Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Alasan Menyakitkan


__ADS_3

.


.


.


"Astaga tadi aku lupa ngambil berkasnya lagi," Wita kelupaan sangking paniknya. Ia duduk meringsut di kursinya, ia tidak ingin lagi pergi ke ruangan direkturnya.


"Kok bisa Wit, cepat ambil!" perintah Nawa dan Wita menggeleng.


"Loh kok gak mau?" tanya Nawa.


"Aku mau resign aja kerja Wa," kata Wita tertunduk ragu dengan pekerjaannya.


"Lah kenapa? Kamu marah sama aku, maaf deh Wit kalau aku terlalu keras sama kamu aku tau kamu orangnya gak suka di kerasin tapi ini semua buat kamu juga, biar kamu bisa jadi orang yang tegas," kata Nawa merasa bersalah dan memeluk Wita.


"Wa ini bukan salahmu, tapi kalau aku kerja kayak gini terus nanti aku malah jatuhkan nama baik perusahaan. Aku gak mau itu terjadi, lagipula awalnya kan aku gak pernah minat di sini pak direktur aja marahin aku, kan itu jelas kalau aku ini gak berbakat," jelas Wita tidak mengatakan hal sejujurnya.


"Tapi..." ucapan Nawa terputus setelah menyadari ada orang yang berdiri di belakangnya dan ternyata itu adalah Raka. Nawa dan Wita langsung berdiri memberi hormat.


"Siapa tadi yang bilang ingin mengudurkan diri?" tanya Raka tampaknya ia mendengar percakapan mereka sedari awal.


"Saya," tegas Wita tetapi tidak bisa mempungkiri bahwa ia tidak bisa mengendalikan dirinya saat berada dihadapan Raka dan lebih memilih untuk tertunduk.


Setelah terpisah lama perasaannya pada pria itu bukannya memudar malah sekarang makin menggebu-gebu tapi ia berusaha menutupinya dengan berbagai alasan.


"Apa gara-gara ditegur? Teguran itu adalah hal yang wajar terjadi, karena itu untuk memperbaiki diri kamu. Lagipula saya tidak memecat kamu kan? Hanya saja saya menyuruh kamu untuk memperbaiki berkasnya, jadi jangan mempersalahkan ini lagi, tidak ada yang mengundurkan diri."


"Saya dengar-dengar kamu baru bekerja di perusahaan ini jadi wajar kalau ada kesalahan. Dan lagi kamu kan sudah menandatangi surat kontrak dan jika kamu melanggar ada sanksi yang harus di bayar jadi kamu tidak bisa main berhenti seenaknya dari pekerjaanmu ini." jelas Raka dan Wita mengangguk mengerti, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi Wita tahu ia telah terikat kontrak dengan perusahaan itu dan Nawa hanya memperhatikan mereka.


Mirisnya diriku, kapan-kapan aku tidak akan lagi main terima sebuah pekerjaan. Batin Wita merasa kapok dan tertipu.


Padahalkan dia yang menjebak Wita agar bekerja di perusahaan ini. Batin Nawa menatap Raka kesal.


Dan tentu saja atas bantuanmu yang ternyata licik juga. Batin Raka membalas tatapan Nawa. Mereka berdua saling beradu tatapan.


Aku menyesal telah membantu pria menyebalkan ini. Batin Nawa.


Dan sudah terlambat untuk menyesalinya. Batin dengan tatapan penuh kemenangannya dari Nawa.


"Ini berkas yang kamu tinggal di ruangan saya," kata Raka dan Wita menerimanya dengan hormat.


Kemudian ia pergi meninggalkan ruangan itu dan sekali lagi Wita menunduk hormat pada direkturnya.


"Oh iya, saat jam makan siang nanti saya undang kalian untuk makan bersama," kata Raka.


"Dan tidak ada pembantahan, ini sebagai salam pertemuan dengan teman lama," lanjut Raka lagi dan meninggalkan ruangan itu,Wita hanya menatap dalam diam, memikirkan alasan agar dia terhindar dari ajakan itu.


.


.


.


Nawa mengalihkan tatapannya yang saat ini sudah memandang ke arah Wita yang sudah duduk sambil menutupi kepalanya dengan berkas yang baru saja di bawakan Raka ia frustasi.


Teman-teman seruangannya mulai menggosipi siapa Wita sebenarnya. Hal itu membuat Wita tidak enak hati terlebih ada yang membandingkannya dengan wanita cantik yang baru saja berlalu dari ruangan direktur.


Sedangkan Nawa ia sibuk sendiri dengan pikirannya, saat ini Nawa benar-benar berpikir untuk mengintrogasi Wita demi mendapatkan penjelasan yang sejelas-jelasnya pada sahabatnya itu, hubungan apa yang sedang mereka jalani sekarang.


Nawa tidak sabar melihat ekspresi Wita yang mungkin tidak akan dapat dijelaskan saat ia menanyainya nanti.

