggapi pertengkaran Raka dan Nawa yang tidak pernah akur.
"Ka, Raka!" teriak seorang pria dari depan pintu kelas dan ternyata itu adalah Ansal dia mengajak Raka untuk bermain basket bersama.
Sedangkan Wita dan Nawa kemudian berbincang tidak perduli hal yang tadi terjadi karena ulah Raka Nawa tidak jadi ingin tahu hal yang sebenarnya.
Nawa memberitahukan Wita ketika liburan ini rencananya dengan Wita untuk bersama tidak akan terjadi, dia harus pergi ke rumah neneknya di luar desa selama liburan. Dan pada akhirnya membuat adegan perpisahan dimana saat ini Nawa dan Wita sedang berpelukan. Raka, saat ini ia hanya menatap mereka dan memutar kedua bola matanya malas.
Raka akhirnya memilih untuk meninggalkan mereka berdua mendatangi teman pria yang lain karena pada saat seperti itu ia sadar pasti ia tidak akan dihiraukan mereka berdua dan juga karena saat ini ia juga dipanggil oleh teman-teman prianya.
Seandainya sifat Raka seperti dulu pasti dia tidak akan pernah mau bergaul dengan orang-orang di kelasnya tapi karena saran dan motivasi dari Wita akhirnya ia bisa bersosialisasi dengan teman sekelasnya begitu juga dengan Wita yang sekarang ia juga sudah bisa bersosialisasi dengan orang-orang di kelasnya.
Di dalam kantor terlihat pak Bowo tersenyum sumringah.
"Ternyata rencana saya berhasil untuk membuat anak kelas itu menjadi teman," gumamnya.
Kemudian ia tertawa dan guru di kantor itu menatapnya heran kemudian pak Bowo membenarkan posisi duduknya. Sembari memasang wajah seriusnya lagi.
Ternyata ada kamera tersembunyi disudut kelas XI Ipa 5, selama ini pak Bowo selalu memantau mereka dari jauh, memantau apakah rencana yang ia terapkan berhasil atau gagal dan ternyata rencananya berhasil di akhir semester 2 ini.
Tak terasa akhirnya bel pulang sekolah hari itu berbunyi dan mengakhiri pelajaran hari itu dan akan memulai pelajaran lagi pada minggu berikutnya.
__ADS_1