Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Semua Telah Terungkap


__ADS_3

Setelah mendapat saran dari Wita Raka pun pergi ke kota, berniat untuk menemui kekasihnya.


Raka sekarang tidak seperti dulu kesombongan yang ada di dalam dirinya telah hilang semejak ia berteman dengan Wita dan kawan-kawannya.


Karena lelah setelah perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Raka memasuki sebuah restoran untuk makan disitu.


Tapi ketika ia menunggu pesanannya ia melihat kekasihnya Putri juga memasuki restoran itu, Raka ingin menghampirinya tetapi ia urungkan niatnya setelah melihat Putri digandeng oleh seorang pria yang ia kenal adalah saingannya dari SMA nya dulu.


Apa yang mereka lakukan. Batin Raka geram.


Karena sudah kesal melihat kemesraan mereka berdua, akhirnya Raka menghampiri mereka berdua.


"Lo apa yang lo lakuain sama cewek gua," kata Raka emosi dan semua mata pengunjung restoran itu tertuju pada keributan itu.


"Lepasin!! Denger yah, dia dan gue sekarang sudah pacaran," kata Dion pacar Putri yang sekarang dan memaksakan Raka untuk melepaskan kerah bajunya dan akhirnya terlepas.


"Sayang lo jelasin ke dia," ucap Dion memperbaiki kerah bajunya.


"Dengar yah Raka mulai sekarang kita gak ada hubungan apa-apa lagi, kita putus." kata Putri dan membuat hati Raka seperti hancur berkeping-keping.


"Tapi kenapa?" tanya Raka.


"Lo mau tau alasannya, gue gak suka sama lo lagi, gue gak suka sama orang yang jarang ada disisi gue dan bahagiain gue, gue gak suka sama orang yang sekarang sudah gak punya apa-apa lagi, apa lo gak denger ayah lo bakalan nyabut seluruh aset-aset yang diberikan untuk lo dan lo gak bakalan dapat apapun dari nyokap lo," kata Putri menjelaskan.


"Tapi ini semua gue lakuin untuk lo," kata Raka menatap Putri nanar.


"Lo cuma mau kasih gue cinta?? Gak cukup Raka."


"Kalo gue sama lo, mau lo kasih makan apa gue nanti dan yang paling penting dari semuanya dan yang paling lo harus tau, gue sekarang cinta sama Dion." ucap Putri benar-benar menghancurkan perasaan Raka.


Kenapa? Kenapa? Padahal gue lakuin semua ini buat dia, agar suatu saat kita bisa bersama. Nyatanya apa? Cuman gue yang ngejuangin semuanya. Batin Raka menyesal.


Kemudian Raka diusir dari restoran itu karena telah membuat keributan dan kemudian berjalan pulang ke desa yang ditinggalinya sekarang, saat berjalan pulang Raka begitu tidak tentu arah ketika ada tembok dihadapannya ia meninjunya dan akhirnya tangannya berdarah tetapi rasa sakit dihatinya lebih menyakitkan ketimbang tangannya.


Ia pun terjatuh keras dijalan berbatu. Tampaknya dibalik celana panjang yang Raka kenakan lututnya berdarah dan sampailah ia di sebuah jembatan. Raka ia memandangi arus di bawahnya dengan tatapan kosong putus asa.


"Hah, aku benar-benar bosan kenapa hari ini aku bisa sebosan ini dan pengen jalan-jalan lagi," gumam Wita di tengah perjalanannya yang ia tidak tahu arah yang ia tuju kemana, tiba-tiba saja ia kehilangan moodnya dan ingin menyendiri. Kemudian tiba-tiba ia memikirkan Raka.


Raka, apa yang sekarang sedang ia lakukan yah. Batin Wita kemudian ia tersenyum memikirkan hal romatis Raka yang sedang bermesraan dengan kekasihnya. Tapi, Wita juga tidak menyangkal ada perasaan cemburu di hatinya. Kemudian Wita melanjutkan acara jalan-jalannya.


Mungkin di desa ini, gue akan menyelesaikan semuanya dan gak akan pernah meninggalkan jejak, mungkin juga gak bakalan ada yang tahu. Batin Raka.


Ia menaiki pagar pembatas jembatan itu dan berniat ingin melompat tetapi ketika ia sudah melompat ada yang meraih tangannya.


"Apa yang kamu lakukan dasar bodoh, apa kamu sudah gila hah?! Kenapa kamu lakukan hal bodoh ini?" kata Wita marah sambil menarik tangan Raka dan membuat Raka kaget.


Ini untuk pertamakalinya ia melihat Wita semarah itu dan berkata kasar, semarah-marahnya ia pasti ia hanya akan tersenyum atau memukul dan saat ini ia benar-benar kaget dengan kemarahan Wita itu meskipun Raka saat ini sedang tergantung matanya tetap terbelalak kaget.