__ADS_1


Ketika jam istirahat Wita membuat banyak alasan kepada Nawa. Tapi Nawa tahu ia berbohong, Nawa ia memasang wajah yang mengisyaratkan, 'Kamu mau lari kemana hah!?' dan hal itu langsung membuat Wita merinding.


"Apa kamu tadi ada masalah sama Raka Wit? Kalau dia ternyata yang buat kamu begini bakalan aku buat perhitungan sama dia," kata Nawa kesal tidak ingin Wita disakiti.


"Kamu memangnya berani sama bos?" tanya Wita.


"Hehe, sebenarnya enggak sih. Tapi, untuk kamu aku bakalan berani," kata Nawa. Hal itu jelas membuat Nawa tidak berkutik, ia sudah nyaman dengan perkerjaannya dan sebaiknya tidak mencari masalah.


"Udahlah Wa gak usah diperpanjang masalahnya," kata Wita kemudian ia melanjutkan pekerjaannya.


.


.


.


Jam makan siang...


Wita menguap di tengah-tengah kafe yang berada di seberang kantor itu mengantuk karena bosan, saat ini ia sedang menunggu teman-temannya.


Katanya sebentar tau-taunya pada akhirnya aku yang menunggu. Batin Wita ia kesal Nawa tadi menyeretnya paksa untuk pergi ke kafe dekat kantor padahal Wita saat itu bersikeras untuk tidak ikut, dengan alasan sakit perut dan masih banyak pekerjaan.


Tapi Wita tidak pandai berbohong dan membuat Nawa jelas mengetahui kebohongannya. Namun setelah itu Nawa meninggalkannya, Nawa bilang padanya menemui Ansal ia datang juga ke kafe ini namun belum kembali dan saat ini orang yang mengundang tidak datang-datang.


Wita merasa jengkel dan memahami satu hal. Tentu saja bagi Nawa dan Ansal lima belas menit itu adalah waktu yang sangat sebentar bagi pasangan yang kasmaran seperti mereka, jangankan semenit mungkin setahun mereka rasa hanya sejam. Tapi kebalikan untuk Wita rasanya baginya menunggu itu sangat lama untuk saat ini.


Akhirnya Wita ingin pergi dari tempat itu dan ia pun akhirnya berdiri dari posisinya.


"Apa selalu aku yang harus menunggu? Harusnya tadi aku gak datang kalau jadinya begini juga, aku bosan menunggu, aku benar-benar bosan," gumamnya menggerutu kemudian berdiri sambil menunduk ingin pergi karena kekecewaan dan kemudian ada seseorang yang menarik tangannya.


"Mulai sekarang kamu tidak perlu menunggu lagi," kata seorang pria di samping kupingnya yang tak lain adalah Raka yang sekarang terang-terangan menunjukan wajah aslinya dengan penghuni kafe itu, Wita tersentak kaget dan sekarang mereka jadi bahan tontonan karena saat ini Raka memegang tangan Wita.


"Lepas! Malu tau dilihat orang Pak," kata Wita sedikit meronta.


Miliknya. Batin Wita kaget saat ini dadanya memanas.


"Apaan sih Pak, lepas! Apa bapak gak cukup sama satu orang!" kata Wita dan Raka menatapnya bingung namun tidak melepas genggamannya.


"Maksudnya?" tanya Raka bingung.


"Bapak masih tanya lagi,"  Wita kesal ia tidak bisa menutupi kecemburuannya, ia ingin mendengar langsung penjelasan pria itu. Ia kesal di klaim sebagai milik pria itu, padahal Wita mengira Raka sudah punya yang lain.


"Kenapa kamu panggil saya bapak?" tanya Raka protes dan masih tidak menjelaskan pada Wita.


"Bapakkan bos saya," kata Wita sewot ia begitu penasaran dengan penjelasan Raka apa pun nanti jawabannya.


Pengunjung kantin itu pun berbisik-bisik menggosip tentang hubungan mereka berdua. Tapi mereka berdua tidak perduli akan hal itu.


Kemudian ada seorang gadis cantik datang.


"Raka dia siapa?" tanya gadis itu dan sebenarnya Wita yang ingin menjawab tapi keburu Raka yang berbicara duluan.


"Dia adalah orang yang selama ini sudah mengisi hati saya dan membuat saya lupa sama kamu," jelas Raka dan membuat gadis itu kaget sedangkan Wita ia hanya heran dan bertanya-tanya, ternyata Wita selama ini salah sangka ia pikir gadis itu adalah pacar atau istri Raka ternyata bukan.


Ia malu dengan pendapatnya sendiri karena tidak bertanya terlebih dahulu penjelasan dari pria itu, tapi entah mengapa Wita tetap masih kurang yakin dengan perasaannya pada Raka.


