Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Aku dan Kamu


__ADS_3

.


.


.


Wita saat ini tengah terkapar di meja kamarnya. Tampilannya acak-acakan. Terlihat berbagai macam berkas  berserakan di atas meja bahkan di lantai sekalipun juga.


Layar komputernya terus menyala, sedangkan orangnya tengah tertidur pulas.


.


.


.


Brak!!!


Nawa membuka kamar itu tidak santai, sedangkan Wita ia tidak bergeming sama sekali dari tidurnya.


"Lihat!" Nawa menunjuk ke arah Wita yang tengah tertidur pulas di mejanya. Wajahnya begitu kelelahan, "Dia bahkan tidak menyadari keberadaan kita," kata Nawa berucap.


Wita saat ini merasakan kehadiran seseorang didekatnya tapi ia tidak perduli dan berpikir, mungkin itu hanya Nawa yang sedang mengomelinya. Ia tidak mendengarkan ucapan Nawa, masa bodo batinnya.


"Ekhm!!" suara bariton yang begitu tak asing terdengar di telinga Wita. Ia tidak pernah membawa laki-laki masuk ke kamarnya sekalipun.


Hal ini jelas langsung membuat Wita terbelalak kaget. Ia langsung bangun dengan cepat dan melupakan kursi yang di dudukinya tidak ada sandarannya, ia pun terjungkal jatuh.


"Aww!!" Wita merintih sakit.


Sangking mengantuknya ia tetap tidak menyadarinya siapa orang yang telah menolongnya untuk bangun dan membawanya ke kasur.


Yang ia lihat hanyalah Nawa.


"Wa, kapan kamu pulang?" Wita bertanya sambil mengucek matanya, mengelap mulutnya yang beriler dan menguap tidak sopan.


Ia tidak menyadari orang yang duduk di sampingnya.


"Kau tidak menyadari kehadiran seseorang?" tanya Nawa.


"Eh?!" Wita bingung dan langsung terlonjak kaget saat menyadari Raka ada di sampingnya.


"Se-sejak kapan?" tanya Wita masih bingung berharap saat ini ia hanya bermimpi.


"Dia ada di depan kos sejak dua jam yang lalu, dan juga orang yang mengangkatmu ke kasur ini." jelas Nawa sedangkan Raka hanya mengangguk.


"Benarkah?!" Wita benar-benar belum mengumpulkan seluruh nyawanya.


"Wita, sebaiknya kamu pergi tidur." kata Raka.


"Ta-tapi, pekerjaanku belum selesai." jelas Wita menunjuk berkas-berkasnya yang terbilang berantakan.


"Dia sudah seperti ini sejak empat hari lalu mungkin baru hari ini ia tertidur." jelas Nawa prihatin pada Wita.


"Aku merasa bersalah karena tidak bisa membantunya," jelas Nawa merasa dirinya tidak berguna untuk sahabatnya itu karena ia juga memiliki kesibukan yang tidak kalah merepotkannya dengan Wita. Nawa menyiapkan keperluan pernikahannya dengan Ansal.


"Kau juga Raka, kau tega memberikan tugas kantor yang menumpuk pada Wita. Kamu tahu dia ini orangnya gak pernah bisa menolak permintaan orang lain. Dan lagi ia harus menyelesaikan tugas laporan-laporan kuliahnya," kata Nawa.


Sedangkan Wita ia saat ini tengah berlari ke kamar mandi mencuci muka.


"Hoam!!" Wita menguap saat keluar dari kamar mandi.


"Wit, sebaiknya kamu pergi tidur." kata Raka.

__ADS_1


"Ta-tapi--" kata Wita terpotong.


"Tidak ada tapi-tapian biar saya yang mengambil alih pekerjaan kamu sekarang, kamu sebaiknya tidur." kata Raka tidak mau di bantah. Wita tidak bisa berkata apa-apa otaknya buntu saat ini, bahkan untuk berbicara dengan Raka pun ia bingung memulai darimana, ia sungguh mengantuk. Dan Wita hanya menurut.