__ADS_1


"Wit sebaiknya lo lepasin gue, nanti lo ikut jatuh juga," kata Raka.


Tetapi entah darimana Wita mendapat kekuatan dan berhasil menarik naik Raka ke atas dan saat ini Wita langsung tergeletak kelelahan sedangkan Raka ia hanya terduduk lemas dan menatap Wita dalam diam ia tidak menyangka bahwa Wita bisa sekuat itu bila ingin menolong seseorang.


"Kenapa Wit kenapa lo mau nolong gue, apa pentingnya gue buat lo?" tanya Raka.


"Semua orang juga bakalan nolongin orang yang mau bunuh diri di depan matanya, hanya orang yang gak punya hati yang gak bakalan nolongin orang itu," jelas Wita kemudian ia bangun dari baringnya dan mendekati Raka.


"Tapi Wit, gue itu sudah gak ada gunanya buat hidup." kata Raka putus asa.


PLAK!!


Tamparan keras mendarat dipipi kanan Raka dan membuat bekas merah orang yang bersangkutan langsung memegang pipinya dan ia teringat pada saat ia mengakui kesalahannya ketika itu Wita tidak memukulnya bahkan memarahinya padahal ia tahu hal itu pasti benar-benar menyakiti perasaan Wita tapi karena dia Wita bisa semarah itu.


"Itu pelajaran buat orang yang sudah putus asa masih mending kamu cuma aku tampar," kata Wita masih emosi dan Raka hanya menatapnya dengan raut kesedihan.


"Kamu pikir kalau kamu mati semua masalah akan selesai gitu? Kalau kamu mikirnya kayak gitu kamu salah Ka, bahkan sangat salah. Kamu tahu itu cuma menambah masalah, masalah untuk dirimu sendiri, masalah untuk keluargamu bahkan masalah buat semua orang yang tidak terlibat. Dan yang paling kamu harus tahu semua orang yang hidup itu pantas untuk hidup dan menjalani kehidupannya maupun senang atau susah sekalipun," kata Wita kali ini emosinya mulai mereda dan Raka entah mengapa tersentuh dengan ucapan Wita karena ia berpikir ucapan Wita ada benarnya.


"Maafin gue Wit, gue salah." kata Raka mulai menyesali perbuatannya tapi masih dalam kesedihannya.


"Kamu gak perlu minta maaf sama aku tapi minta maaflah sama Tuhan yang sudah beri kamu kehidupan, karena tadi kamu sudah hampir putus asa dan kamu tahu Dia tidak suka dengan orang yang berputus asa," kata Wita menjelaskan dan Raka pun mengangguk paham.


Akhirnya Wita membawa Raka ke sebuah tempat duduk yang ada didekat situ kemudian membersihkan luka yang ada pada Raka dengan alat sekedarnya ia sempat menyuruh Raka menunggunya sebentar karena ia harus membeli obat dan ketika ia membeli obat Wita begitu terburu-buru karena ia takut Raka melakukan hal-hal yang aneh lagi.


Di tengah-tengah pengobatan Wita, Raka teringat dengan seorang yang membuatnya seperti sekarang, ketika itu ia terluka karena bermain bola basket saat itu kekasihnya itu bahkan tidak menolongnya ia hanya melihat sambil merasa jijik dan pada akhirnya tim UKS jugalah yang memberikan pertolongan padahal ia berharap waktu itu kekasihnya lah yang menolongnya dan mengobati lukanya.


Perasaan apa ini. Batin Raka


Sedangkan Wita yang dipandangi saat ini sebenarnya malu berat dan tidak sengaja karena menahan salah tingkahnya ia menekan terlalu kuat luka ditangan Raka.


"Aww!!" jerit Raka.


"Maaf," kata Wita.


"Pelan-pelan Wit, sakit tau." ucap Raka terus meringis.


"Iya-iya. Lagian masa kamu gak tahan? Kamu itu laki-laki loh masa luka kayak gini aja kamu gak tahan, lagian kayaknya yang buat luka ini kamu jugakan?" kata Wita sambil bertanya.


"Memang benar sih gue yang buat tapi sekarang gue nyesel sudah lukain diri gue sendiri, kalau seandainya gue sadar gak bakalan gue buat kayak gini," kata Raka membela diri sedangkan Wita hanya menatapnya heran.


"Trus kamu gak sekalian bilang gitu, tadi itu kamu kesurupan gak sadar jadi lukain diri sendiri dan bahkan mau mati?" kata Wita menyindir.


"Iya," kata Raka sambil mengangguk.


Kumat lagi deh sifat gak merasa bersalahnya nih orang. Batin Wita kemudian ia mengeleng-geleng dan mengobati luka Raka lagi.