"Wit kenalin, dialah orang yang bernama Putri itu. Kamu masih ingatkan kejadian-kejadian yang terjadi waktu masih SMA dulu sama saya itu semua ulah dia. Tapi, saya benar-benar bersyukur karena dia saya ketemu sama kamu," kata Raka akhirnya memberi penjelaskan dan membuat Wita hanya terdiam saat ini tangan Raka masih memegang tangan Wita.


"Jadi kamu jangan salah paham lagi," kata Raka melanjutkan.


"Hey cewek kampung! Lo jangan pernah berani dekat-dekat dengan Raka yah, dia itu punya gue," kata Putri mendorong Wita dan Raka menghalanginya, malah saat ini merangkul Wita dan Wita menatapnya emosi dan memberikan tatapan 'Beraninya kamu pegang-pegang aku' namun Raka hanya menatapnya acuh.

__ADS_1


"Raka bisa lepasin aku dulu. Biarin aku ngomong," kata Wita saat ini Raka tersenyum penuh arti karena sekarang Wita sudah memanggil namanya bukan bos lagi dan Raka melepaskan rangkulannya, sebenarnya kata-kata itu refleks Wita karena merasa senang bahwa apa yang dikiranya ternyata tidak benar.


"Kalau aku ingat semuanya kejadian-kejadian itu aku benar-benar prihatin sama Raka, kamu tau segitu cintanya Raka sama kamu, dia dulu rela ngelakuin apa aja buat bisa hidup sama kamu termasuk hampir tidak dianggap anak oleh orang tuanya. Tapi kamu malah selingkuh harusnya kamu tahu gimana rasa sakitnya Raka saat itu!"


"Kamu tau, kamu itu hampir bunuh dia, dia hampir putus asa cuma gara-gara kamu, kamu masih gak liat cintanya apa?"


"Tapi mungkin orang kayak kamu itu bukan mencari arti cinta sejati, namun sesuatu hal yang jelas membuat dirimu untung sendiri." ucap Wita emosi dan para pengunjung kantin itu semuanya disuruh bubar oleh Raka dan mereka pun akhirnya bubar dengan berbagai macam pertanyaan di kepala mereka.


"Beraninya lo sama gue, Raka harusnya kamu belain aku dong sayang, gadis kampungan ini berani ngehina aku di depan kamu," kata Putri gak tahu malu.


Dan Raka sekarang malah berada di samping Wita.


"Saya sudah gak cinta sama kamu oke! Sekarang saya sudah pindah kelain hati dan sekarang kamu liat dia ada disamping saya, saya sekarang gak butuh wanita sepertimu tapi yang saya butuhin itu hatinya dan perasaan yang tulus." jelas Raka dan saat itu Ansal dan Nawa datang tetapi ketika itu Putri langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.


"Ada apa ini Wit?" tanya Nawa tapi setelah itu Wita langsung pergi tanpa penjelasan.


"Wit-Wita!" teriak Raka tapi saat itu Wita langsung berlari menjauh.


Jam makan siang habis karena keributan itu, sedangkan Raka ia ada rapat mendadak dan merutukinya karena ia tidak bisa menemui Wita.


Di ruangan Wita ia saat ini diam seribu bahasa sambil terus melanjutkan pekerjaannya.


Kemudian Nawa masuk ke ruangan itu dan menuju ke arah kubikel Wita.


"Wita, sebenarnya ada apa?" tanya Nawa.


"Kumohon Wa biarin aku sendiri dulu, nanti aku bakalan kasih tau kamu semuanya oke. Aku lagi mencerna semua permasalahan ini di kepalaku," kata Wita dan akhirnya Nawa membiarkan Wita sendiri hari itu Wita tidak berbicara sama sekali.


.


.


.


Ketika pulang kerja di sore itu ia bertemu dengan seorang pria berandalan.


"Mau aku antar pulang?" kata pria itu beserta senyum nafsunya.


"Maaf tapi saya bisa pulang sendiri," jelas Wita tapi ia dipaksa dan Wita tentu saja melawan.


Namun ketika itu Raka datang dan langsung menghajarnya.


"Berani-beraninya kamu ingin menyentuhnya," kata Raka.


Raka menghajar berandalan itu dan membuat ia melarikan diri, Wita saat ini ketakutan karena pemaksaan tadi.


Hari itu Wita di antar pulang dengan Raka tapi tidak dengan menaiki mobilnya karena Wita bersikeras tidak ingin di antar dan ingin pulang sendiri jadinya ia mengantar Wita dengan berjalan kaki.


"Raka, sebaiknya kamu jangan dekat denganku lagi," kata Wita.


"Tapi kenapa? Saya harus tahu alasannya," tanya Raka.


"Aku sudah bertunangan," kata Wita dan saat ini dada Raka serasi di hujani ribuan jarum yang tak terlihat.


"Gak mungkin," kata Raka tidak percaya.


.


.


.

__ADS_1


...


__ADS_2