Ia langsung membaringkan diri di atas kasur tidak sampai sepuluh menit ia sudah tertidur dengan pulasnya.


"Bos boleh kau ambil  alih juga pekerjaanku," kata Nawa meminta.


"Kamu selesaikan sendiri apa pekerjaanmu," kata Raka datar.


"Cih!" Nawa pergi meninggalkan Raka, jelas pria itu tidak akan perduli padanya. Toh ia melakukan itu semua hanya karena Wita, karena Raka menyayangi Wita.


.


.


.


"Hoam!!!" Wita bangun dari tidur nyenyak nya. Raka sedang asik duduk di kursi tepat di samping Wita, tampaknya ia sedang membuka-buka sesuatu. Lebih tepatnya ia menggeledah hp sekaligus buku diari Wita.


Wita menatapnya bingung, wajah pria itu begitu datar entahlah Wita tidak bisa menebaknya karena apa. Ia tidak mungkin marah hanya karena ia membaca buku diari Wita dan hpnya. Karena di kedua benda itu tidak pernah menyebutkan laki-laki manapun selain tokoh-tokoh anime yang di sukai Wita.


Wita itu tidak punya catatan hariannya mungkin ada tapi hanya sedikit, hanya saja di buku diari kesayangannya itu di penuhi oleh stiker-stiker tokoh anime yang disukainya bahkan lengkap dengan biografinya.


"Wita," panggil Raka yang menyadari Wita sudah bangun.


"Umm, kenapa?" jawab Wita.


"Kapan hari ulang tahun tokoh anime ini, kesukaannya dan hobinya?" tanya Raka. Dengan sigap dan tanpa ba-bi-bu Wita menjelaskan begitu lancar bahkan tidak gagap sama sekali.


"Kalau ulang tahun saya, kesukaan, dan hobi saya kamu tahu?" tanya Raka.


"E...itu-," Wita berpikir keras dan dia menyerah ia tidak tahu sama sekali.


"Dia udah pulang," kata Raka datar.


"Apa? Jadi kita cuma berdua," Wita kaget.


"Kenapa? Lagipula saya belum berbuat apa-apa sama kamu." jelas Raka.


BELUM katanya. Sontak Wita melemparkan bantal ke wajah datar pria itu.


"Awas kamu kalo macam-macam," kata Wita jengkel. Raka hanya diam.


"Oke, karena kamu tidak tahu ulang tahun saya. Mulai hari ini, buku ini saya sita," kata Raka menampilkan buku di tangannya.


"A,-" Wita merengek kehabisan kata-kata.


Yang salah itu dia sudah gak sopan main buka-buka diari orang dan ponsel orang sembarangan kok malah aku yang di hukum. Batin Wita merasa tidak adil.


"Memang kamu tau tanggal lahir hobi dan kesukaanku?" tanya Wita membela diri.


"Kamu lahir tanggal 25 juli, hobi nonton anime," Raka memasang wajah datar saat menyebut kata anime mungkin ia cemburu dengan Wita yang lebih tertarik dengan anime ketimbang dirinya.


"Sebenarnya aku tidak percaya orang seumuran kamu masih suka anime," kata Raka.


"Mending mana daripada aku ngeliat cowok-cowok ganteng di drakor terus nanti ada yang aku suka," kata Wita membela diri.


"Mending nonton anime saja kamu," kata Raka mengambil kesimpulan setidaknya Wita tertarik dengan tokoh anime yang tidak hidup ketimbang yang hidup. Yang tidak hidup saja ia cemburu apalagi yang hidup.


"Beruntung aku memang tidak tertarik dengan drakor," kata Wita tersenyum.


"Trus kesukaanku apa?" Tanya Wita lagi, karena ini benar-benar jarang orang tahu.

__ADS_1


"Dan kesukaanmu itu suasana yang menenangkan, tampaknya kalau dari makanan kamu lebih suka yang mengenyangkan, kamu itu suka bergaul sama siapa aja,--" dan banyak lagi yang di sebutkan pria itu tentang Wita yang semuanya tepat entah darimana pria itu tahu, dan jelas hal itu membuat Wita merasa bersalah tidak mengenal Raka seperti Raka mengenal dirinya.