"Gue becanda Wit, lo itu percayaan baget deh. Mungkin hari ini merupakan karma atas semua kesalahan gue, sekarang gue tau rasanya sakit hati." Raka menjelaskan dan membuat Wita bertanya-tanya apa masalah Raka sebenarnya tapi ia ingin menyelesaikan pekerjaannya dulu baru bertanya pada Raka.

__ADS_1


"Makasih Wit, lo sudah nolongin gue. Lo memang yang terbaik dalam menjalankan tugas lo sebagai tim UKS," kata Raka berterimakasih memuji Wita sebagai tim UKS walaupun hati Raka mengatakan bahwa Wita saat ini ikhlas menolongnya.


"Iya sama-sama, tapi Ka kamu harus tahu orang menolong seseorang itu bukan karena memang hanya tugasnya, tapi menolong seseorang itu tugas semua orang. Menurutku lambang itu hanya sebuah tanda, tapi menolong seseorang yang tulus itu berasal dari hati bukan karena memang tugasnya menurutku itulah yang dinamakan relawan sejati." jelas Wita dan membuat Raka akhirnya yakin bahwa Wita ikhlas menolongnya bukan karena dia tim UKS.


Setelah selesai mengobati luka-luka Raka Wita bertanya.


"Oh ya Raka, maaf sebelumnya tapi aku hanya ingin tahu, kenapa kamu mau nyakitin dirimu sendiri tadi bahkan sampai mau bunuh diri loh?"Wita akhirnya bertanya.


"Tapi kalau gak dikasih tahu juga gak apa-apa sih," kata Wita melanjutkan kata-katanya saat ini ia takut kalau Raka bersedih lagi dan membuatnya terpuruk lagi karena saat ia bertanya lagi muka Raka menjadi murung.


Raka terdiam sejenak.


"Sebenarnya Wit, gue diputusin pacar gue dia selingkuh saat gue gak ada disisinya belum lagi katanya orang tua gue sudah gak perduli lagi sama gue," kata Raka menjelaskan.


"Raka kamu jangan sedih buktikan ke dia kalau kamu bisa move on itu saranku buatmu."


"Soalnya kalau masalah cinta aku gak bisa kasih saran banyak buat kamu, tentang orang tuamu kamukan anak satu-satunya kamu harus percaya, mereka gak mungkin buang kamu dan gak perduli sama kamu."


"Mungkin sekarang ini mereka lakuin itu semua ada maksudnya dan selalu yakin, itu semua tanda kepedulian mereka."


"Dan kamu harus ingat jangan benci mereka, kamu harus berpikir positif ke mereka karena setahuku semua orang tua itu ingin kebaikan untuk anak mereka." saran Wita untuk Raka.


Jangan bersedih dan selalu percaya yah. Batin Raka mengambil kesimpulan atas penjelasan Wita.


"Oke Wit gue bakalan ikutin saran lo," kata Raka .


"Gitu dong gunain itu otakmu yang katanya jenius itu," kata Wita sambil nyengir.


"Lo ngejek gue?" tanya Raka


"Enggak, tapi apa kamu ngerasa?" tanya Wita dengan tampang tenangnya.


"Makanya kamu itu sikapnya jangan kayak cewek apa-apa langsung sedih, beginikan jadinya." kata Wita lagi.


"Benerkan lo ngejek gue," kata Raka lagi.


"Haha. Kamu ngerasa?" kali ini Wita berucap sambil tertawa.


"Awas lo yah Wit kalo ketangkep!!" ancam Raka dan membuat Wita langsung ngebut lari.


"Tangkep aja kalo bisa, wekkk!" ejek Wita.


"Awas lo yah!" teriak Raka ikut berlari Wita terkejut Wita pikir kaki Raka sedang sakit jadinya dia berani mengejek Raka tapi ternyata kaki Raka tidak terlalu sakit jadinya ia bisa berlari mengejar Wita .


"Kyaa!!! Ampun Raka jangan apa-apain aku, aku mau pulang udah sore." teriak Wita dan Wita pun berlari sekencang-kencangnya karena ketakutan dan membuat Raka tertawa karena berhasil membuat Wita ketakutan.


Dan sore itu yang menurut Raka penuh kesedihan berubah menjadi hari dimana ia bisa tersenyum kembali bahkan tertawa entah mengapa ia bisa melupakan rasa sakit di hatinya.

__ADS_1


"Terimakasih Wit, hari ini gue bisa lupain kesedihan gue karena lo dan membuat gue sadar untuk kesekian kalinya," gumam Raka sambil tersenyum kemudian ia berjalan pulang sendirian di sore itu karena ditinggal Wita dan tanpa ia sadari ada seseorang yang sedang mengawasinya dibalik pohon.


__ADS_2