Stalker ya. Batin Wita takut pada Raka sampai sedetail itu.


"Iya aku mengaku, aku gak kenal kamu. Umm, kalo gitu boleh pinjam handphonemu. Boleh gak? Kalau gak boleh gak papa sih aku gak ada hak juga kan," kata Wita dan sekarang ponsel Raka ada di depannya.


Wita mengambilnya dan memeriksa ponsel itu, tidak ada apa-apa. Satu hal yang membuat Wita tersipu tidak sengaja ia membuka foto yang tampaknya tersimpan rahasia di hp itu.


"Kapan?" Wita menunjukkan foto dirinya saat SMA tengah menutup mata di bawah pohon belakang kelasnya. Raka salah tingkah maksudnya ia ingin menyembunyikan foto itu sebagai simpanan pribadinya tapi ternyata Wita menemukannya. Raka tidak menjawab membuang muka ke arah lain.


Wita tidak marah, malahan senang. Kemudian Wita mengambil hpnya dan memanggil Raka untuk mengarah menghadapnya dan saat Raka menoleh Wita memotretnya.


"Hasil yang sempurna," kata Wita sambil tersenyum senang.


"Ini foto pertamamu," kata Wita.


"Yah, tapi itu jelek banget dan gak bergaya." kata Raka.


"Cowok yang aku sukai itu gak mesti harus tampan, tapi aku butuh hatinya." Wita menunjuk dada Raka.


"Baiklah," Raka tersenyum mengalah, merasa benar apa yang di katakan Wita.


"Dan menurutku foto ini cukup tampan, lagi pula memang kamu itu kalo di ambil gambar dari sudut mana aja memang tampan." gumam Wita mengucapkan kenyataan.


"Iya dong," kata Raka. Kata-kata menambah kepercayaan dirinya.


"Wita bisa tolong ucapkan sekali lagi," pinta Raka tapi Wita enggan mengatakannya. Wita merasa terlanjur malu oleh kata-katanya sendiri.


"Males," ketus Wita.


"Raka tolong jaga baik-baik buku itu selama sama kamu, soalnya bukan karena terlalu suka atau apa. Ngumpulin stikernya itu loh lama banget." Wita berucap pelan-pelan sambil memain-mainkan kakinya yang menjuntai ke lantai.


"Tenang buku ini aman dan akan kembali saat kamu sudah tahu tentang saya," kata Raka.


"Siap bos! saya akan berjuang mengetahui siapa bos," kata Wita hormat sambil tersenyum ceria, ia benar-benar ingin tahu pria itu. Raka bagi Wita masihlah orang yang misterius.


"Sebenernya saya merasa cemburu dengan tokoh di kartun ini bisa-bisa cewek yang saya suka bisa kenal banget sama tokoh ini di bandingkan kekasihnya sendiri," kata Raka berucap sambil menatap buku itu.


"Bahkan di hpnya fotomulah yang paling banyak ketimbang foto saya, bahkan foto saya gak ada," Raka menghela nafas menatap gambar tidak hidup itu maksudnya berbicara begitu hanya ingin sedikit menyinggung Wita yang ibaratnya tidak mengerti dirinya.


"Ka-Ka, tenang aja aku masih suka cowok 3d kok, dan orangnya itu kamu." kata Wita tertawa.


"Lagian aku masih normal," kata Wita sambil tersenyum.


.


.


.


Hubungan yang dijalankan dengan kejujuran dan saling terbuka, menjelaskan setiap perasaan yang ada di hati mampu mempertahankan sebuah hubungan yang sedang terjalin.


Hanya saja perusak hal ini adalah orang yang di sebut orang ketiga, dan saat ia muncul hanya ada satu pilihan yaitu saling percaya.


Percaya pada hati bahwa perasaan yang dimiliki tidaklah berubah kelain hati dan hanya untuknya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2